SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LII (Mei Lissah Part III)


__ADS_3

Dengan sigap Mei mematikan GPS handphone pak Ari agar jejaknya sampai di hutan itu saja.


“Pukul dia.” ucap Mei seraya melirik pada sopirnya.


“Eng eng enggak non, saya enggak bisa.” sahut sang supir dengan lutut yang terus gemetaran.


“Hah???” Mei memberi tatapan mata malas pada sang supir.


“Ini sebabnya aku menolak segala pemberian mama, yang dia pilih selalu enggak berguna.” gumam Mei.


“A, apa yang mau kamu lakukan lagi Mei?” ucap pak Ari dengan suara lirih dan pandangan yang mulai kabur.


“Aku harus menuntaskan apa yang mengganjal di hati ku pak.” sahut Mei dengan sepenuh hati.


Mei yang telah memperoleh sabuk hijau dari mantan perguruan silatnya terdahulu, mulai menguji kemampuannya pada pak Ari.


Lalu dengan tenaga penuh Mei melayang kan dua pukulannya ke mata kiri dan kanan pak Ari.


“Akkkkkh!” pak Ari mengeluarkan suara teriakan terakhirnya sebelum akhirnya tak menyadarkan diri.


“A, apa dia sudah mati non?” ucap sang supir.


“Kenapa enggak periksa sendiri?” sahut Mei.


Sang supir menggeleng-gelengkan kepalanya, yang takut kalau sidik jarinya nanti terdapat pada tubuh pak Ari.


Mei yang telah selesai menuntaskan setengah hajatnya, mulai duduk di atas tanah hutan yang lembab seraya merentangkan kakinya.


Lalu ia pun merogoh saku roknya dan mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik, sang sopir yang masih berdiri di hadapan pak Ari dan Mei tak habis fikir kalau nona mudanya ternyata seorang perokok.


cetek!


Mei membakar ujung rokoknya, kemudian menghisab dari filternya.


“Nih, merokok dulu biar semua nyawa mu terkumpul.” ucap Mei seraya melempar rokok yang ada di tangannya ke arah sang supir.


Sang supir pun menangkap rokok pemberian Mei tersebut.


Lalu mengeluarkan pemantik dari sakunya dan mulai ikut duduk di samping Mei, mereka berdua mulai merokok berjamaah, seolah tak ada apapun yang terjadi.


“Sebenarnya aku enggak suka sama kamu, mental mu buruk, bisa mu cuma nyetir, aku sudah lihat itu pas pertama kali kita ketemu,” ucap Mei.


“Benar sekali non, saya tidak sepadan di bandingkan non Mei.” sahut sang supir sambil terus menghisap rokoknya.

__ADS_1


“Setidaknya kamu tutup mulut mu, kalau sampai bocor, kamu yang akan jadi yang selanjutnya, sebaliknya kalau kamu diam, aku akan kasih bonus untuk hari ini.” ucap Mei.


“Kalau saya berhenti kerja saja gimana non sebagai bonusnya? Saya enggak akan bilang ke siapa-siapa,” usul sang supir.


“Tutup mulut mu! Jangan bikin geli, berani berhenti kerja, ku keluarkan isi perut mu.” ucap Mei dengan wajah horornya.


Sang supir yang tak punya pilihan apapun terpaksa menerima apapun yang di katakan oleh Mei, dari pada nyawanya terancam.


Tak terasa mereka berdua telah menghabiskan 1 bungkus rokok, lalu Mei beranjak dari duduknya.


“Angkat tubuhnya ke dalam mobil,” titah Mei.


Sang supir pun mengikuti perintah majikannya, Mei berjalan terlebih dahulu ke mobil dan duduk di bangku kemudi.


Sang supir yang telah selesai merebahkan tubuh pak Ari di bangku ke dua dan memasukkan semua barang-barang pak Ari ke dalam mobil mulai duduk di samping Mei.


Setelah semua beres, Mei pun melajukan mobilnya keluar dari hutan dan mulai membelah jalan raya menuju rumahnya.


Selang beberapa menit mereka sampai ke kediaman Mei, Mei pun memarkirkan mobilnya di pintu dapur, para ART wanitanya pun merasa heran, lalu Mei keluar dari dalam mobil.


“Mana pak Sarto si kepala koki?” tanya Mei pada Rosi salah satu ART nya.


“Di dalam non, kenapa non?” sahut sang ART.


“Angkat ke dapur.” titah Mei pada supirnya.


Lalu sang supir pun mengangkat tubuh pak Ari ke dalam dapur yang di ikuti oleh Mei.


“Taruh tubuhnya di atas meja pemotong daging.” ucap Mei pada supirnya, lalu sang supir meletakkan tubuh pak Ari ke tempat yang telah di perintahkan.


Kemudian pak Sarto pun datang dengan raut wajah biasa saja.


“Ini mau di potong langsung non?” ucap pak Sarto.


“Cukur rambutnya dulu, nanti malah menempel di dagingnya.” sahut Mei.


Sang supir yang menyaksikan pemandangan itu langsung ciut, ia yang hanya melamar kerja tanpa cari tahu asal usul keluarga tersebut langsung merasa ngeri.


Saat sang supir mau beranjak dari dapur Mei malah melarangnya.


“Lihat prosesinya, biar mental mu terbiasa pak,” ucap Mei.


“Tapi non.” sahut sang supir.

__ADS_1


“Bantu pak Sarto mencukur rambutnya, oh ya karena kamu sudah lihat, maka akan ku beri tahu, kalau sebenarnya orang-orang yang bekerja disini adalah orang-orang pilihan ku, yang sudah terlatih, jadi kalau penyakit ku kambuh, mereka bisa mengatasinya, dan kamu lihat kan, tuan dan nyonya jarang ada dalam rumah, kamu fikir karena apa?” ucap Mei seraya menyeringai.


“Ke, kenapa non?” sahut sang supir.


“Mereka takut kepada ku, karena aku sudah beberapa kali mau menghabisi mereka sewaktu kami masih tinggal di luar negeri, makanya mereka memilih tinggal terpisah, cih! Aku sih tidak masalah di perlakukan begitu, karena kalau stres ku meningkat, aku akan berhalusinasi terus, bahaya juga untuk mereka, dan ini adalah korban ke 3 ku setelah aku pindah ke Indonesia.” ungkap Mei, dengan menjelaskan sebagian tentang dirinya pada sang supir yang masih polos itu.


“Aku mau ke atas dulu buat mandi, Rosi tolong suruh 2 orang buat temani pak Rey ke hutan, darah yang di sana perlu di bersihkan.” titah Mei seraya meninggalkan dapur.


Beberapa saat kemudian, Mei yang telah selesai mandi datang kembali ke dapur, sesampainya ia di dapur, orang-orangnya masih sibuk memotong-motong bagian tubuh pak Ari.


“Non,” ucap pak Sarto.


“Iya pak?” sahut Mei.


“Ini, dia punya cincin mau di kemanakan non?” ucap pak Sarto.


“Buang saja,” sahut Mei.


“Baik non,” ucap pak Sarto.


“Bersihkan tubuhnya dengan sangat bersih, jangan sampai berbau amis sedikit pun, nanti kalau sudah selesai, buatkan aku sedikit rendang dari dagingnya itu, ususnya tolong di goreng, lainnya simpan dalam freezer yang ada di gudang barang.” ucap Mei seraya berlalu dari dapur.


FLASBACK OFF.


Deretan peristiwa yang telah ia lakukan selalu membayang dalam fikirannya.


“Sial,” gumam Mei, seraya beranjak dari atas ranjang untuk mengambil handphonenya yang berada dalam tasnya.


“Halo pak Sarto, buatkan aku BBQ dan kentang goreng, masih ada sisa dagingnya kan?” 📱 Mei.


“Masih non, siap laksanakan.” 📱pak Sarto.


“Dagingnya harus segera habis, biar enggak ada bukti, mana tau saja si kampret itu ingkar janji.” gumam Mei yang kembali merebahkan badannya di atas ranjang.


“Gimana caranya, untuk memisahkan mereka berdua? Kalau sampai aku lakuin itu, bisa-bisa pertemanan ku jadi pecah, tapi kalau aku enggak lakuin perintahnya, mungkin aku akan masuk penjara, kalau aku harus lari dari sini, itu enggak memungkinkan, karena ujian nasional tinggal beberapa bulan lagi, dan kalau mama dan papa sampai tahu, mereka pasti akan semakin jauh, bahkan sekarang aku enggak tau, sebenarnya mereka tinggal dimana,” batin Mei.


Mei pun memeluk tubuhnya sendiri seraya memejamkan matanya.


“Pada hal itu bukan salah ku, aku hanya membela diri, dan tanpa sengaja aku mendorongnya, dia yang cari masalah dan menyerang duluan, hanya karena cowok ia jadi memusuhi ku, tapi entah kenapa melihat kepalanya pecah hati ku puas.” batin Mei.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2