SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXIII (Kekuatan Sang Ayah)


__ADS_3

Pak Doni yang tak ingin anaknya larut dalam kesedihan pun duduk di bangku yang berada di sebelah anaknya.


“Ki,” seketika Riski tersadar dari lamunannya.


“Ayah, sejak kapan disini?”


“Sejak tadi, kamu kok melamun sampe pucat begitu?”


“Riski enggak kenapa-napa yah,”


“Ayo dong cerita, kamu kan cuma punya ayah, apa salahnya terbuka dengan ayah, mana tahu ayah bisa bantu,” terang pak Doni.


“Riski enggak apa-apa yah, ayah istirahat saja ke kamar,” ujar Riski.


“Gimana ayah mau istirahat dengan tenang, kalau anak ayah gelisah tak menentu begini, badan mu juga kurus, ayo cerita sama ayah, kalau bukan sama ayah, sama siapa lagi?” bujuk pak Doni.


“Riski, Riski di putusin yah,”


“Nah, benarkan dugaan ku,” batin pak Doni.


“Sama perempuan yang kamu bawa kesini?”


“Iya yah.” pak Doni yang pernah mengalami putus cinta di masa muda pun mulai tertawa cekikikan.


“Ahhahahahaha... kamu, hahahhaha,”


“Ayah kok ketawa sih, akh!” Riski yang malu memalingkan wajahnya dari pak Doni.


“Lucu, lucu sekali, tahu enggak ayah juga dulu pernah di putusin perempuan yang ayah cintai, bukan cuma sekali tapi sampai 3 kali, coba bayangkan gimana sakitnya hati ayah.” ungkap pak Doni yang kembali teringat masa lalu.


“Serius yah?” ucap Riski yang kembali menaruh pandangan pada ayahnya.


“Iya, sakit sih sakit, tapi kitakan laki-laki, masa iya mau kalah sama perempuan? Ya ayah cari lagi penggantinya, tentunya dapat yang lebih baik lagi,”


“Ayah langsung bisa move-on?”


“Ya bisa dong, dia saja bisa, masa ayah enggak? lagi pula kalau janur kuning belum melengkung, siapa saja bebas kemana saja, ya namanya juga pacaran, tapi ayah baru kali ini lihat kamu patah hati sampe sekurus ini, turun berapa kilo?”

__ADS_1


“7 kilo yah,” jawab Riski dengan kecut.


“Dari 67 kg ke 60 kilo? wah wah wah, kena pelet jenis apa kamu sama dia, biasanya kamu kan gonta ganti cewek, mungkin kali ini karmanya ya, hahahaha.” pak Doni tak henti-hentinya menertawakan penderitaan anaknya.


“Ayah senang bangat ya aku menderita,”


“Bukan begitu, ayah kan sudah pengalaman duluan, jadi wajar kalau ayah menertawakan mu, sudahlah nak, cari lagi yang lain, kalau bisa, pacari teman sekelas mu, pilih yang paling cantik, biar dia menyesal,”


“Ayah, Riski belum bisa buka hati sekarang,”


“Sudah, turuti kata ayah, jangan kejar dia, nanti malah tambah besar kepala dan susah di ajak baikan,”


“Menurut ayah begitu?”


“Iyalah, mana tahu kamu cocok sama yang baru, iyakan? Intinya jangan kejar dia lagi, jangan perlihatkan dirimu sedih di hadapan dia, pura-pura bahagia ajah, biar bahagia beneran, ayah yakin, dia akan menangis minta balikan sama kamu, nah pada saat itu terjadi, pilihan ada di tangan mu, mau memaafkan dia, atau meninggalkannya.” terang pak Doni menguatkan sang anak.


“Percuma yah, dia sebenarnya enggak suka Riski, ya benar sih, selama ini Riski yang paksa dia buat jadi pacar Riski.” ucap Riski seraya menundukkan kepalanya.


“Enggak mungkin! Enggak suka kamu, tapi mau masuk ke kamar mu, dan mau cium juga?” Riski kaget karena ayahnya tahu detail kenakalan yang ia lakukan selama ini.


“Ayah! Jadi ayah memata-matai aku selama ini?!” Pekik Riski.


Riski yang tak mau semua itu terjadi, menurut pada ayahnya.


“Hahahahaha, ku kira anak ku suhu, ternyata cupu, pada hal aku cuma asal tebak, tidak di sangka, sifatnya enggak jauh-jauh dariku,” batin pak Doni.


Mereka pun bergegas ke meja makan untuk makan malam.


Para ART pun melayani mereka dengan sangat telaten, terlebih Susi yang sangat gembira tuannya kini mau makan kembali.


“Ayo-ayo, makan yang banyak!” seru pak Doni yang memenuhi piring Riski dengan nasi dan lauk pauk.


Ternyata kehadiran pak Doni dapat mengobati hati Riski yang terluka.


Selepas makan, Riski kembali ke kamarnya, ia melihat kembali isi handphonenya, yang tak ada satu pun mengenai Yalisa.“ Ternyata dia serius bilang putusnya,” batin Riski.


Riski membuka kontak WA Yalisa, yang berstatus online. “Pengen bangat Video Call dia, tapi takut dia enggak ngangkat,” gumam Riski.

__ADS_1


Cukup lama Riski memandangi profile Yalisa, hingga tak sadar handphonenya terjatuh dari tangannya.


“Apa perasaan cewek-cewek yang aku buang selama ini begini ya? Hah!! nyesal juga pernah sakiti hati orang lain.” setelah lelah dengan pergumaman nya, Riski memutuskan untuk tidur.


______________________________________________


Pagi harinya di suasana yang masih libur sekolah, Mei berkunjung ke ruang bawah tanah rumahnya di temani oleh Winda.


Dimana di ruang bawah tanah itu terdiri dari 2 buah kamar, 1 kamar untuk tempat praktek kekejiannya, 1 lagi kamar untuk para hewan reptil peliharaannya, hanya ia dan para ART nya yang tahu tentang apa yang ada di 2 ruangan itu.


“Mbak,”


“Iya non?”


“Udah lama ya, para keponakan ku ini enggak makan daging segar.” Winda yang mengerti arti ucapan Mei menelan saliva nya.


“Non, kalau boleh saya kasih saran, sebaiknya nona berhenti, apa gunanya melakukan hal-hal yang bisa membahayakan hidup non juga, sekarang memang benar nona belum ketahuan, tapi nanti kita tidak tahu non.” terang Winda yang takut akan masa depan majikannya dan dirinya sendiri.


“Iya mbak, kali ini enggak begitu lagi.” ucap Mei seraya menampilkan senyum penuh arti.


“Entah apa lagi yang akan di rencanakan non Mei selanjutnya.” Winda sebenarnya sudah sangat putus asa akan kejiwaan Mei yang semakin hari semakin memprihatinkan.


Batin Winda sudah lama ingin berhenti jadi ART Mei, namun apa boleh buat, ia yang tak seberapa dayanya, takut menjadi sasaran berikutnya.


_______________________________________________


Di kediaman Yalisa, aktivitas pagi ia mulai dengan mencuci baju, selepas itu beres-beres rumah setelah semua selesai, barulah ia mengisi perutnya yang sedari tadi lapar.


Saat ia tengah makan di meja makan, ia merasa seperti ada yang kurang dan hilang.


“Lauknya kok enggak enak sih?” gumam Yalisa, yang sebenarnya tak ada masalah dengan ikan goreng kembung yang ia makan itu.


“Sudah lama aku enggak komunikasi sama Mei, ada apa ya sama dia? Di WA enggak balas, di telepon enggak di angkat, apa aku ada buat salah sama dia? Terakhir kita ketemu kan semua baik-baik saja.” Yalisa tak henti bertanya-tanya pada hatinya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2