
“Oh iya, sebentar lagi aku ada kelas, jadi aku mau masuk duluan,” ujar Yalisa.
“Oh, gitu ya? Oke, belajar yang rajin ya,” ucap Leo.
“Oke,” saat Yalisa akan meninggalkannya, Leo berkata.
“Apa kita bisa ke kafe malam ini?”
“Apa?” sebenarnya permintaan Leo itu adalah hal yang wajar, namun Yalisa tak ingin melakukan kesalahan, sebab ia tahu, bila yang di cinta bersua dengan wanita lain, meski itu adalah teman, tetap saja hati akan terasa sakit.
“Sudah lama kan kita enggak mengobrol?” dengan tersenyum tipis, Yalisa menjawab.
“Maaf aku sangat sibuk, jadi aku rasa enggak akan ada waktu ke kafe,”
Leo sadar, bahwa Yalisa sudah semakin dewasa, ia pun mengurungkan niat untuk membujuk Yalisa lebih lanjut.
Dan itu adalah pertemuan terakhir Leo denngannya, sebab Yalisa mengerti, bagaimana pun juga mereka pernah terlibat masalah hati, jika di teruskan untuk bertemu, di takutkan akan ada hati yang terluka.
14 Februari 2020, 2 tahun telah berlalu sejak kepergian Riski yang tiada kabar.
Yalisa kini tak terlalu memikirkannya lagi, karena ia merasa, mungkin Riski telah menemukan pendamping hidup yang baru
Dunia Riski dan ia sangat jauh berbeda, lagi pula mereka hanyalah pasangan tanpa ikatan suci, jadi wajar bila Riski menaruh hati pada siapa pun.
Di warung, Yalisa melihat Riski yang tengah mogok makan, ia pun berjongkok seraya menunjuk wajah anaknya.
“Hei Riski! Kalau makan itu yang benar, makanan kering yang aku beri untukmu setiap hari harganya mahal, jadi habiskan! Huh! Dasar, kamu juga sudah berusia 2 tahun lebih tapi masih saja menjomblo, cari istri sana, biar rumah kita ramai,” Yalisa memarahi Riski junior, karena tak kunjung membawa betina je rumah.
Ketika ia bangkit kembali dari jongkoknya ia terkejut.
“Astagofirloh!” ucapnya spontan seraya memegang dada.
Wajah galak Yalisa pun menjadi lunak, perlahan ekspresinya mulai kusut, ketika ia melihat seseorang yang berdiri di hadapannya, berpakaian formal rapi, bertubuh tinggi semampai, wajah tampan, memandangnya dengan penuh senyum.
“Apa kabar sayang?”
Yalisa tak menjawab sapaan itu, mulutnya ketar ketir, tubuhnya gemetar, hatinya menahan amarah yang selama ini ia pendam.
Lalu pria tampan nan sempurna tersebut meletakkan box ikan yang ia bawa di atas sebuah meja, yang ada dalam warung.
Saat pria tampan itu akan menyentuh wajah Yalisa, sontak ia menepis tangan jenjang itu.
__ADS_1
Plak!
“Per-pergi kamu,” ucapnya lirih menahan sesak di dada.
Lalu pria tampan itu tersenyum, seraya melebarkan kedua tangannya.
“Pada hal aku baru pulang, bukannya buat kan kopi, malah di usir,”
Yalisa menelan saliva, dan menahan perih air matanya.
“Aku enggak mau lihat kamu lagi, aku minta pergi sekarang,”
Pria itu mengerti, jika ia sudah terlalu lama membuat gadis yang ia cintai menunggu.
“Maafkan aku, ini di luar prediksi ku sayang,” ketika ia akan memeluk tubuh sang gadis yang ia rindu, justru gadis itu menahan tubuhnya dengan kedua tangan mungil gadis tersebut.
“Yalisa sayang, maafkan aku sudah ingkar janji, tapi sekarang aku sudah disini,” bujuk pria tampan itu.
Yalisa menundukkan kepala, dengan masih menahan tubuh pria tersebut.
“Uum, ini bukan tentang ingkar saja, tapi dengan sengaja kamu memutus kontak dari ku, kamu sangat percaya diri, kalau aku akan tetap menunggu, jadi kamu membiarkan aku dengan kebingungan dan kegelisahan selama 2 tahun, selamat, kami berhasil melulu lantahkan hari ku, dasar brengsek! Kamu bajing*an Riski!”
Kini Yalisa tak dapat menahan air matanya lagi, ia sudah seperti anak kecil yang permennya di rebut.
Entah apa alasan Riski melakukan itu semua pada Yalisa, melihat gadis yang ia cintai menangis histeris, ia pun tak menahan tenaganya lagi, langsung saja ia turunkan tangan Yalisa yang menahan tubuhnya, lalu ia memeluk sang kekasih yang terlihat rapuh tak berdaya.
Tak ada kata yang terucap, ia hanya mengusap punggung Yalisa, seraya mengecup ubun-ubun sang kekasih yang sudah lama ia rindukan.
“Jahat! Sialan kamu! Dasar pembohong! Buaya, kamu selalu menyakiti hati ku! Pembohong, hiks.... hiks...” meski Yalisa memakinya, ia tak mencoba membela diri, ia biarkan sang kekasih meluapkan apa yang ada di hatinya, karena Riski sadar, semua adalah hasil dari janji manisnya.
Cukup lama Yalisa menangis, hingga akhirnya ia lelah, kemudian tertidur di pelukan Riski.
Semula Riski pikir Yalisa pingsan, saat ia merebahkan tubuh kekasihnua di sebuah kasur yang ada dalam warung, ternyata gadis cantik itu malah mendengkur, seperti bebannya selama ini telah lepas.
“Dasar, aku baru tahu ada orang yang tidur pulas setelah menangis,” batin Riski.
Ketika Riski meletakkan kepala Yalisa di pangkuannya, Riski junior pun naik ke atas kasur dan menjilat wajah Yalisa yang basah
“Sssst...., mama jangan di ganggu, ia lelah nak,” ucap Riski pada Riski.
Ternyata selama ini Riski membaca semua pesan Yalisa, namun ia menyetel WhatsApp nya, jadi seolah ia tak pernah terlihat online, setelan panggilan di non-aktifkan, serta pesan masuk terlihat centang 1.
__ADS_1
Riski memeluk Riski junior, dan mengelus lehernya.
“Terimakasih sudah menghibur mama selama ini ya nak,” ucap Riski yang ternyata pecinta kucing juga.
Pukul 19:00, Yalisa terbangun dari tidurnya, matanya yang sipit seperti di gigit tawon menyulitkan ia untuk melihat dengan jelas.
Lalu ia mendengar suara Riski, sedang melayani pelanggan yang datang membeli beras.
Banyak sekali pembeli antri di depan warungnya, bagaimana tidak, semua rela mengantri demi melihat wajah Riski yang kini bagaikan idol.
Satu jam kemudian Riski baru selesai melayani para pelanggannya.
Saat ia mengecek kondisi Yalisa, ternyata sang kekasih sudah duduk di atas kasur.
“Kamu sudah bangun?”
Yalisa menganggukkan kepalanya, “Warungnya tutup saja,” ucap Yalisa.
Kemudian mereka berdua memasukkan semua barang dagangan yang ada di teras warung, setelah semua beres, warung telah di gembok, Yalisa memakai masker dan kaca mata, agar wajah hancurnya tak di lihat oleh orang lain, kemudian mereka berdua pun berjalan beriringan menuju rumah Yalisa.
Tak lupa Riski membawa box ikan kembungnya.
“Itu ikan kembung lagi?” tanya Yalisa, yang kini sudah bersikap normal.
“Iya, kamu suka kembung kan?” Lalu Yalisa menggelengkan kepala.
“Aku pikir kamu suka,” ucap Riski.
“Aku lebih suka kalau kamu ada disini,” ungkap Yalisa.
Riski tersenyum, karena Yalisa tak seperti dulu lagi, yang pintar menyembunyikan perasaannya .
“Aku juga suka ada di samping mu,” ucap Riski.
Sesampainya mereka di rumah Yalisa, Riski meletakkan box ikan di atas meja dapur, setelah itu ia memeluk Yalisa, yang ingin membuatkannya teh.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.