
“Yang kamu bilang benar, aku takut kalau mereka berdua balikan, jadi aku mohon sama kamu, balikan lagi sama Yalisa ya,” bujuk Mei.
“Aku enggak bisa Mei, lagi pula Felicia lumayan juga tuh, baik dan enggak sombong,” ucap Riski.
“Itu cuma pura-pura, nanti juga kamu tahu gimana belangnya.” saat Mei akan melihat ke arah meja ia kaget karena makanannya sudah tidak ada.
“Kamu makan mie goreng ku Zuco?” tanya Mei.
“Iya, ku fikir kamu enggak mau Mei,”
“Ihh ih!” Mei menekan giginya kuat-kuat.
______________________________________________
Sementara di toilet, Yalisa yang baru saja selesai buang air besar ingin keluar dari bilik toilet, saat ia memutar handle pintu, pintunya malah tidak bisa di buka.
“Halo, ada orang di luar enggak? Tolong dong bukain!” teriak Yalisa dari dalam bilik.
Yalisa dengan jelas mendengar banyak orang di dalam toilet itu, namun tak ada satu pun yang bersedia membantunya.
“Apa ini? Apa sekarang orang-orang kembali membully ku lagi karena aku sudah putus dari Riski? Orang-orang jadi berani mengerjai ku lagi?” gumam Yalisa.
Yalisa menggedor pintu toiletnya, berharap ada yang membantunya.
Dor dor dor!!! “Tolong dong buka teman-teman, aku terkunci di dalam nih!” meski Yalisa sudah berulang kali meminta tolong orang-orang tak ada yang memperdulikannya.
Karena tak ada harapan, Yalisa pun mengambil handphone di sakunya, dan mengirim pesan pada Mei.
📱 “Mei, bantu aku dong, aku di kunci di toilet nih, cepat ya,” Yalisa.
Mei yang membaca pesan itu malah mengabaikannya.
“Biar saja kamu disana,” batin Mei.
Tak lama bel sekolah pun berbunyi, tett... tett... tett..., Yalisa yang panik akan terlambat masuk kelas pun semakin kencang menggedor-gedor pintu bilik toilet itu.
“Bukain dong, siapa saja tolong!!” lalu tiba-tiba terdengar bunyi, cetek.
__ADS_1
Kriett...
Ada seseorang yang membantu Yalisa untuk keluar dari dalam toilet. Saat Yalisa lihat siapa yang membantunya, ternyata itu adalah Felicia.
“Feli??”
“Kamu udah lama di dalam?” tanya Felicia.
“Sudah lumayan sih,” jawab Yalisa.
“Iseng bangat sih yang kunciin kamu Lis,”
“Iya, aku juga enggak tahu siapa, tapi makasih banyak ya Fel udah bantuin aku.” ucap Yalisa seraya menggenggam tangan Felicia.
“Iya, ayo kita kembali ke kelas.” ajak Felicia pada Yalisa, mereka pun berjalan beriringan.
“Udah cantik baik lagi, dan dari dulu Felicia juga enggak pernah mengusik hidup ku, ya kali ini Riski enggak salah pilih sih, udah sederajat sama dia, keren lagi orangnya.” itulah yang terbesit di hati Yalisa mengenai Felicia.
Felicia yang berjalan di hadapan Yalisa lebih dulu memasuki kelas. Saat gilirannya yang masuk kelas, tiba-tiba Yovi melemparkan tong sampah berbahan plastik ke wajah Yalisa.
Buk!!! Karena tong sampah itu isinya banyak, alhasil tubuh Yalisa terdorong hingga terduduk di lantai.
Ia pun mimisan akibat benturan hebat yang mengenai tengkorak hidungnya, belum lagi kini aroma tubuhnya menjadi tak sedap akibat sampah yang mengenai baju dan sepatunya.
Yalisa sangat marah akan tindakan Yovi yang begitu semena-mena.
“Yovi!” hardik Yalisa, saat Yalisa mau berdiri dan akan membalas Yovi, tiba-tiba Yuna menjambak rambut Yalisa dari belakangnya, selanjutnya Yovi memasukkan plastik bekas gorengan ke mulut Yalisa.
Yalisa tak dapat melawan karena tenaga Yuna lebih kuat.
“Rasakan, aku puas sekarang bisa balas dendam ke kamu! Dulu aku enggak bisa karena kamu pacarnya Riski, tapi sekarang enggak lagi, jadi aku atau siapa saja bebas membully mu lagi, hahahhahaha!” Yovi yang sudah lama menantikan momen ini tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, ia pun menampar wajah Yalisa kiri dan kanan berulang kali.
“Setop! Yovi berhenti!” berteriaknya, Yuna yang kesal pada Yalisa pun mengambil tali rapiah dari kantongnya, lalu mengikat kedua tangan Yalisa ke belakang.
Setelah selesai, Yuna mengunci pintu kela,s kemudian Yovi dan Yuna memasukkan kertas bekas dari sampah yang bersarakan sebanyak-banyaknya ke dalam mulut Yalisa, hingga membuat Yalisa muntah, namun muntahan itu di telan nya kembali, akibat tak bisa keluar dari mulutnya.
Tak ada satu pun yang bersedia membantu atau sekedar melerai, Yovi yang sudah bukan main lagi menampar wajah Yalisa kiri dan kanan berulang kali.
__ADS_1
“Gara-gara kamu aku putus dengan Riski,” plak ke wajah kiri Yalisa.
“Kalau enggak ada kamu, pasti aku dan dia masih bersama,” plak! di pipi kanan Yalisa.
“Pada hal aku yang lebih dulu kenal dan jadi pacarnya, dan tiba-tiba kamu menghancurkan cinta kami, kamu rebut dia dariku!” plak plak plak! Yalisa yang sudah tak kuat dari posisi duduknya terkapar di lantai, lalu Yovi duduk di perut Yalisa, seraya menarik-narik rambut Yalisa.
“Yang terpenting, jatah bulanan ku, berhenti karena kamu, akhhh!!! Aku hampir gila karena itu Yalisa!”
Yalisa hanya bisa bergumam tak jelas, akibat mulutnya yang tersumpal, berulang kali Yalisa kembali muntah dan lagi-lagi harus di telan nya karena tak dapat keluar dari mulutnya.
Felicia yang aslinya memang senang dengan pemandangan itu tak lupa untuk merekamnya.
Ketika Yovi akan mencekek Yalisa tiba-tiba dari luar, ada yang menggedor pintu.
Dor dor dor!!!
“Buka pintunya woi!!” ternyata itu adalah suara Zuco, Yovi agak lega, karena ia pikir yang datang adalah guru, karena setahunya para guru sedang mengadakan rapat.
“Buka pintunya.” titah Yovi pada Yuna, Yuna pun bergegas membuka engsel pintu.
Krieeettt!!! Saat pintu terbuka, Zuco, Marco, Mei dan Riski terkejut bukan main, melihat keadaan Yalisa yang telah babak belur, belum lagi sang pelaku Yovi masih duduk di atas perut Yalisa, mereka berempat serempak memanggil nama, “Yalisa!!!” sambil berlarian ke arah Yalisa.
Buk!!! Riski menendang wajah Yovi sekuat tenaga, hingga terjungkal dan terjatuh ke lantai.
Sementara Zuco, Marco dan Mei membantu Yalisa duduk, dan membuka ikatan Yalisa, serta mengeluarkan kertas yang ada dalam mulut Yalisa, setelah semua kertas di keluarkan, Yalisa pun muntah berulang kali dalam duduknya, air mata dan air hidungnya pun keluar bercucuran sudah seperti keracunan.
Riski yang belum puas menendang wajah Yovi, kini menarik kerah baju Yovi dan meninju wajahnya berkali-kali.
“Ampun Ki, ampun! Aku salah Ki!!” ucap Yovi seraya menangis sesenggukan.
Yuna yang juga sebagai pelaku kejahatan tak lepas dari rasa takut, bahkan kini Yuna terkencing-kecing di celananya.
Setalah puas memukul Yovi yang kini wajahnya telah sama dengan keadaannya dengan Yalisa, Riski pun bangkit, kemudian menaruh tatapan tajam pada Yuna, “Kamu!” hardik Riski.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu