
“Itu belum selesai,” ucap Yalisa.
“Enggak apa-apa, lagian aku bukan mau menilai kok,” ujar Leo.
“Ya tetap saja, jangan di lihat.” ucap Yalisa, Leo bersedekap, menatap Yalisa dengan tatapan curiga.
“Apa itu lukisan wajah ku?” tanya Leo dengan polos.
Tiba-tiba Yalisa tersedak dan batuk-batuk, Leo yang melihat Yalisa kesulitan sigap memberikan air mineral.
“Aiss... kok dia tahu, enggak keren bangat kalau sampai dia tahu aku diam-diam melukis dia,” Batin Yalisa
“Hati-hati dong makannya, enggak usah cepat-cepat, enggak ada yang minta makanan mu juga,” ucap Leo dengan khawatir.
Yalisa meminum air pemberian Leo, Leo juga membantu menepuk punggung Yalisa.
“Pokoknya jangan lihat.” pinta Yalisa, Leo mencoba menghargai privasi Yalisa meski hatinya penasaran.
“Oke, apa itu gambar laki-laki?”
Yalisa menganggukkan kepalanya. Melihat respon Yalisa Leo menundukkan pandangannya.
“Apa aku boleh tahu siapa itu?” tanya Leo dengan perasaan gelisah.
“Ah hahaha... Aku enggak bisa kasih tahu.” Yalisa jadi mendadak grogi.
“Oh ya?” mood Leo tiba-tiba jadi buruk, Leo juga mengambil nafas panjang dan mendecak.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Yalisa.
“Iya,” jawab Leo.
Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba bel pun berbunyi.
“Ya sudah aku pergi dulu, aku harap lukisan mu itu cepat selesai dan hasilnya bagus.” ucap Leo dan berlalu dari ruangan dengan rasa cemas dan penasaran.
“Siapa laki-laki itu? Apa laki-laki itu juga suka sama Yalisa? Ku pikir hanya aku yang menyukai dia,” batin Leo
Sesampainya Leo di dalam kelas, Leo bergegas duduk ke kursinya, wajahnya murung, Kevin yang duduk di sebelahnya merasa kwatir kepada Leo yang terlihat aneh.
“Ada apa bro?” Kenapa wajah mu murung begitu?” tanya Kevin.
“Enggak apa-apa Vin.” jawab Leo.
“Gimana tadi sama Yalisa lancar?” tanya Kevin, lantas Leo menatap serius wajah Kevin.
“Apa ada masalah?” Tanya Kevin lagi.
“Kayaknya dia suka sama orang lain Vin,” ucap Leo.
“Ha? Kok bisa? Tau dari mana kamu?” tanya Kevin penasaran.
“Tadi pas aku mau buka lukisan yang dia tutupi dengan kertas manila, dia melarangnya, katanya itu lukisan laki-laki,” terang Leo.
Kevin yang mendengar penjelasan Leo merasa sedikit geli.
__ADS_1
“Hahaha, Makanya PDKT itu jangan kelamaan, nanti diserobot orang duluan baru tau rasa,” ujar Kevin.
“Aku pikir enggak akan ada yang suka sama dia selain aku,” terang Leo.
“Apa-apaan kamu, Yalisa cantik kok, apa lagi setelah dia perawatan sekarang, pastilah banyak cowok-cowok yang naksir sama dia,” ucap Kevin.
“Ck, aku harus gimana dong?” tanya Leo.
“Kamu kalau beneran suka, nyatakan secepatnya sebelum di tikung orang lain duluan, jantan dong!” Kevin mendorong Leo untuk lebih berani mengutarakan perasaannya pada Yalisa.
“Oke, nanti aku akan ungkapkan perasaan ku padanya,” ucap Leo.
“Jangan lupa, bawakan dia bunga atau coklat atau apa saja yang dia suka,” ujar Kevin.
“Benar juga kata Kevin,” batin Leo.
Percakapan mereka terhenti, karena pak guru masuk ke dalam kelas.
“Baik anak-anak, buka bukunya halaman 280.” titah pak guru yang masuk di kelas Leo.
Lalu pak guru mulai menerangkan materi dalam buku, sementara Leo tak begitu memperhatikan, di pikiran nya hanya ada Yalisa, dan bagaimana caranya ia menyatakan cintanya pada Yalisa, khayalannya itu tiba-tiba terhenti saat pak guru melemparnya dengan spidol.
“Khayalan mu sudah sampai mana? Apa sudah sampai Korea?” tanya pak guru padanya, teman-teman Leo yang mendengar perkataan pak guru pun tertawa terbahak-bahak.
“Iya pak?” Sahut Leo.
“Tadi bapak bilang apa?” tanya pak guru, Leo malah menggaruk-garuk kepalanya.
“Makanya kalau guru menjelaskan fokus, jangan malah mengkhayal, perempuan itu tidak akan kemana-mana, jadi tenang saja selama 2 jam kedepan, tolong pelajaran ini yang kamu isi dalam hati mu,” ucap pak guru.
Leo merasa malu atas perkataan pak gurunya itu. “Maaf pak,” ungkap Leo.
“Mau kemana?” tanya Kevin.
“Ya mau beli coklat lah,” jawab Leo.
“Sekarang?” tanya Kevin.
“Masa besok, aku pergi dulu,” jawab Leo.
Yang kemudian dengan buru-buru berlalu dari hadapan Kevin menuju kantin, sesampainya di kantin, Leo bingung karena tidak tau coklat apa yang di sukai Yalisa.
“Banyak bangat jenis coklatnya, tapi Yalisa suka yang apa ya? Ahhh.. bikin bingung,” batin Leo
Lalu pandangan Leo terhenti, saat ia melihat coklat berukuran besar dan panjang bermerek Silver kuin, Leo pun memutuskan untuk membeli itu saja, saat akan membayar ke kasir, Leo berpikir kembali.
“Masa aku cuma beli satu sih? Nanti kalau Mei minta masa iya coklatnya di bagi-bagi? Terus gimana penilaian dia sama aku, kasih coklat cuma satu doang,” batin Leo.
Karena ingin terlihat perfect di hadapan Yalisa, Leo pun memutuskan untuk memborong semua coklat yang ada di kantin dan segera membayarnya.
“Nak, kamu harus rajin menyikat gigi ya, makan coklat sebanyak ini bisa merusak gigi, tidak cuma rusak nanti juga bisa jadi busuk.” ucap ibu penjaga kasir, Leo hanya tersenyum malu.
“Terima kasih bu atas perhatiannya,” sahut Leo.
Setelah membayar ke ibu kasir, Leo pun mengirim pesan singkat pada Yalisa.
__ADS_1
“Kamu dimana?” Leo. 📱
Tapi pesan yang di kirim Leo tak kunjung di balas Yalisa.
“Sudah 2 menit, kok enggak di balas?” gumam Leo.
Saat Leo memeriksa pesan yang ia kirim ke Yalisa ternyata statusnya centang satu.
“Apa paket internetnya habis? Kalau aku datang langsung ke kelasnya, rasanya agak malu bawa coklat 2 kantong plastik besar begini,” batin Leo.
Karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Yalisa, Leo membuka aplikasi di handphone nya dan dengan sigap mengisi paket data Yalisa sebesar Rp. 200.000.
Selesai ia mengisi paket data Yalisa, Yalisa tetap tak kunjung membalas pesannya. Leo Kemudian mendial nomor Yalisa, yang ternyata sedang tidak aktif.
“Ya Tuhan, ternyata memang nomornya yang enggak aktif.” Leo menertawi dirinya yang terasa konyol.
Karena takut bel sekolah berbunyi, mau tidak mau Leo bergegas menuju kelas Yalisa. Kalau dia bawa ke kelasnya sudah pasti coklat-coklatnya yang manis itu akan di serbu teman-teman sekelasnya.
Sesampainya Leo di kelas Yalisa, Leo masuk dan mendapati orang yang dia resah kan sedang duduk santai makan goreng bakwan.
Leo beranjak ke kursi Yalisa, Siswa dan siswi yang ada di kelas berbisik-bisik yang mengatakan.
“Kenapa Leo masuk ke dalam kelas kita?” Yalisa yang melihat Leo langsung melambaikan tangannya.
“Kenapa kamu kesini?” tanya Yalisa.
“Aku nyariin kamu dari tadi” jawab Leo.
“Aku disini tidak kemana-mana,” ucap Yalisa.
“Lain kali handphone jangan di non aktifkan ya,” ujar Leo.
Kemudian Leo meletakkan dua kantong besar coklatnya ke meja Yalisa.
“Apa ini?” Tanya Yalisa.
“Ini untuk mu makanlah dengan pelan, nanti jangan lupa setelah makan gosok gigi, tolong balas pesan ku kalau kamu sudah mengaktifkan handphone mu.” ucap Leo yang mulai berlalu dari kelas Yalisa.
Yalisa merasa aneh dengan sikap Leo, saat ia membuka isi kantong itu, Yalisa terkejut karena isinya adalah coklat dengan berbagai merek. Mei yang melihat banyak coklat pun mulai kegirangan.
“Bagi dong!” seru Mei.
“Ambil saja,” ucap Yalisa.
Siswa dalam kelas yang melihat hadiah pemberian Leo mulai tergiur, tapi mereka enggan untuk memintanya pada Yalisa.
Yovi yang melihat itu pun tak tinggal diam, dia langsung menghampiri Yalisa dan mengambil sekantong coklat milik Yalisa.
“Ada makanan gratis kok enggak di bagi-bagi sih?” ucap sinis Yovi.
Kemudian Yovi mengoper-oper coklat itu ke teman-teman sekelas mereka hingga sekantong coklat pun habis.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAN TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram : @Saya_muchu