SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XLIV (Ulang Tahun Mei)


__ADS_3

Yalisa dan Mei berjalan dengan anggun di atas karpet merah menuju meja yang telah tersedia kue ulang tahun 3 tingkat yang sangat indah dan mewah.


Para tamu pun mendekat ke Mei seraya membuat lingkaran mengelilinginya.


Leo dan Riski berebut untuk berdiri di samping Yalisa, namun karena Riski kalah cepat, ia hanya bisa berdiri di belakang wanita idamannya itu.


Meski begitu Riski tak kehabisan cara, dalam keadaan yang ramai dan sempit, ia masih sempat untuk mencium bahu Yalisa saat Leo lengah, Yalisa yang tersadar menoleh ke belakangnya, dan ia pun kaget, ternyata Riski adalah pelakunya, karena tak ingin merusak suasana kali itu Yalisa mengabaikan Riski.


Lalu Mc yang Mei sewa pun mulai memberi kata-kata sambutan.


“Selamat malam semua hadirin yang berada di acara kita yang berbahagia ini, salam sejahtera dari saya Ricky selaku MC di acara ulang tahun Mei Lissah! Kami berharap para tamu terhormat menikmati kemeriahan pesta malam ini, tanpa berlama-lama lagi, DJ! mainkan musik, dan para hadirin, mari bersama kita senandungkan lagu selamat ulang tahun pada ratu cantik yang ada di hadapan kita malam ini! wuh!”


Sang MC yang begitu lihai dalam memandu acara, membuat suasana jadi meriah, semua bersorak gembira, lalu DJ memainkan musik dengan volume penuh di iringi para tamu yang menyayikan lagu Jamrud selamat ulang tahun.


Semua bersuka cita, seolah tak pernah ada konflik di antara mereka semua, Yovi yang di hari-hari sebelumnya bersikap kasar pun mendadak kalem.


Selesai bernyanyi, sang DJ memelankan volume musiknya, lalu Mc kembali memandu semua orang untuk menyanyikan lagu tiup lilin untuk Mei.


“Tiup lilinnya tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga sekarang juga, sekarang juga.” Mei pun menghembus api yang membakar lilin hingga padam, dan semua orang kembali memberikan tepuk tangan.


Setelah itu Mei memotong beberapa kue lalu di taruh di atas piring kue berukuran kecil.


“Kue pertama, aku berikan pada sahabat ku Yalisa, karena dia adalah salah satu teman yang aku sayangi,” ucap Mei, seraya menyuap kue coklat tersebut ke mulut Yalisa, Yalisa langsung menggigit kue pemberian Mei dengan sedikit malu-malu.


Lalu potongan ke dua di beri kepada Leo, potongan selanjutnya di beri secara acak oleh Mei kepada semua orang.


“Oke, sebelum kita ke acara dansa dan lainnya mari kita dengarkan bersama pidato singkat dari ratu cantik kita malam ini.” ucap Ricky sang Mc.


“Okay, pertama-tama aku tak hentinya bersyukur pada Allah SWT yang telah memberi kesehatan kepada ku dan keluarga ku, meski saat ini kedua orang tua ku tak dapat hadir, enggak apa-apa, karena do'a dari mereka saja sudah cukup, selanjutnya aku sangat berterimakasih pada teman-teman yang telah menyempatkan waktunya untuk hadir ke pesta sederhana ini, aku harap ke depannya kita semakin kompak, jangan ada lagi konflik atau apapun itu yang merusak kedamaian kita bersama, karenakan sebentar lagi juga kita sudah mau lulus, aku sangat berharap, di akhir-akhir pertemuan kita ini, kita isi dengan kenangan indah, mungkin itu saja dari ku, kalian semua jangan sungkan-sungkan, kalau makanan di atas meja belum habis, enggak ada yang boleh pulang, kita pesta sampai pagi!” seru Mei dengan rasa bersemangat, berharap acara malam itu berdampak positif ke depannya.


Tak lama sang DJ kembali memainkan musik yang mengundang raga untuk bergerak bebas, tak tanggung-tanggung, Mei ternyata menyediakan minuman dengan kadar alkohol sedang sampai ke rendah kepada teman-temannya, bagi siapa yang berminat untuk mencobanya.


Kevin yang minum beberapa gelas alkohol mulai mengajak Mei berdansa ria, meninggalkan Leo dan Yalisa yang masih berdiam diri di tempat.


“Kamu mau dansa juga enggak?” tanya Leo malu-malu pada Yalisa.

__ADS_1


“Boleh,” jawab Yalisa dengan menggandeng lengan Leo menuju kerumunan yang sedang mabuk akan musik, dan meninggalkan Riski sendirian di meja yang masih tersisa sisa kue ulang tahun.


Riski mengambil nafas panjang, suasana hatinya menjadi runyam, lalu ia berjalan menuju meja yang tersedia banyak minuman, kemudian ia meneguk beberapa gelas sekaligus.


Yovi yang melihat Riski sendirian datang menghampiri.


“Hai mantan, mau dansa sama aku enggak?” ucap Yovi, seraya memegang pergelangan tangan Riski.


Karena tak ada pilihan, Riski pun menerima ajakan Yovi untuk berdansa bersama, berbaur dengan teman-teman mereka yang lain.


Hentakan musik yang semakin meriah membuat semuanya hanyut dalam gairah pesta.


Beberapa saat, sang Dj pun mengganti musik menjadi lebih melow, membuat semuanya terbawa suasana, begitu pula dengan Riski yang seketika melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping Yovi, dan Yovi pun melingkarkan kedua tangannya ke leher Riski seraya menyandarkan kepalanya ke dada Riski.


“Apa kita masih bisa balikan Ki? Toh yang kamu kejar juga sudah memiliki pacar, aku selalu siap menerima kamu kapan pun.” ucap Yovi.


Seketika Riski melihat ke arah Yalisa dan Leo yang berdansa tak jauh dari mereka, Riski tertawa kecil melihat rivalnya yang begitu kaku, pada hal suasananya cocok sekali untuk bermesraan, Leo dan Yalisa malah hanya saling menggenggam kedua tangan seraya bergerak ke kiri dan ke kanan.


“Leo belum pernah pacaran ya sebelumnya? Kalau aku jadi dia, udah aku peluk erat, apa lagi yang punya pesta kasih bebas pulsa begini.”~batin Riski.


“Kok enggak jawab sih mantan?” ucap pelan Yovi, kemudian Riski menatap wajah mantan pacarnya itu.


“Terus gimana sama pacar kamu yang lain? Nanti kalau kita balikan, mata mu masih kemana-mana lagi.” ucap Riski.


“Enggak kok, aku janji,” ucap Yovi, kemudian Riski melepaskan pelukannya dari Yovi.


“Sifat selingkuh mu itu adalah penyakit, nah kalau sudah penyakit susah di obati, pada hal kemarin jadi kekasih gelap saja kamu untung, masih saja kamu cari gara-gara, jadi untuk balikan aku enggak berminat, oke! kalau gitu kamu lanjutkan dansa sama yang lain saja.” ujar Riski seraya menuju meja yang menyajikan berbagai makanan.


Karena tak ada yang dapat di lakukan, Riski mengambil stik daging yang baru saja di angkat dari panggangan, lalu menaruhnya ke dalam piring cantik berwarna putih.


Ketika ia sendok daging itu ke mulut, Riski merasa sedikit janggal dengan tekstur daging yang sedang ia kunyah, tapi ia tak dapat menjelaskannya.


“Rasa dagingnya enak, tapi gimana ya bilangnya, aku baru pertama kali makan daging jenis ini.” gumam Riski.


Karena merasa penasaran Riski pun bertanya pada sang koki yang masih sibuk memanggang daging.

__ADS_1


“Ini daging apa sih pak?” tanya Riski.


“Ini daging sapi impor terbaik tuan.” jawab sang koki.


“Di impor dari mana pak?” tanya Riski lebih lanjut.


“Dari Kobe Wagyu tuan.” jawab sang koki.


“Masa sih pak, kalau dari Kobe, harusnya rasa dagingnya lebih enak dong, ini sih masih jauh di bawah Kobe, di rumah saya banyak daging Kobe Wagyu, kayaknya ini bukan sapi pak.” ucap Riski yang masih penasaran, karena dirinya yang seorang kuliner tahu betul rasa dan jenis makanan bahkan bahan-bahan apa saja yang di gunakan.


Sang koki tak merespon lagi perkataan Riski, Riski pun menghentikan kunyahan nya, karena masih kepikiran, ia membungkus sepotong daging itu ke dalam beberapa lembar tisu lalu menaruhnya ke dalam saku bajunya.


_____________________


“Aku pernah lihat kelas kalian latihan salsa, kamu masih ingat enggak gerakannya?” ucap Leo.


“Masih, emang kenapa?” sahut Yalisa.


“Kalau gitu tunggu sebentar ya.” ucap Leo, meninggalkan Yalisa menuju MC, Leo membisikkan sesuatu pada Mc, yang intinya memainkan musik untuk menari salsa.


Dan seketika, terdengar Lagu berirama son, yang berjudul Échale salsita.


“Huh!!” semua bersorak gembira, lalu mencari pasangan masing-masing untuk menari salsa, karena yang datang ke pesta Mei kebanyakan dari jurusan seni, otomatis semua hafal dengan setiap gerakan yang akan di lalukan.


Leo pun, mengajak Yalisa menari salsa bersama, gerakan dan ketukan kaki mereka berjalan seirama, gerakan demi gerakan di lalukan semakin intim, Riski yang tak ikut bergabung, merasa gerah melihat kedekatan Leo dan Yalisa, hingga di penghujung ketukan irama, secara mengejutkan Leo yang terbawa suasana mengecup bibir Yalisa beberapa saat.


Riski mengernyit, lalu meneguk beberapa gelas lagi, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan pesta ke area kebun bunga Mei untuk menenangkan diri, seraya menghisap rokok yang sedari tadi ada di kantong celananya.


“Pesta bangsa*,”~batin Riski.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2