
Perlahan Yalisa melangkahkan kakinya untuk bergabung bersama mereka, ia pun mengambil posisi duduk di sebelah bu Dewi.
Bu Maya yang sudah bertemu dengannya tadi memberi tatapan sinis dan dendam pada Yalisa.
“Kamu yang bernama Yalisa ya nak?” ucap pak polisi.
“Benar pak.” sahut Yalisa sambil memegang kencang kedua lutut dengan tangannya.
“Apa benar kamu ada masalah dengan pak Ari, tepat pada saat kejadian pak Ari menghilang?” tanya pak detektif padanya.
“Benar pak,” sahut Yalisa.
“Kenapa kira-kira nak? ada masalah apa antara kamu dan guru mu?” ucap pak detektif.
“Dia ingin saya menemani dia untuk malam itu menginap di rumahnya, katanya dia lagi sakit pak, lalu saya menolak dengan baik, setelah itu dia malah menghina saya, mengkata-katai saya dengan hal-hal yang tidak benar, dia juga melecehkan saya pak.” tutur Yalisa menjelaskan apa yang dia alami saat itu.
“Pak Ari juga sering mencibir dan juga memukuli saya, hari sebelumnya juga dia melempar saya pakai penghapus papan, itu mengenai hidung saya, akibatnya hidung ku mengeluarkan darah, dia juga memukul kepala saya berkali-kali dengan buku pelajaran yang tebal.” ucap Yalisa, membongkar semua kebusukan pak Ari.
Orang tua pak Ari yang tak terima anaknya di jelek-jelek kan di mata mereka berdua langsung angkat bicara.
“Hei! jalan*, jangan sembarangan bicara ya! Anak ku tidak seperti yang kau tuturkan! anak ku adalah seorang yang terpelajar, beretika dan berbudi luhur, semua orang juga tau kamu itu wanita yang enggak benar jadi jangan berkilah dengan mengatakan anak ku berbuat jahat dan asusila pada mu, wanita yang tidak selevel dengan kami.” tutur bu maya dengan nada tinggi.
“Benar nak, kami tau sekali siapa anak kami, kenapa kamu bisa berkata begitu? kalau anak kami seperti itu? Sebaiknya kamu jujur saja, lagi pula beberapa guru sekolah mu juga sudah menjelaskan pada kami dan penyidik, kamu itu orangnya seperti apa.” ucap pak Tino.
Yalisa mengernyit, lalu melihat kepada para gurunya yang ada di ruangan.
“Dasar guru setan, kenapa kalian masih saja menyudutkan aku, pada hal semua bukan salah ku,”~Batin Yalisa.
“Bapak dan ibu, tolong tenang dulu, jangan ganggu kami selaku penyidik menjalankan tugas,” ucap pak polisi.
“Apa kamu punya bukti, kalau yang kamu katakan itu benar nak?” tanya pak detektif.
“Tentu saja, semua orang yang ada di kelas jadi saksinya,” sahut Yalisa.
Pak Toni mengusap tangan ke wajahnya, merasa tak percaya, jika memang benar anaknya berlaku seperti itu.
“Baiklah, nanti kami akan selidiki pada teman-teman mu, tapi... dimana kamu setelah pulang sekolah?” tanya pak polisi.
“Saya, pergi main ke Dufan pak,” ucap Yalisa.
“Ada buktinya?” sahut pak detektif.
Lalu Yalisa pun memperlihatkan reservasi kunjungannya di hari itu, membuat mereka semua angguk kepala kecuali bu Maya.
“Bersama siapa kamu ke dufan? Lalu, jam berapa kamu pulang?” ucap bu Maya.
“Saya sendirian, aku bosan sekali hari itu, saya juga ingin menenangkan diri, kalau untuk pulang saya sampai ke rumah jam 22:00 malam, disana juga ada ibu ku sebagai saktinya,” sahut Yalisa.
Karena tidak ada tanda-tanda kalau Yalisa adalah pelaku penculikan, untuk sementara dia di bebaskan dari tuduhan.
“Baiklah nak, saya rasa untuk hari ini sudah cukup, kalau ada yang kamu ketahui, tolong kabari kami segera,” ucap pak detektif.
__ADS_1
Bu Maya yang tidak ikhlas Yalisa di lepaskan dari penyelidikan, merasa tak terima, batinnya sebagai seorang ibu mengatakan, kalau Yalisa terlibat atas hilangnya anak semata wayangnya Ari.
“Bapak, tolong selidiki lebih lanjut, saya tidak percaya kalau bukan dia pelakunya.” ucap bu Maya seraya menyatukan sepuluh jarinya.
Yalisa yang melihat sikap bu Maya yang begitu menyudutkannya memutar mata malas.
“Bu, tadinya saya tidak ingin perpanjang masalah ini, tapi melihat ibu yang begitu niat menyudutkan saya, maka disini saya akan buat laporan pada pak polisi, atas tindakan ibu yang menganiaya saya, dan juga tadi pagi ibu telah menyerang dan memukul saya secara tiba-tiba, kalau masalah saksi, ibu tidak usah khawatir, banyak pasang mata yang menyaksikan beringasan ibu pada saya.” tutur Yalisa yang sudah naik pitam, tak terima lagi dirinya di perlakukan semena-mena.
“Anak lancang!” hardik bu Maya.
Saat bu Maya akan melayangkan tangannya ke wajah Yalisa, pak Tino menahan tangan bu Maya.
“Sudah bu, ibu tenang dong, jangan bikin tambah kacau keadaan kita, Ari saja belum ketemu, biarkan polisi yang bekerja, mungkin saja bukan dia pelakunya,” ucap pak Tino.
Berkat bujukan dari pak Tino, hati bu Maya pun luluh.
“Ya sudah, saya sudah mengalah nih sama orang kayak kamu, jadi kamu berhenti kasih laporan tak jelas mengenai saya dan anak saya, faham kan?” ucap bu Maya dengan arogannya.
Yalisa yang sudah pada batasnya tak mendengarkan titah dari bu Maya, dan terus mengajukan laporannya pada kedua pihak berwajib itu.
“Kira-kira begitu pak yang saya alami, saya harap bapak memproses orang tua dan anak ini,” ucap Yalisa.
Mereka semua yang ada dalam ruangan tak habis fikir, masalahnya jadi menjalar kemana-mana.
Kemudian bu Dewi dengan inisiatif membujuk Yalisa.
“Nak, sudahlah jangan di perpanjang lagi, toh kamu tidak terbukti bersalah.” ucap bu Dewi seraya mengelus punggung Yalisa.
Yalisa sontak memberi tatapan tajam pada bu Dewi yang duduk di sebelahnya.
Bu Dewi yang menerima penuturan pedas dari Yalisa tak bisa membalas, karena ia sadar, dia pun tak pernah perduli tau tentang anak itu, pada hal dia tahu betul keadaan Yalisa selama ini.
Bu Dewi melepaskan tangannya dari punggung Yalisa, bu Maya yang melihat betapa kejamnya Yalisa padanya langsung melayangkan sumpah serapah dari mulutnya.
“Semoga kau cepat mati, ku sumpahi kau tidak akan pernah bahagia seumur hidup mu!” hardik bu Maya.
“Kalau tidak ada yang perlu lagi, saya mau keluar dari sini, disini begitu sesak, banyak berkumpul keturunan Dajjal, semua yang ada disini tak ada yang berprikemanusiaan, pada hal dasar negara sudah begitu bagus, tiap senin di ucapkan, tapi... aku tidak pernah mendapatkan keadilan sosial itu” ucap Yalisa seraya mengingat masa yang ia alami yang tersusun rapi di dalam memorinya.
“Pak polisi yang terhormat, jika kalian bekerja dengan benar, dan mau menyelidiki laporan yang aku berikan, kalian akan menemukan banyak kenyataan pelik yang ku alami dalam sekolah ini, mungkin kalian akan berkata aku bodoh tak melapor ini dan itu, huh... bagaimana bisa aku lakukan semua itu, kalau ribuan manusia yang ada di sekolah ini bekerja sama untuk membuat ku jadi mayat hidup, lebih baik aku di bunuh, dari pada di buat tersiksa, tapi mereka tak mau melakukan itu, kenapa begitu? selidiki saja sendiri.”
Ucap Yalisa seraya berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan kantor kepala sekolah.
Para tetua yang berada dalam ruangan seketika merasa kehilangan harga diri mereka masing-masing atas tindakan Yalisa.
“Anak kampre*, makin hari makin berani saja kelakuannya,” Batin pak Aryo.
“Pak, bapak tidak akan memproses laporan anak setan itu kan?” tanya bu Maya pada pak polisi.
“Tentu saja kami akan proses bu, karena ia juga memiliki hak yang sama seperti ibu,” jawab pak polisi.
Bu Maya yang mendengar keputusan pak polisi merasa lemas, tak percaya sekarang ia juga menjadi tersangka atas tindakan gegabah yang ia lakukan.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, dari luar terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok...
“Assalamu'alaikum,” ucap Riski.
“Wa'alaikumussalam,” jawab serempak mereka dari dalam ruangan.
“Masuk nak,” ucap pak Aryo.
Riski pun memutar handle pintu dan berjalan ke arah mereka dan mengambil posisi duduk di samping pak Aryo sebelum di persilahkan.
“Dasar gila, enggak ada etika, beraninya dia duduk tanpa di persilahkan, sudah begitu dia duduk di samping ku lagi, bikin sempit saja.”~ Batin pak Aryo.
“Riski...” ucap pak polisi.
“Iya pak,” sahut Riski.
Riski langsung merespon ucapan dari sang polisi, pada hal pak polisi masih ingin melanjutkan kalimatnya.
“Apa benar kamu ada masalah sama pak Ari?” tanya pak Polisi.
“Benar pak, ya wajar saja saya pukuli dia, dia itu melecehkan teman perempuan saya,” tutur Riski mejelaskan peristiwa sebelum di tanya lanjut oleh pak polisi.
“Memangnya kamu lihat langsung?” ucap pak detektif.
“Iya, memangnya kamu lihat langsung anak saya melakukan itu? mana tahu si wanita jalan* itu yang menggoda anak saya,” ujar bu Maya.
“Heh...!! Hati-hati ya kalau bicara, sama saya saja dia enggak tertarik, jadi gimana ceritanya dia mau sama anak ibu? Mikir dong bu, emang apa bagusnya pak Ari? Uangnya saja cuma sedikit, tinggal di apartemen murah, enggak sebanding dengan saya, jadi kalau orangnya normal, sudah pasti dia memilih saya dari pada pak Ari, kalau dia enggak suka saya, ya sudah di pastikan juga, dia enggak akan suka sama pak Ari, sejak kapan istilahnya cinta lebih berharga dari pada uang?”
Tutur Riski dengan percaya diri, karena selama ini apa pun yang dia inginkan bisa di beli dengan uang.
“Dasar songong,” Batin pak polisi.
“Memang blasteran neraka yang satu ini, ngomong enggak pernah lihat sikon, enggak beretika,” batin bu Dewi.
“Uang, uang, uang terus yang kamu banggakan! sekaya apa sih kamu!” hardik bu Maya, Riski mendecak sambil menggelengkan kepala.
“Dengar ya bu, gaji pembantu saya yang baru traning saja 15 juta, apa lagi yang sudah senior, terus gimana saya yang sebagai majikan? Ayah saya pengusaha sukses! Ibu tau kan Pt. XX yang punya banyak cabang di seluruh Indonesia? itu milik ayah saya!” ucap Riski dengan nada tinggi.
Mereka yang ada dalam ruangan tak dapat berkata-kata, begitu pula dengan bu Maya yang seketika menciut setelah mengetahui Riski bukanlah orang sembarangan.
Karena tak ingin masalah melebar kemana-mana pak polisi mengambil alih pembicaraan.
“Sudah, sudah! Kamu belum jawab pertanyaan bapak, jadi gimana kamu bisa tau kalau Yalisa di lecehkan oleh pak Ari?” tanya pak Polisi
“Saya dengar suaranya seperti minta tolong dari ruang BP, pas saya ketuk, lama sekali untuk di buka, setelah pak Ari membuka pintu dia juga tidak mengizinkan saya masuk ke dalam ruangan, pintu juga tidak di buka lebar, saat kami sedang mengobrol, tiba-tiba muncul Yalisa dengan rambut yang acak-acakan, dan juga baju yang sudah tidak rapi, menurut bapak mereka berdua habis ngapain?” ucap Riski.
Pak polisi dan detektif mulai mencerna perkataan Riski dan juga para saksi sebelum-sebelumnya, yang memang menyudutkan pak Ari.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu