
Yalisa terdiam saat Leo mengecup bibirnya, orang-orang yang ada di sekitar mereka pun seolah tak perduli.
“Maaf, aku terbawa suasana,” ucap Leo.
“Enggak apa-apa,” sahut Yalisa.
Yalisa merasa sedikit canggung setelah menerima kecupan itu, lalu ia melirik ke arah Mei yang masih saja sibuk menari bebas bersama Kevin, Marco dan juga Zuco.
Begitulah Mei, saat mendengar musik bisa tahan berjoget ria hingga berjam-jam tanpa lelah, lalu Yalisa teringat akan penyelidikannya yang belum usai tentang pak Ari.
Dirasa ia punya waktu banyak, Yalisa pun berfikir untuk meninggalkan pesta sejenak.
“Leo, aku boleh ya izin ke toilet sebentar, karena aku mau buang air besar.” ucap Yalisa.
“Oke, mau aku temani Lis?” sahut Leo.
“Enggak usah, kamu tunggu disini saja, sekalian kamu makan, sedari tadi kamu belum makan apa pun kan?” ucap Yalisa.
“Ya sudah, kalau begitu aku tunggu kamu saja, biar sama-sama makan.” ujar Leo.
“Oke, tapi kalau kamu sudah lapar bangat, makan saja duluan.” ucap Yalisa, seraya berlalu meninggalkan Leo, masuk ke dalam rumah Mei.
Leo pun berjalan menuju meja yang banyak makanan dan minumannya, setelah itu Leo mengambil segelas jus jeruk dingin untuk melepas dahaganya.
Sementara Riski sendiri, ternyata melihat Yalisa yang masuk ke dalam rumah Mei sendirian, ia pun mengikuti Yalisa secara diam-diam.
Yalisa mempercepat langkahnya, selagi semua orang berada di luar rumah, ia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dapur.
Kriett..., Yalisa membuka pintu kamar mandi.
Dap!
Yalisa mengunci kembali pintu kamar mandi itu, lalu dengan waktu yang sangat terbatas, ia memeriksa, apakah cincin pak Ari masih ada di atas wastafel.
“Kemana cincinnya? Siapa yang ambil?” batin Yalisa.
Karena cincin yang satu-satunya jadi bukti telah berpindah tempat, Yalisa mencoba mencari petunjuk lain, dengan menyusuri tiap-tiap bagian kamar mandi, sampai ke sudut terkecil pun, lama Yalisa mencari namun ia tak menemukan apapun.
Marasa ia sudah terlalu lama meninggalkan pesta, Yalisa memutuskan untuk kembali, karena takut menimbulkan kecurigaan.
Ceklek, Kriett..
Yalisa membuka pintu, ia pun berlalu dari sana, saat akan meninggalkan area dapur, Yalisa tiba-tiba merasa kehausan, lalu ia memutuskan untuk mengambil segelas air minum sebelum ia keluar menuju pesta.
Ia pun berjalan menuju dispenser yang dekat dengan tempat khusus pemotong daging atau ikan di dapur Mei, dan di tempat pemotong daging itu juga tersedia wastafel, karena Yalisa tadi lupa mencuci tangan dalam kamar mandi, ia pun berniat untuk membersihkan tangannya disana.
Saat ia tengah sibuk mengucek tangannya dengan sabun di atas wastafel, tak sengaja ia melihat sebuah dasi di tempat sampah yang ada di samping meja pemotong daging.
Kalau di ingat-ingat, dasi itu mirip sekali dengan kepunyaan pak Ari. Yalisa berhenti mencuci tangannya.
__ADS_1
Kemudian ia mendekat ke tong sampah itu, lalu Yalisa menutup rapat mulutnya, yang tak percaya.
“I, ini benar milik pak Ari kan?” batin Yalisa.
Lalu di sekitar dasi itu terdapat banyak rambut, bergegas Yalisa mengambil 2 lembar tisu, kemudian Yalisa meletakkan beberapa helai rambut di atas tisu itu dan melipatnya, selanjutnya ia sembunyikan di dalam kantong gaunnya.
Saat ia akan membalik badannya ia kaget bukan main, saat tubuhnya menabrak seseorang.
“Hah!” seketika wajah Yalisa pucat pasif, di kira yang ia tabrak itu adalah koki atau yang lainnya. Saat ia mendongak, ternyata itu adalah Riski.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Riski yang khawatir melihat wajah pucat Yalisa.
“Kamu ngapain disini?” tanya Yalisa dengan suara pelan.
“Aku ngikutin kamu, aku tunggu di ruang utama, tapi kamu enggak muncul-muncul, karena khawatir aku susul kesini.” jawab Riski.
“Oh, tadi aku buang air besarnya cukup lama.” ucap Yalisa, mencoba menyembunyikan temuannya.
“Tapi dari tadi aku perhatikan dari pintu dapur, kamu malah sibuk lihatin dapur ini secara seksama, seperti ada sesuatu yang kamu cari.” ucap Riski penuh selidik.
“Ya wajarlah aku perhatikan dengan seksama, kamu sendiri kan lihat, dapur ini begitu besar, megah, rapi dan juga bersih, aku juga pengen punya dapur seperti ini suatu saat.” ucap Yalisa.
“Dapur di rumah ku juga enggak kalah dari ini, kapan-kapan kamu mau enggak masakin aku makanan di rumah ku?” ujar Riski menggoda Yalisa.
“Aduh, jangan mulai lagi deh.” ucap Yalisa, seraya mencoba pergi dari hadapan Riski.
“Mau kemana?” tanya Riski dengan menghadang langkah Yalisa.
“Kamukan suka dapur ini, gimana kalau aku temani kamu disini lebih lama lagi?” ucap Riski membelai rambut Yalisa.
“Cih, kamu jangan banyak macam lagi ya, tadi juga kamu kurang aja* sama aku, aku masih maafin, sekarang biarin aku pergi, aku enggak akan tuntut masalah yang tadi!” hardik Yalisa.
“Kamu tuntut juga enggak apa-apa, kamu ngadu ke Leo juga enggak masalah, nanti aku tanggung jawab atas semuanya.” ucap Riski yang masih menghadang Yalisa.
“Iya iya, terserah deh, sekarang biarin aku pergi ya.” pinta Yalisa yang mulai takut kalau Leo akan datang menyusulnya.
“Kamu boleh pergi, asal cium aku dulu.” ucap Riski seraya meletakkan telunjuknya di bibirnya.
“Kamu gila ya! Baru kemarin minta-minta maaf, janji enggak akan gangguin aku, tapi sekarang kambuh lagi!” hardik Yalisa dengan memelototi Riski.
“Kamu kemarin cuma akting kan? Pura-pura lugu, pura-pura polos, nyatanya murahan juga, sama saja kayak cewek yang lain.” ucap Riski, dan itu cukup membuat Yalisa tersinggung.
“Apa? Kamu bilang aku murahan? Kamu bilang aku kemaren cuma akting dan pura-pura polos!” pekik Yalisa.
“Iya,” ucap Riski.
Yalisa mengambil nafas panjang dan meremas bajunya dengan kedua tangannya.
“Mulut kamu dari dulu emang kotor ya, enggak pernah berubah, tolong kamu menyingkir dari hadapan aku, aku enggak mau ribut sama kamu, ini rumah orang, ini di acara orang, jangan bikin malu dan rusuh Ki.” ucap Yalisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
“Jangan pura-pura nangis lagi kali ini, karena aku enggak akan merasa bersalah seperti kemarin, kamu ini orangnya sok suci,kenapa aku bisa ngomong begitu? Karena dengan tidak tahu malunya, kamu dan Leo, ciuman di depan umum, dan gaun yang kamu pakai sekarang, ini terlalu terbuka Yalisa!” hardik Riski mencoba mendominasi Yalisa.
“Apa itu jadi masalah buat kamu!” hardik Yalisa kembali.
“Aku sih senang-senang saja, tapi mengingat ekspresi kamu waktu di sekolah, membuat aku jijik, bertolak belakang sama apa yang aku lihat sekarang, gandengan sama Leo, berdansa ria, baju terbuka, ciuman, sejenis Yovi saja kalau berpakaian itu sopan, dia juga enggak munafik kayak kamu.” ucap Riski.
Yalisa yang sudah tak tahan akan hinaan Riski, berusaha pergi dari dapur itu, namun Riski tetap tak memberi celah.
Yalisa meletakkan tangannya ke keningnya menahan pusing akibat ulah Riski.
“Ki, apa pun yang aku lakukan, itu enggak ada urusannya sama kamu, kamu jangan ngejar aku terus, aku sudah punya Leo, tadi itu dia tiba-tiba cium aku, apa aku harus marah di tempat yang enggak tepat? Aku juga tau, kamu itu punya banyak pacar di luar sana selain Yovi, bahkan di sekolah hampir tiap jurusan cewek-cewek yang cantik kamu pacari, apa mereka saja belum cukup? Kamu jangan merusak hubungan ku dengan Leo, aku cuma punya dia.” ucap Yalisa, mencoba memberi pengertian pada Riski.
“Sekarang pacar ku tinggal 1, kalau kamu mau, aku akan putusin dia demi kamu.” ucap Riski memberi penawaran.
Yalisa menggelengkan kepalanya, tak mengerti harus membujuk Riski dengan cara apa lagi.
“Kalau bukan di rumah orang, sudah aku bacok kepalanya dengan pisau dapur ini.” batin Yalisa seraya melirik ke barisan benda tajam yang tergantung di dinding.
Riski mendekat ke Yalisa, lalu memeluk tubuh mungil Yalisa. Yalisa yang sudah lelah pun hanya bisa pasrah, karena melawan pun tak ada guna.
“Sudahlah, aku lelah berdebat dengan orang gila ini, kalau di ladeni lagi, bisa panjang urusannya.” batin Yalisa.
“Aku sebenarnya rindu kamu, enggak bertemu kamu sebulan itu rasanya ada yang janggal, sampai beberapa hari yang lalu, aku baru sadar kalau aku sebenarnya cinta sama kamu.” ucap Riski seraya mencium ubun-ubun Yalisa.
“Gila! aku sih enggak suka sama sekali sama kamu.” batin Yalisa.
“Kalau hati mu berat untuk memutuskan Leo, aku terima kok, walau aku harus jadi pacar rahasia mu.” ucap Riski.
“Dasar gila, kalau orangnya waras, pasti dia enggak akan mau sama kamu.” ucap Yalisa.
Lalu Riski melepas pelukannya dari Yalisa, kemudian ia memegang kedua pipi Yalisa dengan kedua tangannya, Yalisa pun mendongak.
“Pasti abis ini, dia bakalan cium aku, ya sudahlah, pasrah saja, makin cepat makin baik,”
batin Yalisa.
Yalisa pun memejamkan kedua matanya, Riski yang melihat kerelaan dari Yalisa, tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun mencium bibir Yalisa dengan lembut.
“Buka mulut mu,” titah Riski.
“Hah?” sahut Yalisa, tak mengerti maksud Riski.
“Buka saja, nanti kamu juga akan merasa lebih baik.” ucap Riski, karena masih awam, Yalisa menurut saja dengan titah Riski.
“Malam ini akulah pemenangnya, besok pun begitu, apa yang aku mau, harus menjadi milik ku.” batin Riski.
Riski yang semakin bergairah menggendong Yalisa, agar kepala mereka berdua sejajar, lalu ia kembali mencium bibir Yalisa, seraya memberi pagutan-pagutan mesra, Riski yang semakin di mabuk suasana bermain-main dengan lidah Yalisa hingga ia enggan untuk menyudahinya.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu