SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXI (Sedih)


__ADS_3

Yalisa yang telah sampai di depan rumahnya, langsung turun dari motor Riski.


“Makasih ya.” ucap Yalisa.


“Udah, itu doang?” sahut Riski yang duduk di atas motornya.


“Bentar.” Yalisa merogoh uang dari saku rok birunya, lalu menyodorkan senilai 25 ribu pada Riski.


“Apa ini?” tanya Riski sembari melihat uang yang ada di tangan Yalisa.


“Ini namanya ongkos, dari rumah Mei kesini enggak habis 1 liter kan?”


“Ck, gokil ya kamu, yang aku mau itu, masuk ke dalam rumah mu, suguhi air minum kek, kamu anggap apa aku dengan uang 25 ribu mu itu?” terang Riski dengan sedikit jengkel.


“Di rumah enggak ada orang, ibu ku lagi pergi ke ladang, kalau kamu masuk nanti jadi bahan omongan tetangga.”


“Berarti kalau ibu mu di rumah aku boleh main nih?” tanya Leo penasaran.


“Walau pun ibu ku sudah tua, tapi dia belum lupa sama wajah laknat mu, waktu rapat beberapa bulan yang lalu.” Mendengar penjelasan Yalisa Riski jadi bungkam.


“Udah ngerti kan?” tanya Yalisa.


“Hum, kamu benar, aku juga belum minta maaf secara resmi sama tante.” jawab Riski seraya menundukkan kepalanya.


“Nanti aku sampaikan langsung, sekarang kamu pulang saja ya.”


“Ya sudah, lain kali aku kesini buat minta maaf sama tante, karena untuk ke depan kita belum tahu apa yang terjadi, mungkin kita berdua akan berjodoh, jadi aku dan ibu harus membuat hubungan baik mulai dari sekarang.” ucap Riski, Yalisa hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Riski, yang tingkat kepercayaan dirinya melebihi rata-rata orang normal.


“Iya iya, kalau emang jodoh enggak akan kemana, udah pulang sana.”


“Ya sudah, aku pulang ya, hati-hati di rumah, jangan lupa kunci pintu.”


“Iya, kamu juga hati-hati di jalan ya.”


Riski pun menggas motornya membelah jalan raya, setelah Riski luput dari pandangan Yalisa, ia pun masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu sesuai arahan Riski.


Lalu Yalisa beranjak ke dalam kamarnya, di dalam kamar Yalisa merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Kemudian ia mengambil handphone dari sakunya.


ketika ia buka pesan WhatsApp nya, tak ada pemberitahuan tentang Mei di handphonenya.


Saat ia periksa pesan yang ia kirim sebelumnya pada Mei, hasilnya tetap sama status centang dua namun belum di baca.


“Pada hal aku udah lama temenan sama dia, tapi sedikit pun aku enggak tahu tentang dia, ternyata aku orang yang egois, aku hanya sibuk memikirkan masalah ku sendiri, sampai-sampai aku enggak sadar kalau sahabat ku juga punya masalah yang rumit, Mei, kok kamu jadi misterius begini sih?” gumam Yalisa.


Yalisa pun larut dalam fikirannya, bukan hanya tentang Mei, tapi juga Leo, sang kekasih hati yang tak kunjung memberi kabar padanya, yang membuat seribu tanya dalam hatinya, ada apa dengan ke dua orang penting dalam hidupnya itu.


Berkali-kali Yalisa menelpon Leo tak kunjung tersambung, sekalinya terhubung Leo tak bisa bicara lama, saat Yalisa meminta bertemu, Leo selalu saja menolak dengan berbagai alasan.


Tiga hari telah berlalu, Yalisa masuk sekolah dengan mata sembab serta di hiasi lingkaran mata panda, Riski yang sudah memantaunya beberapa hari ini bertambah cemas. Ia pun mendatangi meja Yalisa untuk menghibur wanita kesayangannya itu.


“Kamu baik-baik saja?” tanya Riski.


“Mata mu rabun apa?” sahut Yalisa seraya meletakkan dahinya ke meja.


“Udahlah, kamu jangan cemas berlebihan, urus dulu kantong mata jelek mu itu, di tambah bengkak enggak karuan lagi, kamu nangis karena Leo apa Mei sih?” tanya Riski.

__ADS_1


“Dua-duanya, aku enggak tahu kenapa mereka enggak masuk sekolah, di telepon juga susah bangat buat ngangkat,” ungkap Yalisa dengan perasaan sedihnya.


“Kamu benar juga sih, guru-guru juga enggak ada yang tahu mereka berdua kemana.” ucap Riski seraya duduk di kursi milik Mei.


“Kamu mau duduk disini lagi?” tanya Yalisa, karena selama Mei tak ada, bangkunya di isi oleh Riski.


“Iya, aku takut kamu kesurupan kalau di tinggal sendirian.” jawab Riski dengan memandangi Yalisa yang masih meletakkan dahinya di atas meja.


“Oh, gitu ya? Makasih udah mau jadi teman ku selama Mei enggak ada, berkat kamu aku enggak di resein orang lain, mau nangis pas belajar juga enggak ada yang perduli atau memaki.” ungkap Yalisa seraya mengangkat kepalanya kembali.


“Iya, kalau ada yang berani macam-macam, aku blender kepalanya.” ujar Riski.


Yalisa tersenyum kecil pada Riski Yang sudah bersedia ada di sampingnya saat ini.


“Kamu jangan sedih gitu dong, kalau enggak coba kita ke rumah Leo dan Mei sepulang sekolah nanti.”


“Gimana mau kesana? Mei saja nomornya enggak aktif.” ucap Yalisa seraya menghirup air hidungnya ke dalam.


“Kalau gitu kita ke rumah Leo saja gimana? Kamu belum pernah kesana kan?”


“Leo bilang enggak boleh.”


“Masa enggak boleh? Kamu kan pacarnya?” ucap Riski tak percaya.


“Katanya sih gitu.” Mata Yalisa kembali berkaca-kaca, dan itu membuat Riski tak tenang.


“Bukannya ini hal bagus? Leo menjauhi Yalisa, biar pun aku enggak tahu apa alasan yang sebenarnya, tapi kenapa hati ku malah ikut sakit? Aku malah lebih bahagia kalau melihat dia bahagia.” batin Riski.


“Ya sudah, nanti aku coba cari tahu tentang mereka berdua.” ucap Riski dengan berat hati.


“Iya,” jawab Riski.


“Kenapa enggak dari awal sih kamu bantunya? Kamu kan punya banyak uang, pasti bisa buat cari mereka berdua.” ucap Yalisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


“Itu uang ayah ku, jadi kali ini enggak gratis,” sahut Riski.


“Apa?”


“Setidaknya kalau enggak mau patungan bayar detektif, jangan nangis lagi, wajah mu terlihat jelek kalau bengkak-bengkak begitu.” Riski mengarahkan matanya ke mata hidung dan bibir Yalisa.


“Iya, aku mengerti.” Yalisa mengusap air mata yang berada di pipi dan matanya.


“Tapi kalau boleh tahu, sebenarnya yang paling kau tangisi siapa sih?” tanya Riski dengan penasaran.


“Dua-duanya, tapi yang paling buat aku sedih adalah Leo, kamu juga pernah rasain gimana merindukan seseorang yang di sayang kan?” ungkap Yalisa seraya merapikan rambutnya yang berantakan.


“Leo?” gumam Riski.


“Iya, kenapa?” tanya Yalisa dengan polosnya, ia lupa tentang perasaan Riski padanya.


“Goblo*!” pekik Riski seraya menelan air ludahnya.


“Kok goblo* sih?” gumam Yalisa, lalu ia melihat wajah Riski yang begitu kecut.


Hari itu, Riski tak mau bicara pada Yalisa sampai jam pulang sekolah selesai.


Sesampainya Riski ke rumahnya, ia mendial orang kepercayaan keluarganya.

__ADS_1


“Halo, tolong cari tahu keberadaan orang yang akan saya kirim data dirinya pada anda,” Riski.📱


“Baik,” Detektif Musa. 📱


Selesai dari percakapan itu, Riski pun mengirim data diri Mei dan Leo dengan bentuk pdf.


“Semoga saja bisa ketemu,” batin Riski.


Sembari menunggu kabar selanjutnya, Riski mengganti baju ke kamarnya.


Malam harinya, saat Riski tengah makan malam sendirian di meja belajar yang ada dalam kamarnya, ia mendapatkan sebuah pesan WA.


Riski pun membuka pesan tersebut, ternyata itu dari detektif Musa, yang memberikan informasi berupa photo Leo yang mendorong kursi roda Mei di sebuah taman rumah sakit.


Riski mengernyit, mencoba mencerna maksud photo tersebut.


Detektif Musa juga memberikan alamat rumah sakit, serta alasan mereka berada disana.


Riski yang membaca semua isi laporan berbentuk pdf itu menghentikan auman makannya.


Ia tak mengerti, mengapa Mei mendonorkan ginjalnya pada ibunya Leo.


“Aku harus kesana, segera.” gumam Riski, lalu Riski meneguk air mineral yang ada dalam gelas bening panjangnya.


Setelah itu, ia mengambil kunci motor dan jaket kulitnya yang tergantung di gantungan baju pada pintu kamarnya.


Dengan buru-buru ia turun dengan lift ke lantai dasar rumahnya, lalu menuju garasi motornya.


Tanpa memanaskan mesin motornya terlebih dahulu, Riski yang di balut rasa penasaran melaju dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.


Setelah hampir satu jam dalam perjalanan, Riski pun tiba di tujuannya, dengan sigap ia menuju parkiran rumah sakit, setelah itu ia turun dari motor, dan dengan langkah cepat menuju ruangan Mei di rawat.


Setelah Riski sampai ke depan pintu ruangan, Riski tanpa permisi memutar handle pintu.


Ceklek..


kriett...


Saat pintu terbuka, ia melihat Mei yang duduk di atas ranjang, dengan tangan masih terimpus sedang makan di suapi oleh Leo.


“Anda siapa?” tanya seorang suster yang berjaga dalam ruangan Mei malam itu.


Sontak Mei dan Leo menoleh ke arah suster itu berbicara.


Kehadiran Riski di sambut kaget oleh Mei dan Leo.


“Riski.” gumam Leo yang masih memegang piring dan sendok ala rumah sakit.


Riski pun masuk ke dalam ruangan dan berdiri di samping Leo yang duduk di dekat ranjang Mei.


“Nasi di mulutnya sudah habis, silahkan lanjutkan dulu makannya.” ucap Riski pada Leo dan Mei.


Bersambung.


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, RATE 5, KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2