SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXVIII (Diet)


__ADS_3

Leo yang di tinggal lari membuat perasaannya semakin suram.


“Baru sehari, tapi dia sudah menganggap ku sebagai orang asing.” kemudian Leo memijat kepalanya yang terasa berdenyut, seraya beranjak ke toilet.


Sesampainya Leo di dalam toilet, ia membasuh wajahnya yang terasa kusam dan kering di wastafel.


Lalu Leo melihat dirinya di kaca yang ada di atas wastafel.


“Pada hal kita baru dekat dan pacaran beberapa bulan, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun.” saat sedang berkaca begitu tiba-tiba handphonenya berdering.


Leo pun segera merogoh handphonenya dari dalam saku celananya.


Yang saat dilihat, ternyata itu adalah panggilan dari ibunya.


“Halo bu.” Leo. 📱


“Halo nak, gimana sekolahnya hari ini?” bu Dita. 📱


“Lancar kok bu.” Leo. 📱


“Oh iya, ibu telepon kamu cuma mau bilang, nanti sepulang sekolah bawa Mei ke rumah ya nak.” bu Dita.📱


“Buat apa bu?” Leo. 📱


“Ya buat ngajak dia ke mall lah, kita mau cari baju untuk pertunangan kalian hari minggu besok.” bu Dita. 📱


Kepala Leo kembali berdenyut, mendengar kabar kurang enak yang ia dapatkan.


“Halo, kamu ngerti kan nak?” bu Dita. 📱


“Ya sudah bu, kalau gitu Leo tutup.” Leo. 📱


Setelah selesai menelepon dengan ibunya, Leo kembali membuka pesan WhatsApp yang ia kirim pada Yalisa.


“Ck.” Leo berdecak, karena status pesan yang ia kirim belum berubah jadi centang biru.


“Dia kehabisan kuota atau apa sih?” gumam Leo.


_____________________________________________


Yalisa yang baru saja sampai di kantin segera bergabung di meja panjang yang telah di tempati oleh Mei, Zuco dan Marco.


“Loh, Riski mana?” tanya Marco celingak-celinguk.


“Bentar lagi nyusul kok.” jawab Yalisa seraya duduk di bangku panjang yang muat di duduki oleh 3 orang.


Ia duduk di samping Zuco, sementara Marco dan Mei persis di hadapannya, duduk di bangku panjang yang ukurannya sama dengan yang Yalisa duduki.


“Kalian pesan apa?” tanya Yalisa seraya melihat piring temannya satu persatu.


Zuco dan Marco pesan sate padang, sementara Mei, sup ikan gabus sebanyak 3 ekor.

__ADS_1


“Sejak kapan kamu suka ikan gabus?” ucap Yalisa, karena setahunya Mei sangat tidak suka pada ikan itu.


“Sejak beberapa hari yang lalu, saat buka google, ada artikel yang menyatakan, kalau ikan gabus itu Secara spesifik mengandung 69 kalori; 25,2 gram protein; 1,7 gram lemak; 0,9 miligram zat besi; 62 miligram kalsium; 76 miligram fosfor; 150 miligram vitamin A; 0,04 miligram vitamin B; dan 69 miligram air. itu kalau kita baru makan 100 gram, belum lagi kalau sampai 1000 gram.” terang Mei secara rinci, yang membuat Yalisa tak dapat menyela dan hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Mau dong Mei.” seru Zuco yang baru tahu akan banyaknya keunggulan ikan tersebut.


“Ambil saja, dan ikan ini juga bagus untuk otak, makan yang banyak Zuco, biar kamu tambah pintar.” terang Mei.


Yalisa melihat dengan seksama, saat Mei memasukkan daging ikan gabus itu dengan sendok ke dalam mulutnya.


Tab! Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencengkram pundak Yalisa.


“Hah!” saat Yalisa menoleh ke arah si pemilik tangan.


“Ck.” Yalisa berdecak, karena itu adalah Riski.


“Kenapa belum pesan makanan?” tanya Riski pada Yalisa.


“Apa sih? Singkirkan tangan mu.” Yalisa menggerakkan bahunya ke belakang dan ke depan.


“Wah, galak bangat sih sayang.” ucap Riski seraya mengedipkan mata kirinya pada Yalisa.


Mei, Marco dan Zuco melihat itu, namun mereka bertingkah seolah itu adalah hal lumrah.


“Sayang mata mu!” pekik Yalisa dengan menepis tangan Riski.


“Lis, jangan galak-galak dong.” Riski yang mendengar kalau Marco membelanya, langsung melakukan tos.


“Akhir bulan habis Ki.”


“Tenang, aku isi yang unlimited entar.” ujar Riski.


“Dasar 2 kutu beras.” ucap Yalisa seraya memutar mata malas.


“Eh, lagian Riski wajar saja tahu panggil kamu sayang, secara besok kan kalian mau pacaran satu hari.” ujar Zuco.


“Jangan ngadi-ngadi deh.” Yalisa memelototi Zuco.


“Enggak ada salahnya kali Yalisa, siapa tahu besok adalah awal yang baik untuk kalian berdua.” lanjut Mei, yang membuat mulut Yalisa menganga.


“Aamiin Mei.” ucap Riski.


“Kamu waras Mei?” ucap Yalisa.


“Lagi pula Riski enggak jelek-jelek bangat kok, dan...”


“Sembarangan, ganteng ku sudah maksimal kali Mei.” Riski memotong kata-kata Mei yang masih menggantung.


“Dan..., dia sebenarnya baik kok.” lanjut Mei.


“Dan..., suka mempermainkan cewek-cewek, sudah bukan rahasia lagi, pacarnya ada di setiap jurusan,” terang Yalisa.

__ADS_1


“Itu masa lalu Yalisa, namanya juga anak muda.” terang Riski.


“Tetap bikin merinding, belum jadi pacar saja sudah buat beban fikiran, apalagi kalau sudah jadian, bisa kurus kering aku mikirin dia di luar sana, yang sibuk apeli cewek-cewek koleksinya.” terang Yalisa.


Yang di katakan Yalisa memang benar, karena sejak mereka duduk di kelas X, Riski terkenal playboy, Riski memacari setiap wanita yang masuk dalam tipe idealnya, baik itu teman seangkatan, adik kelas bahkan kakak kelasnya sendiri.


Dan satu pun di antara wanita-wanita itu tak ada yang mau di putuskan, tentunya dengan berbagai alasan, ada yang memang karena cinta, ada pula yang karena harta.


“Oooh, jadi itu sebabnya, kamu susah buat menerima aku?” ungkap Riski yang menarik kesimpulan dari sudut pandangnya sendiri.


“Hahaha, jangan ngelawak deh, sudah ah, sebaiknya kita pesan makanan sekarang.” ujar Yalisa seraya bangkit dari duduknya.


“Kamu mau makan apa?” tanya Yalisa pada Riski.


“Bakso.”


“Ya sudah, tunggu disini ya, calon pacar.” ucap Yalisa seraya tersenyum tipis pada Riski.


Deg! Deg! Deg!


Walau Riski tahu, senyuman itu adalah palsu, namun Riski yang selalu berfikir positif menganggapnya sebagai awal kemajuan pada hubungan mereka.


Mei yang sudah melihat Yalisa pergi mulai berkata.


“Besok itu waktu yang pas buat kencan.”


“Oh.”


“Aku serahkan dia sama kamu, tolong urus dengan baik.” ujar Mei.


Marco dan Zuco yang mendengar percakapan itu bersikap biasa saja, tanpa mereka tahu, kalau ada makna terselubung di balik itu semua.


“Semoga hari minggu mu menyenangkan ya.” ujar Mei yang telah selesai makan.


“ Kamu juga.” lanjut Riski, yang tahu besok adalah hari pertunangan Mei dan Leo.


Tak lama Yalisa datang, dengan membawa semangkuk bakso, sebungkus roti dan 2 buah teh botol di atas nampan.


“Nih.” Yalisa menghidangkan bakso tepat di hadapan Riski.


“Makasih.” lalu Riski melirik ke sebungkus roti yang masih ada di atas nampan.


“Kenapa enggak makan nasi?” tanya Riski yang membuat teman-teman mereka yang lain melihat ke arah Yalisa.


“Lagi diet.” ucap Yalisa.


Bersambung....


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Jangan lupa mampir ke karya author do bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2