
“Ki, kamu ngomong apa sih? Aku itu enggak balikan sama dia.” ucao Yalisa meluruskan ke salah fahaman Riski.
“Halah!! Jangan bohong kamu!” pekik Riski seraya menghempaskan cengkeramannya dari Yalisa.
“Aku serius, buat apa aku balikan sama dia?”
“Kamu jujur Yalisa!”
“Aku enggak balikan sama dia Ki!”
“Untuk jujur soal itu saja kamu enggak bisa, pada hal sudah terpampang nyata, hasil hubungan kalian, kamu fikir aku bodoh?”
“Riski, aku juga enggak mau, tapi....”
“Tapi apa? Kamu terpaksa? Gitu maksudnya? Jangan bohong Yalisa, jelas kamu dan dia sama-sama mau, pada hal situasinya kamu itu pacar ku, tapi bisa-bisanya kamu main di belakang ku, ini cara mu membalas perasaan ku?”
“Riski, saat itu memang aku enggak mau Ki, dia yang paksa aku.” terang Yalisa dengan mata berkaca-kaca.
“Yalisa, meski pun pada kenyataannya kamu mau dan sengaja melakukan itu, aku masih tetap akan menerima kamu jadi pacar ku, yang aku enggak habis fikir, kenapa enggak jujur?”
“Ya karena aku di paksa, dan untuk apa aku jujur sama kamu? Itu aib untuk ku, kamu ngertikan?”
“Di paksa apanya sih? Jelas-jelas Leo bilang kamu dan dia sama-sama mau, hebatnya lagi, katanya kalau kamu hamil dia akan tanggung jawab,”
“Ha?” Yalisa tak mengerti arah pembicaraan Riski yang semakin rumit.
“Apa selama ini kamu juga main-main dan pua-pura baik pada ku, tujuannya untuk balas dendam atas pembullyan yang aku lakukan selama ini Yalisa? Apa kamu sengaja membuat aku jatuh cinta sama kamu, dan setelah itu meninggalkan ku?”
“Ki? Aku enggak pernah berfikir sejauh itu? Udah ya, percuma juga jelasin ke kamu kalau keadaan mu masih mabuk.” saat Yalisa akan keluar kamar, Riski menarik paksa Yalisa, dan membawanya kembali ke atas ranjang.
“Aku enggak mabuk.” ucap Riski berulang-ulang.
“Kamu mau apa? Lepasin aku?!” pinta Yalisa yang mulai ketakutan.
“Jelaskan sekarang, apa maksud mu baik pada ku selama ini! Jelaskan kenapa kamu setega itu pada ku! Berselingkuh di belang ku, pada hal aku sangat mencintai kamu, jujur, jujur sayang!” Riski merebahkan paksa tubuh Yalisa ke ranjang, kemudian menimpa tubuh mungilnya.
__ADS_1
“Aku enggak selingkuh, aku cuma enggak bisa melawan Leo, tolong biarkan aku pergi, jangan begini Ki, hiks!”
“Jangan bohong, sama dia kamu mau, sikap mu juga gatal, kenapa kalau pada ku kamu sok polos dan jaim? Kalau udah rusak, ya rusak ajah, kamu mau kayak apapun masih aku terima, tapi jangan bohong dan main-main.”
“Aku, aku enggak sekotor yang kamu fikirin! Aku juga enggak jaim, dan aku juga enggak hamil, lepasin aku Riski!!” Yalisa terus saja meronta dan mencoba melepaskan diri dari tindihan sang kekasih yang akan menggerayanginya.
“Kalau kamu enggak jaim, ayo bersenang-senang, kalau mantan mu saja bisa memakai mu, kenapa aku enggak boleh sayang?” Riski yang mabuk parah mulai mencium wajah dan tubuh Yalisa, seraya tangannya mulai menjalar nakal ke area bukit kembar Yalisa.
“Ja-jangan! Hah!” Yalisa yang mencoba melawan tak bisa menandingi tenaga Riski yang jauh lebih besar darinya.
Riski yang sudah terburu nafsu di ketidak sadaran nya pun ******* berulang kali bibir manis Yalisa yang begitu menggoda di matanya.
Tak lupa lidahnya juga memainkan lidah Yalisa, Yalisa yang tak ingin terjadi hal yang sama padanya dengan lelaki yang berbeda pun menggigit lidah Riski, sampai Riski melepas pagutannya.
“Yalisa!!!!!” teriakan Riski yang begitu kuat mengagetkan Zuco dan Marco yang berada di lantai 1.
“Ada apa ini? Kok Riski teriak?” ucap Zuco.
“Enggak tahu, coba kita cek ke atas!” seru Marco seraya berlari ke lantai 2.
Sesampainya mereka ke lantai 2, mereka melihat pintu kamar Yalisa yang sudah terbuka, khawatir terjadi apa-apa, Zuco dan Marco langsung masuk tanpa permisi.
“Sadar! Sadar Ki!” hardik Zuco, kemudian Zuco dan Marco menarik paksa Riski dari atas tubuh Yalisa.
“Kami belum selesai!” teriak Riski.
“Diam kamu! Ayo kita turun!” Zuco membentak Riski, sementara Yalisa masih terbaring di atas ranjang dengan menangis pilu.
“Bawa dia keluar,” titah Marco ke Zuco.
“Lepaskan! Kenapa kalian membela dia?” Riski menunjuk ke arah Yalisa.
“Dia sudah berselingkuh, harusnya kalian bela aku bukan dia,” ucap Riski.
“Sudah diam!” Zuco yang masih sadar membawa paksa Riski turun ke lantai 1 menuju kamarnya, setelah sampai di kamar, Zuco merebahkan Riski di atas ranjang, kemudian Zuco mengunci Riski di dalam kamarnya sendirian
__ADS_1
Selanjutnya Zuco naik lagi ke lantai 2 untuk memeriksa keadaan Yalisa.
Yalisa yang sudah sangat sakit hati bangkit dari tidurnya, dan mulai mengemasi kembali barangnya yang di lemari ke dalam koper.
“Yalisa, kamu jangan pulang sekarang ya, ini sudah jam 02:00, nanti kalau terjadi apa-apa di jalan gimana? Lagi pula kita di villa Riski yang tempatnya jauh dari masyarakat, tolong Yalisa!” Marco terus saja memohon, namun Yalisa tak mau mendengarkan.
Zuco yang baru tiba pun di buat panik, karena kalau Yalisa pergi dan terjadi apa-apa, bisa tamat riwayat mereka bertiga.
“Jangan pergi, kalau mau pulang besok pagi saja,” bujuk Zuco.
“Aku enggak bisa disini, kalian lihat kan sikap kurang ajarnya dia? Aku udah enggak mau ketemu dia lagi, hiks hiks hiks!”
“Iya betul, tapi jangan sekarang, kamu boleh enggak ketemu dia lagi, tapi jangan pulang malam ini, bahaya,” terang Marco.
“Aku mau pulang! Disini juga aku enggak aman,”
“Besok, kamu besok pulangnya, enggak ada istilah kamu pulang malam ini, please, kami akan keluar sekarang, kamu bisa kunci pintunya, tolonglah, di luar sana belum tentu lebih aman, ini di tengah hutan lo Yalisa,” terang Marco.
Yalisa yang merasa omongan Zuco dan Marco ada benarnya, mengurungkan niatnya untuk pulang malam itu.
Dirasa kondisi sudah terkendali, Zuco dan Marco meninggalkan Yalisa di dalam kamar sendirian, Yalisa yang masih berlinang air mata, mengunci pintu rapat-rapat.
“Ya Tuhan, sebenarna apa salah ku? Kenapa hidup ku terus ditimpa kemalangan?” Yalisa berjalan ke arah ranjang yang sudah berantakan.
“Kenapa sih, mereka berdua cuma bisa bikin aku sakit hati? Hiks.... Hiks...., ibu...., Yalisa rindu.” Yalisa merebahkan tubuh ke atas ranjang, ia pun larut dalam kesedihannya hingga pagi menjelang.
Pukul 06:00, Riski terbangun dari tidurnya karena terdesak ingin buang air kecil. Ia pun buru-buru masuk ke dalam toilet.
Setelah selesai menuntaskan hajat, ia pun membasuh wajahnya di wastafel, dan tanpa sengaja ia melihat 3 luka di wajahnya seperti terkena cakar.
“Kok ada cakaran?” Riski tak ingat apa yang telah terjadi padanya saat mabuk.
“Kuku ku kan enggak panjang, gimana bisa ke cakar begini?” setelah selesai membasuh muka, Riski keluar dari toilet, saat hendak keluar kamar, Riski heran karena pintunya terkunci.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu