
“Kalau enggak bisa bilang jujur saja, jangan sok-sok-an bilang cara pengucapan yang kurang jelas, buruan apa jawabannya!” hardik Yalisa.
Yalisa sangat berharap kalau Riski tidak tahu jawabannya, agar ia bisa balas dendam.
“Aku enggak tahu.” jawab Riski dengan pasrah.
“Dari tadi dong!” ucap Yalisa dengan menyatukan kuat kedua giginya seraya mencubit pinggang Riski.
“A a ah! Sakit bangat.” Riski mengusap-usap bekas cubitan Yalisa yang rasanya Astaghfirullah.
“Jawabannya C! Bodoh bangat sih, makanya belajar dong, biar otak enggak tumpul!” perasaan Yalisa sangat puas bisa balas dendam pada Riski.
Untuk pertanyaan selanjutnya pun Riski tak mampu menjawab, sebenarnya banyak pertanyaan lain yang lebih mudah, yang mungkin Riski bisa menjawabnya.
Namun Yalisa mencari pertanyaan yang sulit, yang soal penjelasannya panjang kali lebar.
Nyut!
Nyut!
Nyut!
Cubitan demi cubitan terlukis indah di tubuh Riski, ada yang di pinggang, tangan dan perut.
Yalisa terus saja mengajukan pertanyaan yang membuat Riski sadar, kalau dia sedang menjadi target balas dendam pacarnya yang mungil itu.
“Sudah, aku enggak mau lagi, hari ini cukup sampai disini.” ujar Riski.
“Satu pertanyaan lagi.” ucap Yalisa, Riski yang merasa sakit di tempat-tempat tertentu pada tubuhnya, menolak keras, niat Yalisa begitu terlihat jelas, yang akan mengukir luka selanjutnya.
“Aku bilang udah! Kamu sengaja kan? Pada hal aku serius ngajarin kamu, tapi kamu malah balas dengan mencubiti ku, otak mu kok kotor bangat sih!” Riski menghardik Yalisa.
Yalisa yang sudah lama tak melihat Riski marah menjadi tertegun, diam seribu bahasa.
Sadar kalau suaranya terlalu keras pada Yalisa, membuat Riski menjadi merasa bersalah.
“Sini.” Riski mencoba merangkul Yalisa, namun Yalisa menepis tangannya.
“Apa-apaan kamu? Kamu bisa marah dan baik sesuka mu, tanpa perduli perasaan orang lain.” Riski melihat Yalisa membendung air matanya.
“Maaf, habis kamu keterlaluan.” ucap Riski dengan perasaan menyesal.
“Memangnya kamu sendiri enggak keterlaluan?
__ADS_1
Seenaknya bilang aku bodoh, bego, otak ku kotor, aku jelek, muka ku seram, terlalu kurus dan masih banyak lainnya, kamu pikir aku enggak sakit hati?” Yalisa mengingatkan semua akan sikap Riski selama ini padanya.
“Itukan memang gaya bahasa ku, harusnya kamu maklum.” ujar Riski.
“Kalau aku harus maklum, kenapa kamu sendiri enggak bisa maklum akan keterbatasan otak ku? Aku kan sudah bilang aku lupa, kenapa kamu malah seenaknya menghukum dan mengakata-katai aku? Memangnya aku minta buat di ajari?”
“Yalisa, aku cuma enggak mau, nilai ujian mu anjlok, maaf kalau aku enggak sabaran.” Riski mencoba merangkul Yalisa kembali, namun Yalisa yang masih marah menggeser duduknya ke belakang.
“Itukan nilai ku, bukan nilai mu, kenapa kamu harus khawatir? Kalau mau ngajarin yang sabar dong, jangan pake maki dan main tangan, aku enggak suka, kamu sendiri enggak suka kan? Kalau enggak bisa terima aku apa adanya, cari cewek lain saja.” entah mengapa Yalisa yang biasa sabar kini jadi sebawel itu.
“Maaf sayang, aku enggak sadar kalau sikap ku sudah menyakiti hati mu.” Riski teramat menyesal atas tindakan konyolnya, kini ia sangat takut, kalau akan di putuskan Yalisa.
“Dengar ya, aku enggak suka gaya bahasa dan sikap mu yang seenaknya, walau pun itu sudah tabiat mu dari kecil, jangan perbuat itu di hadapan ku.” Yalisa mengambil tasnya dan berencana ingin pulang, saat Yalisa ingin berdiri, Riski memegang pergelangan tangannya.
“Jangan pergi,”
“Lepas, aku mau pulang,”
“Kamu boleh pulang, tapi jangan dalam keadaan marah, nanti aku bisa kepikiran.” Riski menggeser duduknya lalu memeluk tubuh Yalisa.
“Maaf, jangan marah lagi, beneran aku enggak ada niat buat nyakitin kamu.” Riski yang takut akan di putuskan terus berucap maaf seraya mengelus-elus rambut hitam panjang Yalisa.
Yalisa yang tak ingin memperpanjang masalah pun mencoba ikhlas.
“Iya, aku udah maafin kamu, aku juga minta maaf udah ngomong kasar dan cubit kamu tadi,” ucap Yalisa.
Lalu Riski mencium puncak kepala Yalisa sebelum melepas pelukannya.
“Aku janji akan lebih baik dan sopan kedepannya dalam omongan ku,”
“Iya, aku percaya kok sama kamu Ki.” ujar Yalisa yang kini mulai tersenyum.
“Aku sayang kamu, apa kening mu masih sakit?” tanya Riski seraya mencium kening Yalisa, Yalisa hanya mengangguk tanpa mengatakan sayang juga pada Riski.
“Bisa kita pulang sekarang?” pinta Yalisa dengan tersenyum.
“Oke, tapi...”
“Tapi apa?”
“Masa kita enggak ngapa-ngapain sih?” ujar Riski.
“Ngapain apa maksudnya?” tanya Yalisa tak mengerti.
__ADS_1
“Setidaknya kita ciuman dulu sebelum pulang, atau pelukan, atau meluruskan otot-otok tubuh.” Riski berkata seraya mau menidurkan tubuh Yalisa ke sofa.
“Ki, aku lagi enggak selera.” Yalisa menolak mentah-mentah ajakan Riski.
“Tapi, aku mau yang.” Yalisa yang sedari tadi menyimpan rapat kalau ia pernah ke room itu pun mulai buka suara.
“Kamu tahu enggak, kemaren aku ketemu dimana sama Leo?” Riski mengernyit, ia tak tahu mengapa nama Leo terselip dalam momen romantis mereka.
“Kenapa jadi bawa-bawa nama cowok itu?”
“Kita berdua, ketemu dan makan di room 15 ini.” terang Yalisa, yang membuat emosi Riski membara, ia masih ingat jelas dan detail saat Yalisa curhat padanya, tentang apa saja yang Yalisa perbuat dan Leo di ruangan itu.
“Ayo pulang.” tanpa sepatah kata lagi, Riski menyusun barang-barangnya lalu menarik tangan Yalisa keluar dari ruangan itu.
Setelah membayar bil, mereka keluar dari kafe itu.
Di parkiran Riski bertanya pada Yalisa “Kenapa kamu enggak bilang kamu pernah kesini?”
“Kamu sendiri enggak bilang mau kesini, sudahlah lagian itu masa lalu, ayo pulang.” ujar Yalisa seraya memasang helm nya.
“Lain kali bilang, tempat-tempat mana yang pernah kalian kunjungi.” setelah mengatakan itu, Riski naik ke atas motornya, kemudian segera melaju menuju kediaman Yalisa.
__________________________________________
Keesokan harinya, saat ujian Yalisa di buat takjub, karena yang mereka bahas di hari kemarin ternyata keluar di soal ujian.
Luar biasa Riski, berarti memang aku yang keterlaluan, nanti coba deh aku minta maaf lebih tulus sama dia. batin Yalisa.
Beda halnya dengan Zuco, yang duduk di bangku belakang paling sudut, ia yang kemarin sibuk main tok tok sampai lupa belajar, membuat ia kesulitan menjawab soal yang ada di hadapannya.
Maka tak ada pilihan lain, Zuco pun menadahkan kedua tangannya. “Ya Allah mohon bantu hamba, berikan hamba petunjuk, semoga apa pun yang hamba bulati di kertas jawaban ini benar semua, aamiin.” itulah do'a Zuco dalam hatinya.
Setelah itu dia melalukan tindakan yang cukup urban lagend di kalangan anak-anak yang kapasitas nilainya di garis minimal.
Zuco menghitung secara acak dari A sampai E, Zuco benar-benar yakin, jika percaya pada Allah maka semua jawabannya akan benar.
Dan di menit terakhir ia membuat sebuah pesan singkat di bagian paling bawah kertas jawabannya.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.