SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXV (Siapa?)


__ADS_3

“Satu lagi, jangan lupa untuk hilangkan semua jejak mengenai pak Ari, aku dengar penyelidikannya masih berlanjut.” ujar Riski.


“Gitu ya?” Mei pun menyenderkan lehernya ke kursi seraya berfikir.


“Ku rasa semua sudah bersih, tulang-tulangnya pun sudah ku bakar, lalu abunya ku sebar di lautan.” ungkap Mei dengan santainya.


“Oke, jangan sampai ketahuan Mei, jangan sampai tertangkap, dan.... ku harap kau bahagia bersama Leo.” ujar Riski dengan perasaan tak enak di hatinya.


“Iya, makasih sudah bersedia menyimpan rahasia ku.” Mei pun mulai berdiri dari duduknya, ia merasa sudah terlalu lama di dalam kelas.


“Alasan ku menyimpan rapat-rapat rahasia mu adalah, karena aku enggak mau merusak kebebasan mu, sekaligus aku mau membayar hutang ku di masa lalu, berkat mu aku menemukan kebebasan yang mengekang hatiku dalam kebencian.” batin Leo .


Kringkring!! Kringkring!!


Mei dan Riski mendengar suara dering telepon dari arah teras kelas mereka. Sontak mereka berdua melihat satu sama lain.


Lalu dering telepon itu pun tiba-tiba mati, tanpa ada suara yang berkata Halo.


“Siapa itu?” ucap Mei dengan suara yang pelan kepada Riski.


“Enggak tahu, mana mungkin ada orang yang lewat kelas kita.” terang Riski.


Karena letak kelas mereka berada di paling pojok bangunan sekolah.


Saat itu juga kelas di sebelah mereka sedang belajar di ruang praktek.


“Sebentar, aku lihat keluar.” ujar Riski seraya berjalan menuju sumber suara tadi.


Saat Riski telah sampai ke teras, ia tak melihat siapapun disana.


“Memangnya ada yang bisa berkeliaran pada saat mata pelajaran berlangsung?” gumam Riski.


Tak lama, Mei datang menyusul Riski yang berada di teras.


“Siapa Ki?” tanya Mei dengan penasaran.


“Aku enggak tahu.” ucap Riski.


“Sudahlah, biarkan saja, kalau di dengar percakapan kita yang tadi, pasti dia bakalan datang buat minta sesuatu.” terang Mei dengan perasaan sedikit cemas.


“Kalau dia minta sekali lalu tutup mulut selamanya masih oke, tapi...”


“Kalau lebih dari itu, berarti dia cari mati.” ucap Mei dengan menampilkan tatapan mata tajam ke arah Riski.


“Jangan gila, sudah! Ayo kita ke lapangan.” seru Riski.


Akhirnya Mei dan Riski pun kembali ke lapangan, bergabung dengan anggota kelas mereka yang lain.


“Sudah balik kalian berdua?” tanya pak Roni ke kedua anak didiknya.


“Sudah pak.” ucap Riski dan Mei.


“Ya sudah, kalian masuk ke gedung latihan bulu tangkis.” titah pak Roni.

__ADS_1


“Bulu tangkis?” ucap Mei dengan mimik wajah bingung.


“Iya, lagi pula sebentar lagi kan mau ujian, di minggu tenang kita akan adakan pertandingan olah raga antar kelas, kamu dan Riski kan jago bulu tangkis, sana kalian latihan dulu, biar nanti menang.” ujar pak Roni.


“Siapa lawannya?” tanya Riski penasaran.


“Zuco dan Yalisa.” setelah pak Roni bilang begitu, Mei dan Riski pun beranjak ke gedung latihan bulu tangkis.


“Bakalan berat nih kalau harus lompat-lompat.” batin Mei. Lalu Riski melirik Mei yang terlihat memikirkan sesuatu.


“Kalau dia banyak gerak, operasinya pengaruh enggak ya?” batin Riski.


Krieeettt!!!


Riski membuka pintu gedung bulu tangkis, di dalam gedung luas dan megah dengan pasilitas lengkap, mereka mendapati Yalisa dan Zuco yang sedang pemanasan.


Selain keduanya, ada juga beberapa siswa siswi jurusan lain yang latihan di dalam gedung juga.


Yalisa yang melihat kehadiran dua temannya itu langsung melambaikan tangan.


“Hei, buruan! Jam olah raga sudah mau habis nih!” seru Yalisa, yang suaranya bergema.


Mei dan Riski pun bergegas menuju Yalisa dan Zuco.


Sesampainya mereka, Yalisa mengambil 2 buah raket yang telah ia sediakan di samping net.


“Nih!” Yalisa menyodorkan raket itu pada Riski dan Mei.


“Apa aku harus main ya?” batin Mei.


“Apa?”


“Aku dan Mei kan kejuaraan sekolah, jadi enggak akan seru kalau lawannya lemah kayak kalian!” pekik Riski meremehkan Zuco dan Yalisa.


“Enak saja! Belum tentu kami kalah!” Hardik Zuco yang tak terima dirinya di pandang sebelah mata.


“Benar! Belum tentu kami kalah!” Yalisa pun membela Zuco.


“Haduh!” Riski memijat jidatnya.


“Sudah ya, udah di kasih kemudahan juga, nanti kalau kalah malah nangis.” Riski menyindir Yalisa yang begitu cengeng di matanya saat ini.


“Sudah, sudah, Riski benar Yalisa, sebaiknya kamu satu tim sama dia.” terang Mei.


“Apa?” Yalisa mengernyit, ia merasa tersinggung karena Mei ikut menganggap remeh kemampuannya dan Zuco.


“Ayo taruhan.” ujar Yalisa dengan sorot mata tajam mengarah ke Mei dan Riski secara bergantian.


“Taruhan? Ayo!” Riski menerima tantangan Yalisa.


“Apaan sih Yalisa, sudah jelas kita akan kalah, kalau mereka menang dan mintanya aneh-aneh gimana?” ujar Zuco yang takut tak mampu membayar taruhan.


Mei tak berkomentar banyak, ia hanya menyimak perdebatan ketiga temannya itu.

__ADS_1


“Diam kamu Co! Tadi percaya diri, sekarang malah takut!” pekik Yalisa pada Zuco.


“Ya sudah, dasar keras kepala.” ujar Zuco pada Yalisa.


“Apa taruhannya?!” tanya Riski dengan bersemangat.


“Kalau kami menang, kalian berdua harus bernyanyi dan berjoget di dekat bendera sekolah.” Lalu Yalisa melirik ke arah Zuco.


“Cocok enggak Co taruhannya?” Yalisa menanya pendapat Zuco.


“Wah, itu sih gila Lis,” ucap Zuco.


“Udah, yakin deh kita bakalan menang.” bisik Yalisa ke telinga Zuco.


“Gimana?” tanya Yalisa pada Mei dan Riski.


“Oke, tantangan di terima.” jawab Riski dengan percaya diri.


“Kalau kami kalah...”


“Kalau kalian kalah, kamu wajib kencan sama aku selama satu minggu.” ujar Riski, sontak ketiganya melihat ke Riski dengan mata membulat.


Lalu tanpa di sangka-sangka Mei dan Zuco serentak berkata “Setuju.”


“A-apa?” Yalisa melirik Zuco dan Mei secara bergantian.


“Enggak mau, kamu minta yang lain saja, lagi pula kenapa cuma aku yang harus membayar taruhannya?”


“Ya, suka-suka yang menang dong minta apa, memangnya tadi kamu tanya pendapat kami berdua soal permintaan mu itu?” ujar Riski dengan menampilkan senyum licik di bibirnya.


“Kalau 1 minggu aku enggak mau.”


“Oke, 1 hari.”


“Setuju.”


“Tapi enggak nolak apapun yang aku suruh dan yang aku lakuin.”


Yalisa terdiam, ia berfikir sejenak, apakah ia harus mau atau tidak.


“Kalau enggak mau, menyerah saja, lagi pula kamu yang enggak punya kemampuan olah raga sok-sok ngajak taruhan, ck.” perkataan Riski membuat Yalisa tertantang.


“Oke, aku setuju.”


Karena sama-sama sepakat, kedua tim pun saling bersalaman.


Setelah itu Setelah itu mereka mengambil posisi masing-masing berdiri saling berhadapan yang di batasi oleh net.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2