
“Ya sudah.” karena tak ada satu pun yang membelanya, akhirnya Yalisa bersedia menemani Riski ke gudang.
“Kami pergi dulu.” ucap Riski kepada ketiga temannya yang akan menuju kantin.
“Oke.” sahut Mei, Zuco dan Marco.
“Nih!” Riski memberikan pada Yalisa bola yang baru saja mereka pakai dalam taruhan, sementara dirinya membawa keempat raket yang mereka pakai tadi.
“Yakin, aku cuma bawa ini?” tanya Yalisa dengan mimik wajah meledek.
“Untuk saat ini, kamu cukup bawa itu.” Riski melempar senyum lurus ke arah ia melangkah.
“Apa sih.” gumam Yalisa.
Tak lama mereka berdua pun sampai ke dalam gudang.
Saat Yalisa meletakkan bola pada tempatnya, tiba-tiba Riski melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping Yalisa.
Sontak Yalisa menggeliat, “Eh, ngapain?” tanya Yalisa.
“Sudah lama ya.”
“Baru kemarin.”
“Itu udah lama tahu.”
“Hum, lepas ah!” Yalisa mencoba melepaskan diri dari dekapan Riski.
“Diam dong, mumpung cuma kita berdua disini.” bisik Riski ke telinga Yalisa, lalu Riski pun melepas sebelah tangannya dari pinggang Yalisa.
“Ini anak bikin kesal, dia enggak jijik apa sama bau keringat ku?” batin Yalisa. yang merasa tak percaya diri akan bau badannya sendiri.
Lalu tiba-tiba sebuah sapu tangan biru langit menyapu keringat yang ada di kening Yalisa, dengan perlahan.
“Ka- kamu!” Yalisa tak menyangka, kalau Riski membawa sebuah sapu tangan ke sekolah.
“Keringat mu bau tahu.” ucap Riski dengan terus menyeka keringat yang masih menempel di setiap inci wajah Yalisa.
“Sudah tahu bau, kenapa masih dekat-dekat?” ujar Yalisa yang merasa malu dengan ke terus terangan Riski.
“Tapi aku suka.” ucap Riski seraya mengecup tengkuk Yalisa yang masih basah.
Deg!
Jantung Yalisa berdetak kencang, Riski yang bersifat egresip membuat Yalisa merinding.
“Ki, kamu gila ya! Lepasin ih!” Pekik Yalisa, sebenarnya Yalisa yang sudah sering mendapat perlakuan seperti itu dari Riski tak tahu harus bilang apa lagi pada Riski, agar jangan terlalu dekat dengannya.
Kemudian Riski pun melepas kecupannya dan berkata “Asin.”
Yalisa yang sudah teramat malu, menjadi bertambah malu.
“Sejak kapan keringat jadi manis?! Dasar aneh, sudah! Lepas dong, nanti kalau ada orang yang lihat gimana? Bisa-bisa kita kena lapor karena sudah berbuat mesum disini.”
“Ha?” Riski mengernyit.
__ADS_1
“Memangnya nyium tengkuk itu termasuk mesum ya?” ucap Riski seraya melap keringat yang masih ada di leher Yalisa, karena Riski memiliki tangan yang jenjang, jadi satu tangan saja sudah cukup untuk mengunci pergerakan Yalisa.
“Kutu beras ini benar-benar bikin risih dan geli.” batin Yalisa.
“Ngomong-ngomong Yalisa, tadi kamu norak bangat tahu.” ujar Riski seraya menyelipkan kembali sapu tangannya ke kantong celana belakangnya.
“Ha? Apa maksud mu?”
“Harusnya aku yang tanya, apa maksud mu sebenarnya.” ungkap Riski.
“Kalau ngomong yang jelas dong.”
“Oh, Kamu beneran enggak ngerti ya?”
“Ada masalah apa kamu sama Mei? Sifat mu kekanak-kanakan bangat, nyerang dia dengan sembarang, kalau ada masalah sampaikan langsung sama dia.” terang Riski, yang kemudian memutar badan Yalisa jadi menghadap dirinya.
“Aku enggak ada masalah sama dia.” jawab Yalisa dengan mata yang memandang lurus ke arah dada Riski.
Lalu Riski mengangkat dagu Yalisa, yang membuat Yalisa jadi mendongak.
“Yalisa yang ku kenal penyabar dan pemalu, jadi, jangan pernah berubah.” Yalisa menelan saliva nya, lalu ia memutar bola matanya ke arah samping kanannya.
“Apa tadi aku keterlaluan ya?” batin Yalisa.
“Jangan barbar, itu nasehat ku.” ucap lanjut Riski, yang kemudian membungkuk, berniat akan mencium bibir mungil Yalisa yang sedari tadi membuat jantungnya berdebar-debar.
“Jangan cium, aku enggak mau.” ucap Yalisa.
“Memangnya itu masalah ku?” sahut Riski yang tak perduli akan kerelaan Yalisa.
Brakkk!!!
Tiba-tiba ada yang menendang pintu gudang dengan sangat keras, membuat konsentrasi Riski jadi buyar.
“Ck!” Riski mendecak, seketika ia tak berselera lagi untuk meneruskannya.
Lalu Riski melepas pelukannya dari Yalisa, Yalisa sendiri sudah merasa resah, takut hal yang mereka lalukan barusan di lihat orang lain.
“Eh Ki, kamu disini?” tanya anak laki-laki, yang ternyata teman satu angkatan mereka, namun berbeda jurusan.
“Iya, ngomong-ngomong siapa yang nendang pintu?” tanya Riski dengan sorot mata tajam.
“Oh, itu Arman, hehehe.” jawab anak laki-laki itu dengan perasaan takut, karena ia melihat dengan jelas, raut wajah Riski yang begitu menakutkan.
“Titip salam sama Arman.”
“Ah hahaha, maaf Ki, kita enggak tahu kalau kamu lagi ada disini, kita akan keluar dan enggak akan ganggu waktu kalian berdua lagi.” ungkap anak laki-laki itu seraya berjalan cepat ke arah teman-temannya yang sedang mengambil bola kaki di sudut lain dalam ruangan itu.
“Enggak usah sok jago deh.” ucap Yalisa dengan menampilkan wajah malas.
“Diam kamu.”
“Ihhh, bikin kesal.” umpat Yalisa.
“Heh! Kali ini kamu lolos, tapi jangan harap saat kita kencan. Siapkan mental mu, karena aku akan lebih agresif dari ini.” mata Yalisa membulat mendengar pernyataan Riski.
__ADS_1
Lalu, Yalisa yang merasa kejiwaan Riski sudah tak beres, memilih berlari keluar dari dalam gudang.
“Entah setan apa yang merasukinya, kalau lebih lama sama dia, bisa menumbuhkan generasi baru lagi.” Yalisa terus berlari tanpa menoleh kebelakang.
Riski yang di tinggal dalam gudang sendirian tertawa lepas seraya memegang perutnya.
“Baru gitu doang sudah takut, cewek zaman sekarang selalu saja sok polos, pada hal....” Riski menggeleng-geleng kan kepalanya.
_____________________________________________
Leo yang berada dalam kelasnya merasa tak fokus untuk mengikuti mata pelajaran, ia merasa kalau dadanya juga sesak.
“Permisi pak.” Leo mengangkat tangannya ke atas.
“Iya Leo?”
“Saya izin ke toilet sebentar pak.”
“Ya sudah, silahkan, tapi jangan lama-lama ya.” ucap pak guru pada Leo.
Lalu Leo keluar dari dalam kelasnya menuju ke toilet, saat ia sedang berjalan di koridor dengan fikiran melayang-layang.
Brukk!!
Tubuh Leo terhempas ke belakang hingga membuatnya tergeletak di lantai. “Au!” rasanya lumayan sakit, dan di atas tubuhnya ada seseorang yang menimpanya, ia tak dapat melihat wajah seseorang itu, karena wajahnya terbenam ke dada Leo.
“Maaf aku enggak sengaja.” ucap seseorang yang suaranya tak asing bagi Leo.
Saat Leo memperjelas siapa itu, rasa sakitnya yang tadi mendadak hilang.
“Yalisa.” gumam Leo.
“Leo.” batin Yalisa, karena terlalu fokus melihat ke bawah, Yalisa tak sadar menabrak Leo, awalnya Yalisa tak tahu kalau itu adalah Leo mantan kekasihnya.
Sontak Yalisa bangkit dari atas tubuh Leo. “Hem, maaf aku benar-benar enggak sengaja.” ucap Yalisa dengan wajah yang jutek.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Leo, seraya berdiri.
“Iya, maaf aku harus pergi.” saat Yalisa melewati Leo, Leo pun berkata.
“Aku mau bicara penting.” sontak Yalisa pun menghentikan langkahnya.
“Apa bisa?” Leo memutar badannya menghadap Yalisa yang membelakangi dirinya.
“Maaf, aku enggak bisa.”
“Tu-tunggu Yalisa.” Dengan cepat Yalisa berlalu dari tempat itu meninggalkan Leo, pada hal dalam hati kecilnya berkata.
“Ayo balikan Leo.”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.
__ADS_1