SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXI (Keputusan)


__ADS_3

Leo merasa berat hati, ketika sang ibu meminta untuk di kenalkan pada pendonor ginjalnya.


“Bu, enggak usah ya, lagian orangnya juga sudah pergi.” ucap Leo dengan raut wajah tak menentu.


“Apa? Kamu bercanda ya nak?”


“Enggak bu, lagian Leo udah urus semuanya, jadi ibu enggak usah mikirin hal lain lagi, cukup istirahat saja, biar kita cepat pulang ke rumah.” terang Leo.


“Hum.” bu Dita bersedekap seraya memandang wajah Leo penuh curiga.


“Apa pendonornya perempuan?” tanya bu Dita.


“Bu.” ucap Leo.


“Apa karena kamu takut di jodohkan sama dia, makanya kamu enggak mau kenalin ibu sama perempuan yang sudah membantu menyelamatkan nyawa ibu?” tanya bu Dita lebih lanjut.


Karena tak ingin berbohong, Leo pun menganggukkan kepalanya.


“Apa-apaan sih kamu.” bu Dita merasa kesal pada anak semata wayangnya itu.


“Ibu enggak mau tau, ibu juga enggak perduli, walau pun kamu sudah punya pacar saat ini, pada kenyataannya, pendonor itulah penyelamat ibu, ibu akan menjadikan dia menantu, kalau dia setuju dengan lamaran ibu.” ucap bu Dita seraya merebahkan badannya ke atas ranjang kembali.


Leo hanya bisa menghela nafas panjang, semua yang di katakan ibunya memang benar dan masuk akal.


Leo pun mengusap-usap rambutnya, ia merasa gelisah, dengan keputusan ibunya, dan juga bingung bagaimana ia akan mengatakan putus pada Yalisa.


“Aku bisa gila kalau begini,” batin Leo.


Karena Leo merasa sesak berada dalam ruangan itu, ia pun memutusakan untuk keluar mencari angin.


Saat ia akan beranjak bu Dita kembali mengingatkannya.


“Nanti sehabis makan siang, ibu akan menemui perempuan baik hati itu, jangan fikir kan hal lain, lupakan Yalisa nak.” ucap bu Dita.


Leo tak merespon perkataan ibunya, ia pun berlalu dari ruangan ibunya menuju sebuah taman bunga yang ada di pekarangan belakang gedung rumah sakit.


Sesampainya ia ke taman, ia duduk di salah satu kursi besi yang ada di sana. Lalu Leo merenungi segala yang telah terjadi, ia juga mengingat masa-masa indahnya bersama Yalisa, yang sebentar lagi akan berakhir.


“Bagaimana pun juga, aku harus tepati janji ku pada Mei, aku enggak bisa egois begini,” gumam Leo.


Lalu ia kembali mengingat perkataan ibunya di ruangan tadi.


“Tapi, kenapa sampai harus di jodohin juga sih ya Tuhan? Itu bukannya terlalu berlebihan?” ucap Leo, seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Saat ia merasa pusing memikirkan segalanya, tiba-tiba handphonenya berdering.


Leo pun mengambil handphonenya dari dalam saku bajunya, saat ia melihat siapa yang menelepon ternyata itu adalah Yalisa.


“Halo?” Leo. 📱


“Halo, Leo hari ini kenapa enggak masuk sekolah?” Yalisa. 📱


“Aku lagi enggak enak badan Yalisa,” Leo. 📱


“Oh, gitu ya? Sekarang apa kamu sudah baikan? Aku boleh jenguk kamu ke rumah mu enggak?” Yalisa. 📱


“Enggak perlu, soalnya aku udah baikan kok,” Leo. 📱


“Oh, oke deh, semoga lekas sembuh, kalau besok kamu belum masuk sekolah, aku boleh ya buat jenguk kamu.” Yalisa. 📱


“I-iya.” Leo. 📱


“Ya sudah, istirahatlah yang cukup, aku mau lanjut belajar sekarang.” Yalisa.📱


“Tu-tunggu Yalisa.” Leo. 📱


“Kenapa?” Yalisa. 📱


“A-aku sayang ka-kamu, dan juga cinta kamu.” Leo.📱

__ADS_1


Leo tak sanggup membendung air matanya yang kini telah mengalir dengan sendirinya, ia sangat tak rela, tapi ia harus melakukanya juga.


“Aku juga sayang dan cinta sama kamu, ya sudah aku tutup ya.” Yalisa.📱


____________________________________


“Kok dia aneh sih?” gumam Yalisa.


“Lebih aneh kamulah.” ucap Riski yang duduk di sampingnya seraya mencatat rangkuman yang yang ada di white board.


“Apa sih, sibuk bangat dari tadi.” sahut Yalisa dengan nada kesal.


“Kamu ngapain teleponan sama Leo saat aku ada di samping mu?”


“Emang masalah?” tanya Yalisa dengan perasaan geli.


“Ya masalah lah, kamu telepon pacar mu, di samping selingkuhan mu, walau pun aku cuma selingkuhan, tapi aku juga punya perasaan.” ungkap Riski, sambil terus mencatat.


“Ngada-ngada terus, kalau orang dengar baru deh, jadi bahan gosip baru.” ucap Yalisa.


“Baguslah, aku sih enggak rugi sama sekali.”


“Iya, yang rugikan emang aku, gimana sih.” Yalisa mengerutkan dahinya, dan kembali melanjutkan catatannya.


Saat mereka sedang asyik-asyiknya mencatat, bel sekolah pun berbunyi.


“Main ke rumah ku yuk.” seru Riski.


“Enggak bisa, hari ini aku mau ke rumah Mei, dari kemarin enggak ada kabar.”


“Berarti lain kali mau dong?” sahut Riski.


“Alin kali juga enggak akan.” ucap Yalisa.


“Yang benar dong kalau ngomong, btw jangan ke Mei sekarang.” terang Riski.


“Ya harus ke sanalah, aku khawatir kalau dia sakit atau apalah saat ini.”


“Emangnya kenapa?” tanya Yalisa.


“Mungkin sekarang dia enggak di rumah.” sahut Leo.


“Tau apa sih kamu, kalian bahkan bukan teman akrab, jadi gimana bisa kamu bilang begitu?” Yalisa pun memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tasnya.


“Takutnya mood Mei lagi enggak bagus, bisa-bisa kamu di makan disana.” batin Riski.


“Kalau kamu tetap mau kesana, aku ikut.”


“Terserah deh, kamu udah kayak ekor ya sekarang.” ungkap Yalisa dengan senyum kecilnya.


Riski pun memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya. Setelah semua selesai, mereka berdua menuju parkiran motor.


Keduanya naik ke atas motor. “Duduknya yang benar.” ucap Riski seraya menengok ke belakang, lalu ia melihat pemandangan menggelikan, karena Yalisa duduk begitu jauh darinya, sampai-sampai bokong Yalisa tepat berada di besi belakang motornya.


“Yakin duduk disitu?” tanya Riski dengan menahan tawanya.


“Udahlah, cepat jalan.” titah Yalisa.


“Kalau jatuh, aku enggak tanggung jawab ya.” terang Riski seraya kembali melihat ke arah depan.


“Heh! Ayo jalan, banyak omong bangat dari tadi.” ucap ketus Yalisa.


“Entar jatuh, lecet, jadi jelek lagi kayak dulu, Leo saja belum tentu suka kalau kamu ada bekas lukanya, apa lagi aku.” ungkap Riski dengan tersenyum kecil.


“Suka kamu deh mau ngomong apa!” pekik Yalisa.


Kemudiaan Riski mulai menyalakan mesin dan memutar gas motor, saat motor akan membelah lahan parkiran, Riski merem secara mendadak, yang membuat Yalisa terpental ke punggung Riski.


“Hah! Kamu sengaja ya!” pekik Yalisa yang kaget dan jantungnya hampir lepas dari tempatnya.

__ADS_1


“Untung terpental ke depan, coba kalau ke belakang, bisa retak kepala mu!” hardik Riski.


“Ya udah, aku pergi sendiri saja kalau begitu, dari tadi aku enggak minta kamu buat antar.” ucap Yalisa dengan wajah cemberut.


Saat Yalisa mau turun, Yalisa meletakkan tangannya di punggung Riski, lalu Riski menangkap tangan itu, dan menghantarkannya ke perut Riski.


Orang-orang yang ada di parkiran pun tak luput berbisik melihat Riski dan Yalisa yang begitu aneh.


“Itu pengetahuan dasar buat mu, kalau jatuh akibatnya akan fatal, jadi kamu harus peluk aku, biar kita berdua sama-sama aman dan nyaman.” ucap Riski dengan nada suara pelan, Riski pun kembali menggas motornya membela jalan raya, seraya menahan tangan kanan Yalisa di perutnya.


Dan selama perjalanan Yalisa hanya diam saja, tak mau banyak kata, dan itu membuat Riski jadi kurang nyaman.


“Kamu enggak lagi sariawan kan?” tanya Riski.


“Enggak, kok ngomong gitu?”


“Abis kamu diam mulu, tenang saja Mei pasti baik-baik saja kok.” ujar Riski.


“Iya iya, fokus nyetir saja kamu.” ungkap Yalisa yang duduk kaku di belakang Riski.


“Yang buat aku bungkam kan kamu sendiri, Riski bodoh,” batin Yalisa.


Sesampainya Mereka berdua ke rumah Mei, Yalisa menekan bel yang ada di tiang gerbang rumah Mei.


Ting ting ting tong!


Bunyi bel tersebut terkoneksi sampai ke dalam rumah Mei, tak lama salah satu satpam penjaga datang untuk membukakan gerbang.


Drrrkkk...


“Eh, non Yalisa.” ucap sang satpam seraya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.


“Mei nya ada pak?” tanya Yalisa.


“ Loh! Kirain non Mei nginap di rumah non Yalisa.” sahut sang satpam.


“Hah?” Yalisa dan Riski tertegun.


“Dari kemarin non Mei belum pulang, kurang ingat jam berapa non Mei keluarnya, enggak bilang juga mau kemana, dan sampai sekarang belum balik juga.” terang sang satpam.


Yalisa dan Riski di buat berfikir, kemana kira-kira perginya Mei.


“Apa dia buat ulah lagi?” batin Riski.


“Apa om dan tante lagi pulang?” batin Yalisa


“Apa dia ketemu om dan tante pak,” tanya Yalisa dengan wajah serius.


“Kayaknya enggak mungkin non, kalau nyonya dan tuan pulang, pasti kabari kita yang ada disini, apa lagi setelah enggak pulang hampir 3 tahun, pastinya kita semua akan heboh, kalau emang beneran pulang.” terang sang satpam.


“Apa pak?!” ucap Yalisa dan Riski serempak.


“Kenapa non?” sang satpam di buat kaget atas respon mereka berdua.


“Tante dan om enggak pulang selama itu?” tanya Yalisa dengan mata membulat.


“Iya non, terakhir disini, pas yang non Yalisa main kesini,kalau enggak salah itu pertama kali non Mei masuk SMK.”


Riski dan Yalisa bukan kepalang mendengar kenyataan aneh itu.


“Kenapa bisa begitu?” batin Yalisa.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa untuk mampir ke cerpen author ya readers yang manis. ❤️

__ADS_1



__ADS_2