
Yalisa tak hentinya menangisi kepergian Riski, kedua temannya pun menangkannya.
Gadis tak beruntung itu mendongak ke langit, melihat pesawat yang melintasi udara.
“Cepat pulang Ki, cepat kembali, aku akan setia menunggu mu,” ucap Yalisa.
Lalu Zuco dan Marco mambantu Yalisa berdiri, “Riski titip pesan, katanya kamu harus melanjutkan studi mu, belajar yang giat,”
Yalisa mengangguk, lalu Zuco dan Marco pun mengantarkan Yalisa pulang ke rumahnya, sesuai dengan permintaan Riski.
________________________________________________
Sesampainya ia ke rumah, Yalisa masih merasa berduka, pada hal ia sudah berniat memberikan kado pada Riski, yaitu berupa sweater rajut buatan tangannya sendiri.
“Hiks...., dari awal kenal sampai sekarang, kamu selalu berhasil membuat aku sakit hati, kenapa sih enggak datang kesini kalau sudah tahu nomor ku enggak aktif?” Yalisa memeluk sweater rajut tersebut, dan mencium cincin yang di beri oleh sang kekasih padanya.
Lalu ia mengambil handphonenya, untuk mengirim pesan pada Riski.
📱“Kalau sudah sampai, telepon aku orang jahat, dan aku sayang kamu,” Yalisa.
“Riski sedang berjuang di negeri orang, jadi aku juga harus berjuang disini, aku harus belajar keras, agar bisa menjadi orang yang sukses, kelak ia pulang, ia akan bangga pada ku,” batin Yalisa.
Sejak kepergian Riski, Yalisa belajar dengan tekun, agar ia masuk di Universitas Seni yang ia inginkan, ia juga tak lupa belajar mengaji, sesuai pesan sang kekasih.
Setiap hari Yalisa selalu memantau seluruh media sosial Riski, namun sayang seribu sayang, sejak kepergiannya, ia sudah tak pernah online lagi, termasuk pesan WhatsApp yang Yalisa kirim masih saja centang satu.
Tentu Yalisa merasa sedih dan khawatir, namun apapun yang terjadi, ia percaya pada janji Riski, bahwa ia akan kembali tahun depan.
Hingga sebulan telah berlalu, ketika Yalisa sedang menjaga warung sembako nya, ia mendapat pesan WhatsApp dari Mei.
📱“Yalisa, besok aku dan Leo akan berangkat ke London, kalau kamu sempat, datanglah ke bandara jam 11:00,” Mei.
Membaca pesan dari sang sahabat, Yalisa mendadak sedih, karena kini ia benar-benar sendiri, semua orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.
📱 “Oke, aku pasti akan datang,” Yalisa.
________________________________________________
Esok harinya, Yalisa datang lebih awal dari yang Mei katakan, karena takut kalau ia akan terlambat lagi.
“Yalisa!!!!” teriak Mei.
“Mei,” kedua sahabat itu saling berpelukan.
Raut sedih nampak jelas di wajah Yalisa yang membuat kedua pasangan pengantin baru itu merasa iba.
__ADS_1
“Aku sudah dengar dari Zuco, katanya kamu dan Riski enggak sempat bertemu.” ucap Mei, Yalisa mengangguk menahan sedihnya.
“Yang sabar Yalisa, aku yakin Riski akan kembali lagi ke sisi mu, dia lagi berusaha untuk hubungan kalian berdua.” ucap Mei memberi semangat.
“Iya, yang di katakan Mei benar, berdo'a yang banyak Yalisa, agar Riski cepat kembali,” ucap Leo.
Saat mereka bertiga sedang berbincang-bincang, bu Dita yang baru datang dari toilet pun ikut berbaur.
“Ini siapa?” tanya bu Dita.
“Ini Yalisa, sahabat Mei bu,” ujar Mei.
“Hem??” bu Dita melihat Yalisa dari ujung kaki sampai kepala.
“Seperti pernah lihat,” ucap bu Dita.
“Dia kan jadi bridesmaids di pesta pernikahan kami bu,” ujar Leo.
“Oh...., iya juga ya,” ucap bu Dita.
“Cantik juga mantannya Leo,” batin bu Dita.
Setelah sedikit berbincang, pengumpan pun terdengar, kalau pesawat tujuan London akan segera berangkat, jadi Mei dan Leo pun mulai bergegas.
“Yalisa, jaga diri baik-baik, jangan terlalu sedih ya, percaya pada Riski,” ucap Mei seraya memeluk Yalisa.
Lalu Leo pun menjabat tangan Yalisa “Baik-baik disini Yalisa, aku yakin kesabaran mu akan berbuah manis.” ucap Leo seraya memeluk Yalisa untuk yang terakhir kalinya.
“Setelah hari ini, aku dan Yalisa akan benar-benar terputus, ku harap Yalisa menemukan cinta sejati dan kebahagiaannya, aamiin,” batin Leo.
Yalisa menangis menghantar 2 orang yang pernah menjadi bagian cerita hidupnya.
“Aku harus semangat, aku juga harus jadi orang yang sukses,” batin Yalisa.
Sejak hari itu, Yalisa mencoba membiasakan diri tanpa orang-orang yang pernah ada di sisinya.
Walau begitu, 3 kali dalam sehari Yalisa selalu rutin mengirim pesan ke nomor WhatsApp sang kekasih.
Yang berisi, “Apa kabar? Sudah makan? Jangan lupa pada ku, aku mencintai mu,”
Meski tak pernah mendapat balasan, namun Yalisa tak pernah berkecil hati.
Kala malam dan senggangnya, ia selalu menatap photo nya bersama Riski, yang kini telah ia pajang di dinding kamarnya.
Ia juga sudah seperti orang gila, karena suka bicara dengan photo sang kekasih, yang jelas tak merespon perkataannya.
__ADS_1
Bahkan Yalisa mengadopsi bayi kucing yang sering datang meminta makan ke rumahnya, sebagai teman barunya.
“Mulai sekarang nama mu Riski Lail, panggil aku mama oke Riski, mengerti?” ucap Yalisa pada sang kucing orange yang ia gendong.
Tiga bulan pun telah berlalu, Yalisa juga sudah menjadi mahasiswa. Ia yang baru saja pulang kuliah masuk ke dalam rumah.
“Assalamu'alaikum, Riski!!! Riski!!! Kamu dimana nak?”
Lalu dari dapur terdengar suara khas kucing, Yalisa berjalan ke dapur dan tanpa sengaja ia menginjak sesuatu.
“Apa ini?” melihat di kakinya adalah kotoran Riski, Yalisa menjadi jengkel.
“Riski! Mama kan sudah bilang, kalau mau buang air besar atau kecil ke kamar mandi, atau di luar rumah, kamu udah mama ajarin berbulan-bulan, masih saja sering melakukan kesalahan, dasar anak nakal! Sama seperti papa mu! Nakal, sudah berbulan-bulan enggak kasih kabar, nanti kalau papa pulang, kamu dan papa akan mama hukum bersamaan, huh!” meski kesal Yalisa tak pernah mengusir Riski juniornya dari rumahnya.
Yalisa pun membersihkan kotoran yang Riski buat, setelah itu Yalisa memukul kecil bokong anaknya.
“Kalau mama adukan kenalan mu pada papa, pasti papa juga akan memarahi mu.” ucap Yalisa, seraya meneteskan air matanya sesekali.
Setelah cukup menghukum sang kucing, Yalisa memeluknya.
“Kamu jangan seperti papa ya kalau sudah dewasa, kalau pacaran sama cewek, harus serius, jangan di gantung,”
Begitulah Yalisa setiap hari, setelah pulang kuliah, ia menjaga warung bersama Riski, makan juga bersama, tidur juga bersama.
Yalisa juga sering mengirim photo Riski junior pada sang kekasih.
📱 “Ini anak kita sudah besar, jangan sampai ia mau nikah papany belum pulang juga, hehehe,” Yalisa.
Dan sejak kepergian Riski, setiap malamnya, Yalisa selalu bertemu sang kekasih di dalam mimpinya.
Mungkin karena efek rindu, jadi terbawa sampai ke alam bawah sadar.
______________________________________________
Pagi harinya, ketika Yalisa di kampus, ia di panggil ke ruang prodi oleh asisten sang dosen.
Ia tak tahu mengapa ia tiba-tiba di panggil.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021, jangan lupa untuk klik favorit!
__ADS_1