SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab VI (Meminta Keadilan Part I)


__ADS_3

Yovi berdiri di samping kanan Riski sementara Zuco di samping kiri, mereka pun memulai aksi mereka dengan mengajukan pertanyaan, dengan siapa mereka pas jam istirahat kedua, dan juga tak lupa mengecek detak jantungnya, Yovi dan Zuco juga mengikuti arahan dari Riski.


Anehnya sudah 20 yang mereka periksa semuanya memiliki detak jantung yang kencang dan tidak beraturan meski mereka memiliki teman sewaktu jam istirahat ke dua, Riski menjadi tambah kesal.


“Kalian semua berkomplot buat ngerjain aku ya?! Kalian semua benci sama aku! Kalau kesal ngomong langsung!” Ucap Riski.


Dan hasil itu cukup mengecoh fikiran Riski untuk tau siapa pelaku sebenarnya, Yalisa dan Mei yang menunggu giliran semakin dag dig dug.


“Yov lanjut lanjut, aku pengen tahu, sisa yang belum di periksa apakah sama juga,” Titah Riski.


Yovi mematuhi perintah Riski hingga sampai pada giliran Mei dan Yalisa, Riski menaruh pandangan curiga pada Yalisa.


“Khusus Yalisa aku yang cek, sini buruan!” Riski menunjuk ke arah Yalisa, Yalisa sempat menolak tapi Riski menarik telinga Yalisa.


“Dengan siapa kamu pas jam istirahat!” ucap Riski dengan nada suara membentak.


“Mei, kita berdua di kantin pas jam istirahat,” sahut Yalisa.


Mei juga memberikan jawaban yang sama seperti Yalisa saat Yovi mengajukan pertanyaan padanya.


Kemudian Riski menanyakan ke semua orang yang ada di kelas.


“Ada yang lihat mereka di kantin? Jujur kalian semua! Atau kalian mau aku tampar satu-satu!”


Tiga siswa mengaku melihat Yalisa dan Mei berada di kantin saat jam istirahat.


“Kamu jangan asal curiga dong, siapa tahu PR mu tinggal di rumah.” Yalisa mencoba mempengaruhi ingatan Riski.


“Kamu fikir aku seperti kamu? Yang udah tolol miskin lagi!”


Riski menunjuk-nunjuk wajah Yalisa, sementara tangan kanannya masih menjewer telinga Yalisa.


“Kamu kenapa jadi bahas keadaan ekonomi ku? Kamu yang kehilangan buku, malah nyusahin semua orang yang ada di kelas, ini sudah jam 3, semua orang mau pulang ke rumah, ada juga yang mau les tambahan, terkendala hanya karena kamu, lepasin tangan kamu dari telinga ku, sakit tau nyebelin bangat,” ucap Yalisa.


Riski melepaskan jeweran nya dan menutup mata dengan muka yang masam tak mau mendengar perkataan Yalisa.


“Ssstt.” Riski membekap kuat mulut Yalisa dengan tangannya.

__ADS_1


“Bacot!”


“Ki, Mei udah kelar nih, sama kayak yang lain jantungnya.” Mendengar hasil dari Yovi, Riski semakin murka dia merasa di permainkan satu kelas, fikiran gelapnya membuat dia tambah marah meledak-ledak lalu Riski ingin mencoba mencek detak jantung Yalisa juga saat dia ingin meletakkan tangannya di dada Yalisa, Yalisa menepis tangannya.


“Jangan sembarangan ya, kamu ngelakuin itu sama dengan pelecehan!” ucap Yalisa.


“Hei goblo*, aku cuma mau cek doang, biar final hasilnya, kamu itu enggak ada menarik-menariknya sama sekali, bagian yang mana saja aku sentuh itu sama saja!”


“Tetap saja, aku enggak mau, kan masih ada Yovi,” ucap Yalisa.


“Kalau soal kamu, yang turun tangan harus aku langsung,” terang Riski.


Riski meraih paksa tangan kiri Yalisa yang menutup dadanya. Dengan sigap pula Riski meletakkan tangannya ke dada Yalisa, dan itu mengenai bagian sensitif Yalisa, Yalisa dengan rasa malu yang besar berteriak.


“Brengsek! Plak! plak!”


Tamparan melayang ke pipi kanan Riski sebanyak dua kali, Riski memegang pipinya yang mulai merah dan terasa panas, kemudian dia melepaskan tangan kirinya yang memegang tangan Yalisa.


“Ah, ck! Pada hal cuma kena sedikit lebay bangat sampai nampar-nampar?!”


Dengan mata melotot Riski menjambak rambut Yalisa, Mei yang melihat tindakan Riski mencoba melepaskan tangan Riski.


Riski dengan sepenuh tenaga membanting tubuh Mei ke lantai, mirisnya semua yang ada di kelas hanya menonton saja, semua takut dengan aura Riski yang semakin memburuk, tak ada yang mau mengambil resiko, karena sekali berurusan dengan Riski akan membuat hidup mereka suram baik di sekolah mau pun di luar sekolah akan terus di ganggu.


“Tangan kotor kamu, berani bangat nampar wajah ku yang berharga, plak! Plak!”


Riski mendaratkan tamparannya di tempat yang sama di wajah Yalisa, dengan rambut yang masih di jambak.


Riski memukul-mukul wajah Yalisa berulang kali, dan juga menendang-nendang betis Yalisa, Mei segera bangun dari lantai dan mencoba menghentikan Riski malah di pegang erat oleh Zuco.


Tiba-tiba Marco yang di pintu tersungkur ke teras kelas,mereka yang ada di dalam kelas belum menyadari keadaan Marco karena hanya fokus melihat Riski dan Yalisa.


Saat Yalisa ingin berteriak, Riski malah memukul keras mulutnya hingga memar. Tiba-tiba sebuah tendangan keras mendarat di punggung Riski, karena Riski masih memegang Yalisa, Yalisa dan Riski tersungkur ke lantai, semua kaget, karena tendangan itu berasal dari kaki Leo dari jurusan TKJ.


“Beraninya sama perempuan?!” Ucap Leo dengan muka seram menatap tajam ke Riski, saat Zuco ingin memukul Leo dari belakang, Mei memperingatkan Leo.


“Awas Leo! Zuco mau memukul mu!”

__ADS_1


Leo langsung menghindar, dan menendang perut Zuco sampai Zuco merasa mual, tak cukup satu tendangan, Leo kembali melayangkan tendangannya ke perut Zuco lagi.


Kemudian dengan penuh emosi, Leo menarik kerah baju Riski, dan mendaratkan tinju berkali-kali ke wajah Riski, belum sempat Riski mengangkat tinjunya ingin melawan, Leo mendaratkan lagi tinjunya yang besar ke perut Riski.


“Sialan!”


Riski memanas, ingin membalas pukulan Leo, saat ingin memukul Leo, Leo malah menepis tangan Riski dengan sepatunya yang berat dan tebal, itu membuat Riski terpental ke dinding.


Riski sangat malu karena tidak bisa membalas satu pukulan pun, puas melampiaskan amarahnya, Leo memperbaiki rambut Yalisa yang acak-acakan.


Yalisa yang menerima pembelaan dari orang lain selain Mei, merasa bahagia dan terharu, tanpa terasa air mata Yalisa mengalir sendiri.


“Jangan menangis, semua sudah berakhir untuk hari ini,” ucap Leo.


Mendengar suara lembut Leo, Yalisa tambah sesunggukan, air matanya semakin deras, ingus dan liurnya pun ikut keluar, selain Mei, tak ada yang bersedia membelanya, karena takut dengan kekejaman Riski dan kawan-kawan, lalu Leo mulai menatap semua yang ada di kelas.


“Kalian semua banyak, tapi tidak ada yang bersedia membela Yalisa, wanita dengan tubuh sekecil ini kalian biarkan mendapatkan penindasan dan tindakan keji, kalian semua seolah buta, coba kalian lihat memar di bibir dan juga wajahnya, kalau kalian bersatu, kalian bisa membinasakan parasit-parasit yang ada dalam kelas, ini yang ada kalian hanya membisu dan buta,” Ucap Leo.


“Sudah, sudah, jangan nangis lagi Lis.”


Mei yang memeluk Yalisa jadi ikut menangis


“Mei, ambil tas kalian kita pergi,” titah Leo.


Mei melepaskan pelukannya dari Yalisa dan beranjak menuju meja mereka untuk mengambil tas mereka berdua, kemudian Leo membantu Yalisa berdiri.


“Ayo,” Ucap Leo.


Saat Yalisa mencoba berdiri, Yalisa hampir terjatuh kakinya tidak kuat berjalan karena tendangan Riski tadi, beruntung Leo memapahnya, dengan rasa iba dan kwatir, Leo menggendong depan tubuh Yalisa yang mungil, semua yang ada di kelas hanya menatap saja.


“Ingat, aku akan memperhatikan kalian mulai saat ini, coba kalau aku enggak lewat kelas ini, mungkin anak ini sudah mati di tangan kalian, tolong kendalikan dirimu jangan sampai kamu mendapat catatan kriminal di kantor kepolisian”


Perasaan Riski bercampur aduk, marah malu ingin membalas namun tidak bisa, mereka bertiga berlalu keluar dari kelas, Riski mulai menggila lagi melampiaskan semua emosinya dengan memukuli anak laki-laki yang ada dalam kelas.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN MEMBERI LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2