SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXVI (Taruhan)


__ADS_3

Setelah itu mereka mengambil posisi masing-masing berdiri saling berhadapan yang di batasi oleh net.


Saat mereka akan mulai, Marco yang masuk tiba-tiba menghampiri mereka.


“Mau main ya?” tanya Marco.


“Iya, kita lagi taruhan.” sahut Zuco.


“Wah seru nih!” ujar Marco dengan semangat.


“Kebetulan kamu disini Marco.” terang Riski


“Ya?” jawab Marco keheranan.


“Jangan kemana-mana, kamu jadi wasit kita selama pertandingan, nanti setelah selesai aku traktir ke kantin.” ujar Riski.


“Siap bos!” lalu Marco pun segera duduk di kursi panjang wasit yang berada di sebelah center line.


“Ayo ambil posisi masing-masing.” seru Marco sebagai wasit.


Mereka pun mengikuti arahan Marco. “Nih, kalian duluan yang servis bola.” ucap Riski pada Yalisa. Yalisa pun menerima bola pemberian Riski itu.


Lalu setelah mereka telah sedia, Yalisa pun melakukan servis pertama.


Puk!


Yalisa melakukan servis dengan pelan, mengarahkan bola ke arah Mei, lalu dengan mudah Mei mengoper kembali bola itu pada Zuco.


Saat Zuco mau memukul bola yang mengarah padanya tiba-tiba raket Yalisa mengambil alih bola tersebut, dan dengan lincahnya Yalisa melakukan smash, yang bolanya di tujukan kembali pada Mei.


Swoohh!!!!


Pluk!


Tekanan bola yang melayang secepat kilat itu pun mendarat ke betis Mei.


“Ssstt...” Mei meringis dengan pelan.


“Yes!” Zuco dan Yalisa pun melakukan tos, karena mereka berdua mendapatkan 1 poin.


“Kamu enggak apa-apa?” tanya Riski pada Mei.


“Aku baik-baik saja.” jawab Mei.


“Dia bisa main bulu tangkis?” batin Riski.


“Oke,1-0.” ucap Marco dari kursi wasitnya.


Lalu di servis kedua Yalisa melakukan drive (pukulan cepat mendatar ke arah lawan) lagi-lagi ia mengarahkan bolanya pada Mei, namun kali ini Mei dapat menerima dan mengoper bola dengan teknik Lob yang di arahkan pula pada Yalisa.


Namun tanpa di sangka, Yalisa dapat mengatasinya, dengan sigap ia melalukan smash panas yang langsung saja mengenai dahi Mei.

__ADS_1


Puk!!


“Yes! 1 poin lagi Co!” saru Yalisa.


“2-0!” ucap Marco dari kursinya.


“Yalisa gantian dong, kamu jangan nyerobot bola terus, kapan aku mukul bolanya.” ucap Zuco, karena merasa yang bermain itu hanya Yalisa dan Mei.


“Sabar, kalau sudah tepat sasaran, aku kasih ke kamu.” terang Yalisa, yang kemudian melakukan servis berikutnya, dan lagi-lagi ia melempar bola ke arah Mei, ia tak perduli meski Zuco mengeluh padanya.


Pukulan demi pukulan Yalisa layangkan hanya untuk Mei, tak jarang bola itu mengenai kepala wajah dan bahu Mei.


“Ck, gagal terus.” gumam Yalisa, Zuco tak mengerti apa yang sebenarnya Yalisa pikirkan.


Riski yang sedari tadi memperhatikan tingkah Yalisa jadi menaruh curiga.


“Jangan-jangan, dia sudah tahu lagi.” itulah yang ada dalam batin Riski.


Karena melamun, bola yang Yalisa servis pun mendarat di kepala Riski.


Puk!


“Woi! Kamu mau main apa ngajak berantem sih!” pekik Riski.


“Kalau enggak bisa main jangan emosi dong! Ah hahaha.” sambung Yalisa seraya tertawa meledek.


Mei yang belum pulih betul tak dapat mengimbangi Yalisa, mereka tak menyangka kalau Yalisa jago dalam permainan bulu tangkis.


“Eh, kalau aku sampai kalah, bayar hutang mu besok!” Riski. 📱


Zuco yang kebetulan memegang handphonenya langsung merasa tegang.


“Sialan si Yalisa, gara-gara dia aku harus bayar hutang sebelum waktunya.” batin Zuco.


Lalu Zuco pun memutar otak, agar mereka kalah.


Riski sendiri tak dapat mengimbangi Yalisa, karena teknik pukulan Yalisa yang sangat cepat.


“Kenapa aku enggak tahu ya, kalau dia berbakat dalam bulu tangkis?” batin Riski.


Setelah mereka cukup istirahat, mereka pun bertukar posisi.


“Nih! Kamu duluan yang servis bola!” ucap Yalisa membalas perkataan Riski sebelumnya.


Setelah mereka sudah sedia, Riski pun melakukan servis, saat Yalisa akan mengambil bola yang mengarah padanya, tiba-tiba Zuco menyenggol tubuh Yalisa, akibatnya Yalisa kehilangan keseimbangan. Lalu jatuh dengan posisi duduk di atas lantai.


Akibatnya tim Mei dan Riski mendapatkan poin pertama.


Servis-an kedua pun begitu, sampai seterusnya, ada-ada saja perbuatan konyol Zuco, hingga membuat Yalisa tak dapat merima bola dengan baik.


“Kamu!” Yalisa memelototi Zuco.

__ADS_1


“Lantainya licin sialan!” pekik Zuco.


“Sekali lagi kamu ganggu aku, raket ini akan mendarat di wajah mu!” hardik Yalisa.


Dan pada pukulan terakhir, yang menentukan kemenangan, lagi-lagi Zuco melakukan tingkah konyol, dengan memukul pola dengan sangat rendah, hingga bola yang ia servis tersangkut di jaring net milik mereka.


“Yes! Yes! Yes! Hore!” Mei dan Riski bersorak bahagia.


Sementara Yalisa yang marah menjewer telinga Zuco.


“Dasar pengkhianat.” ucap Yalisa pada Zuco, ia tahu Zuco sengaja melakukan itu, tapi karena sudah terlanjur taruhan, ia pun dengan lapang dada menerimanya.


Kedua tim pun bergabung untuk saling bersalaman kembali, lalu sang wasit mengumumkan.


“Pertandingan kejuaraan dunia di tahun 2017 di menangkan oleh tim Mei Lissah dan Riski Lail!!!!” seru Marco yang membuat orang-orang yang ada dalam gedung memperhatikan mereka.


“Hehehe, jadi, sudah siapkan jadi pacar satu hari ku?” ucap Riski dengan tersenyum licik pada Yalisa.


Bibir Yalisa memancung ketika Riski berkata demikian.


“Jangan bilang kalau kamu enggak mau tepat janji ya!” Riski mengangkat sebelah alisnya ke atas.


“Jangan khawatir, aku pasti tepat janji, tentukan saja harinya.” ujar Yalisa seraya menelan saliva nya.


“Nanti aku WhatsApp kapan kita kencannya.” terang Riski dengan perasaan berbunga-bunga.


Lalu Mei pun memberikan tangannya pada Yalisa untuk bersalaman.


“Hari ini kamu bersemangat sekali ya.” ujar Mei dengan tersenyum.


“Hahaha..., itu karena lawannya kalian, sang jawara sekolah.” ucap Yalisa seraya menggenggam tangan Mei.


“Aku tahu kamu sengaja memukul bola pada ku Yalisa, entah apa yang kamu rencanakan saat ini.” batin Mei, selesai bersalaman, waktunya mereka membubarkan diri.


“Ayo, kita antar peralatannya ke gudang.” ujar Riski pada Yalisa.


“Loh, kenapa harus aku? Kamu kan bisa sendiri, lagian itu enggak berat.” ucap Yalisa.


“Ku bilang ayo! Yang kalah itu harus nurut sama yang menang.” Mei dan Zuco pun tertawa kecil mendengar perdebatan Yalisa dan Riski.


“Benar Lis, temani Riski, sana antar peralatannya, jangan jadi perhitungan begitu dong.” ucap Zuco seraya melap keringat di keningnya dengan handuk kecil yang ia bawa dari rumah.


“Benar-benar.” lanjut Mei.


“Kita bertiga ke kantin lebih dulu, kami tunggu kalian disana.” ujar Marco, yang ingin menagih janji Riski untuk mentraktir dirinya.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Mampir juga ke karya author di bawah ini ya.

__ADS_1



__ADS_2