SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXXII (Nomor Misterius)


__ADS_3

Leo pun menuntun Mei untuk duduk di tepi ranjang, lalu Leo berlutut, seraya mengambil korek kuping yang telah ia tuangkan krim antibiotik.


Sreett.. sreett... Leo mengoles krim itu ke bekas luka Mei.


“Kenapa aku sampai lupa, kalau yang terluka bukan aku saja.” batin Leo.


“Le-Leo.”


“Apa masih sakit?” tanya Leo seraya mendongak.


“Eng-enggak sesakit itu kok.”


Huhhhh...., Leo meniup bekas luka Mei yang baru saja selesai ia oles dengan krim.


Mei yang sebelumnya merasa sakit kini malah tak merasakan apapun berkat perlakuan lembut Leo.


Lalu Leo bangkit dari lututnya dan duduk di sebelah Mei.


“Kenapa kamu enggak laporin aku ke polisi?” tanya Leo.


“Kenapa? Pada hal aku sudah berbuat kriminal sama kamu, atau kenapa kamu enggak menuntut saja? Kenapa malah memilih menikah sebagai bayarannya?” ujar Leo seraya melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki Mei.


“Leo...”


“Apa benar kamu sesuka itu sama aku?” tanya Leo lebih lanjut.


“Le-Leo.”


“Mei, maaf sudah membuat mu merasa sakit.”


“Leo, alasan semuanya, karena aku benar-benar cinta sama kamu, ku rasa yang lebih dulu suka kamu adalah aku, bukan Yalisa, aku enggak butuh apapun, selain hidup bersama mu.” terang Mei mengungkapkan isi hatinya.


“Aku tahu, tapi aku enggak bisa membuka hati ku untuk mu Mei.” batin Leo.


Lalu Leo pun mengusap-usap puncak kepala wanita yang ada di hadapannya itu.


“Kenapa, kamu yang setengah telanjang begini tak membuat ku selera? Tujuan ku masuk ke kamar ini untuk menguji perasaan ku sendiri, ternyata tak ada getaran sedikit pun, mungkin kalau itu dia, akan beda ceritanya.” batin Leo.


“Leo, sampai kapan kamu mengelus rambut ku?”


Suara Mei menyadarkan Leo dari lamun nya. “Eh.”


“Ada apa?” tanya Mei.


“Enggak ada apa-apa kok.” Leo pun melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 17.00.


“Ayo aku antar pulang.”


“Pulang? Tapi tante kan belum pulang?”


“Itu enggak masalah.” Lalu Leo mengambil seragam sekolah Mei yang tergeletak di atas ranjangnya.


“Bisakan pasang sendirikan? Buruan, aku tunggu di luar.” ujar Leo seraya berlalu dari dalam kamarnya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Mei keluar dengan memakai seragam lengkapnya.


Leo yang duduk di sofa pun berdiri. “Ayo.”


“Oke.”


Mereka pun bergegas menuju garasi untuk mengambil motor, setelah keduanya naik ke atas motor, Leo pun melaju membelah jalan raya menuju rumah Mei Lissah.

__ADS_1


Keduanya pun sampai ke kediaman Mei, setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam.


Sang satpam yang melihat tuan rumahnya pulang pun membukakan gerbang.


“Kamu turun disini ya.”


“Ha? Kamu enggak antar aku sampai pintu?”


“Kan sudah dekat.”


Karena Leo menolak, Mei pun turun dari motor calon suaminya.


“Aku pulang dulu.”


Leo yang tanpa basa-basi pun melenggang pulang dengan motornya.


“Dasar!” pekik Mei, seraya berjalan menuju rumah.


“Non.” sapa pak satpam yang berjaga di gerbang.


“Iya pak?”


“Ini tadi ada paket datang.” ucap pak satpam seraya menyodorkan sebuah kotak pada Mei.


“Oh, oke.” Mei pun menerima kotak tersebut.


“Paket dari siapa ya?” batin Mei.


Sesampainya ia di pintu utama, Winda yang ada di depan pintu langsung menyambutnya.


“Baru pulang non?” sapa Winda.


“Iya mbak, eh handphone yang aku pesan sudah datang belum?” tanya Mei.


“Baik, ya sudah, 1 handphonenya lagi buat mu mbak Win, aku mau mandi, ambil saja di kamar langsung.” titah Mei.


Mei pun beranjak ke kamarnya yang ada di lantai 2.


Krieett...


Pintu kamar terbuka, Mei meletakkan tas nya di atas ranjang, begitu pula dengan kotak paket yang ada di tangannya, lalu ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai, Mei yang dengan kimono keluar dari kamar mandi, terlebih dahulu ia lakukan adalah, mengecek handphone baru yang di beli oleh Winda.


“Cekatan juga mbak Winda, enggak salah aku pekerjakan dia.” gumam Mei.


Saat Mei mengaktifkan handphonenya, ia melihat banyak sekali panggilan suara whatsapp dari Yalisa.


“Anak ini.”


Namun, ada 1 nomor yang ia tak kenal yang mendial nomornya sampai 30 kali.


“Ini nomor siapa?” gumam Mei.


Saat Mei masih mengamati nomor tersebut, tiba-tiba.


📲 Drrttt...


📲 Drrrrrtt..


📲 Drrrrrtt..

__ADS_1


Handphone Mei tiba-tiba bergetar, yang saat di lihat, ternyata yang mendial adalah si pemilik nomor tidak di kenal itu.


Karena merasa penasaran, Mei mengangkat telpon tersebut.


“Halo...” Mei. 📱


“............” 📱


“Halo, haloo, ngomong dong, jangan ngerjain orang.” Mei.📱


“...........” 📱


Anehnya, si penelepon hanya diam saja, yang membuat Mei teringat akan sesuatu dan berkata.


“Mau apa kamu sebenarnya?” Mei. 📱


Tutt..


Tutt...


Tutt..


Saat Mei berkata demikian, si penelepon misterius langsung menutup teleponnya.


“Aku tahu, pasti yang nelpon barusan si tukang kuping tadi pagi.” gumam Mei


Lalu Mei memperhatikan lagi nomor misterius tersebut.


“Tapi..., dari mana dia tahu nomor ku? Apa..., dia orang terdekat ku?” batin Mei.


Saat Mei sedang sibuk memikirkan siapa pemilik nomor misterius yang mulai menerornya, tiba-tiba.


Drrrrrtt..


Handphone Mei bergetar kembali, yang ternyata ada pesan WhatsApp dari nomor misterius tersebut.


“Ha? Rekaman suara?” batin Mei.


Saat Mei memutar rekaman suara yang baru saja ia unduh.


Deg deg deg deg!!


Ternyata itu adalah percakapannya tadi pagi bersama Riski, mulai dari soal Leo dan Yalisa, sampai ke tulang pak Ari yang telah ia sebar di lautan.


Tubuh Mei seketika menjadi panas dingin, baru saja ia merasa indahnya jatuh cinta, kini harus berurusan dengan hal yang merepotkan.


“Sial, siapa orang ini!” pekik Mei.


Kemudian, masuk lagi pesan baru dari si nomor misterius yang berisikan.


“Kalau mau rahasia mu aman, kamu harus menebusnya dengan uang 1 milyar.”...... 📱


Mei yang mendengar nominal uang yang di minta adalah 1 Milyar langsung naik pitam.


“Wah, boleh juga nih, minta uang enggak tanggung-tanggung.” Mei tersenyum getir seraya memijat keningnya, bukan karena ia tak mampu bayar, tapi ia tahu si pemilik nomor misterius itu tidak akan memerasnya dalam sekali saja.


“Siapa orang ini kira-kira? Yang tahu nomor ku hanya anak-anak yang ada dalam kelas, berani sekali orang ini main-main, dia belum tabu aku siapa, dan apa saja yang bisa aku perbuat atas tindakan lancangnya ini, hah! Bikin stres saja!” saat Mei memikirkan siapa kira-kira pelaku tersebut, lagi-lagi ia mendapat pesan baru.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.



__ADS_2