
Ketiga serangkai itu pun bergegas ke kamar Riski, sesampainya mereka ke dalam kamar, Zuco yang tak sabar sedari tadi membuka kulkas yang berisikan 10 botol minuman haram.
“Wah!!! Banyak bangat minumannya Ki?” seru Zuco kegirangan.
“Iya, itu stok, hahaha!” jawab Riski.
Marco pun inisiatif mengambil 3 gelas kaca berukuran mini, sebagai wadah menampung minuman.
Lalu Riski mengeluarkan 2 botol besar dari dalam lemari es dan meletakkannya di atas meja.
Lalu mereka bertiga mengambil posisi duduknya masing-masing karena kebetulan ada 4 kursi buah di dalam kamar itu.
Riski membuka 1 botol wine berwarna merah, lalu ia tuangkan ke gelas teman-temannya satu persatu.
Kemudian Zuco langsung mencicipi wine tersebut dengan ekspresi nikmat.
“Akhhh!!! Nikmat bangat Ki, apa lagi dalam keadaan dingin,” lalu Marco pun meneguknya.
“Wah! Benar, enak bangat Ki.” Riski tak merespon perkataan kedua temannya itu, kepalanya hanya menunduk seperti memikirkan sesuatu.
Zuco yang melihat itu langsung bertanya. “Apa ada yang salah Ki?” namun tetap saja Riski bungkam, kemudian hal yang mengejutkan pun di lakukan oleh Riski, ia meneguk langsung wine itu dari botolnya.
Gluk gluk gluk gluk gluk! Hingga habis tak tersisa. Marco dan Zuco di buat keheranan dengan sikap sahabat mereka tersebut.
Tak sampai disitu, Riski kembali membuka wine yang masih tersisa satu botol di atas meja mereka dan kembali meminumnya.
“Kamu kenapa Ki? Apa ada masalah? Cerita dong ke kita?” tanya Zuco karena merasa khawatir.
“Iya Ki, pada hal kamu dan Yalisa baru bersenang-senang di atas, kenapa tiba-tiba sikap mu malah jadi aneh begini?” mendengar perkataan Marco, Riski yang baru selesai minum botol kedua pun meletakkan dengan kasar botol wine tersebut ke atas meja.
Dengan raut wajah kusut, ia pun berkata. “ Itu bukan aku,”
“Ha? Apa sih maksudnya?” tanya Zuco.
Riski yang kacau kembali mengambil wine ke dalam kulkas, dan ya seperti sebelumnya ia meminumnya lagi sampai habis, saat akan mengambil botol wine selanjutnya, Zuco dan Marco menghentikannya.
“Ki, kamu jangan minum sebanyak itu, fikir kan kesehatan mu, kalau ada masalah cerita ke kita, kita disini itu untuk liburan, bersenang-senang, dan untuk menghibur Yalisa juga, kalau kamu kacau begini, semua bisa berantakan.” ungkap Zuco.
“Dia, dia sudah mengkhianati aku,” ungkap Riski yang ternyata sudah mabuk.
Zuco dan Marco di buat bingung, karena Riski yang terbiasa minum belum pernah mabuk sebelumnya, kini malah sebaliknya, saat mereka periksa detail botol wine yang mereka minum, ternyata kadar alkoholnya sangat tinggi.
“Akhh, bikin kerjaan ajah nih anak,” gumam Marco.
__ADS_1
“A-aku, aku mau keluar dulu.” ucap Riski dengan sempoyongan.
“Mau kemana? Kita disini saja, nanti kamu malah naik lagi ke kamar Yalisa,” ujar Marco.
“Aku mau ke dapur kok, mau ambil air putih,” ucap Riski.
“Sudahlah, biarkan dia pergi, hei Ki! Jangan lupa ambil untuk kita juga ya,” pinta Zuco.
Riski pun keluar dari kamarnya, sementara Zuco dan Marco kembali duduk di kursi mereka semula.
“Kita harus pelan-pelan nih minumnya, entar teler lagi kayak si Riski,” ucap Zuco.
“Iya, biasakan kita minum wiski yang kadar alkoholnya rendah, hahahaha,” timpal Marco.
Saat Marco dan Zuco tengah asyik mengobrol, Riski yang tadi mengaku ingin ke dapur, ternyata naik ke lantai 2.
Sesampainya ia di depan pintu kamar Yalisa, ia langsung membuka hadle pintu yang ternyata tidak di kunci.
“Bodoh, pada hal aku sudah bilang, kunci pintunya, apa sebenarnya dia berharap aku tidur sama dia malam ini? hehe.” gumam Riski seraya senyum-senyum sendiri.
kriett!!!
Saat pintu telah terbuka, Riski melihat sang pacar tengah tertidur lelap.
Riski memandangi wajah Yalisa dalam-dalam untuk beberapa saat.
Selanjutnya ia mengelus wajah dan rambut Yalisa secara bergantian.
“Kenapa aku bisa secinta ini sama kamu? Pada hal kamu jelek dan enggak good looking, sihir apa yang sudah kamu lakukan sayang? Meski kamu sudah mengkhianati aku, aku masih tetap mencintai mu.”
Setelah mencurahkan isi hatinya, Riski mencium kening Yalisa, yang membuat Yalisa terbangun dari tidurnya.
“Riski!” hardik Yalisa seraya menghempaskan tubuh Riski darinya.
“Sayang, kamu sudah bangun?” tanya Riski dengan wajah aneh ala orang mabuk.
“Kamu mabuk Ki?” tanya Yalisa yang kini telah duduk dari tidurnya.
“Iya, memang kenapa?” tanya Riski seraya memegang wajah Yalisa.
“Jauh-jauh dariku, jangan mendekat, dasar gila ya, bisa-bisanya kamu mabuk dan masuk ke kamar cewek, enggak sopan bangat sih!” pekik Yalisa.
“Kok jadi marah sih sayang? Kan aku cuma mau lihat keadaan kamu? Lagi pula aku udah bilang tadi, kunci pintunya, kamu malah enggak nurut, sengaja ya?” ucap Riski dengan senyum menggoda.
__ADS_1
“Sengaja apanya? Aku enggak tahu kalau kamu bilang begitu, lagian kamu kurang ajar bangat sih! Pertama bohong soal Mei, sekarang malah mabuk, mau kamu apa?! Kamu udah rencanain ini semua? untuk men ebak ku?!” pekik Yalisa seraya keluar dari atas ranjang.
Saat Yalisa berniat akan keluar kamar, Riski mencengkram lengan Yalisa dengan kuat.
“Jangan keluar, kita disini ajah,”
“Lepas! Kamu jahat bangat sih! Tega-teganya kamu bohong sama aku, kamu baik cuma karena ada maunya.”
“Apa?” Riski tak mengerti akan pemikiran Yalisa, karena menurutnya selama ini semua kebaikan yang ia lakukan tulus dari dalam hati.
“Iya, di balik kebaikan mu, pasti kamu selalu minta sesuatu dari aku, yang ciuman lah, minta tidurlah, ini itu yang sebenarnya aku enggak suka, modus bangat sih hidup mu!”
Riski yang tidak terima di tuduh seperti itu langsung naik pitam.
“Oh... Jadi kamu enggak nyaman dengan apa yang kita lakukan selama ini? Jadi ekspresi yang kamu tunjukin cuma palsu?” tanya Riski dengan serius.
“Apa itu penting?”
“Penting, buat ku itu penting! Karena aku ngelakuin semuanya dari hati dan karena cinta, semua yang aku lakukan tulus, bukan seperti kata mu, yang hanya modus!”
“Terserah kamu mau bilang apa, sekarang kamu keluar dari kamar ku!” Hardik Yalisa.
“Yalisa,”
“Kamu atau aku yang keluar?”
“Enggak akan ada yang keluar, karena aku pengen sama kamu malam ini,”
“Jangan lancang ya! Hah! Siala* bangat sih kamu!”
“Udahlah sayang, jangan marah-marah.” Riski yang di bawah pengaruh minuman pun berniat akan mencium bibir Yalisa.
Yalisa yang tak terima langsung saja mendaratkan tamparan keras ke pipi Riski.
“Hah! Segitu enggak maunya kamu sama aku? Pada hal sama dia kamu oke-oke ajah.”
“Dia? Maksud kamu siapa?”
“Ya mantan pacar mu itu, atau.... sebenarnya kalian sudah balikan lagi?”
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
__ADS_1
Instagram :@Saya_muchu