SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab XLIX (Bersama mu)


__ADS_3

Pagi harinya, Yalisa terbangun dari tidurnya di sebabkan alarm handphonenya yang berbunyi


“Mm, jam berapa sekarang?” gumam Yalisa, dengan keadaannya yang masih rebahan, Yalisa meregangkan tangan dan kakinya.


“Mmm!!!! hah..., enak bangat tidurnya.” ucap Yalisa, lalu ia raih handphone yang ada di sebelahnya untuk melihat jam.


“Sudah jam 09:00, apa Leo sudah bangun?” batin Yalisa.


Lalu Yalisa merapikan kembali ranjang seperti semula sebelum ia tiduri.


Setelah selesai, Yalisa keluar dari dalam kamar untuk menuju dapur.


“Kamu sudah bangun?” ucap Leo, yang tengah sibuk membuat roti panggang untuk mereka berdua di dapur.


“Leo, kamu bangun jam berapa? Kok udah ganteng?” ujar Yalisa, karena Leo sudah rapi memakai baju baru.


“Ehhehehe, aku kalau bangun memang langsung mandi, karena enggak tahan sama bau badan sendiri.” ucap Leo.


“Di udara yang sedingin es begini, Leo tahan untuk mandi?” batin Yalisa.


“Kamu cuci muka dulu di wastafel, aku juga udah sediain sikat gigi baru buat kamu.” titah Leo, menyuruh Yalisa mencuci muka di wastafel pencuci piring.


“Oke.” Yalisa pun melaksanakan titah itu dengan baik.


Leo sendiri yang telah selesai memanggang Roti, menghidangkan ke 2 buah piring yang masing-masing terdapat 3 lembar roti dan meletakkannya di atas meja.


“Ayo duduk di sana.” ucap Leo, menyuruh Yalisa duduk di hadapannya, agar bisa saling memandang satu sama lain.


Yalisa pun duduk di tempat yang di maksudkan Leo.


“Makan sarapannya, maaf cuma seadanya ya.” ucap Leo, seraya menyantap roti bakar buatannya, begitu pula dengan Yalisa.


“Em, ini enak bangat!” seru Yalisa, yang merasakan kerenyahan roti bakar buatan Leo yang di padukan dengan selai coklat.


“Oh ya? Kalau begitu makan yang banyak.” sahut Leo dengan perasaan Lega, karena Yalisa menyukai buatan tangannya.


“Kalau tadi malam jadi nginap di hotel, apa suasananya akan berbeda ya?” batin Leo.


Setelah mereka selesai sarapan, Leo membereskan piring yang mereka gunakan.


“Sebaiknya kamu mandi sekarang.” ucap Leo, yang membuat bulu kuduk Yalisa merinding.


“Tapi.” belum selesai Yalisa berucap Leo sudah memotongnya.


“Mandi di tempat seperti ini bisa menjernihkan pikiran, kalau di kota mana bisa mendapatkan air segar ala khas gunung, ini sudah pagi, kamu enggak akan demam gara-gara air dingin.” ucap Leo, yang membuat Yalisa menutup rapat mulutnya.


“Kamu bisa pakai baju ibu ku sekali lagi Yalisa.” ucap Leo, dengan berat hati Yalisa terpaksa mandi, di pagi yang dingin itu.


Selesai mandi, Yalisa mengambil gaun putih polos berbahan katun, tangan pendek di lemari baju ibunya Leo, setelah selesai memakai baju, Yalisa keluar dari dalam kamar, lalu ia heran melihat Leo yang memakai topi kupluk warna coklat dan jaket hoodie tebal, di sertai dengan pancing yang ada di tangan Leo.


“Kita mau kemana?” ucap Yalisa.


“Ayo mancing di danau.” sahut Leo, seraya memberi Yalisa topi kupluk yang sama warnanya dengan yang di pakai Leo, Leo juga memberi cardigan untuk Yalisa agar tidak terlalu dingin.


“Enggak apa-apakan kalau pancingnya cuma satu?” tanya Leo, seraya berjalan dengan Yalisa keluar rumah, Leo juga sudah mempersiapkan bekal roti panggang dan air hangat beserta kopi di 2 termos kecil dalam tas ransel yang di sandang oleh Leo.


“Sini aku bawa pancingnya,” ucap Yalisa.


Leo pun memberikan pancing itu untuk di bawa oleh Yalisa, tak lupa Leo mengunci pintu sebelum meninggalkan villa.


Lalu mereka berjalan di jalan setapak menuju danau dengan kemiringan 30 derajat.


“Hati-hati jalannya.” ucap Leo pada Yalisa.


“Oke,” sahut Yalisa.


Baru saja Leo peringatkan, tanpa sengaja Yalisa yang berjalan di belakang Leo tersandung batu kecil yang merusak keseimbangannya.


“Ah!!” Leo yang mendengar teriakan Yalisa menoleh ke belakangnya, sementara Yalisa yang akan terjatuh memegang bahu Leo, sehingga keduanya jatuh berguling-guling sampai beberapa meter, tubuh mereka baru berhenti di tanah dataran, tepat pinggir danau, beruntung di jalan setapak yang mereka lalui tak ada tumbuhan atau batu yang terlalu berbahaya, jadi mereka hanya mengalami sakit badan biasa.


“Kamu enggak apa-apa?” ucap Leo yang masih memeluk erat Yalisa.

__ADS_1


“Iya,” sahut Yalisa seraya menganggukkan kepalanya.


Lalu Leo melepaskan pelukannya dan beranjak dari atas tubuh Yalisa, kemudian Yalisa duduk dan merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan.


“Ahhahahaha!” Leo tertawa cekikikan karena merasa lucu, begitu pula dengan Yalisa.


“Ayo,” Leo yang telah berdiri dari duduknya mengulurkan tangannya pada Yalisa. Yalisa pun meraih tangan Leo, lalu Leo membantunya untuk berdiri.


“Kita mancingnya dengan naik perahu itu,” ucap Leo.


Sontak Yalisa melihat ke arah perahu yang di maksudkan Leo.


“Wah! Kita mau main perahu juga!” seru Yalisa dengan wajah perasaan senang dan senyum lebar di bibirnya.


“Iya, kita dayung perahunya sampai ke tengah danau.” ucap Leo, mereka berdua pun berjalan menuju perahu, lalu menaikinya.


Perlahan Leo mulai mendayung perahu yang mereka gunakan,suasana pagi yang masih menyisakan kabut membuat perasaan mereka menjadi tentram, tak ada bising, tak ada yang mengganggu.


“Apa sekarang kami sedang main suami ku istrian?” batin Leo.


Tanpa terasa mereka telah sampai ke tengah danau, lalu Leo berhenti mendayung. Ia pun meminta pancing yang Yalisa pegang untuk mengkait cacing sebagai umpan, yang ia telah siapkan dalam mangkuk sambal tupperware.


“Sebenarnya kamu bangun jam berapa sih? sampai-sampai udah dapat cacing segala,” ucap Yalisa.


“Nyari cacing kan enggak sesusah itu kalau disini.” sahut Leo, dengan senyum tipis.


“Sebenarnya aku enggak bisa tidur semalaman, karena mikirin omongan si Riski sialan itu!” batin Leo.


Setelah selesai mengaitkan umpan, Leo melempar mata pancingnya cukup jauh.


Seraya menunggu, Leo menuangkan kopi di gelas untuk mereka berdua.


“Ini, minum dulu biar hangat,” ucap Leo.


“Makasih ya,” sahut Yalisa.


Lalu Yalisa yang tak ingin menyia-nyiakan momen indah itu, mengeluarkan handphone dari sakunya, dan mengambil beberapa photo danau.


“Aduh, pengen photo sama Leo, tapi malu buat bilangnya, kayaknya dia enggak suka selfie.” batin Yalisa.


“Kamu bisa photo in aku enggak? Karena aku lupa bawa handphone.” ucap Leo, sontak Yalisa melihat ke arah Leo yang ada di hadapannya


“Oh, oke.” sahut Yalisa, seraya mengambil potret Leo berlatar belakang air danau dan juga pohon pinus di sekitarnya.


“Leo memang beda ya, meski pun menggunakan kamera asli, wajahnya tetap terlihat ganteng.” batin Yalisa.


Selesai memotret Leo, Yalisa memberikan handphonenya pada Leo, agar Leo dapat melihat hasil potretannya


“Bagus ya.” ucap Leo dengan mimik wajah ceria seraya melihat photonya dalam handphone Yalisa.


“Dia enggak ada maksud gitu buat photo sama aku?” batin Yalisa.


“Gimana cara bilangnya ya, aku juga mau photo sama Yalisa.” batin Leo.


“Kamu enggak mau photo juga?” tanya Leo.


“Kamu mau photo sama aku?” Yalisa bertanya balik sama Leo.


“Mau kok,” jawab Leo.


“Yes, akhirnya ada photo berdua.” batin Leo.


“Kirain dia nolak.” batin Yalisa.


Lalu mereka berdua pun berdekatan, Leo mengambil alih handphone Yalisa karena tangannya jauh lebih panjang, jadi pemandangan di belakang mereka akan lebih banyak terbidik.


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!

__ADS_1


Tiga photo yang di ambil oleh Leo, semua hasilnya sempurna, kupluk mereka yang senada menandakan mereka adalah pasangan jika di unggah ke media sosial.


Ceklek!


Tanpa mereka sadari pipi mereka menempel satu sama lain, lalu Leo merangkul bahu Yalisa.


“Katakan cirs!” ucap Leo.


Mereka berdua pun berpose dengan senyum Pepsodent. Lalu saat akan melanjutkan selfie berikutnya mereka kembali menempelkan pipi.


“Yalisa,” ucap Leo tepat di telinga Yalisa, yang membuat Yalisa merinding.


“Hum?” sahut Yalisa.


“Aku, boleh enggak cium pipi kamu,” ucap Leo dengan wajahnya nya mulai memerah.


“Kalau mau cium kenapa enggak cium saja, minta izin begini malah jadi canggung kan?” batin Yalisa.


“Enggak boleh ya?” ucap Leo menjauhkan wajahnya.


“Boleh kok,” sabut Yalisa.


Dengan perasaan bahagia campur deg degan Leo memeluk Yalisa kemudian mengecup pipi wanita yang ia cintai itu.


“Bibir dan hidungnya dingin bangat.” batin Yalisa.


Yalisa tak bisa melihat wajah Leo karena merasa sedikit malu.


Lalu Leo melepaskan kecupannya dari pipi Yalisa, tapi tidak dengan pelukannya.


Yalisa pun tak dapat menolak karena ia masih merasa bersalah akan sikapnya di belang Leo.


Posisi duduk mereka yang ada jarak menyulitkan Leo untuk memeluk Yalisa, lalu ia menguatkan keberaniannya, berdiri dari duduknya, lalu ia mengangkat tubuh Yalisa, dan membuat kaki Yalisa jadi mengapit tubuhnya.


“Mau ngapain?” ucap Yalisa.


“Apa-apaan ini?” batin Yalisa.


“Mau peluk saja,” sahut Leo.


“Kata Netizen, cewek kelamaan enggak di apa-apain malah akan semakin jauh dari kita.” Batin Leo.


Lalu Leo duduk, sehingga Yalisa duduk di atas pangkuannya. tanpa kata Leo memeluk tubuh tubuh mungil Yalisa, meski Yalisa sudah duduk di pangkuan Leo, tak membuat kepala merek sejajar.


“Leo, kamu kenapa?” ucap Yalisa yang mulai tak nyaman.


“Kalau aku cium bibir kamu boleh enggak?” tanya Leo dengan nada lembut.


“Kalau aku tolak, enggak adil bangat buat Leo.” batin Yalisa.


Yalisa hanya dapat mengangguk atas permintaan Leo tersebut, Leo yang telah mendapat izin, tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun menundukkan sedikit kepalanya untuk mencapai bibir Yalisa.


Saat bibir mereka akan bertemu, tiba-tiba kail pancing mereka bergoyang.


“Kayaknya kita dapat ikan tuh!” seru Yalisa.


“Biarkan saja.” ucap Leo dengan mata yang sendu.


“Tapi,” sahut Yalisa.


“Disini aku dapat yang lebih berharga.” ucap Leo, seraya memagut bibir Yalisa.


Yalisa yang sudah terbiasa dengan Riski, bisa menyeimbangi permainan Leo, yang membuat Leo tersentak.


“Apa dia pernah melakukannya dengan orang lain?” batin Leo.


Tapi Leo tak pedulikan itu, yang terpenting untuknya adalah kebersamaan mereka saat ini.


Bersambung....


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, RATE 5, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️

__ADS_1


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2