SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab LXXXVIII (Sesak Nafas)


__ADS_3

“Aku enggak tahu lagi harus bilang apa sama kamu, udah ah Ki, kayaknya aku pulang saja sekarang, lama-lama kalau dekat sama kamu, bisa bikin aku gila.” ungkap Yalisa dari hatinya yang paling dalam.


“Jangan pergi.” ucap Riski seraya menyingkir dari tubuh Yalisa, kemudian ia menyelipkan tangannya kebawah kepala Yalisa untuk jadi bantal.


“Aku mau pulang.” Yalisa yang merengek minta pulang membuat Riski makin gemas, biasanya para wanita tahan berama-lama dengannya, tapi yang satu ini berbeda.


Riski memiringkan badannya jadi menghadap Yalisa, bersiap untuk mencium kembali.


“Mau ngapain lagi?” tanya Yalisa dengan mata membulat.


“Jangan tanya lagi bodoh.” saat Riski akan mencium bibir Yalisa tiba-tiba.


“Assalamu'alaikum.” terdengar ada yang mengucap salam dari arah pintu yang terbuka lebar, sontak Yalisa dan Riski bangkit dari tidurnya.


“Itu siapa?” tanya Yalisa ketakutan.


“Pak ustadz.”


“Apa???”


“Katanya datang selepas magrib, kok baru tengah enam udah nongol?” batin Riski.


“Tunggu Disini,” titah Riski, Yalisa pun mengangguk tanda mengerti.


Beruntung dari pintu, ranjang Riski tidak terlihat, karena posisinya tepat di pojok kamar dan agak membelok sedikit. Kalau tidak bisa habis mereka berdua.


Kemudian Riski pun turun ranjang, dan berjalan ke arah pintu kamarnya.


“Wa'alaikumsalam tuan guru.” ucap Riski seraya mencium punggung tangan pak ustadz.


“Loh, kok sendirian?” tanya pak ustadz Musa, yang membuat Riski bingung tujuh keliling.


“Maksud tuan guru apa?” tanya balik Riski.


“Mana teman wanita mu?” tanya pak Musa, Riski kaget pak Musa tahu kalau di kamarnya ada perempuan.


“Dari mana tuan guru tahu?” batin Riski.


“Tuan guru ngomong apa sih?”


Yalisa yang mendengar dari dalam kamar makin panik, dia tidak tahu harus menyembunyikan dirinya kemana.


“Halah, suruh dia keluar, ayah mu bilang, ada murid tambahan hari ini.” ucap pak Musa.


Riski menggaruk-garuk kepalanya, tak mengerti mengapa ayahnya tahu akan Yalisa.


“Mana? Jangan lama-lama sebentar lagi Magrib, bapak tunggu di mushollah.” terang pak Musa seraya meninggalkan Riski menuju Mushollah lantai 1 yang ada dalam rumahnya.


Dengan perasaan sesak, Riski kembali ke ranjang, dan melihat Yalisa bersembunyi dalam selimut.


“Hoi, keluar.” titah Riski.

__ADS_1


“Enggak mau.”


“Buruan, tuan guru udah nunggu di mushollah tuh.” ujar Riski yang berdiri di sebelah ranjang.


“Enggak mau.” Karena Yalisa susah di ajak kerja sama, Riski pun membuka paksa selimut yang menutup tubuh Yalisa.


“Riski!”


“Apa? Ayo ke mushollah.”


“Enggak mau, kira-kira dong, malu tahu ketemu pak ustadz dengan keadaan dia tahu aku ada di kamar mu!” hardik Yalisa yang takut kena ceramahi.


“Udahlah yang, kita pasrah saja, paling cuma di ingatkan tentang dosa pacaran.” ungkap Riski yang membuat Yalisa sesak nafas.


“Ki.”


“Hum??”


“Aku boleh pulang ya?”


“Enggak bisa, masalahnya, ayah ku yang minta buat kita belajar berdua.” terang Riski.


“Apa? Om?”


“Kalau kamu enggak mau, aku bakalan bangkrut entar, jajan ku sehari enggak bisa di kira loh, kalau kamu belum mampu, sebaiknya ayo ke mushollah.” Yalisa memancungkan bibirnya, karena tak mau membiayai keseharian Riski, akhirnya ia pun bersedia menemui pak Musa.


Setibanya di mushollah, mereka melihat pak Musa sedang mengaji Al-qur'an.


Setelah Yalisa selesai, Riski menyuruh Yalisa untuk duduk di hadapan pak Musa.


“Pakai mukenah yang ada dalam lemari, dan duduk di depan tuan guru.” ucap Riski, lalu Riski meninggalkan Yalisa sebentar untuk mengambil air wudhu.


Yalisa pun mengambil mukenah putih polos selembut sutera dari dalam lemari, kemudian ia memakainya, setelah itu ia duduk di depan pak Musa.


Pak Musa masih tetap mengaji, tanpa menyapa Yalisa terlebih dahulu.


Tak lama Riski pun datang, ia mengambil sarung dan peci solat berwarna putih, setelah ia mengenakan keduanya Riski pun duduk di sebelah Yalisa.


“Sodakolluhul'azim, Allhummarhamni bilquran. Waj'alhu lii imaman wa nuran wa hudan wa rohmah. Allhumma dzakkirni minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhu maa jahiltu warzuqnii tilawatahu aana-allaili wa'atrofannahaar waj'alhu li hujatan ya rabbal 'alamin.” pak Musa pun menutup Al-qur'an yang ia baca.


“Hum, kamu yang namanya Yalisa?” tanya pak Musa.


“I-iya pak.” jawab Yalisa dengan menundukkan kepalanya.


“Oh, jaga diri baik-baik ya.” ucap pak Musa, yang membuat Yalisa merasa bersalah karena telah berbuat hal yang tak pantas di rumah orang.


“I-iya pak.”


Tak lama, jam pun menunjukkan pukul 18:02, waktu azan magrib telah tiba.


“Ayo Ki, adzan, kita sholat dulu.” ujar pak Musa.

__ADS_1


“Iya tuan guru.” Riski pun berdiri dari duduknya dan mulai adzan.


“Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x).” setelah Riski selesai adzan, pak Musa dan Yalisa pun berdiri, mereka membuat sab sholat sebagaimana seharusnya.


Lalu pak Musa berperan menjadi imam di salat magrib kali ini.


“Allaahu Akbar.”


Mereka bertiga pun melaksanakan sholat magrib dengan sangat khusuk.


Setelah selesai sholat Magrib, pak Musa pun berkata.


“Hari ini kita akan belajar sholat yang baik dan benar, jadi kalian berdua, bapak akan suruh untuk praktek sholat, dan lafaz kan juga bacaan-bacaannya dengan kuat, nanti kalau ada yang salah kita akan sama-sama perbaiki, tapi kalau kalian banyak salah, bapak tidak akan segan-segan untuk memberi hukuman.” terang pak Musa seraya mengambil rotan sepanjang 30 cm dari dalam tasnya.


“Loh, kok pake hukuman segala tuan guru?” tanya Riski, kemudian Yalisa mengangguk.


“Ini ayah mu yang suruh Ki, pak Doni bilang kalau kamu dan Yalisa banyak salah dalam pengucapan, bapak berhak atau boleh melibas kalian pake rotan ini.” ungkap pak Musa dengan senyum-senyum bangga.


“A-apa?” ucap keduanya dengan kompak.


“Hum, saya bangga dengan pak Doni, di tengah maraknya orang tua tak mengizinkan seorang guru menghukum muridnya yang salah, pak Doni malah membebaskan saya melakukannya, hahaha, itu baru benar, ini demi kemajuan kalian juga.” keduanya lemas mendengar penuturan pak Musa, tak mungkin Riski melawan kalau itu adalah titah sang ayah.


“Tapi pak, anak ayah kan cuma aku, kenapa Yalisa ikut di hukum juga?” tanya Riski.


“Karena dia adalah faktor pemecah fokus mu, jadi kalian berdua harus di bereskan, biar sama-sama benar.” Yalisa yang mengerti maksud pak Musa tak dapat membantah, ia hanya bisa menundukkan kepala saking malunya.


“Apa kalian berdua mengerti?” tanya pak Musa dengan tegas.


“Mengerti pak.” jawab Riski dan Yalisa serempak.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


Jangan lupa mampir ke karya author di bawah ini ya.


__ADS_1


__ADS_2