SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CVII (Kecewa)


__ADS_3

Dengan perlahan Yalisa memasukkan ke mulutnya ayam goreng di campur nasi kepal yang Riski berikan.


“Terimakasih.” ucap Yalisa dengan suara yang lirih.


“Iya, tolong jangan berbuat bodoh untuk yang ke dua kalinya, kamu enggak sendiri, ada aku.” meski penyimpan rasa kecewa, Riski tak menunjukkannya pada Yalisa.


Setelah Yalisa selesai mengisi perut, Riski baru teringat akan Mei.


“Mei dimana?” tanya Riski.


“Dia enggak bisa nginap disini malam ini, besok baru dia kesini lagi.”


“Wah, berarti dia sendirian malam ini, apa aman kalau ku tinggal pulang?” batin Riski.


“Memangnya ada hal penting yang harus dia dahulukan selain kamu?”


“Aku enggak tahu Ki, biarlah, dia juga kan punya urusan sendiri.” ujar Yalisa.


“Ya, berarti malam ini kamu tidur sendirian dong?”


“Ya, apa yang salah?”


“Enggak ada sih, cuma...., apa aman kamu tidur sendirian disini?” ucap Riski dengan tatapan ragu.


“Amanlah, memang ada lagi tempat yang paling aman selain di rumah sendiri?” tanya Yalisa.


“Ya sudah, malam ini aku akan menginap disini.” pernyataan Riski membuat Yalisa terkejut.


“Kamu sudah gila? Apa kata orang nanti? Ibu ku baru berpulang, dan aku sudah membuat laki-laki tidur di rumah ku, waras dikit dong!”


“Tenang saja, sewaktu aku kesini, enggak ada yang lihat kok, karena warung yang ada depan gang lagi tutup,” ujar Riski.


“Tetap saja, kamu enggak boleh tidur disini.”


“Kalau kamu enggak mau aku tidur disini, ajak siapa saja yang bisa menemani kamu disini.” ujar Riski, dengan kesal Yalisa berkata.


“Keras kepala bangat ya kamu.” Kemudian Yalisa bangkit dari kursi, menuju kamarnya yang di susul oleh Riski.


Sesampainya di kamar, Yalisa mengambil handphonenya, dan mulai mendial nomor Mei.


Namun, sudah berkali-kali Yalisa menghubungi sahabatnya, tapi tak kunjung di angkat.


Riski yang berdiri di pintu kamar Yalisa berdecak. “Ck, apa cuma dia teman mu di dunia ini?”


“I-Iya,” sahut Yalisa.


“Makanya, perbanyak bergaul, jadi kalau saat genting kamu enggak cuma bergantung sama satu orang, sudahlah, enggak ada penolakan, malam ini aku tidur disini,” ucap Riski.

__ADS_1


“Tapi...,”


“Tenang saja, aku tidur si sofa, kamu tidur di kamar.” setelah mengatakan hal itu, Yalisa pun tak dapat menolak lagi.


_______________________________________________


Sementara di kediaman Mei, ketika Mei akan merebahkan tubuh di atas ranjang tiba-tiba Winda datang ke kamarnya dan mulai mendekat.


“Non,” sontak Mei menoleh ke sumber suara.


“Barusan, ada yang telepon.”


“Siapa mbak?”


“Itu non, yang mengancam nona kemarin.” Mei yang lelah tak bisa lagi berfikir.


“Apa katanya?”


“Dia minta uang tebusan lagi.”


“Apa?”


“Iya non,”


“Dia telepon lewat mana? Kenapa aku enggak dengar?” tanya Mei yang mengira si penelepon misterius menghubungi nomor handphonenya.


“Apa?” lagi-lagi Mei di buat terkejut, ia tak menyangka, seseorang yang belum ia ketahui identitasnya itu mengetahui nomor telepon rumahnya juga.


“Iya non, berapa banyak orang non yang tahu nomor telepon rumah?” tanya Winda serius.


“Yalisa?” tebak Mei dengan spontan.


“Apa non yakin? Yang menelepon kan laki-laki non?” ujar Winda mencoba meyakinkan.


“Terus siapa lagi? Apa salah satu guru yang ada di sekolah?” pikiran Mei mulai bercabang-cabang kembali, karena satu masalah belum selesai, sudah datang masalah yang lain.


“Sudahlah mbak, kalau dia menghubungi kembali, suruh dia bicara langsung pada ku, cepat atau lambat, dia akan menampakkan dirinya, saat itu terjadi, dia akan tahu apa yang namanya menyesal.” setelah mengatakan hal tersebut, Mei pun masuk ke dalam selimutnya.


Winda hanya menuruti perintah majikannya, kemudian ia pun bergegas keluar dari kamar Mei, dan tak lupa mengunci pintu.


______________________________________________


Saat Yalisa telah tertidur di kamarnya, Riski yang merebahkan tubuh di atas sofa tanpa sadar malah melamun.


“Kenapa kamu mengkhianati aku Yalisa? Apa kurang ku? Apa aku salah melihat atau menyimpulkan, kalau kamu sudah melakukan hal itu dengan Leo?” Riski yang mulai gelisah menarik nafas panjang. Dan memiringkan badannya badannya ke arah punggung sofa.


“Apa ini balasan untuk ku selama ini? Aku juga berbuat seperti itu pada banyak perempuan, jadi Allah memberikan karma untuk ku, sebenarnya aku mau marah, tapi enggak bisa, karena aku sudah terlanjur sayang, dan apa aku boleh melampiaskan semuanya pada cowok brengsek itu? Tapi apa pantas Leo aku katakan brengsek? Karena aku dan dia enggak ada bedanya sekarang.” batin Riski tak hentinya berdebat akan bagaimana seharusnya ia bersikap.

__ADS_1


“Apa Mei sudah tahu hal ini? Makanya dia enggak mau menginap disini? Sebenarnya aku ingin bertanya langsung pada Yalisa, tapi aku takut dia marah, mungkin dia akan langsung memisahkan diri dari ku, tapi apa aku bisa tahan dengan perpisahan yang ia buat?”


Riski yang sudah terlanjur cinta tak dapat lagi membedakan mana yang benar dan salah untuk dirinya.


“Tapi, apa pentingnya itu soal kesucian, kalau suka ya suka saja.” setelah cukup lama berbincang dengan hatinya, akhirnya Riski memutuskan untuk tidur.


______________________________________________


Pagi harinya, ketika Yalisa terbangun ia pun langsung ke luar dari dalam kamarnya, saat ia melihat ke ruang tamu, ia tak mendapati Riski dimana pun, baik dapur atau pun di dalam kamar mandi.


“Pada hal masih jam 6, jam berapa dia keluar?” gumam Yalisa.


______________________________________________


Pukul 07:10, Riski yang baru saja tiba di parkiran berpapasan dengan Leo. Rasa marah yang ia pendam-pendam tak dapat di tahan lagi.


Tanpa basa basi Riski langsung melayangkan tinjunya ke wajah Leo berulang kali. Leo yang tak tahu apa pun merasa bingung, begitu pula dengan beberapa siswa yang ada di area parkiran.


“Apa-apaan kamu?” tanya Leo, seraya menahan tangan Riski yang akan memukulnya kembali.


“Seharusnya aku yang tanya begitu.”


“Apa?” tanya Leo dengan mimik wajah bingung. Kemudian Riski memeluk Leo seraya berbisik.


“Pada hal kalian sudah putus, tapi kamu masih berani berbuat senonoh.” Leo yang mendengar hal itu tak di sangka malah tersenyum.


“Kita sama-sama mau, jadi apa yang salah?” bisik Leo kembali ke telinga Riski.


“Jangan macam-macam, jangan ganggu dia lagi.” ucap Riski dengan perasaan emosi.


“Ya, kalau dia hamil, masa iya aku ninggalin dia?”


Mendengar kata hamil membuat Riski melepaskan pelukannya dari Leo.


“Andaikan itu benar, biar aku yang menjadi suaminya, kamu urus saja urusan mu dengan Mei Lissah!” ucap Riski dengan nada yang pelan. Setelah merasa cukup, Riski pun meninggalkan parkiran menuju kelasnya.


Orang-orang yang menyaksikan mereka bertikai aneh mulai menggiring opini sendiri.


Sesampainya Riski ke kelasnya, ia langsung melempar tasnya ke sembarang arah, lalu ia pun menendang kursi yang ada di hadapannya, membuat teman-teman sekelasnya merasa takut.


Bersambung...


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2