
Leo yang telah menunggu selama 1 jam lebih merasa aneh karena Yalisa tak kunjung kembali ke area pesta.
“Apa perutnya sesakit itu? Sudah selama ini belum balik juga.” gumam Leo yang mulai merasa khawatir.
Kevin yang kelelahan menari datang menghampiri Leo, seraya mengambil segelas minuman beralkohol.
“Eh, ngapain disini sendirian? Joget sana!” seru Kevin.
“Aku lagi nunggu Yalisa.” ucap Leo.
“Emang dia kemana?” tanya Kevin.
“Ke toilet, buang air besar, tapi sudah sejam lebih.” ucap Leo.
“Diare kali, coba kamu cek dulu ke dalam, mana tahu dia butuh bantuan.” ujar Kevin seraya meninggalkan Leo menuju kerumunan yang masih berjoget ria.
“Benar juga apa kata Kevin.” batin Leo.
___________________
“Kayaknya Yalisa diare deh Mei, kata Leo sudah sejam lebih ke toilet.” ucap Kevin.
“Apa?” sahut Mei menghentikan gerakan tubuhnya.
“Iya, tuh Leo cemas bangat, bodohnya bukan di cek ke dalam rumah, malah diam menunggu di situ.” ucap Kevin dengan menunjuk Leo dengan bibirnya.
“Ya sudah, coba aku cek ke dalam!” seru Mei, meninggalkan Kevin dan yang lainnya, sebelum masuk ke dalam rumah, Mei menghampiri Leo terlebih dahulu.
“Mau ikut ke dalam buat cek keadaan Yalisa?” tanya Mei pada Leo yang tengah duduk di atas kursi.
“Boleh.” jawab Leo, saat akan berdiri dari duduknya, tiba-tiba Mei sadar kalau Riski juga tidak ada dalam pesta sepanjang ingatannya.
“Jangan-jangan mereka lagi berduaan lagi sekarang, bisa kacau pesta ku kalau sampai benar.” Batin Mei seraya celingak-celinguk mencari keberadaan Riski.
“Tuh kan benar, anaknya enggak ada disini, lebih baik Leo enggak usah ikut ke dalam.” batin Mei.
“Leo, kamu tunggu disini saja ya, aku saja yang cek ke dalam, enggak enak kalau orang lihat kita berdua masuk ke dalam rumah.” ucap Mei.
“Ya sudah, kita panggil Kevin juga buat temani kita ke dalam.” ucap Leo.
“Aku janji bakalan cepat kembali, kamu enggak usah ikut ya.” ucap Mei, dengan bergegas berjalan menuju ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Leo hanya bisa mengikuti mau Mei, karena bagaimana pun juga ia sedang berada dalam acara Mei, jadi ia harus menghargai keputusan tuan rumah.
________________________________
Riski yang telah selesai melepas hasratnya, menyudahi aktivitas panas yang mereka lakukan, Riski menurunkan Yalisa dari gendongannya, lalu Riski duduk di atas lantai dan menyandarkan badannya di meja pemotong daging.
“Kamu berat juga ya, baru bentar gendong kamu, aku sudah kecapean.” ucap Riski dengan senyum genitnya.
“Suka-suka kamu deh mau bilang apa.” sahut Yalisa, lalu Riski menarik tangan Yalisa, memaksanya duduk di atas pangkuan Riski.
“Aku enggak nyangka, kalau bermesraan di dapur juga enak,” ucap Riski, seraya menyandarkan dahinya ke bahu Yalisa.
“Ngomong apa sih kamu,” sahut Yalisa.
“Sepanjang perjalanan cinta ku, baru sama kamu, yang enggak keluar biaya banyak, biasanya cewek-cewek maunya kalau kencan di restoran bintang 5, belanja barang bermerek, liburan, dapat biaya bulanan, enggak masalah sih, karena mereka juga kasih feedback yang sesuai pada ku.” tutur Riski.
“Emang kita ini pasangan? Disini aku rugi banyak karena kamu, melawan salah enggak melawan juga salah.” ucap Yalisa.
“Kan aku sudah kasih penawaran, aku enggak masalah kalau harus jadi kekasih gelap mu, yang penting kamu berlaku adil pada ku.” ucap Riski seraya merangkul tubuh Yalisa.
“Sumpah, ternyata kamu bisa ngelawak juga ya, kalau kamu mau begitu, sama cewek lain saja.”
“Udah mirip ibu-ibu komplek mulutnya, ngomong doang, tanpa berfikir apa yang dia di sampaikan itu layak atau enggak di konsumsi.” Batin Yalisa.
“Maaf, selama ini aku udah banyak melakukan kejahatan sama kamu,” ucap Riski.
“Udahlah, enggak usah minta maaf, nanti juga kamu kurang ajar lagi sama aku.” Yalisa memberi tatapan sinis pada Riski yang menatap wajahnya.
“Aku minta maaf itu, untuk sikap perundungan yang aku lakukan selama ini sama kamu, jujur aku enggak suka kamu, karena kamu mirip dengan selingkuhan ayah ku, kehadiran wanita itu di tengah-tengah keluarga kami, membuat ibu ku bunuh diri,” Seketika Yalisa terdiam dengan penuturan Riski.
“Pas pertama kali ketemu kamu, aku fikir kamu anak atau saudaranya, tapi aku enggak mau tau soal itu, yang penting aku benci dengan apa yang berhubungan dengan perempuan itu, kehilangan ibu, membuat ku juga kehilangan arah, di hati ku hanya ada amarah dan dendam.” Riski membeberkan isi hatinya selama ini yang tidak ia katakan pada siapapun.
“Apa itu adil buat ku? Aku harus menerima hal-hal yang tidak sepatutnya, jujur aku sampai batin ku masih sakit, dan susah buat maafin kamu.” ucap Yalisa dengan melepas rangkulan riski dari tubuhnya.
“Yalisa, maafkan aku, tolong maafkan keburukan ku selama ini.” ujar Riski dengan mimik wajah bersalah.
“Sedang apa kalian berdua disini!” hardik Mei, mengagetkan mereka berdua.
Yalisa dan Riski mendongak, Mei yang tidak percaya melihat dua orang yang dulunya musuh bebuyutan, sekarang malah bermesraan, posisi Yalisa yang duduk di pangkuan Riski juga membuat Mei tambah syok.
“Apa kalian berdua tau ini rumah siapa? Bisa-bisanya kalian berbuat seperti ini di kediaman ku.” ujar Mei penuh penuh dengan rasa jengkel.
__ADS_1
“Mei, aku bisa jelasin,” ucap Yalisa, saat Yalisa akan beranjak dari pangkuan Riski, Riski malah menahannya.
“Lepasin dulu Ki!” pekik Yalisa, yang kesal karena Riski tidak mengerti akan kondisi.
“Kita berdua sekarang pacaran.” ucap Riski dengan santainya, yang membuat Mei dan Yalisa menatap wajah Riski.
“Itu benar Lis?” tanya Mei.
“Enggak, dia bohong.” sahut Yalisa.
“Itu benar, yang kamu lihat sekarang emang enggak nyata? Tadi juga kita habis ciuman, kemarin lusa juga kita ciuman, kamu sendiri pasti enggak mau kan, kalau orang lain cium kamu selain pacar kamu sendiri?” tutur Riski.
Sontak Yalisa membungkam mulut Riski yang bicaranya mulus bagai lintasan kreta api dengan kedua tangannya.
“Kamu kalau ngomong jangan sembarangan, aku kan di paksa sama kamu!” pekik Yalisa dengan wajah cemas, takut Mei akan marah dan mengadukannya pada Leo.
Mei bersedekap, ia mencoba menahan rasa emosinya pada dua orang yang ada di depan matanya itu.
“Leo, khawatir sama kamu, sebaiknya kalian sudahi acara perselingkuhan kalian yang menjijikkan ini.” ucap Mei dengan wajah horornya.
Karena tidak ingin ribut di rumah orang, Riski melepaskan Yalisa dari pangkuannya, Yalisa dan Riski pun berdiri dan merapikan pakaian dan rambut mereka berdua.
“Maafin aku Mei, sudah berbuat enggak pantas di rumah mu, tapi aku bisa jelasin semuanya Mei.” Yalisa merasa sangat bersalah atas kelakuannya.
“Dia enggak salah Mei, sebenarnya aku yang ikuti dia diam-diam kesini, aku juga yang sudah menggoda dia, dia hanya korban dari perasaan ku, aku harap kamu enggak marah sama Yalisa, dia hanya terpaksa mengikuti mau ku, tapi kalau kamu mau ngadu ke Leo, ya silahkan, soal itu enggak jadi masalah buat ku.” Yalisa menarik rambut Riski karena kesal.
“Jaga ya omongan kamu!” pekik Yalisa seraya melepaskan rambut Riski dari cengkramannya.
Mei mengambil nafas panjang, tak tahu harus berkata apa, bagaimana pun juga, ia merasa tidak berhak mencampuri urusan Riski dan Yalisa.
“Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke pesta, kita jalan dulun, kamu susul setelah 10 menit Ki.” titah Mei.
Yalisa dan Mei pun berlalu dari dapur, sepanjang perjalanan menyusuri rumah, Mei hanya bungkam, Yalisa yang merasa bersalah karena tidak menjaga kesopanannya di rumah Mei, tak berani untuk membuka obrolan terlebih dahulu.
“Sudah ku relakan dia untuk mu, tapi kamu malah mengkhianatinya, Yalisa, untuk pertama kalinya, kamu membuat aku sekecewa ini.” batin Mei.
Bersambung....
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1