
Atas dasar kasihan akhirnya Yalisa mau melihat keadaan Riski, saat akan melangkahkan kaki, Yalisa melihat sebuah batang bambu cendani berwarna kuning dengan panjang 100 meter tergeletak di dalam rerumputan.
“Alhamdulillah ada bambu cendani, lumayan kan buat nyentuh dia pake ini, kalau dia cuma bercanda aku tinggal lepas pegangan bambu ku,” batin Yalisa.
Yalisa mengambil bambu tersebut dan mendatangi Riski, setelah dekat dengan Riski Yalisa mengecek Riski dengan ujung bambu.
“Hoi, masih hidup kan?” ucap Yalisa sambil menekan ujung bambu ke paha Riski.
“Kamu berharap bangat ya kalau aku mati? Cepat bantuin aku duduk.” ujar Riski sambil melihat wajah Yalisa yang masih kesal.
“Kenapa aku harus bantuin kamu? Telepon keluarga mu biar jemput kamu kesini.” ungkap Yalisa.
“Masalahnya handphone ku enggak tahu jatuh dimana,” terang Riski yang kesakitan.
“Hah... Nyusahin bangat sih kamu, tunggu disini aku akan ke sekolah.” ucap Yalisa.
“Ngapain ke sekolah? Cepat kamu bantuin aku dan tolong bambu ini singkirkan dari badan ku, kamu colek-colek tubuh ku pakai bambu, aku ini manusia bukan hewan, ngecek pake tangan kamu sendiri kan bisa.” pekik Riski yang merasa sikap Yalisa kurang manusiawi.
“Dasar setan.. setan, udah sekarat masih bisa ngelawan, tapi kasihan juga sih wajah dan tangannya banyak kena sayatan rumput,” batin Yalisa.
Karena Yalisa tak kunjung membantu Riski untuk duduk, Riski menarik bambu yang di arahkan padanya sekuat tenaga, yang hampir saja membuat Yalisa terjatuh.
“Au!!” Teriak Riski.
“Tuh kan, katanya tangannya terkilir, tapi kok masih bisa narik bambu?”
“Aku beneran sakit tahu, tolong bantu aku bangun sekarang.” titah Riski.
“Hah.. nyusahin bangat, sehat nyakitin, sakit juga nyakitin orang, kamu di ciptakan cuma buat orang lain enggak nyaman ya?”
Yalisa meletakkan tangannya di belakang leher Riski dan membantunya duduk.
“Makasih ya, nanti aku akan bayar jasa kamu hari ini.” ucap Riski, mendengar pernyataan Riski Yalisa mengernyit.
“Mentang-mentang orang kaya, apa-apa bayar pakai uang.”
“Kamu enggak usah bawel, semua orang suka uang.” lanjut Riski.
“Iya-iya, kamu paling benar deh.” Sahut Yalisa dengan memutar mata malas.
“Pada hal dia udah jahat sama aku, tapi aku tetap saja kasihan sama dia, hah... dan juga wajah dan kedua tangannya banyak darah akibat tersayat,” batin Yalisa
“Heh, jangan melamun, cepat cari kan handphone ku, aku mau telepon sopir buat jemput aku kesini.” titah Riski.
“Um... sia-sia aku kasihan sama dia, nyuruh orang enggak bisa pakai tolong,” batin Yalisa.
“Ayo buruan, aku enggak tahan lama-lama disini badan ku perih semua nih,” ucap Riski.
Yalisa mendecak dan menyunggingkan bibirnya ke atas.
“Berapa nomor handphone mu, biar ku dial.” ucap Yalisa.
“0812222222xx,” saat Yalisa mendial nomor Riski, terdengar nada sambung Charlie Puth yang berjudul We Don't Talk Anymore.
“Nomornya aktif, tapi kok enggak kedengaran nada deringnya ya?” ujar Yalisa.
__ADS_1
“Ya enggak akan kedengaran lah, nadanya kan aku matikan,” timpal Riski yang membuat Yalisa memutar mata malas, rasa dongkol di dalam hati sudah pada batasnya, namun apa daya Yalisa tidak tega meninggalkan Riski yang sedang terluka.
“Kamu ingat enggak kira-kira jatuhnya sebelah mana?” tanya Yalisa.
“Kalau aku ingat, pasti aku udah tunjukin posisinya dari tadi.” ucap Riski.
“Ya sudah tunggu disini, biar aku cari” ujar Yalisa seraya beranjak dari hadapan Riski.
“Jangan lama-lama, aku udah enggak kuat.” kesal dengan ucapan Riski, Yalisa mengambil kerikil yang ada di depan pandangannya lalu melemparkannya ke kepala Riski.
“Akh..!!”
“Udah sekarat tetap saja enggak tau diri, makanya lain kali kalau bawa motor jangan pakai acara teleponan segala.” ucap Yalisa, dengan beralat kan bambu, Yalisa mulai membelah jalan yang di hiasi ilalang tajam yang tingginya selutut orang dewasa.
Yalisa juga kesulitan melangkah karena memakai rok pendek dan tangan pendek, akibatnya beberapa kali betis dan tangan Yalisa tersayat ilalang.
Setelah susah payah mencari selama hampir 30 menit, akhirnya Yalisa menemukan handphone Riski di antara rerimbunan ilalang.
“Akhirnya ketemu juga,” batin Yalisa
Dengan sangat hati-hati Yalisa mengambil handphone Riski, kemudian melangkah kembali ketempat Riski berada.
“Lama bangat sih!”
“Kamu fikir mudah nyari barang di tempat begini? Kalau ngomong itu kira-kira dong!” karena kesal, Yalisa melemparkan handphone Riski ke dada Riski.
“Akh!!” Riski meringis kesakitan.
“Benar-benar terlalu kamu,” Ucap Riski
“Jangan pergi dulu, bantu aku buat telepon sopir ku, kamu kalau bantu jangan setengah-setengah ambil handphonenya buruan.” ucap Riski, lalu Yalisa berjongkok di hadapan Riski dan mengambil kasar handphone yang berada di dada Riski.
“Siapa namanya?” tanya Yalisa.
“Pak Jamal,” jawab Riski. Setelah menemukan kontak pak Jamal Yalisa langsung mendial nomornya.
“Halo tuan,” Jamal. 📱
Yalisa langsung menyodorkan handphone Riski padanya.
“Halo Jamal, buruan jemput saya ke bekas kawasan PT dekat sekolah, yang di pinggir jalannya banyak ilalang, jangan lupa telepon dokter keluarga kita untuk datang ke rumah,” Riski. 📱
“Baik tuan, tapi siapa yang sakit tuan?” Jamal.📱
“Jangan banyak tanya, buruan bawa mobil kesini, dan juga bawa Erwin buat bawa motor saya ke rumah,” Riski.📱
“Baik tuan, tunggu sebentar ya tuan,” Jamal.📱
Setelah selesai menelepon pak Jamal, Riski menyuruh Yalisa untuk menyimpan handphonenya ke tas Yalisa.
“Hei, kamu kok ngomong enggak ada sopan santunnya sama pekerja rumah mu?”
ucap Yalisa.
“Memangnya kenapa? Mereka kan bukan keluarga ku.” sahut Riski.
__ADS_1
“Tapi mereka itu kerja untuk keluarga mu.”
“Jangan banyak bacot.”
Yalisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Riski, tiba-tiba handphone Yalisa bergetar.
“Kamu enggak masuk sekolah,” Mei.📱
Kemudian Yalisa melihat jam di handphonenya yang menunjukkan pukul 09.25.
“Riski, bentar lagi kan sopir kamu datang, aku sekarang pergi ke sekolah ya.” ucap Yalisa.
“Kamu enggak usah sekolah hari ini,” ujar Riski.
“Jangan memerintah sesuka hati ya, kamu itu bukan majikan ku, pagi ini sudah ku lewatkan 2 jam mata pelajaran karena kamu, jadi kalau bicara tolong lebih sopan dan masuk akal!” pekik Yalisa.
“Kenapa aku harus bersopan sama kamu, emangnya kamu orang tua ku, pokoknya jangan ke sekolah hari ini, kamu antar aku sampai rumah, masalah sekolah aku bisa beresin.” Titah Riski
“Enggak, jangan seenak jidat kalau ngomong, kamu enggak berhak perintah aku.” ucap Yalisa sambil bangkit dari jongkoknya, saat akan pergi Yalisa melihat ada ular Cobra hitam berukuran 2,5 meter mendekat ke arah mereka, seketika Yalisa menjadi panik.
“Kamu kenapa?” tanya Riski.
“Ada ular!”
“Mana?” ucap Riski, seraya melihat ke sekitar.
“Itu, dia mau jalan kesini!” ujar Yalisa. Saat Riski melihat ular Cobra tersebut, Riski menelan saliva nya.
“Mati aku kalau sampai kena gigit,” batin Riski.
Sementara Yalisa ingin lari tapi tertahan karena Riski.
“Ularnya makin dekat,” ucap Yalisa.
“Usir pakai bambunya!” ujar Riski.
“Ular sebesar itu mana mempan pakai bambu cendani, yang ada entar aku yang di sembur.” terang Yalisa dengan perasaan panik.
“Kamu jangan tinggalin aku pokoknya, aku akan bayar kamu tinggi, yang penting usir ularnya.” ucap Riski, dengan terpaksa Yalisa memberanikan diri mengusir ular Cobra tersebut, namun bukannya pergi, ular Cobra itu malah mengembangkan kepalanya dan mendesis, seolah mendeteksi Yalisa adalah lawan.
“Akh....!!!!”
Yalisa berteriak, di rasa tak ada lagi pilihan lain, Yalisa menyuruh Riski naik ke punggungnya.
“Buruan naik.” ucap Yalisa yang berjongkok membelakangi Riski.
“Apa?” sahut Riski dengan perasaan ragu takut Yalisa tak kuat mengangkat tubuh tinggi besarnya.
“Akh... lama bangat sih!” pekik Yalisa.
Bersambung...
HAI READER YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE DAN TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram : @Saya_muchu
__ADS_1