
Yalisa mengikuti langkah pak Ari yang memasuki ruangan, setelah meletakkan buku yang di genggamannya ke atas meja, pak Ari duduk di atas kursi yang di depannya ada meja kayu persegi empat.
“Ayo duduk” Ucap pak Ari.
Yalisa pun duduk di atas kursi yang tepat di hadapan pak Ari.
“Saya minta maaf karena enggak bisa temui bapak kemarin” Ucap Yalisa.
“Mm... Gimana ya? Pada hal nilai kamu ada di tangan saya lo, tapi berani sekali tidak patuh” Sahut Pak Ari.
“Maaf pak, jadi gimana caranya agar nilai saya dapat terselamatkan pak?”
Tanya Yalisa, pak Ari pun mulai berfikir sejenak.
“Seharusnya aku cuma ikut remedial pelajaran pak Ari kan?”~ Batin Yalisa.
“Nilai kamu buruk bangat lo, di kelas nilai kamu adalah yang paling rendah, kamu tau kan di sekolah kita kalau ada nilai jelek harus remedial berulang-ulang?”
“Iya bapak benar sih, tapi pak bukannya setiap kali bapak buat soal atau ulangan nilai saya sama saja dengan siswa lain? Maksud saya tidak jauh berbeda?” Ucap Yalisa.
“Masa sih saya rasa kamu salah, nilai kamu jauh di bawah mereka, saya punya catatan nilai kalian semua”
Sahut pak Ari dengan menggosok-gosok dagunya.
“Dia mau apa sih sebenarnya”~Batin Yalisa.
“Jadi saya harus lakuin apa pak biar nilai saya tidak D?” Tanya Yalisa lagi.
“Ada satu hal yang harus kamu lakuin biar nilai kamu jauh lebih baik, bahkan bisa menjadi nilai B, mudah sekali kalau kamu memang mau melakukannya dengan benar”
Ucap pak Ari, mendengar nilainya bisa menjadi B Yalisa langsung kegirangan.
“Apa yang harus saya lakukan pak? Berapa kali remedial yang harus saya ikuti?”
Yalisa tak sabar dengan tugas yang akan dia lakukan.
“Temani saya malam ini, saya merasa kurang enak badan”
Ucap Pak Ari sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Maksud bapak?”
Sahut Yalisa dengan menatap pak Ari penuh selidik.
“Malam sampai pagi kamu harus temani saya, saya resah kalau sendiri saat sakit begini, nanti saya kenapa-kenapa enggak ada yang antar ke rumah sakit gimana?”
Tutur pak Ari, Yalisa yang cukup faham dengan maksud pak Ari langsung merasa takut, jantungnya mulai berdegup kencang.
“Maaf pak saya enggak bisa!” Yalisa menolak dengan tegas.
“Kamu enggak usah jual mahal, emang nilai kamu itu enggak penting? masih untung saya kasih kamu tugas ringan seperti itu”
Ucap pak Ari sambil membelai rambut Yalisa.
“Kalau mau kasih nilai D silahkan pak, dan kalau enggak ada lagi yang penting saya permisi” Yalisa mulai beranjak dari duduknya.
Pak Ari mendecak atas penolakan dari Yalisa, dia lalu mendekap tubuh Yalisa dengan penuh tenaga.
“Jangan sok jual mahal” Bisik pak Ari.
“Lepasin, dasar bajingan!” Bentak Yalisa.
“Diam kamu, saya tau kalau kamu ini wanita jalan* jadi enggak usah sok suci” Ucap Pak Ari.
Plakk!! Plakk!!
Tamparan mendarat di pipi kiri kanan pak Ari. Pak Ari yang tak terima dengan perbuatan Yalisa langsung menjambak rambut Yalisa dan mendorong tubuh mungil itu hingga ke sudut tembok.
“Perempuan siala* habis kamu sekarang”
Ucap pak Ari, pak Ari menarik baju yalisa yang telah di masukkan rapi ke dalam roknya.
__ADS_1
“Lepasin! Bapak jangan macam-macam ya!”
Ucap Yalisa.
“Kamu jangan banyak tingkah! menurut saja!”
Saat akan melakukan aksi bejatnya, tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Pak Ari mencoba mengabaikan ketukan pintu itu.
Saat Yalisa akan meminta tolong dengan sigap pak Ari menyempalnya.
“Diam bodoh!” Ucap pak Ari.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Karena ketukan itu tak kunjung berhenti, pak Ari terpaksa akan membuka pintu.
“Awas kamu kalau buka mulut!”
Pak Ari melepaskan tangannya yang menyempal mulut Yalisa, lalu mulai berjalan ke arah pintu.
Pak Ari membuka separuh pintu, saat ia melihat ternyata yang mengetuk pintu adalah Riski.
“Ngapain di dalam? Sampai-sampai buka pintu lama bangat?” Ucap Riski dengan mengernyit.
“Tadi bapak lagi di toilet” Sahut pak Ari.
“Di toilet? Yang benar pak?” Ucap Riski.
“Iya” Sahut pak Ari.
“Bapak di dalam sama siapa?” Tanya Riski.
“Yang benar dong pak? Tadi saya dengar suara perempuan lo” Ucap Riski penuh selidik.
Yalisa yang mendengar suara Riski langsung berlari ke arah pintu.
“Riski!”
Yalisa memanggil nama Riski dengan keras, Riski terkejut melihat Yalisa berdiri di belakang pak Ari dengan penampilan yang berantakan.
“Apa kamu enggak punya sisir di rumah? Terus kenapa kamu enggak masukin baju? Kamu ngapain di dalam?”
Riski menjajal Yalisa dengan beberapa pertanyaan.
Pak Ari yang melihat kehadiran Yalisa langsung merasa panik.
“Tolongin aku” Pinta Yalisa.
“Masuk ke dalam Yalisa, kamu belum selesai mengerjakan remedial mu” Ucap Pak Ari.
“Remedial apa maksudnya sialan!”
Riski mendorong paksa pintu yang di buka separuh oleh pak Ari, setelah berhasil masuk tanpa basa basi Riski mendaratkan pukulannya ke wajah pak Ari kiri dan kanan berkali-kali hingga membuat tubuh pak Ari oleng.
“Tangan kotor mana yang sudah menyentuh Yalisa?! Bentak Riski.
“Sa.. saya enggak sentuh dia” Pak Ari mencoba bersilat lidah.
“Bohong! Aku tau gimana kamu sebenarnya, kamu suka melecehkan siswi di sekolah ini!”
Lagi-lagi Riski mendaratkan pukulannya di wajah pak Ari, hingga pak Ari tergeletak di lantai.
“Jawab! Tangan mana yang sudah menyentuh Yalisa!”
Ucap Riski dengan amarah yang membara.
__ADS_1
“Be.. berhenti ja.. jangan pukul saya lagi!”
Pinta pak Ari dengan suara terbata-bata, kegaduh yang mereka timbulkan memancing banyak perhatian siswa/i hingga memenuhi ruang BP.
Yalisa yang melihat keganasan Riski melebihi sebelumnya menjadi takut.
“Tangan kanan?”
Riski meraih paksa tangan kanan pak Ari lalu menginjak-injaknya berkali-kali.
“Akhh... , sudah hentikan saya tidak menyentuh dia!”
Pak Ari mengerang kesakitan, siswi/i yang melihat tak ada yang berani melerai, karena sebagian dari mereka juga adalah korban pak Ari.
“Tangan kiri juga kan?!”
Dengan perasaan emosi Riski menginjak tangan kiri pak Ari. Yalisa yang takut kalau pak Ari terluka lebih parah akhirnya melerai Riski.
“Sudah... Hentikan, nanti pak Ari mati gara-gara kamu!” Ucap Yalisa.
“Biarin dia mati! Dan kamu jangan sok kebaikan sama orang seperti ini! Bagian mana saja yang dia sentuh?! Jawab jujur!” Riski berteriak kencang pada Yalisa.
“Semuanya, hampir saja aku di... di...”
Entah apa yang di rencanakan Yalisa, sehingga dia membuat pengakuan kalau seluruh tubuhnya telah di jama pak Ari, dengan suara lirihnya Yalisa menangis sesenggukan, yang membuat Riski semakin marah.
“Bohong, saya belum apa-apain dia, dia bohong Riski” Ucap pak Ari.
“Aku tau enggak akan ada yang percaya dengan orang seperti aku hiks...”
Yalisa kembali memojokkan pak Ari. Saat Riski ingin menginjak wajah pak Ari, para guru datang untuk memisahkan.
“Jangan hentikan aku, aku mau bunuh dia sekarang juga!”
Riski meronta dari 2 orang guru yang memeganginya.
“Sudah! Sudah! Masalah tidak akan selesai dengan cara kekerasan, ayo semua siswa masuk ke kelas kalian masing-masing”
Pak Aryo menyuruh para siswa untuk bubar hingga menyisakan mereka saja.
“Saya enggak mau tau pak, bereskan dia dari sekolah ini, saya bayar berapapun, saya enggak suka ada guru cabul di sekolah ini!” Ucap Riski pada pak Aryo.
“Tenang dulu ada apa sebenarnya?” Tanya pak Aryo.
“Dia! Dia melecehkan Yalisa pak!”
Ucap Riski sambil menunjuk pak Ari yang masih terbaring lemah di lantai, lalu Yalisa inisiatif untuk membantu pak Ari duduk.
“Emang enak, siap-siap ya buat kehilangan pekerjaan pak”
Bisik Yalisa ke telinga pak Ari, pak Ari yang babak belur tak bisa berbuat apa pun.
“Ngapain kamu bantu dia duduk Yalisa!” Ucap Riski.
“Kasihan pak Ari Ki, nanti pak Ari kenapa-kenapa kamu juga yang berurusan sama polisi, kita bisa serahkan ini pada yang berwajib, jangan main hakim sendiri”
Yalisa mencoba mempengaruhi fikiran mereka semua.
“Eit tunggu dulu, enak saja kalian main lapor polisi”
Pak Aryo tidak terima saran dari Yalisa.
“Jadi bapak mau diamkan kasus ini?” Ucap Riski.
“Sebaiknya kita bicarakan di ruangan saya, pak Roni, antar pak Ari ke UKS untung dapat pertolongan pertama dari dokter Rani, bu Dewi dan kalian berdua ikut ke ruangan saya”
Titah pak Aryo, mereka semua pun mengikuti perintah pak Aryo.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
__ADS_1
Instagram : @Saya_muchu