SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab VII (Meminta Keadilan Part II)


__ADS_3

“Awas kalau ada yang mengadu ke guru, aku buat mampus kalian!” ucap Riski mengancam seisi kelas.


Dalam hati Riski membulatkan tekat akan membalaskan perbuatan Leo padanya dalam waktu dekat.


Yalisa yang ada dalam gendongan Leo menjadi pusat perhatian siswa/i yang masih ada dalam area sekolah, Kevin sahabat Leo menghampiri mereka dengan segudang tanya.


“Ada apaan nih bro?” Kevin melihat wajah yang ada dalam gendongan Leo.


“Aku tadi nolongin Yalisa dari bulian teman sekelasnya,” ucap Leo.


“Anjir! Hari gini masih ada bully-bully an, harus di lapor nih sama guru-guru,” ujar Kevin.


“Iya, tapi kita ke UKS dulu, ngobatin luka mereka berdua.” ucap Leo, Kevin melihat ke arah Mei yang ada di samping Leo.


“Halo aku Kevin, kamu ngak apa-apakan? Bagian mana yang sakit?” Kevin bertanya lembut pada Mei.


“Aku enggak kenapa-napa kok, cuma lecet sedikit di siku, makasih sudah kwatir,” ucap Mei


Dengan senyum tipis, Kevin menawarkan diri untuk membawa kedua tas yang sedang Mei sandang.


“Sini, aku bantu bawa tas, kayaknya berat,” ucap Kevin.


“Makasih banyak ya,” sahut Mei.


Mei menyerahkan tas nya dan Yalisa, sesampainya mereka berempat di UKS, mereka bertemu dengan guru dan dokter penjaga UKS, dokter UKS kaget melihat keadaan Mereka berempat terutama Yalisa yang ada di gendongan Leo.


“Ada apa ini?” tanya sang dokter.


Setelah melihat wajah Yalisa yang kusut dan basah, serta rambut yang acak-acakan sang guru dan dokter membantu untuk membaringkan Yalisa di atas kasur.


Dokter Rani memberikan penanganan pertama pada Yalisa dan sang guru yang bernama Mona bertanya dengan detail pada Leo apa yang terjadi.


“Ini kenapa sebenarnya? Ya Allah, Yalisa kamu bertengkar dengan anak perempuan yang mana?” ucap bu Mona.


Leo menaruh tatapan mata marah ke bu Mona, lalu bu Mona mengarahkan Leo untuk bicara empat mata di sofa yang ada dalam UKS. Lalu bu Mona mempersilahkan Leo untuk duduk tepat di hadapannya.


“Silahkan duduk di sini dan jelaskan pada ibu,” titah bu Mona.


“Ini pelakunya anak laki-laki bu, kalau anak perempuan, saya enggak akan repot-repot antar dia kesini!” pekik Leo.

__ADS_1


“Ha? laki-laki? Anak laki-laki yang mana berani bertindak seperti ini? Siapa?” tanya bu Mona, seraya menampilkan mimik wajah marah.


“Riski Zuco dan Marco satu cewek namanya Yovi!” Jawab tegas Leo.


“Zuco juga ikutan? Zuco keponakan bu Meri?”


Leo dengan menggosok jari telunjuk ke alisnya menjawab.


“Iya bu, saya harap ibu menindak tegas hal ini, karena ini adalah tindakan kriminal, walau pun mereka masih anak di bawah umur, saya rasa untuk tindakan yang sekarang, mereka sudah kelewatan batas, kemarin mereka juga mengunci Yalisa dan Mei dalam Toilet, sehingga Yalisa dan Mei mendapatkan hukuman dari bu Amel,” terang Leo.


Bu Mona merasa geram atas perbuatan buruk Riski dan kawan-kawan.


“Ya, kamu benar ini enggak bisa di biarkan.” ujar bu Mona, lalu Leo dengan mata yang tajam meminta pada bu Mona.


“Saya harap kali ini mereka di beri hukuman sepadan bu, diskusikan dengan kepala sekolah, saya tahu kalau yang di alami Yalisa di ketahui beberapa guru, tapi semua acuh seolah menyepelekan yang terjadi, bagi kalian para guru mungkin mengurusi hal seperti ini sudah malas dan lelah, karena para guru sudah menghadapi semua ini selama masa mengajarnya dan juga banyaknya pekerjaan yang harus kalian kerjakan, tapi bu ini adalah tanggung jawab kalian, kalau para guru di sekolah tidak bisa mengadili mereka, maka saya akan mengajukan laporan ke pihak kepolisian, ibu ngak mau kan saya bertindak sejauh itu? Karena ini semua akan merusak reputasi sekolah kita.” tutur Leo lebih lanjut.


Bu Mona yang mendengar ancaman Leo menelan air ludahnya, memang yang di katakan Leo adalah benar, guru selalu menyepelekan masalah yang ada di dalam lingkungan sekolah sejak lama, dan juga menutup rapat kasus-kasus yang terjadi, itu semua demi reputasi sekolah yang berstandar Internasioanl kecuali siswa yang bersangkutan adalah orang yang penting, karena bu Mona tidak mau masalah ini sampai keluaran bu Mona pun menyetujui permintaan Leo.


“Oke baik, kamu jangan bertidak sampai kesana, ibu akan membicarakan hal ini dengan Kepala sekolah.” Leo menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Saat Leo masih berdiskusi dengan bu Mona, Kevin sibuk membantu membersihkan tangan dan siku Mei yang sedikit tergores dengan alkohol.


“Iya, aku enggak tahu kalau ada hal seseram ini di sekolah kita,” terang Kevin.


“Kemana saja kamu sampai ketinggalan info?” ucap Mei, Kevin menjadi tertawa.


Setelah selesai membersihkan luka dan meneteskan obat merah ke siku Mei, Kevin beranjak mengambilkan dua air minum untuk Yalisa dan Mei.


“Ini minum dulu Mei.” Mei menerima air minum pemberian Kevin tersebut, Kevin berlalu dari hadapan Mei menuju Yalisa yang masih berbaring di atas kasur, pandangan Kevin mulai iba melihat tubuh mungil Yalisa yang sangat kacau. Yalisa tersenyum tipis melihat Kevin yang mematung menghadapnya.


“Itu air minum buat aku ya?” tanya Yalisa.


Kevin mengalihkan pandangannya sebentar, dan kemudian duduk di atas kursi tepat di sebelah kepala Yalisa


“Kamu bisa minum sendiri?” ucap Kevin lembut pada Yalisa.


Yalisa menganggukkan kepalanya, Dokter yang telah selesai menangani Yalisa pun beranjak dari Yalisa menuju apotik UKS untuk mengambil obat.


Saat Kevin ingin membantu Yalisa minum Leo tiba-tiba menegur Kevin.

__ADS_1


“Orang sakit malah di suruh minum sendiri, bantu dong,” ucap Leo


Kevin seketika menoleh ke Leo yang wajahnya masam.


“Ck, ini mau di bantu, kamu enggak punya mata?” jawab Kevin dengan ketus, saat Kevin akan membantu Yalisa duduk Leo malah menepis tangan Kevin.


“Awas awas, biar aku saja, kalau kamu enggak hati-hati nanti Yalisa malah tambah luka lagi.” dengan kesal Kevin beranjak dari kursi yang di dudukinya lalu di gantikan oleh Leo.


“Kamu kenapa bro?” tanya Kevin dengan hati penuh tanya. Namun Leo malah memberi respon kecut.


“Bantu Mei tuh.” ujar Leo, kemudian batin Kevin mulai mengerti kalau Leo menyukai Yalisa.


“Gila, ini anak seleranya yang seperti Yalisa? Tapi kalau di perhatikan secara seksama, Yalisa lumayan cantik juga sih,” batin Kevin


Leo membantu Yalisa duduk dan memberikan minum dengan gelas yang di pegang oleh Leo. Mei yang melihat pemandangan itu juga mengerti kalau Leo Menyukai Yalisa, dalam hati Mei merasa bersyukur.


“Untung aku hanya sedikit menyukai Leo, kalau enggak ada peristiwa ini, aku enggak akan pernah tau siapa yang ada di dalam hatinya, untung tidak dalam, jadi sakitnya cuma 5 cm,” batin Mei


“Aku antar kamu pulang ya?” Ucap Leo.


Yalisa menggelengkan kepalanya, karena kalau sampai ibunya tahu dia pulang dengan laki-laki, ibunya pasti akan marah.


“Kenapa?” tanya lembut Leo lagi.


“Nanti ibu ku marah.” Leo tidak bisa membantah lagi karena dia sangat menghormati hal-hal yang berhubungan dengan orang tua.


“Tenang saja, kami akan pulang bersama, sopir ku udah nunggu di luar.” Mei menjelaskan pada Leo.


Leo faham dan mulai menggendong Yalisa, tak lupa Mei mengambil obat yang di berikan oleh dokter, mereka semua juga pamit pada bu Mona yang masih ada dalam UKS.


“Mmm, apa enggak sebaiknya Yalisa pakai kursi roda saja?” ujar bu Mona, dan itu membuat Leo jadi salah tingkah, dengan sok percaya diri Leo mengatakan pada bu Mona.


“Kursi rodanya cuma ada satu bu, saya rasa Mei juga membutuhkannya,” ucap Leo.


Bersambung...


HAI READERS YANG MANIS, JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE, HADIAH, SERTA SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️


Instagram : @Saya_muchu

__ADS_1


__ADS_2