
Yalisa yang kini keluar dari dalam kafe bergegas pulang dengan menempuh jalan kaki.
Meski ia telah menyeka air matanya dengan kering, tapi bengkaknya tak dapat di sembunyikan.
Baru beberapa langkah ia berjalan, Yalisa melihat seorang bapak-bapak penjual aksesoris gerobakan tepat 1 meter di hadapannya dari arah jalan menuju rumahnya.
Lalu Yalisa bergegas menuju bapak pedagang keliling tersebut.
“Pak!” seru Yalisa, lalu sang bapak pun menghentikan laju gerobak yang ia dorong.
“Mau beli apa neng?” tanya sang bapak.
“Masker mulut ada enggak pak?” tanya Yalisa.
“Oh ada sebentar bapak ambilkan.” sang bapak pun mengambil masker sachetan dari bagian susunan dagangannya yang bergelantungan.
“Ini.” sang bapak menyodorkan pada Yalisa masker biru muda yang di kaitkan ke telinga.
Sang bapak menatap serius Yalisa, yang selain matanya bengkak, bibirnya juga gembung.
“Terimakasih pak.” Yalisa membayar dengan uang 20.000.
“Kembaliannya neng.”
“Enggak usah, buat bapak saja.” ujar Yalisa seraya berlalu dari hadapan sang bapak.
Yalisa membuka bungkus masker yang di rekatkan dengan lem itu. Lalu ia mengeluarkan 1, dan memakainya langsung.
“Semoga masker ini dapat membantu menyembunyikan wajah ku yang kacau.” batin Yalisa.
Baru 1 meter ia melangkah, tiba-tiba Yalisa berhenti, karena ia teringat akan hubungannya yang telah berakhir dengan Leo.
Tak butuh waktu lama, Yalisa meremas baju bagian dadanya.
“Hiks...Hiks... hiks... kenapa?” Yalisa bergumam dalam tangis.
“Baru saja aku merasa bahagia, tapi dengan sekejap semuanya hilang,” gumam Yalisa.
Lalu ia menegar kan hatinya dan melanjutkan langkah menuju rumahnya, tentunya di temani air mata yang mengalir dari balik masker.
Setelah 20 menit, ia pun sampai ke rumah, memang lebih lama dari biasanya, karena Yalisa sering kali berhenti untuk menangis. Ia lihat pintu rumah terbuka, yang artinya sang ibu ada di rumah.
“Assalamu'alaikum,” ucap Yalisa.
“Wa'alaikumussalam,” sahut bu Alisyah. Lalu Yalisa menjabat tangan ibunya.
“Kok telat pulangnya?”
“Tadi ketemu teman dulu bu,” terang Yalisa.
“Oh, ganti baju dulu nak.” titah bu Dita pada Yalisa.
“Ba-baik bu.” sahut Yalisa.
Saat Yalisa akan masuk ke kamar, bu Dita memanggilnya.
“Yalisa, kenapa suara mu serak nak?”
“Ha?”
“Kamu juga tumben pakai masker.” ucap ibunya dengan penuh curiga.
“Iya bu, karena Yalisa tadi ikut barisan paduan suara untuk festival tahun baru nanti.” terang Yalisa dengan bohongnya.
“Yang benar? Jangan-jangan, teman sekelas mu yang kemarin membuli mu lagi ya? Jujur sama ibu.” ujar bu Alisyah.
“E-enggak bu, dia sekarang udah berubah kok, malah sekarang sering bangat bantu Yalisa dalam banyak hal.” terang Yalisa pada ibunya.
“Ah! Yang benar, masa secepat itu dia berubah? Siapa namanya?”
“Riski?”
“Iya, kalau mengingat dia, darah ibu rasanya mendidih, jangan dekat-dekat sama dia nak, mana tahu dia punya niat jelek buat mu.” ucap bu Alisyah yang takut kalau anaknya tersakiti lagi.
“Ibu enggak boleh bilang begitu, semua orang bisa berubah, mungkin kemarin dia cuma nakal-nakalnya, dia enggak gitu lagi kok bu, malah kami sudah jadi teman.” Tanpa sadar, Yalisa membela Riski di hadapan ibunya.
“Oh, bagus kalau begitu.” ucap bu Alisyah dengan senyum dan perasaan lega.
“Jadi, apa Yalisa sudah boleh ganti baju bu?” tanya Yalisa.
__ADS_1
“Ya sudah, sekalian mandi ya nak.” jawab bu Alisyah, saat Yalisa akan berpaling, lagi-lagi bu Alisyah memanggilnya.
“Yalisa.”
“Hum?”
“Om mu yang ada di Solo lagi masuk rumah sakit, kata tante, sakitnya parah, itukan abang ibu satu-satunya, jadi ibu mau jenguk ke Solo,” ucap bu Alisyah.
“Kapan ibu berangkat?” tanya Yalisa.
“Malam ini,” jawab bu Alisyah.
“Hah? Dadakan bangat bu.”
“Yang sakit juga kan dadakan, jadi kamu jaga diri di rumah, kalau mau, ajak Mei nginap disini, atau nginap di rumah dia juga boleh.” terang bu Alisyah. Yalisa pun mengangguk.
“Berapa hari bu?”
“Seminggu.” ucap bu Alisyah seraya kembali ke dapur.
“Ha? Seminggu?” gumam Yalisa.
“Tapi enggak apa-apalah, jadi ibu enggak akan lihat aku yang lagi sedih begini,” batin Yalisa.
Kemudian ia pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Baru saja Yalisa mau mengganti baju, tiba-tiba ia mendengar lagu dari Melly Goeslow yang begitu cocok mengiri kesedihannya.
“Kenapa ibu malah putar lagu ini sih? parahnya di kasih volume full lagi loudspeakernya.” batin Yalisa.
Yalisa pun kembali merasa terpuruk, nyanyian yang begitu menampar hati, membuatnya menangis sesenggukan.
Sayang, kau di mana aku ingin bersama?
Aku butuh semua untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?
Seperti dinginku di malam ini.
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Jika kau di sini, aku tenang.
Bait terakhir lagi itu membuat hatinya sesak, Yalisa terus menyeka air mata dengan tangannya.
“Hiks hiks hiks... Ya Allah tabah kan hati ku hiks... hiks...” Yalisa menangis seraya duduk di lantai, ia pun menyenderkan kepalanya ke pinggir ranjang, sambil menyebut-nyebut nama Leo.
Bu Alisyah tak tahu keadaan anaknya itu, karena suara musik berhasil menutup isak Yalisa.
________________________________________
Sesampainya Leo ke rumah sakit, ia terkejut karena ibunya tak memakai baju pasien lagi, lalu ia melirik ke sebelah sang ibu, dimana ada Mei yang duduk di atas kursi roda, sudah mengganti pakaiannya dengan yang baru, bukan baju saat ia datang ke rumah sakit.
“Eh, sudah pulang?” ucap bu Dita, Leo pun mendekat ke ibunya.
“Sudah bu, ibu sudah bisa pulang hari ini ya?” tanya Leo, seraya melirik Mei juga.
“Sudah dong nak, alhamdulilah ibu dan calon menantu ibu bisa sama-sama pulang.” ujar bu Dita.
“Oh.” Leo menelan air ludahnya, firasatnya mejadi tak enak.
“Gimana?”
“Kan.” batin Leo.
“Apanya bu?”
“Apa kamu sudah putusin Yalisa?” tanya ibunya dengan penasaran.
Leo menghela nafas panjang seraya melirik Mei. “Sudah.” ucap Leo.
Sontak Mei mendongak tak percaya, Leo benar-benar melakukannya.
“Apa ini akan jadi awal yang baik?” batin Mei.
“Ya Tuhan, akhirnya kamu lakuin juga nak, kalau begitu sekarang sudah enggak ada lagi masalah.” terang bu Dita.
__ADS_1
“Ibu benar-benar enggak mikirin perasaan Yalisa,” batin Leo.
“Mei,” ucap bu Dita
“Iya tante?” Mei mendongak ke arah bu Dita.
“Kabari orang tua mu, lusa keluarga tante akan datang untuk melamar mu, sekaligus membuat acara pertunangan kalian.”
“Hah?” Leo memandang wajah ibunya yang lagi-lagi membuat keputusan sepihak.
“Tapi tante...”
“Sudah, kamu kabari saja ibu mu, kita buat acara yang mewah, kita undang semua sanak keluarga dan teman-teman kalian sekolah kalian.”
“Apa!” Mei dan Leo melihat satu sama lain.
“Yalisa!” nama itulah yang terbesit di batin mereka berdua.
“Apa sih kalian ini? Reaksinya kok berlebihan gitu.” ujar bu Dita dengan girang, tanpa tahu kalau Yalisa adalah teman sekelas sekaligus sahabatnya Mei.
“Haduh, kalau dadakan begini, mana mungkin aku bisa lihat muka Yalisa nanti? Kalau sudah lulus sih terserah, toh aku enggak akan ketemu dia tiap hari lagi.” batin Mei.
“Ya sudah, ayo kita pulang, Leo kamu antar menantu ibu pulang ya, jangan sampe lecet.” titah bu Dita.
“Baik bu.” Leo pun mendorong kursi roda Mei hingga ke parkiran.
Kemudian ia memapah Mei masuk ke dalam mobil, tepatnya di bangku depan sebelah kemudi, bu Dita yang melihat pemandangan indah itu merasa bahagia.
“Hati-hati di jalan ya nak.” ucap bu Dita pada kedua kesayangannya itu, Leo yang telah masuk dalam mobil pun mengangguk dan menekan klakson mobil.
Lalu Leo mulai menginjak gas mobil, kemudian keluar dari area rumah sakit menuju jalan raya.
Setelah mereka terpisah dari bu Dita Leo mulai menunjukkan wajah malasnya pada Mei.
“Keluarkan isi hatimu.” ucap Mei, seolah sudah tahu kalau Leo akan mengatakan sesuatu padanya.
“Tolak acara tunangan gila itu.”
“Aku juga enggak mau kalau heboh sekarang.”
“Huuhh...., Mei, tolong tolak lamaran ibu ku, hanya kamu yang bisa membatalkan rencana pernikahan ini.” ucap Leo.
“Kalau yang itu enggak bisa.” jawab simpel Mei.
“Kamu sadar enggak sih? Kalau kita itu enggak saling cinta?” ucap Leo dengan mata membulat.
“Diam! Aku tahu apa yang aku lakukan.” ujar Mei, yang membuat Leo kesal.
“Ck, eh dengar, aku akan jujur di awal ya sama kamu, aku enggak akan pernah mencintai kamu, aku juga enggak akan ikhlas menikahi kamu, meski pun akhirnya itu terjadi, dan jangan salahkan aku, kalau nanti aku mencintai orang lain, dan lebih memilih bersama orang itu.” terang Leo dengan mata merah.
“Kamu habis nangis ya tadi?” Mei mencoba mengalihkan topik.
“Lihat sendiri pakai mata tajam mu!” pekik Leo.
“Oh, kayaknya tadi benar-benar perpisahan yang menguras air mata ya.” ucap Mei dengan menampakkan senyum meledek pada Leo. lalu Leo menggelengkan kepalanya.
“Jangan menyesal, kalau nanti hidup bersama ku enggak membuat mu bahagia, memang selama ibu ku ada, aku enggak akan menceraikan kamu, tapi bukan berarti aku tak bisa punya pacar atau pun istri selain kamu.”
“Ck, apaan sih sialan, belum nikah saja udah ngancam-ngancam.” ucap Mei dengan perasaan kesal.
“Nanti kamu akan rasakan sendiri, ujung-ujungnya kamu hanya punya 2 pilihan, bertahan dalam kedinginan, atau menyerah ke pengadilan.” terang Leo lalu menyatukan giginya dengan kuat.
“Kalau begitu, aku akan pilih bertahan.” ucap Mei dengan perasaan muram.
“Oke, huh! Jangan harap aku mau menyentuh mu!” pekik Leo.
“Omong mu saja yang besar, esok kita enggak tahu apa yang akan terjadi, kalau pun kamu mau poligami, terima saja istri mu akan ku buat lenyap di telan bumi, jadi, ayo sama-sama enggak bahagia,” batin Mei.
“Itu bukan masalah besar selagi ada perangsang.” ucap Mei, Leo melirik tajam ke arah Mei.
“Kalau pun kamu melakukan itu, aku akan terima, toh hidup ku yang sekarang juga enggak ada artinya, semua yang ku sayangi pergi meninggalkan ku, tak mengerti isi hati ku, Mama, papa, dan Riski, semuanya hilang, kamu adalah yang terakhir, enggak masalah, aku tahu kamu orang baik, pasti suatu saat kamu akan mencintai ku,” batin Mei.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Mutualan di IG yok, nanti ada trailer Save Yalisa kalau mau up!
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
^^^Mampir kesini juga ya readers.^^^