SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXXXVI (Pengantin)


__ADS_3

“Aku ngerti, tapi bukan berarti kita harus sampai kesana kan? Jangan samain aku dong dengan mantan-mantan mu!” pekik Yalisa.


Riski yang sudah hilang hasrat menarik nafas dalam-dalam.


“Ya kalau enggak mau di anggap gampangan, mau aku nikahin malam ini juga?”


“Riski! Nikah itu bukan main-main tahu, kayak pacaran putus nyambung, itu sakral! Kalau mau ngomong dan bertindak fikir dulu,”


“Aku tahu, ya kalau kamu enggak mau kita berbuat dosa, atau di anggap murahan, ayo mumpung masih jam 19:00 kurang, kita ke mesjid dekat rumah mu, buat temui penghulu,”


“Ih, tambah sinting nih anak.” ucap Yalisa, ketika Yalisa ingin turun dari pangkuan sang kekasih namun Riski malah menahannya.


“Sebelum aku berangkat, jujur aku pengen berhubungan sama kamu,”


“Aku menolak!” pekik Yalisa.


“Kalau kamu enggak mau zinah, ayo kita nikah sirih,” ujar Riski.


“Itu juga aku enggak mau,”


“Aku belum bisa kalau harus nikah resmi, karena ayah baru mau merestui setelah aku berhasil di perusahaan yang disana,”


“Kalau begitu, kita berdua harus sama-sama sabar,”


Karena Yalisa menolak usulan darinya, akhirnya Riski pun menyerah.


“Ayo, duduk ke kursi mu, aku antar pulang,” ujar Riski.


Selama perjalanan keduanya saling hening, hingga sampai ke depan gang rumah Yalisa.


Bertepatan waktu itu sedang adzan Isya.


“Maaf, tadi aku emosi,” ucap Riski.


“Iya, aku juga minta maaf,” sahut Yalisa.


Lalu Riski menjabat tangan kanan Yalisa, “Aku boleh ucapin hal ini?” tanya Riski.


“Hal apa?” jawan Yalisa.


“Yalisa, maukah kamu menikah dengan ku?” ucap Riski, yang membuat sang kekasih tertawa kecil.


“Riski...., apaan sih,” ucap Yalisa.


“Aku serius,”


Karena ingin menyenangkan hati sang kekasih, Yalisa pun menjawab.


“Iya, aku mau,” Lalu Riski mengeluarkan sebuah cincin berlian dari salam saku jasnya.


“Dia serius?” batin Yalisa.


“Saya terima nikahnya Yalisa binti ********, dengan mahar cincin berlian 5 karat di bayar tunai,” ucap Riski dengan lancar.


Yalisa terdiam mendengar ucapan sang kekasih.


Lalu Riski, mengambil cincin berlian tersebut dan menyematkannya di jari manis Yalisa.

__ADS_1


“Mulai sekarang kamu adalah istri ku,”


“Pfff... bercanda mu lucu sekali,” ujar Yalisa.


Lalu Riski memegang erat tangan sang kekasih. “Aku serius, hari ini aku baru bisa berucap nikah, setelah pulang akan ku lengkapi berserta kawinnya, jadi kamu sebagai istri ku, jangan coba-coba untuk selingkuh, tunggu aku sampai pulang, mengerti?” terang Riski.


Karena Riski sangat bersikukuh, Yalisa pun mengangguk.


“Baiklah, kamu juga begitu, jangan selingkuh disana, jangan biarkan aku menunggu hal yang sia-sia, kalau memang sudah punya yang lain, kabari, jangan malah menghilang, aku pasti terima dengan apapun keputusan mu,”


“Ssstt, harusnya kamu jangan bicara seperti itu, ayo sama-sama berjuang, untuk kebahagiaan kita.” ucap Riski, seraya mengecup bibir Yalisa.


“Oke, aku sayang kamu, nanti kalau mau berangkat kasih kabar, aku akan mengantar mu ke bandara, sayang,” ucap Yalisa.


“Tentu, aku janji.” sebelum berpisah di malam itu, keduanya pun saling berpelukan.


Setelah itu Yalisa turun dari dalam mobil, tak lupa ia melambaikan tangannya.


Tin tin!


Seusai menekan klakson, Riski melaju membelah jalan raya.


______________________________________________


Sementara di kediaman Leo, Mei yang telah resmi menjadi seorang menantu pun telah leluasa di kamar sang suami.


Mei yang masih mengenakan baju pengantin duduk di pinggir ranjang yang telah di hias indah dengan banyak bunga mawar merah bergambar hati.


Ceklek!


Mendengar suara pintu terbuka Mei mendadak gugup tak karuan.


“Astagofirloh!” batinnya.


Ia terkejut akan Mei yang menunduk melihat lantai.


“Ya ampun, ternyata aku sudah menikah, bisa-bisanya aku lupa kalau kamar ini bukan hanya milik ku seorang sekarang,” batin Leo.


Kemudian, ia duduk di sebelah Mei “Mei, mau mandi duluan atau aku yang duluan?” wajah Mei mendadak memerah, dengan suara terbata-bata ia menjawab.


“Ka-kamu saja yang duluan,”


Mei yang biasanya lantang di mata Leo, kini sudah seperti anak kucing.


“Oke,” ucap Leo.


Ia pun masuk ke dalam kamar mandi, tak lama suara shower terdengar dari dalam kamar mandi, yang membuat jantung Mei berdegup dengan sangat kencang, nafasnya pun menjadi putus-putus.


“Sekarang kami berdua satu kamar, dan nanti kita akan....” Mei menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Lalu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, berguling ke kanan dan ke kiri.


“Aku senang!!!!” teriak Mei dalam hati.


Leo yang telah selesai membersihkan diri melihat ke gantungan handuk.


“Astaga, aku lupa ambil handuk,” gumamnya.

__ADS_1


Karena tidak mungkin keluar dengan keadaan polos, mau tak mau ia pun meminta tolong pada sang istri.


Kriettt..


Dengan perlahan ia membuka sedikit pintu kamar mandi.


“Mmm... Mei,”


Khayalan Mei terhenti mendengar suara pelan dari sang suami.


“Iya? Ada apa?” sahut Mei yang seketika duduk kembali di pinggir ranjang.


“Tolong, ambilkan handuk di dalam lemari, pintu pertama,” pinta Leo.


Deg deg deg!!!


Jantung Mei berdetak dengan kencang, “O-oke,”


Mei beranjak dari ranjang dan membuka pintu lemari.


Setelah ia menemukannya, ia pun memberikannya pada Leo.


“Ini.” Leo mengeluarkan sebelah tangannya untuk meraih handuk itu.


Tak seberapa lama, Leo yang telah usai mengeringkan badan, keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.


Mei yang mengira sang suami akan keluar dengan pakaian lengkap pun mendadak mematung.


Ketika ia, untuk pertama kalinya melihat tubuh atletis Leo, kulit putih perut kotak-kotak, serta otot yang berisi membuat Mei terpesona.


Leo yang mendapat pandangan seperti itu untuk pertama kalinya pun menjadi salah tingkah.


“Ada apa? Apa ada yang salah di tubuh ku?” tanya Leo.


“Eng-enggak kok,” ucap Mei.


Leo yang belum terbiasa memakai baju di hadapan wanita pun menyuruh sang istri untuk segera mandi.


“Hei Mei, kamu enggak mandi?”


“I-iya, aku akan mandi sekarang!” ucap Mei, seraya mengambil tas yang ada di sebelahnya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dengan masih mengenakan baju pengantinnya.


Di dalam kamar mandi, Mei melucuti satu persatu pakaiannya, meski susah ia terus berusaha, karena untuk meminta tolong pada Leo rasanya tak mungkin, sebab Mei masih belum terbiasa.


Setelah melepaskan baju, ia pun menghapus make up nya, yang tebalnya 5 cm.


Leo yang menunggu di dalam kamar merasa bosan, karena sudah 1 jam, sang istri belum keluar juga dari dalam kamar mandi.


Tok tok tok!


“Mei, kamu baik-baik saja?”


“Aku baik kok tenang saja, aku lagi menghapus make up ku,” ujar Mei.


Karena semuanya normal, Leo yang merasa lapar pun keluar kamar menuju ke meja makan.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2