
Sesampainya di ruang prodi, Yalisa di persilahkan duduk oleh dosennya yang bernama pak Arjuna.
“Silahkan duduk Yalisa,”
“Terimakasih pak,”
“Pasti kamu bingung kan, kenapa bapak memanggil mu?” ucap pak Arjuna.
“Iya pak, ada masalah apa ya pak?”
“Ini bukan soal gawat, tapi kamu terpilih untuk mendapatkan beasiswa sampai lulus dari universitas ini,” terang pak Arjuna.
“Apa? Bukannya yang dapat beasiswa harusnya mahasiswa yang berprestasi pak? Saya kan belum termasuk dalam golongan itu pak?”
“Benar, tapi ada seorang donatur yang bersedia memberikan kamu beasiswa,”
“Siapa pak?” tanya Yalisa.
“Sayangnya, beliau tidak mau di sebutkan identitasnya,” jawab pak Arjuna.
Yalisa mulai memikirkan siapa kira-kira orang dermawan tersebut.
“Sudahlah, jangan di pikirkan, ini rezeki untuk mu,” ucap pak Arjuna.
Setelah selesai berbincang dengan pak Arjuna, Yalisa pun kembali ke ruangannya.
“Siapa ya?” batin Yalisa.
Lalu, Yalisa yang masih menunggu ke datangan dosen, mengirim pesan pada Riski.
📱“Apa kabar? Hari ini aku dapat rezeki, ada donatur yang mau memberikan aku beasiswa sampai lulus, aku senang bangat, sayangnya aku enggak tahu, siapa beliau yang baik hati itu,” Yalisa.
Meski semua pesannya berstatus centang satu, namun Yalisa semakin hari semakin rutin berbagi cerita pada Riski, ia sudah menganggap nomor WhatsApp Riski adalah diary nya.
_______________________________________________
Satu tahun telah berlalu, Yalisa kini semakin dewasa, ia juga mendapatkan teman baru di kampusnya.
Hal itu cukup membantunya untuk mengurangi kesedihan yang ia rasakan.
Maret 2019, sesuai janji Riski, satu tahun dia akan kembali lagi ke Indonesia.
Namun, hingga di penghujung bulan, Riski tak kunjung mengetuk pintu rumah Yalisa, atau sekedar meneleponnya.
Di malam yang basah, petir sahut menyahut di langit, Yalisa kembali menangis untuk yang kesekian kalinya, karena ia merasa telah di bohongi oleh Riski.
“Kenapa kamu sejahat ini? Kalau belum bisa pulang, harusnya kasih kabar, ini sekali saja kamu enggak ada kabar, kamu dengan percaya diri membiarkan aku menunggu, kamu kenapa begini Ki? Hiks....,”
Meow, Riski junior pun mengusap rambut Yalisa yang sedang terurai di atas ranjang.
“Papa mu jahat, dan selalu jahat sama mama, tapi bodohnya, mama tetap sayang Ki, sama papa.” Yalisa memeluk anaknya dengan erat.
“Makasih nak, sudah menemani mama selama ini,” Yalisa mengecup pipi anaknya.
Lelah dengan tangisnya, akhirnya Yalisa tertidur lelap.
Dan di dalam mimpi ia bertemu dengan Riski, biasanya Yalisa tak dapat berkomunikasi dengannya, namu kali ini Yalisa berusaha menyapa Riski yang duduk di antara bebatuan yang tak jauh dari situ ada air terjun.
“Kenapa? Kenapa kamu enggak pulang?”
__ADS_1
Namun Riski yang ia temui di mimpi hanya tersenyum.
“Kenapa kamu membuat aku menunggu lama? Bahkan bertemu dalam mimpi pun kamu tak mau bicara pada ku, apa kamu sudah enggak cinta aku?!”
Lalu Riski bangun dari duduknya, dan berjalan ke arah Yalisa.
Bibir Riski bergerak seperti mengucapkan sesuatu, namun Yalisa tak dapat mengerti dan mendengarnya.
Saat Riski telah ada di hadapannya, Yalisa menangis pilu.
“Kenapa? Kenapa kamu enggak pulang dan enggak kasih kabar Ki? Hiks....”
Riski memeluk Yalisa, dan mengusap rambut Yalisa dengan lembut, Yalisa bertambah sesungukan menerima pelukan hangat yang telah lama ia rindukan.
“Pulang lah, aku rindu Ki,”
Ketika Yalisa akan memeluk tubuh sang kekasih, perlahan-lahan tubuh itu memudar.
“Ki...., Riski....! Jangan pergi!”
Di sisa tubuh Riski yang semakin transparan, Riski menggerakkan bibirnya, yang kini Yalisa pahami.
“Aku selalu mencintai mu,”
Yalisa menangis, seraya memeluk dirinya sendiri, lalu ia tiba-tiba terbangun dari tidurnya, dengan mata yang basah, saat ia menoleh kesebalelah kepalanya, ternyata anaknya Riski tengah menjilati pipinya.
Meow meow!
“Kamu lapar ya nak?” ucap Yalisa.
Ia pun beranjak dari ranjang, dan menyiapkan makanan kering untuk Riski di piringnya.
Setelah itu Yalisa mandi, karena ia sebentar lagi ada kelas di jam 10:00.
______________________________________________
Ketika ia sedang asyik belajar, tiba-tiba Lilis teman baiknya di kampus duduk di sebelahnya.
“E e eh, tahu enggak?” ucap Lilis.
“Ada apa Lis?” tanya Yalisa.
“Aku tadi ketemu cowok ganteng di taman belakang, ganteng bangat, entah deh dia siapa, baru kali ini lihat,” ucap Lilis.
“Mahasiswa baru kali,” ucap Yalisa.
“Bisa jadi sih, aduh gantengnya nampol!” ujar Lilis seperti sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Lalu tak lama, handphone Yalisa berdering, yang saat ia lihat, ternyata itu adalah panggilan telepon dari Leo.
“Leo?” batin Yalisa.
“Maaf Lis, aku terima telepon dulu ya,” Yalisa pun keluar dari ruangan.
📲 “Halo, assalamu'alaikum Leo,” Yalisa.
📲 “Wa'alaikumussalam Yalisa, apa kabar?” Leo.
📲 “Aku baik, kamu apa kabar?” Yalisa.
__ADS_1
📲 “Alhamdulillah, aku juga baik, eh aku sekarang ada di kampus mu lo, ketemuan yuk!” Leo.
“Apa yang di maksud Lilis ada Leo?” batin Yalisa.
📲 “Oke, tapi setelah kelas ku selesai ya,” Yalisa.
Setelah menutup telepon Yalisa kembali duduk di sebelah Lilis.
Setelah menyelesaikan kelas yang sangat membosankan, Yalisa datang ke taman menemui Leo.
Leo yang melihat Yalisa setelah sekian lama tak bertemu menjadi bersemangat.
“Yalisa,” ucap Leo menjabat tangan Yalisa.
“Leo, senang ketemu kamu lagi,” ujar Yalisa tersenyum lebar.
Lalu mereka berdua pun duduk di sebuah kursi yang ada di taman itu.
“Oh iya, mana Mei?”
“Dia enggak ikut pulang,”
“Kenapa?”
“Dia tengah hamil muda, jadi belum dapat izim buat terbang,”
“Apa?! Alhamdulillah, semangat ya untuk kalian berdua, tapi.... kamu tinggalin dia sendirian?”
“Dia yang paksa aku untuk pulang, karena kita memang berencana pulang bulan ini, tapi enggak di sangka, Mei terlambat datang bulan, saat di test, dia positif hamil, dan sekarang usia kandungannya memasuki 5 minggu,” terang Leo.
“Oh, begitu rupanya,”
“Hmm, Riski, apa dia sudah pulang?” tanya Leo.
Seketika senyum di bibir Yalisa menghilang, matanya pun berkaca-kaca.
“Ma-maaf, apa aku salah bicara?” ucap Leo, dengan perasaan bersalah.
“Dia belum pulang, bahkan setelah dia pergi, enggak pernah sekali pun menghubungi ku,” terang Yalisa dengan mata memerah.
“Maaf Yalisa, aku enggak tahu sebelumnya,” ucap Leo.
“Enggak apa-apa kok, tapi kamu tahu dari mana aku kuliah disini?” tanya Yalisa.
“Instagram dong, aku kan sering pantau kegiatan mu,”
Yalisa terseyum aneh mendengar pernyataan Leo.
“Kamu sering lihat Instagram ku, tapi sekali pun kamu atau Mei tak pernah menghubungi ku?”
“Itu...., karena kami sibuk belajar, ternyata ilmu kami berdua enggak seberapa kalau disana, jadi harus belajar keras hehehe,”
“Maaf Yalisa, aku berbohong, Mei yang tak mengizinkan aku menghubungi mu,” batin Leo.
Bersambung...
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️
Instagram :@Saya_muchu
__ADS_1
Nantikan karya baru dari author pada tanggal 15 Desember 2021.