
“Jangan sentuh sahabat ku!” Yalisa menunjuk wajah Yovi dengan tubuh bergetar.
“Apa ini?” Yovi menyunggingkan bibirnya ke atas.
“Kamu sekarang semakin menjadi-jadi ya, kamu jangan berharap banyak sama Riski, karena di matanya kamu enggak lebih dari sebuah sampah, jadi jangan berfikir kalau dia akan baik sama kamu, hanya karena kamu nolongin dia kemarin!” pekik Yovi.
“Aku enggak perduli soal dia atau apapun, aku cuma minta kamu jangan ganggu hidup ku jangan ganggu sahabat ku, aku enggak punya salah apapun sama kalian, jadi berhenti!” tubuh Yalisa semakin bergetar hebat, tak kuasa menahan emosinya.
Di tengah pertikaian mereka yang belum usai pak Ari masuk ke dalam ruangan.
“Hoi hoi hoi, ada apa ini? Pagi-pagi udah buat heboh kalian bertiga, duduk ke tempat kalian masing-masing jangan sampai saya hukum kalian bertiga ya!” pak Ari menghardik mereka.
“Gini pa...” Saat Yalisa mencoba menjelaskan pak Ari langsung memotongnya.
“Saya bilang sudah ya sudah! Enggak ada bosannya kalian bersoal terus dan kamu kamu kamu terus yang di permasalah kan dalam kelas ini!” tunjuk pak Ari pada Yalisa.
“Setiap saya masuk selalu saja ada masalah yang berhubungan dengan kamu, saya tuh bosan, ngurusin kamu juga enggak ada untungnya, tolong jangan buat kekacauan di kelas ini”
ucap pak Ari dengan perasaan dongkol tak suka melihat Yalisa, Yalisa yang sudah terbiasa hanya bungkam dan duduk ke kursinya.
“Kamu balik Yov ke tempat mu, kalau mau berkelahi di luar, jangan disini, mau kalian bertengkar sampai tak berdaya pun terserah.” lanjut pak Ari yang mulai membuka buku pelajaran mereka.
“Sialan bangat ya guru-guru disini, giliran di kasih duit saja baru gercep mereka,” bisik Mei pada Yalisa.
“Pengen bangat habisin mereka semua” ucap Yalisa mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
“Emang yang pengen habisin mereka kamu doang? Banyak kali siswa siswi yang dendam sama guru-guru disini.” ujar Mei seraya.membuka buku keseniannya.
“Makin hari hati ku makin sakit, ku fikir permasalahan sebulan yang lalu bisa merubah keadaan jadi lebih baik, nyatanya aku salah,” batin Yalisa.
“Ayo keluarkan buku kalian ke atas meja, buka halaman selanjutnya mengenai seni pahat.” semua siswa dalam kelas membuka halaman yang di maksud oleh pak Ari.
“Yovi baca bagian pertama dulu,” titah pak Ari.
“Baik pak, Seni pahat adalah cabang seni rupa yang hasil karyanya berwujud tiga dimensi. Biasanya diciptakan dengan cara memahat, modeling (misalnya dengan bahan tanah liat) atau kasting (dengan cetakan). Seiring dengan perkembangan seni patung modern, maka karya-karya seni patung menjadi semakin beragam, baik bentuk maupun bahan dan teknik yang digunakan, sejalan dengan perkembangan teknologi serta penemuan bahan-bahan baru.”
saat semua sedang fokus belajar Yalisa malah tak memperhatikan bukunya karena sibuk memegang perutnya yang terasa sakit.
“Kayaknya maag ku kambuh lagi nih,” batin Yalisa.
__ADS_1
“Siala* anak ini, malah enggak memperhatikan pelajaran ku, apa dia marah karena aku membentaknya tadi?” gumam pak Ari dalam benaknya.
Karena kesal pak Ari melayangkan penghapus kayu white board ke arah Yalisa.
Bukk...
Maksud hati ingin melempar meja malah mengenai hidung Yalisa.
“Hahh...!”
Mei tercengang karena hidung Yalisa seketika mengeluarkan darah.
“Hidung mu berdarah Lis!” dengan spontan Mei mengambil tisu dari dalam tas nya dan menyeka darah yang terus saja menetes dari hidung sahabatnya itu.
Karena itu Yalisa menjadi pusat perhatian, semua mata tertuju padanya, anehnya Yalisa tak bereaksi apapun, dia hanya menatap tajam ke arah pak Ari, seolah sabar Yalisa sudah pada batasnya.
“Makanya kamu perhatiin pelajaran saya, harusnya tadi yang kena kepala mu, biar waras dikit, dasar! Sudah bodoh malas belajar lagi!” pekik pak Ari tanpa ada perasaan bersalah sedikit pu di hatinya.
Zuco dan Marco yang sudah masuk kelas tersenyum sinis, seolah puas melihat orang yang mereka benci terluka.
Mata Yalisa tak berkedip melihat pak Ari, pak Ari yang menjadi sorotan itu mulai mendecak.
“Ck, ssstt... hah! Kamu benar-benar bikin kesal ya, beraninya menatap ku yang seorang guru seperti itu.”
“Pak berhenti! Apa hak bapak memperlakukan Yalisa seperti ini! Saya akan lapor polisi, kalau bapak enggak mau berhenti!” pekik Mei dengan kalimat mengancam.
“Jangan ikut-ikutan kamu! Dengar kalian semua, kalau sampai masalah ini bocor keluar sekolah, kalian akan rasakan akibatnya! Hei binatan* keluar kamu dari kelas ku, tunggu saya di ruang BP!” bentak pak Ari pada Yalisa.
“Bapak lihat saja, saya akan tuntut bapak!” ucap Mei dengan penuh amarah.
“Polisi mana sih yang mau ngurusin masalah kecil seperti ini?” bisik pak Ari ke telinga Mei.
Saat Mei akan membantu Yalisa berdiri, Yalisa menepis tangan Mei.
“Aku akan pergi sendiri, kamu lanjutkan belajar mu,” ucap Yalisa.
“Enggak, aku ikut kamu, nanti ada apa-apa lagi di luar gimana?” ujar Mei dengan raut wajah cemas.
“Enggak usah Mei, percaya aku sama ku.” Yalisa pun berlalu dari kelas menuju toilet, sesampainya Yalisa ke toilet Yalisa membasuh darah yang keluar dari hidupnya dan juga membersihkan darah yang ada di bajunya di wastafel.
__ADS_1
“Kurang ajar!” umpatnya kesal, saat Yalisa melihat dirinya di kaca ia melihat wajahnya yang kacau dan kini ia juga memegang kepalanya yang benjol akibat pukulan pak Ari.
Karena darah yang mengalir dari hidung Yalisa belum berhenti, ia memutuskan untuk masuk ke salah satu bilik toilet, Yalisa duduk di atas kloset duduk yang tertutup dan mendongak agar pendarahannya cepat berhenti.
Baru beberapa saat Yalisa berada dalam toilet tiba-tiba ada yang masuk.
“Yalisa kamu di dalam ya?” Sapa Yovi dari luar.
“Mau ngapain lagi dia?” batin Yalisa.
Saat Yalisa memegang gagang pintu, berencana ingin keluar, ternyata pintunya sudah di kunci.
“Aku kunci kamu di dalam ya, biar kamu lebih santai enggak perlu ketemu pak Ari entar di ruang BP.” ujar Yovi seraya menggantung tanda “Toilet sedang di perbaiki.”
Di handle pintu toilet yang Yalisa pakai, tak cukup sampai disitu, Yovi juga mematikan saklar lampu toilet yang di pakai Yalisa.
Tek! Seketika pandangan Yalisa jadi gelap.
“Yov, bukain Yov! Jangan kunci aku disini Yov, Yovi! Yovi!” teriak Yalisa, Bilik toilet itu begitu gelap tak ada cahaya, karena bangunan toiletnya tidak ada jendela, dindingnya juga menyatu dengan bagian loteng toilet.
Yalisa memukul-mukul pintu toilet dengan kepalan tangannya terus dan terus, sialnya dia juga lupa untuk membawa handphonenya.
“Gimana ini? Jam istirahat masih 1 jam lebih lagi.” Gumam Yalisa yang mulai menangis dalam kegelapan sendirian.
____________________________________________
“Perasaan ku enggak enak nih, Yalisa baik-baik saja enggak ya di ruang BP? ” ucap Mei dalam benaknya.
Mei melihat Yovi dan kedua temannya tertawa selepas dari toilet.
“Aku harus pastiin, lihat Yovi tertawa hati ku jadi enggak tenang.” gumam Mei.
“Permisi pak, saya mau izin ke toilet.” ucap Mei.
“Enggak ada ke toilet lagi, ikuti pelajaran saya sampai selesai baru ke toilet” titah pak Ari.
“Siala* bangat sih pak Ari, semoga saja Yalisa baik-baik saja.” batin Mei.
Bersambung...
__ADS_1
HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN KASIH LIKE, KOMEN, VOTE SERTA TEKAN FAVORIT TERIMAKASIH BANYAK ❤️
Instagram : @Saya_muchu