SAVE YALISA

SAVE YALISA
Bab CXII (Putus)


__ADS_3

“Siapa lagi nih yang punya ulah?” gumam Riski, lalu ia pun menggedor-gedor pintu kamarnya.


“Buka woi! Kurang kerjaan bangat sih kunciin orang di dalam!”


Tak lama, terdengar seperti ada yang membuka pintu dari luar.


Cetek!


Kriett!!


Saat pintu terbuka, Riski melihat wajah Zuco dan Marco yang begitu pucat, akibat tak tidur semalaman.


“Ngapain di kunci sih?” tanya Riski.


“Pake nanya lagi? Ya buat cegah kamu bertindak bodoh lagi lah.” jawab Marco.


“Ngomong apa sih kalian?” Riski masih belum sadar akan perbuatannya tadi malam.


“Kamu masih mabuk Ki? Ingat-ingat lagi deh, tadi malam kamu hampir memperk*osa anak orang, hanya karena masalah perselingkuhan, kayak kamu enggak pernah selingkuh saja.” terang Zuco dengan perasaan yang kesal.


Riski pun mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, hingga beberapa saat kemudian, ia tahu, lalu buru-buru beranjak ke lantai 2, namun langkahnya terhenti, saat melihat Yalisa menjinjing koper mininya, menuruni anak tangga, Zuco dan Marco tak banyak komentar, karena sudah lelah menjaga pintu semalaman, agar kedua kekasih itu tak ada yang kabur dari kamarnya masing-masing.


Dengan langkah pelan Riski berjalan ke sang kekasih. “Kamu mau kemana?” tanya Riski dengan perasaan bersalah.


“Aku mau pulang, terimakasih atas liburannya.” jawab Yalisa dengan mata sembab dan basah.


“Jangan pulang, maafkanaku, aku enggak sadar udah nyakitin kamu tadi malam.”


“Aku mau pulang sekarang, jangan halangi aku!” pekik Yalisa.


“Nanti kita pulang, kita belum menikmati liburan kita,” bujuk Riski.


“Aku bilang, aku mau pulang, jangan halangi jalan ku!”


“Oke, kalau mau pulang, ayo pulang bersama.”


“Aku enggak mau pulang sama kamu, aku mau pulang sendiri, aku udah cukup muak sama tingkah mu!”


“Yalisa.” saat Riski akan menggenggam tangan Yalisa, Yalisa langsung menepisnya.


“Jangan sentuh aku lagi, aku jijik sama kamu, aku udah enggak mau lagi lihat muka mu.”


“Apa? Jangan gitu Lis, aku minta maaf, tadi malam aku enggak sadar, semua salah ku, aku mohon maaf, dan janji enggak akan ulangi lagi.”


Riski menyatukan sepuluh jarinya, karena sudah sangat berdosa.


“Aku, enggak butuh semua janji mu itu, kedepannya, anggap kita saling enggak kenal.” Yalisa melenggang melewati Riski.


“Apa maksud perkataan mu?” Yalisa langsung memutar badannya menghadap Riski.

__ADS_1


“Kita putus, aku udah enggak mau sama kamu, cari saja wanita baik-baik di luar sana, yang bisa kamu jadikan menjadi yang kamu inginkan, jangan temui aku lagi, kita berakhir sampai disini.” Riski yang mendengar kata putus langsung merasa lemas.


Seumur hidupnya baru kali ini dia di putuskan oleh seorang wanita. Saat ia mencoba tulus mencintai, justru hatinya di hancurkan begitu saja.


Yalisa yang ingin keluar Villa, di hentikan kembali oleh Riski.


“Yalisa!”


“Apa lagi sih!”


“Aku antar kamu pulang.”


“Enggak perlu.”


“Aku antar kamu pulang.”


Marco dan Zuco hanya dapat menyaksikan pertengkaran dua kekasih yang tiada habisnya di hadapan mereka.


“Pacaran ternyata seribet itu, huh! untung aku jomblo.” batin Zuco.


“Seram juga sih kalau sampai begini ujungnya, kirain pacaran cuma bisa buat hati berbunga-bunga, enggak di sangka, bisa buat beban fikiran juga.” batin Marco.


“Aku bisa pulang sendiri.” ucap Yalisa.


“Enggak bisa, kita pulang sama-sama, Zuco Marco, kemasi barang kita semua.” titah Riski dengan wajah tegasnya.


Dengan sigap keduanya menjalankan perintah sang bos.


“Lepas, jangan pegang-pegang.” Riski tak menggubris perkataan gadis itu, ia tetap menggenggam tangannya, seraya menjinjing kopernya juga.


Sesampainya ke mobil, Riski membuka pintu mobil untuk Yalisa, tanpa kata menyuruh Yalisa masuk.


Yalisa yang sudah malas berdebat pun menurut, lalu Riski masuk juga ke dalam mobil tepatnya di tempat pengemudi.


Bam! Riski menutup pintu mobil dengan keras yang membuat Yalisa kaget.


“Jadi kamu tetap mau putus?” tanya Riski seraya meremas setir mobil.


“Iya, aku mau putus.” jawab Yalisa tanpa melihat wajah Riski.


“Semudah itu kamu bilang putus?”


“Karena kamu memperlakukan aku semena-mena.”


“Aku kan sudah minta maaf, lagi pula aku enggak sengaja, ohh... apa sebenarnya ini semua rencana mu untuk balikan lagi sama dia?” Riski yang di bakar api cemburu mulai lepas kendali.


“Ini enggak ada hubungannya sama dia, stop bawa-bawa dia, lagian kalau aku putus sama kamu, aku enggak akan balikan juga sama Leo, kamu dan dia enggak ada bedanya, egois.”


“Jangan bandingkan aku dengan dia,”

__ADS_1


“Itu kenyataannya,” ucap Yalisa.


“ Kamu fikirin baik-baik, karena kalau kita udah beneran pisah, aku enggak akan kejar kamu untuk yang kedua kalinya.”


Dengan menghela nafas Yalisa berkata “Kita putus saja, lagi pula banyak yang mau sama kamu, jangan lebay deh.”


“Jadi kamu ikhlas kalau aku punya pacar lain.”


“Silahkan, suka-suka kamu.” ucap Yalisa dengan tertawa getir.


“Oke, aku tanya untuk yang pertama dan terakhir, karena sejak pacaran kamu enggak pernah bilang cinta pada ku, apa benar kamu enggak pernah mencintai aku?” tanya Riski dengan raut wajah serius.


“Enggak,” jawab Yalisa singkat.


Riski menundukkan kepala seraya menelan saliva, sudah jelas perasaannya hancur detik itu juga, tapi karena ia lelaki, ia harus tegar.


Beberapa saat kemudian Zuco dan Marco masuk ke dalam mobil, mereka duduk tepat di belakang 2 kekasih yang kini telah jadi mantan.


Selama perjalanan, mereka berempat sudah seperti penumpang dalam bis, tak bersuara seolah tak saling kenal.


Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam mereka tiba di tujuan yaitu rumah Yalisa, baru saja Yalisa turun dan menutup pintu mobil.


Riski sudah menginjak gas, tanpa permisi tanpa melirik.


Sama halnya dengan Yalisa, ia pun cuek dan langsung menuju rumahnya.


______________________________________________


Seminggu telah berlalu, sejak putusnya Yalisa dan Riski, pak Doni yang baru saja pulang dari luar negeri di buat kaget, karena anak semata wayangnya yang duduk di bangku pinggir kolam berenang begitu kurus.


Lalu pak Doni mendekat ke anak kesayangannya itu.


“Kamu sakit Ki?” Riski tak merespon teguran sang ayah, karena fikirannya sedang melayang-layang.


“Riski?” pak Doni pun meletakkan telapak tangannya ke dahi anaknya tersebut.


“Enggak panas,” gumam pak Doni.


Kebetulan saat itu salah seorang ART wanita, lewat di depan mereka.


“Susi, Riski kenapa?” tanya pak Doni.


“Saya kurang tahu tuan, sudah seminggu tuan Riski merenung seperti itu, di kasih makan juga enggak mau, kerjaannya hanya tidur dan melamun.” jawab Susi sang ART.


“Ah, begitu ya? Ya sudah, kamu boleh bekerja lagi.” titah pak Doni.


“Ini sih penyakit patah hati namanya,” batin pak Doni.


Bersambung...

__ADS_1


HAI READERS YANG MANIS JANGAN LUPA UNTUK SELALU DUKUNG AUTHOR DENGAN CARA FOLLOW, KASIH RATE 5, LIKE, KOMEN, HADIAH, VOTE, SERTA TEKAN FAVORIT, TERIMAKASIH BANYAK. ❤️


Instagram :@Saya_muchu


__ADS_2