Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 100


__ADS_3

Andai engkau bisa mengerti


Betapa beratnya aku


Harus aku tetap tersenyum


Padahal hatiku terluka


Adakah arti cinta ini


Bila ku tak jadi denganmu?


Jika memang ku harus pergi


Yakinlah, hatiku kamu


Bukankah semesta yang pertemukan kita?


Haruskah kusampaikan pada bintang?


Mengapa bukan kamu


Yang memiliki aku?


Andai engkau bisa mengerti


Betapa beratnya aku


Harus aku tetap tersenyum


Padahal hatiku terluka


Klik


Semua orang di rumah menyibukkan diri. Apalagi Vira yang sibuk bingung memilih gaun pesta yang dikenakannya. Bak seorang ibu-ibu memilih barang diskonan, kamar Vira berubah menjadi kapal pecah. Dira yang melawati kamar adiknya melotot sekaligus menggelengkan kepala.


"Amboi seronoknya! kamar apa gudang ini!"


"Kamarlah, kak. Gimana sih?"


"Ya kalau kamar pasti nggak kayak gini. Lihat kamar kakak, rapi bersih, nggak kayak kamar kamu, BERANTAKAN!"


"Ya, biarin kak. Weeeek!" Vira menjulurkan lidahnya di depan Dira.


"Ada apa ini?" Feri nimbrung mendengar kedua adiknya gaduh.


"Astaga ini cikal bakal perawan tua nih!" Feri pun menggelengkan kepalanya melihat kamar adik bungsunya.


"Yang kayak gini nih mau di ajak nikah. Yang ada suaminya yang ngasuh. Hahahaha.."


"Maaaamaaaaaa .." Vira berlari keluar kamar.


"Ngadu dia, kak." sahut Dira.


"Kayak nggak tahu Vira saja. Biasa tuh anak bungsu kan begitu. Suka ngadu, apa-apa dibelain. Kamu juga dulu gitu sebelum mama hamil Vira. Manja banget, dikit-dikit mama, dikit-dikit papa, kalau ngambek ngumpet di rumah Ayu. Untuk cuma sampai umur SD kamu kayak gitu. Kalau nggak gitu deh, sama kayak Vira." Dira mengerutkan dahinya. Kenapa dirinya ikut dibawa.


Dira meninggalkan kamar Vira serta tingkah adiknya yang super duper. Kakinya memasuki kamarnya yang mewangi. Untuk kebersihan dirinya memang sangat menjaga, karena suka yang berbau indah. Matanya menatap bunga mawar merah yang mewangi.

__ADS_1


Ingatannya beralih, saat baru sadar dari tidur panjangnya. Dia menemukan sebuket bunga mawar merah yang wanginya khas sekali. Dari keterangan mamanya bunga itu berasal dari Arjuna. Sosok lelaki yang belum bisa bergeser dari hatinya. Lama dirinya meresapi wanginya bunga tersebut.


Setelah semua yang terjadi diantara kita,kak. Aku pikir aku bisa membencimu. Aku pikir bisa melupakanmu, tapi kenapa kamu masih berputar dalam memori ku. Kenapa aku tidak bisa membedakan mana yang cinta itu ada atau cinta bertepuk sebelah tangan. Aku lelah kak, aku mempermainkan banyak orang disini. Mama, kak Feri, Vira, Rian dan juga Delia.


Besok aku akan berangkat ke Bengkulu. Aku akan menerima lelaki pilihan opa ku. Bagaimana perjuangan aku mencintai kakak sepertinya harus berakhir sampai disini. Bagaimana kakak bilang akan memperjuangkan aku rasanya tidak perlu dilanjutkan.


Dira membuka sebuah surat yang terselip dalam buketan bunga. Sejak pulang ke rumah dia belum membuka surat tersebut. Kakinya berputar ke pagar balkon. Memandang rumah di depannya gelap karena belum ada yang menghuni. Netranya kembali berfokus pada surat tersebut. Entah kenapa ada kengerian berhadapan dengan rumah gelap. Dira memilih masuk ke dalam kamarnya.


Dear adikku sayang,


Apakah aku boleh memanggilmu bukan lagi seorang adik. Tapi seorang wanita yang bertahta di hatiku.


Itu kalau kamu mengizinkan.


Untuk seseorang teman masa tua ku nanti.


Romantis bukan? mana senyumnya. Pasti kamu akan tersenyum, karena Dira yang aku kenal ramah dan murah.


Saat kamu membaca surat ini, aku yakin kamu sudah kenyang dengan tidurmu. Jangan pernah berhenti menunggu kabarku seperti aku menunggu kamu membuka hati. Aku percaya perjuangan yang berat akan menumbuhkan hasil yang baik.


Bagaimana kabarmu?


aku selalu berharap kamu selalu dilimpahkan kebahagiaan. Apalagi kalau sama aku nanti, percayalah padaku.


Dira tertawa sendiri-sendiri ketika membaca satu persatu untaian kata yang ditulis Arjuna. Masih panjang kata-kata yang harus dia baca. Dira menyandarkan punggungnya di headboard ranjang kamar. Terselip rentetan kenangan bersama sahabat-sahabatnya dan juga Arjuna. Kalau boleh bisa di putar dia tidak akan mau jatuh cinta pada pria yang mengejar wanita lain. Bukan dirinya. Kalau dia bisa mengendalikan perasaan, mungkin tidak akan gampang baper dengan rentetan ucapan lamaran dari Arjuna.


Kenapa aku bisa jatuh cinta pada lelaki yang tidak pernah memandang aku.


kenapa kak Juna sekarang malah mendekatiku bukan memperbaiki hubungannya dengan Delia.


Itu juga karena kak Juna menjadikan aku pelarian.


Dira kembali membaca untaian kata dari Arjuna.


Dira, aku tidak pernah menjadikanmu pelarian karena Delia tidak ada kabar. Aku juga tidak pernah mempermainkan perasaanmu.


Cinta itu tumbuh dengan sendirinya, aku juga tidak tahu kenapa begitu sakit saat Wawan melamarmu.


Aku juga tidak tahu hatiku ikut menangis saat kamu merasa hancur karena kebohongan Wawan.


Aku juga tidak tahu sejak sering pulang bareng kamu, sejak kamu menjadi pendengar yang baik setiap curhatku.


Aku merasa sakit saat kamu mulai dekat dengan Rian. Aku juga mulai mencoba menata hatiku saat Delia pulang.


Tapi kenapa, Ra. Aku merasa semakin terarah padamu.


Apakah ini cinta?


Aku rasa iya.


Kamu ingat saat aku berjanji akan selalu menjagamu.


Itu awalnya kupikir sebagai rasa saudara,.tapi ekspetasiku salah.


Selama ini aku mencintaimu, sangat mencintaimu.


Dan saat kamu membaca surat itu adalah dari perjalanan hubungan kita.

__ADS_1


Dira, please, menikahlah denganku.


by Arjuna Bramantyo.


Dira menutup surat tersebut. Apakah dia akan membuka hatinya pada Arjuna. Sungguh dilema, apalagi pertunangannya dengan lelaki pilihan Opa-nya tinggal menghitung hari. Dira mengembalikan surat itu dalam buket bunga. Namun dia melihat ada silaunya cahaya kuning dalam buket tersebut.



Dira mengambil cincin emas yang terselip dalam kelopak bunga merah. Kedua tangannya mengatup, ada rasa haru saat melihat cincin cantik itu.


Apakah kak Juna sedang melamarku?


Seandainya memang dia mau melamarku, aku juga mau jawab kalau aku mencintainya.


"Maaamaaaaa .." Dira mencari sang mama yang asyik di dapur.


"Kenapa, sayang?" Dira langsung memamerkan cincin ditemukannya dalam bunga tersebut.


"Cantik cincinnya, kak. Dari siapa?" Vira memeriksa aksen cincin yang sudah tersemat di jarinya.


"Mama,..." Dira menghirup nafasnya dalam-dalam.


"Kak Juna melamar Dira, menurut mama bagaimana?"


Dewi langsung tersenyum membelai rambut putri tengahnya.


"Mama akan dukung apapun yang membuat kamu bahagia. Termasuk soal pilihan hati anak-anak mama."


"Tapi bagaimana dengan calon pilihan opa?"


"Kan Opa pernah bilang, kalau kamu tidak sreg boleh ditolak."


"Mama setuju dengan kak Juna."


"Setuju!" sahut Feri dan Vira.


"Apaan sih! Ikutan aja." Gerutu Dira.


"Ya masa adeknya bahagia, kakaknya nggak setuju. Makanya aku setuju."


Bagaimana dengan pembaca disini?


Apakah kalian setuju Dira menerima lamaran Juna?


Jawab dong


*


*


*


Assalamualaikum semuanya.


Terimakasih kalian masih menyempatkan mampir ke karya recehku.


Semoga yang baca disini di berikan kesehatan dan kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2