
"Rian!"
Dira menyambut kedatangan Rian dan kedua calon mertuanya yang datang ke kediaman Burhan. Kedatangan mereka tentu saja di sambut meriah oleh dua calon besan. Mama Dewi mempersilahkan Arumi dan Anca duduk di ruang tamu.
"Om, ini adalah calon besan kita. Anak llcalon suami Dira, namanya Rian." Dewi memperkenalkan calon besannya pada Opa Han.
"Arumi, Anca, ini adalah om Burhan, om Burhan ini adik papaku, juga termasuk kakeknya Dira." Arumi dan Anca bergantian menyalami opa Han.
Selang beberapa saat mereka sudah merebahkan bokongnya di sofa ruang tamu. Mereka saling berbincang mengenai pembicaraan rencana pernikahan anak-anaknya.
Rian berjalan mendekati Dira yang duduk di dekat kolam renang. Entah kenapa saat ini nyalinya cuit menemui calon istrinya. Semua itu pun karena diawali pada kenyataan dia punya anak, dia seorang ayah. Memang dia tidak punya perasaan apapun pada Delia, tapi jika dirinya tetap meneruskan semua ini sama saja menyakiti perasaan Dira.
Aku bukan lelaki yang pantas buat kamu, Ra.
aku sudah melukai perasaan dua wanita sekaligus, mama dan kamu.
Aku tidak peduli soal Delia saat ini.
Karena perempuan itu bukan manusia, yang tega membuang darah dagingnya demi lelaki lain.
Tapi, Ra.
Rasanya sakit sekali ketika kamu mengetahui semuanya.
Maafkan aku, Ra.
Benar kata Delia, aku ini bajingan.
Kamu pantas mendapatkan Lelaki yang lebih baik dariku.
Tapi kenapa aku masih tidak ikhlas jika kamu malah di dekati Arjuna.
Rian terus bermonolog, mengingat rasa bersalahnya terhadap masa lalunya. Oke lah ada yang bilang yang lalu biarlah berlalu, tapi jika ada seorang anak tak berdosa harus menerima kenyataan keegoisan kedua orangtuanya. Rian tidak tega melakukan itu, dia lebih baik berjuang memberi kebahagiaan untuk anaknya.
"Ra," Rian mencoba menyapa Dira.
Dira menatap Rian dengan senyum bahagia. Wanita itu menarik Rian untuk duduk di sampingnya. Tak lama kaki Rian pun di tenggelamkan dalam kolam renang.
Kaki Dira menyibak air kolam renang dengan cipratan. Rian pun mengikuti apa yang dilakukan Dira. Sesaat mereka pun larut dalam suasana hening.
"Ra, apa kamu mencintaiku?" Sahut Rian.
"Kamu sebenarnya kenapa selalu menanyakan hal itu?"
"Karena aku masih merasa hatimu bukan buat aku. Aku merasa kamu tidak mencintaku. "
"Rian, mungkin kamu sempat berpikir seperti karena Arjuna, kan.
__ADS_1
Dulu semasa masih ingusan, Arjuna memang pernah bertahta disini. Dia selalu ada saat aku membutuhkan, dia selalu ada sebagai seorang kakak meskipun aku punya kak Feri. Kak Feri sendiri lebih sibuk dengan urusannya.
Dulu aku, ayu, Eka dan Delia adalah sahabat. Aku dan Ayu bertetangga, sementara aku bertemu dengan Delia dan Eka itu saat masuk sekolah dasar. Kami sering bersama karena mama kami satu arisan.
Dan kak Juna pun akrab dengan kak Feri, dia bahkan sering menginap kalau ada tugas bersama kak Feri.
Hingga semakin bertambahnya usia, aku pun melupakan perasaan itu. Apalagi saat itu kak Juna gencar mendekati Delia. Makanya aku memilih tidak lagi melanjutkan perasaan itu."
"Ra, aku mau bicara tentang kita."
"bicara apa? Maaf kalau ceritaku tadi menyinggung perasaanmu. Tapi saat ini aku tidak ada perasaan apapun dengan dia. Bukankah aku sudah menerimamu?"
"Ra, selama aku menyadari sesuatu. Aku sadar kamu masih mencintainya. Aku pun tahu diri."
"Maksud kamu apa, Rian?"
"Maafkan aku, Ra. Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita. Saya sadar sudah berada di posisi antara kamu dan Arjuna. Saya juga laki-laki, saya melihat Arjuna mencintaimu dan kamu juga begitu."
"Alasan apa ini?"
"Ra, please dengarkan aku. Aku tahu ini mendadak, tapi ini sudah aku pikirkan matang-matang. Karena jika diteruskan yang ada kita hanya saling menyakiti."
"Tidak usah berbelit-belit, Rian. Katakan alasan yang sebenarnya. Apa kamu sudah menemukan wanita lain? siapa? apa aku mengenalnya?" Rian menatap Dira yang sudah berurai air mata.
"Delia? wanita itu Delia, yang sudah memberikan aku keturunan saat di London. Kami pernah melakukan kesalahan satu malam. Ternyata Delia melahirkan anakku. Maafkan aku, Ra." Rian berjalan meninggalkan Dira sendirian di depan kolam renang.
"Kak Dira dipanggil mama!" panggil Vira ketika menemukan Dira masih terdiam di kolam renang.
rasanya seperti dihantam bertubi-tubi.
sakit sekali.
Rasanya seperti inilah perasaan Delia saat kak Juna mendekatiku.
apa ini karma buatku?
tapi aku tidak pernah menerima perasaan kak Juna.
Ya Allah, kenapa dunia ini rasanya sempit sekali.
Tuhan aku harus bagaimana?
Apakah aku tidak pantas dicintai sehingga membuat nasib seperti ini.
Apa mungkin kata Rian kalau aku seperti belum move on dari Arjuna.
Aku sudah berusaha, tapi kenapa akhirnya tetap seperti ini.
__ADS_1
Byuuuur!!!!!
"Kak Dira!" Pekik Vira.
"Mama kak Dira pingsan! jatuh ke kolam renang." Teriak Vira.
Feri yang mendengarnya langsung sigap terjun ke kolam renang. Tubuh Dira tampak terlentang di lantai dasar kolam renang. Dengan sigap Feri mengangkut adiknya ke permukaan kolam
"Ya Allah, nak." Pekik mama Dewi dan Arumi.
Feri membawa Dira ke pinggir kolam renang. Tampak dua wanita paruh baya mendekati anak dan calon mantunya.
"Rian, kenapa kamu diam saja? Tolong bawa Dira ke dalam." pekik mama Dewi.
Rian menggendong Dira yang basah kuyup ke dalam kamar. Vira dan Feri pun mengikuti Rian ke dalam kamar Dira.
"Tadi bukannya Dira terakhir sama kamu? Kenapa dia bisa begitu?" Tanya Feri.
"Kak, maaf," Rian terdengar lirih.
"Maaf kenapa?" Feri masih mencerna ucapan Rian.
",Maaf saya tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami."
BUUUUUUGHH!
Rian mendatangi semua yang ada di ruang tamu. Saat ini yang dia pikirkan adalah jujur pada semua orang. Wajahnya yang sudah babak belur di hajar Feri membuat semua yang di ruangan terkejut.
"Muka kamu kenapa, nak?" Tanya Arumi melihat memar di wajah putra tunggalnya.
"Mama, maafkan, Rian."
"Maaf kenapa, nak?"
"Mama, Rian sudah membatalkan rencana pernikahan kami. Rian rasa Dira pantas mendapatkan Lelaki yang lebih baik dari saya."
"Maksud kamu apa, Rian? kamu selingkuh makanya membatalkan semua ini? Tante kecewa sama kamu, nak." Ucap mama Dewi.
"Tante Dewi, Opa Han, maafkan Rian, aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kami. Aku punya masa lalu yang harus dipertanggungjawabkan."
"Apa maksud kamu, Rian!" suara Anca terdengar menggelegar. Ada tekanan amarah dalam nada suaranya.
"Rian, pernah punya kesalahan pada seseorang. Dan kami punya anak dari kesalahan itu."
"Rian! Pulang! papa mau bicara sama kamu!"
Rian pun berpamitan dengan keluarga Dewi Savitri. Tapi, tak ada tanggapan dari semua yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
Sekarang aku dan Dira sudah selesai. Pengumuman yang aku berikan memberikan luka bagi Dira dan keluarganya. Seandainya tak ada kejadian dengan Delia. Mungkin aku masih bisa memperjuangkan Dira dan menjauhkan dari Arjuna. Sekali aku ikhlas melepas Dira, tapi tidak ikhlas kalau Dira mendapatkan Arjuna.
Kalau Delia bisa tidur denganku, bisa jadi dia juga pernah melakukannya dengan Arjuna. Dan aku tidak ingin Dira mendapatkan Lelaki seperti itu.