Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 48


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Dira dan Rian sudah berada di tempat yang jauh dari jangkauan orang lain. Masih terlihat hamparan air kali yang mengiringi perjalanan mereka. Matanya melirik kearah lelaki di sampingnya. Begitupun dengan Rian, keduanya saling curi pandang.


Rian tak pernah melepas genggaman tangannya dari jangkauan Dira. Seakan langit ingin menyapa keduanya lewat indahnya alam semesta. Beberapa saat Dira melepaskan tangan Rian, mengambil satu tangkai alang-alang yang ditemukannya. Sesaat bibirnya menghembuskan alang-alang ke arah Rian. Lelaki itu tampak geli lalu mengambil alang-alang untuk membalas kejahilan Dira. Mereka tertawa saling berkejaran, tak lama Rian merebahkan tubuhnya di pinggir kali.


"Sini.." Rian melambaikan tangannya mengajak Dira bergabung dengannya.


Dira duduk disamping Rian, keduanya masih hanyut dalam suasana hening. Masih malu-malu dan saling menundukkan kepala.


"Kamu tahu? sejak kecil papa ku sering mengajakku kesini dengan jalan kaki. Katanya kalau pakai mobil tidak bisa menikmati suasana disini. Papa ku juga suka mancing, ya walaupun nggak pernah dapat ikan. Dapatnya sampah sungai. Kamu suka?" Tanya Rian.


"Aku belum pernah punya vila sendiri. Dulu kalau liburan ke puncak atau lembang paling bareng sama orangtua teman-temanku. Padahal sebenarnya mama dan ppa bisa saja membeli vila. Tapi kata mereka ada yang lebih berguna daripada membeli vila. Kata papa membeli vila itu mubazir, lebih baik gunakan untuk keperluan lain.


Kakekku ayah dari papaku punya vila di sekitar taman safari. Jadi aku sering Ayu dan Eka kesana plus tiga bodyguard."


Rian mengernyit " Tiga bodyguard? siapa saja itu? pasti bawa pacarnya sampai harus pake bodyguard segala."


"Kak Feri, kak Juna dan temennya kak Feri. Soalnya kami kan masih pada SMP belum boleh cinta-cintaan. Masih pada ingusan."

__ADS_1


"Ingusan ... ih... cendoool.." Sahut Rian membuat suasana jadi berwarna.


Dira menepuk punda Rian sambil ikut tertawa. Walau terkesan garing tapi Dira menikmatinya.


"Ra ..."


Tangan Rian menggenggam kedua tangan Dira. Suasana yang tadinya sempat kocak kini berganti menjadi sedikit romantis. Dira hanya mengikuti semua yang di lakukan lelaki itu.


"Apa."


Rian mengecup siku Dira.


Dira hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Rian. Tidak munafik kalau dia tersanjung dengan ucapan Rian. Semua yang ada dalam diri Rian sudah termasuk paket lengkap. Dira merasa bersalah masih memikirkan soal Arjuna sementara ada sosok lain yang lebih pasti. Bukan lelaki yang hanya datang karena galau.


"Terimakasih Rian. Kamu mau menerima aku sebagai pasangan hidupmu. Semoga ini akan menjadi awal buat kita. Semoga apa yang kita niatkan di ijabah oleh Allah SWT."


"Amin. Terima kasih Dira." Rian mendarat bibirnya di dahi Dira.

__ADS_1


Namun


"Satriaaaa... Itu pancingannya berat .. tolongin donh."Teriakan suara bariton di belakang Rian.


Dira dan Rian langsung menoleh kearah suara. Mereka merasa tidak nyaman dengan kemunculan dua lelaki tersebut. Dira menarik Rian meninggalkan dua lelaki tersebut.


"Hati-hati kalau berduaan ditengahnya ada setan." sahut Arjuna.


"Iya kalian setannya! Yuk sayang nggak usah tanggapin mereka." Dira menarik maksa Rian meninggalkan areal kali.


"Kak Dira ... " Pekik Satria.


Dira dan Rian tak memperdulikan teriakan satria. Dia malas meladeni Arjuna dan Satria.


"Kak Dira ... Tolong kak Juna ketimpa ranting." Pekik Satria.


"Tolongin saja, yang." Rian menoleh ke belakang melihat Arjuna pingsan dahi berdarah.

__ADS_1


"Kalian tolongin saja. Kalian kan laki-laki." Dira tetap berjalan menjauhi Rian dan Satria yang membopong Arjuna.


__ADS_2