
Aku mencintaimu dan kau tahu aku memang begitu
Tidak akan ada yang lain karenamu
Berjanji aku akan selalu setia, bagi dunia dan segalanya untuk melihat
Cinta telah mendengar beberapa kebohongan terucap dengan lembut
Dan aku mendengarkan hatiku hancur dengan sangat buruk
Aku telah terbakar dan aku telah terluka sebelumnya
Jadi aku tahu persis bagaimana yang kau rasakan, percayalah cintaku itu sejati untukmu
Aku akan lembut dengan hatimu, aku akan membelainya laksana embun pagi
Aku akan berada tepat di sampingmu selama-lamanya
Aku tidak akan membiarkan duniamu hancur berantakan
Dari yang paling awal, kumohon berhati-hatilah dengan hatiku
__ADS_1
Dear buat adik kecilku,
Kamu ingat ketika orang mengganggumu, aku selalu ada buatmu. Setiap kali kamu menangis berlari ke rumah dan memanggil " Kak Juna ada yang mengganguku."
Kamu juga ingat setiap kali kamu menyebut "Cita-citaku menjadi istri kak Juna" saat itu bagiku itu hanya celotehan anak kecil.
Tapi nyatanya aku benar benar terpikat padamu. Bukan sekedar pelarian karena Delia hilang tanpa kabar. Bukan karena kasihan semata.Tapi cinta itu tumbuh dengan sendirinya.
Setelah Delia pulang aku janji akan menyelesaikan urusanku. Lalu, kita akan memulai semuanya dari awal. Aku harap kamu akan sabar menanti masa itu tiba. Masa dimana kamu dan aku mereguk bahagia bersama.
Dari yang mencintaimu,
Arjuna.
"Ra..."
Dira kaget saat lelaki itu datang ke kantor menemuinya. Arjuna mengunci ruang kantornya, hanya mereka berdua dalam ruangan. Dira hanya mematung saat Arjuna mendekatinya. Tangan lelaki sudah berada di tengkuk lehernya. Dengan cepat kedua bibir mereka beradu.
Ada sisi ketenangan saat lelaki memagut bibirnya. Tubuh mereka menjorok ke dinding sudut ruangan. Dira merasa aneh ketika tidak bisa melawan atau memberontak. Terkesan menikmati apa yang diberikan lelaki itu.
Tidak!
__ADS_1
Dira terbangun dari meja kerjanya. Nafasnya memburu seperti ada rasa sesak mendera. Dira langsung mengambil segelas air yang tersaji di nakas ruangannya. Dia tidak menyangka akan bermimpi seperti itu. Sungguh menjijikkan jika diingat.
"Aku tidak akan pernah mau mengingat atau berurusan dengan Arjuna. Tidak akan pernah! karena dia semua orang-orang terdekatku memusuhiku, jadi aku akan tetap melangkah serius dengan Rian.
Rian itu jauh lebih baik dari Arjuna. Orangnya baik, gentle, dan tidak pernah mempermainkan wanita."
Dira melangkah meninggalkan ruang kerja. Mata memutar kearah jam dinding di ruangannya. Tertera disana waktu sudah menunjukkan pukul 16.00, tandanya dia harus pulang. Dengan menenteng tas dia berjalan dengan elegan, meskipun beberapa tatapan sinis menatapnya. Dira tidak peduli dengan semua itu. Selama yang dilakukannya tidak menyakiti hati siapapun, selama itulah optimis menyelimutinya.
Tampak Rian sudah berdiri di lantai dasar kantornya. Lelaki itu tersenyum sambil memeluk pinggang Dira. Mereka berjalan melenggang meninggalkan kantor. Rian membawa mobil vans kesayangannya, menuntun kekasihnya masuk ke mobil.
"Kita cari makan dulu, yuk. Aku punya tempat langganan di daerah senen." Dira mengangguk atas ajakan Rian. Dia juga tetiba ikut merasa lapar ketika Rian mengajak cari makan.
Suasana jalanan Jakarta terlihat padat. Apalagi ini adalah jam pulang para pekerja. Mobil mobil memadati luasnya jalan besar. Tangan si pemilik mobil terus menggenggam jemari Dira.
"Macet banget, ya?" Keluh Dira
"Bukan Jakarta kalau nggak macet. Apalagi ini jam pulang kerja pasti rame banget. Jangankan jalanan, stasiun pasti rame banget sekarang. Apalagi kereta sekarang menjadi solusi para pekerja supaya menghindari kemacetan, walaupun mereka harus berdesak-desakan." Jelas Rian.
"Iya benar. Kereta menjadi solusi bagi yang malas naik mobil. Tapi berdesakan ngeri juga, Lo. ada yang kesempatan mau nyopet. Ada yang kesempatan mau melecehkan. Itu yang kadang menakutkan soal kesempatan melecehkan. Apalagi penumpang kebanyakan wanita, lo." Dira menambahkan.
"Aku pernah baca koran, berita tentang pengantin yang gagal nikah karena calon mempelai prianya menghamili wanita lain. Ih, serem. Kasihan ceweknya, tuh perempuan yang ngelabrak pasti bukan cewek baik-baik mau saja menyerahkan pada lelaki yang bukan muhrimnya." Omel Dira.
__ADS_1
Rian menjelit kearah Dira. Ucapan Dira membuatnya sedikit tertohok. Seakan wanita itu menyindir dirinya. Tapi lagi-lagi Rian menepis perasaannya. Antara dia dan wanita itu hanya terjebak dalam perangkap Alex. Rian juga yakin wanita itu dan Alex bekerja sama menjebak dirinya.