
"Jadi bagaimana, nak Juna? Saya harap kamu mau mengikuti permintaan tuan kami." Tanya seorang lelaki yang mendatanginya di kantor.
"Bentar, maksud bagaimana ya? Saya harus berhenti dari kantor ini? Terus saya bekerja sebagai manajer di pabrik teh milik papanya Delia, begitu?"
"Benar, tuan. Kami sudah negosiasi dengan bu Dewi supaya memberhentikan anda. Bu Dewi sudah menyetujuinya." Lagi-lagi pernyataan antek-antek keluarga Shahab membuatnya mengurut dada.
BRAAAAK!
Juna memukul meja dengan keras. Ada rasa kecewa yang membelenggunya. Bagaimana bisa hidupnya diatur oleh keluarga calon istrinya. Dari ngedate, soal pertunangan, sekarang pun pekerjaannya di berhentikan tanpa izin.
"Maafkan aku, Jun. Ini sudah keputusan mamaku. Dia memberhentikan kamu karena kamu akan di tempatkan di Lembang. Kamu tahu kan, keluarga Shahab juga punya saham di perusahaan ini. Kami bisa apa?" jawab Feri saat Juna mendatangi ruang kerja atasannya.
Juna berjalan linglung saat mengetahui semua aktivitasnya diatur sama calon mertuanya. Rasa-rasanya dia akan menjadi robot yang akan di handle sama keluarga Shahab. Langkahnya mulai gontai seperti hilang arah. Lelaki itu memilih melamun di pantry kantor.
"Eh, katanya Dira di lamar sama pacarnya yang WO itu, ya? wah, kayaknya kalau dia nikah bakal sepi kantor kita." Ujar salah seorang staf kantor.
Desas desus lamaran Dira dan Rian menjadi buah bibir di kantor. Apalagi tidak ada yang tahu dengan siapa Dira pacaran. Sekarang malah sudah dilamar. Beberapa staf menyalami Dira secara bergantian.
Dira duduk di dalam ruangan kerja Feri. Disana ada Mama Dewi, Feri, Vira dan tentunya Rian. Mereka berkumpul karena Mama Dewi akan mengungkap jati Dira pada semua staf perusahaan.
"Masuk!" Mama Dewi mendengar ketukan dari luar.
"Tante..." Sahut Juna dengan wajah kusutnya.
"Oh iya, tante lupa. Kamu mau bahas soal resign itu ya. Nanti kita bahas lagi, Juna. Oh, iya perkenalkan ini calon suami Dira. Juna ini Rian dan Rian ini Juna. Juna ini sejak kecil sudah akrab dengan anak-anak tante. Jadi sudah seperti saudara bagi kami." Mama Dewi memperkenalkan Rian pada Arjuna.
Juna menerima uluran tangan dari Rian. Seketika genggaman tangan Juna mengepal kuat. Sesaat kemudian semua staf dan anggota keluarga berkumpul di aula kantor. Mama Dewi pun akhirnya berdiri di panggung.
__ADS_1
"Assamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Saya Dewi Savitri selaku pemilik perusahaan PUTRA NUSA Corps akan memperkenalkan anak kedua saya yang bernama Medhira Utami. Dimana kalian mengenal Dira sebagai di perusahaan ini. Saya juga memperkenalkan calon menantu saya yaitu saudara Rian. Dira dan Rian sini nak bergabung diatas panggung."
Dira dan Rian berjalan keatas panggung sambil bergandengan tangan. Kedua tampak tersenyum bahagia setelah mama Dewi mengumumkan jatidirinya.
"Mulai sekarang Dira bukan lagi staf biasa. Dira akan menempati posisi manajer menggantikan Arjuna yang sudah resign."
Semua tampak kaget saat mendengar kabar Arjuna resign. Tidak ada angin tidak ada hujan lelaki yang dikenal supel di kantor memilih resign. Juna memilih meninggalkan hiruk pikuk aula kantor.
Pengumuman dadakan itu menjadi pukulan kuat bagi dirinya. Dalam sekejap karirnya selesai akibat campur tangan calon mertuanya.
"Juna..."
"Kalian jahat, Kak Feri. Kenapa kalian tidak membicarakannya terlebih dahulu? kenapa kalian mengambil keputusan sepihak? Dan itu Dira jam terbangnya belum tinggi, tapi kalian memberi jabatan berat." Protes Arjuna.
"Maaf, Juna." Feri juga merasa bersalah dengan keputusan mamanya.
Setelah euforia kebahagiaan yang baru saja di embannya. Tubuh Dira yang semok menyenderkan diri pada pagar pembatas lantai atas. Memandang jalanan jakarta yang masih padat kendaraan. Setelah Rian pamit pulang, Dira memilih mengasingkan diri di lantai atas kantor atau bisa dibilang rooftop. Ada rasa bersalah karena tiba-tiba harus menempati posisi Arjuna secara mendadak.
"Dira!"
Dira tercekat mendengar suara yang memanggilnya.
"Kak juna pasti mau marah sama aku soal jabatan itu." Batin Dira.
"Bisa kita bicara?" Dira merasakan suara itu semakin dekat.
"Ada apa?" Sahutnya dengan sikap dinginnya.
__ADS_1
Juna berjalan mendekati Dira, tatapan Arjuna membuat Dira memilih membuang muka. Pada akhirnya Dira meninggalkan Arjuna untuk keluar dari rooftop. Tapi ternyata pintunya di kunci oleh Arjuna.
"Kak Juna mau apa!"
"Apa kamu mencintai Rian?"
Dira mengangguk "Tentu saja. Buktinya aku menerima lamarannya."
"Yakin mencintainya?" Juna terus berjalan mendekatinya.
"Yakin." Jawab Dira mantap.
"Jadi itu sudah menjadi jawaban lamaranku waktu itu."
Dira tertawa mendengar ucapan Arjuna.
"Lamaran? Lamaran mana yang kakak tawarkan. Kak, aku bukan perempuan bodoh yang mau saja ditipu. Anda sadar tidak? Sejak lamaran anda semuanya kacau! Aku di jauhi sahabat, bahkan Delia pun enggan melibatkan aku di pertunangan kalian."
"Aku mencintai kamu, Dira. Perasaan itu tumbuh seiring kebersamaan kita satu tahun ini. Aku sadar sikap akan menyakiti banyak pihak, tapi ini yang aku rasakan. Aku..."
"Cukup. Kakak tidak pernah punya perasaan apapun sama saya. Begitu pun saya, tidak ada perasaan khusus pada anda, Arjuna. Anda mendekati saya karena di gantung selama satu tahu oleh Delia. Itu artinya apa? Saya cuma buat pelarian. Jadi anda jangan mimpi bisa memperdayai saya. Permisi."
"Kalau memang kamu tidak mencintaiku, kenapa setiap kita berbicara kamu tidak pernah mau memandangku? kenapa sejak saat aku melamar mu, kamu terus menghindari aku? Jawab Dira!"
"Bukankah kakak sudah tahu jawabannya. Kalau aku menghindar itu tanda aku malas bertemu dengan anda. Setiap kita bertemu, kak Juna selalu membahas soal lamaran itu, bahkan saat Delia sudah kembali kakak masih mendekatiku, jangan maruk kak. Kak menerima pertunangan Delia dan harus konsisten dengan Delia."
"Tapi, Ra ..."
__ADS_1
"Satu lagi kak Arjuna. Tolong bilang sama orang-orang yang salah paham kalau kita memang tidak ada hubungan apa pun. Nama saya sudah buruk dimata teman-teman."