Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 33


__ADS_3

Vira beberapa kali menahan rasa kantuk, apalagi di depannya ada seorang lelaki tua yang berambut mulai memutih berdiri di depan papan tulis. Rasanya dia ingin pamit pulang karena sudah tak kuat menahan rasa kantuk.


Terdengar suara lembut membisikkan dalam pendengarannya. Bukannya bangun, dia malah makin mengantuk mendengarnya.


"Ra, Vira.." Suara lembut itu belum lelah membangunkannya.


"Hmmm... Apa sih, sa?" Jawaban itu masih setengah malas.


"Pak Johan, Ra ...."


"Iya, biarin saja dia ngoceh. Suaranya adem bikin ngantuk"


Elsa teman sekelas Vira hanya bisa mengelus dada. Matanya beralih ke lelaki seperempat baya itu yang sedari tadi mengintai teman disampingnya.


"Savira!"


Suara itu masih dalam tahap standar. Tentunya masih ada kesabaran menghadapi mahasiswinya.


Vira mencoba mengumpulkan separuh nyawanya. Elsa yang sedari tadi memperhatikan drama antara dosen dan mahasiswa. Mencoba untuk menahan rasa geli, dalam hatinya.


Setelah mengumpulkan nyawanya, Vira mencoba bersikap biasa saja. Tanpa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya. Kepalanya masih terasa berat tidak bisa diajak kompromi. Apalagi tadi malam dia mengerjakan tugas mata kuliah lain yang katanya bakal di serahkan hari ini.


Vira memutar kepalanya kearah samping. Melihat seorang pria yang berdiri tegak disamping tempat duduknya. Sesekali dia menyengir melihat sosok itu melotot kearahnya.

__ADS_1


"Eh, pak Johan. Bapak ganteng banget hari ini" Vira masih sempat cengar cengir di depan pak Johan.


"Terimakasih. Tapi maaf saya minta kamu meninggalkan mata kuliah saya. Sekaligus nilai kamu saya kurangi."


"Tapi, pak ... " Bantah Vira.


Vira bangkit meninggalkan ruang kelasnya sembari menggerutu "Dasar Duda lapuk..."


BRAAAAKK!


Vira membuka pintu kelas dengan kencang. Ada rasa kesal menyelinap dihatinya. Langkahnya terhenti di sudut kantin kampusnya.


"Viraaaa!"


"Eh, Frozen pelan-pelan dong jalannya." Omel Vira.


"Abis kamu cepat banget jalannya."


"Sudah selesai pelajaran Duda lapuk." Sahut Vira.


"Hush, nggak ada Duda lapuk, yang ada bujang lapuk." Jawab Elsa.


"Kamu disuruh pak Johan ke ruangannya." Adu Elsa.

__ADS_1


"Nanti saja" Acuh Vira.


Vira dan Elsa melabuhkan bokongnya di sebuah kursi kantin. Mereka memesan semangkuk es teler dan bakwan.


"Ra, gimana persiapan pernikahan kamu sama kak Satria?" Tanya Elsa sambil memasukkan bakwan ke dalam mulutnya.


"Masih Sixty- sixty, Sa. Runyam semuanya, nggak tahu apa kami jadi menikah apa nggak?"


"Kok gitu? Emangnya kak Satria selingkuh? Atau kamu yang bosan sama dia?" cerocos Elsa dengan mulut penuh. Vira menatap jijik dengan kelakuan teman absurdnya.


Vira menghempaskan nafasnya dengan kasar. Dia menyayangkan sikap mamanya yang mementingkan urusan Dira. Padahal yang mau menikah bukan Dira atau pun Feri.


"Kamu tahu, Sa? Sejak kak Satria datang melamar aku. Sejak itu mama sibuk mencarikan jodoh buat kak Dira. Sekarang kak Feri pun di tuntun mencari pasangan. Pokoknya mereka diminta sudah punya pasangan sebelum aku nikah. Gitu!"


"Kalau kakak mu mau kan bagus."


"Justru itu semakin mereka nolak Mama malah semakin gencar cariin jodoh kakakku. Sekarang kak Dira sudah punya calon, tapi entah kenapa seolah urusannya belum selesai."


"Kamu yang sabar, Vira. Tapi ambil hikmahnya, kamu bisa memperbaiki diri. Nikah itu nggak segampang drama korea, Vira. Perlu mental yang kuat, perlu persiapan yang matang.


Menikah itu bukan tentang siapa yang lebih cepat. Tapi yakinlah, Tuhan sudah pilihkan waktu dan seseorang yang paling tepat. Jangan tergesa lantaran telingamu sudah panas membara, akibat omongan dari para tetangga. Pantaskan dirimu dulu, bukan saja untuk jodohmu kelak, tapi fokuslah memperbaiki diri di hadapanNya."


Vira tergelak mendengar ocehan Elsa. Baru kali ini ucapan Elsa sebijak itu. Meskipun dia membenarkan apa yang di ucapkan bestienya. Menikah itu bukan sekedar mengejar usia, bukan sekedar cinta mencintai, tapi ada banyak yang harus di dalami yaitu karakter pasangan.

__ADS_1


__ADS_2