Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 26


__ADS_3

Dira menunduk malu saat Rian membawanya ke dalam rumah. Tak pernah terbayangkan kalau hari ini lelaki itu melamarnya. Tampak beberapa ibu-ibu yang ada di arisan menatap mereka penuh tanya. Apa yang akan Rian katakan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Saya disini berdiri dihadapan kalian semua sebagai saksi atas yang terjadi di depan mata kalian." Rian memutar pandangannya ke arah Dira yang masih menunduk lalu beralih kearah mama dewi dan mamanya yang berdiri berdampingan. Sesaat Rian tersenyum sembari menata mentalnya untuk pengumuman tersebut. Sekalilagi dia melirik kearah Dira. Hempasan nafas terdengar pelan.


"Mama, tante Dewi, saya mencintai Dira sangat mencintainya, dengan sepenuh hati saya akan membahagiakan Dira. Saya tahu ini mendadak tapi usia kami bukan usia muda lagi. Usia dimana melihat hubungan secara matang, bukan lagi cerita ngambekan ala anak ABG."


Rian merasakan tangan Dira sangat gemetar dan berkeringat. Bisa jadi karena wanita di sampingnya grogi. Tapi Rian yakin semua berjalan aman, karena yang dia tahu tante Dewi sempat mendukung hubungan mereka. Jadi rasanya tidak akan susah kalau mencari restu dari keluarga Dira. Rian juga yakin mamanya menyetujui hubungan mereka, selama ini mamanya tidak pernah ribet kalau dirinya membawa pasangan.


"Tante Dewi, saya mau melamar Dira, anak perempuan tante. Kami sudah sepakat untuk ke jenjang yang lebih serius. Tante saya minta restunya untuk menikahi Dira." Semua yang ada di acara bertepuk tangan. Seakan mendukung keinginan Rian.


"Dira, sekarang mama serahkan semua sama kamu. Kamu sudah dewasa, sudah 25 tahun, sudah harus memikirkan masa depan. Mama cuma ingin lihat kamu bahagia. Mama rasa, Rian adalah lelaki yang tepat untuk. Mama merestui kalian."


Dira langsung memeluk mama Dewi dengan perasaan haru. Ada kelegaan kalau mamanya merestui Rian. Dira menyusut hidung karena tidak menyangka kalau dirinya akan dilamar Rian "Ma, Dira menerima Rian sebagai calon suamiku"


"Alhamdulillah." Seru yang lain.


"Dira, saya adalah mama nya Rian. Kamu cantik sekali, sayang. Tidak salah Rian menjatuhkan hatinya padamu. Saya mengenal bagaimana bibit bebet bobotnya keluarga jeng Dewi. Saya merestui kalian, secepatnya kita akan mengurus rencana pertunangan kalian."


"Terimakasih mama. Sudah merestui aku dan Dira. Secepatnya kami akan mengadakan acara pertunangan kalau bisa sih langsung nikah saja." Rian melirik Dira yang masih tersenyum.


Rian memegang kedua tangan Dira. Mereka berjalan keluar ruangan meninggalkan hiruk pikuk acara arisan.


"Kamu mau jalan?" Tawar Rian. Dira menggeleng, dia malas kemana-mana.


"Aku mau pulang, Rian. Capek banget badanku, pagi-pagi diajak shopping terus langsung diajak pergi arisan" Keluh Dira sambil merenggangkan ototnya.


"Ya, udah sayang. Aku antar pulang tapi bagaimana dengan tante Dewi."

__ADS_1


"Mama mah gampang. Dia bisa naik taksi atau grab sama teman-temannya." Kilah Dira.


Rian menepuk bangku belakang motornya. Tangannya menggenggam erat jemari Dira. Sementara Dira hanya terdiam melihat tatapan maut Rian.


"Terimakasih sudah menerima lamaranku. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku janji akan menjadi lelaki yang baik buat kamu."


Tuhan


Jika benar Rian memang untukku maka buat hati kami semakin menyatu. Buatlah cinta itu membuka pintu kearahnya.


Meskipun sebenarnya aku belum sepenuhnya membuka hati untuk Rian.


Aku yakin atas izin-Mu kami bisa saling mencintai.


Atas izin-Mu kami bisa bersama dalam ikatan yang halal.


Disebuat sudut ruangan, seorang lelaki duduk memandang langit yang cerah. Tangannya menempel ke celah jendela ruang kerjanya. Tampak guratan sedih di wajahnya seakan ada yang dipikirkan.


Lelaki itu adalah Feri Andreas, Direktur perusahaan PT PUTRA NUSA. Lelaki berusia 29 tahun tersebut masih di landa galau. Mantan mertuanya masih mendesaknya turun ranjang dengan kakak iparnya. Bagaimana bisa dia menerima Mayka yang sudah seperti kakak sendiri.


"Pak, kopinya." Sapa suara manis yang masuk ke ruangannya.


Feri memandang sosok cahntik yang memasuki ruangannya. Langkahnya memutar tubuh wanita yang ada di hadapannya.


"Kamu... Tina kan?"


Wanita itu hanya menunduk tanpa menatap kearah atasannya.

__ADS_1


"Maaf.. pak, permisi." Tina mencoba menghindari Feri. Tangan Feri menahan lengan Tina dengan kasar.


"Saya belum menyuruh kamu keluar kan. Kenapa kamu? berani sama saya!" Tantang Feri.


"Pak... maaf."


Prok .. prok ... Prok


"Kenapa malu sama saya? Seorang Martina yang katanya paling cantik. Anak konglomerat, suka semaunya bahkan hobi membully. Sekarang jadi OB ... hhahaahahahaa ... Dunia benar-benar adil, ya." Feri masih meluapkan apa ada di pikirannya.


"Maaf, pak. Saya tidak uruan dengan anda. Mungkin kita dulu ada urusan di masa lalu. Tapi satu yang anda ingat, Roda bisa berbalik lagi pak Feri. Permisi." Tina meninggalkan ruangan miSik Feri.


"Sombong sekali, Feri itu. Padahal perusahaan ini kepunyaan orangtuanya. Bukan dari usahanya sendiri. Gitu aja belagu!" Umpat Tina.


Feri memanggil sekretarisnya. Melihat kemunculan Tina, Feri rasanya ingin membalaskan apa yang dulu wanita itu lakukan padanya. Belum terhapus dalam ingatannya bagaimana sosoknya yang culun jadi bahan bulanan Tina and geng, apalagi saat wanita itu memanfaatkan perasaannya. Rasa sakit itu belum terhapus sampai saat ini.


"kamu akan merasakan, apa yang aku rasakan? Tunggu saja."


Sang asisten memasuki ruangan atasannya sambil membawa Tina. Tampak keduanya memancarkan siratan kebencian. Feri meminta sekretarisnya meninggalkan mereka berdua di ruangan.


"Kamu mau apa, Feri?"


"Pak, saya ini atasan kamu. Bukan teman kamu."


"Pak Feri yang terhormat. Ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu dengar, ya, Tina. Mulai sekarang kamu mengurusi kebutuhan saya. Dari makanan saya, membuatkan kopi, membersihkan ruangan saya. Paham!"

__ADS_1


__ADS_2