
Sepulang dari lapas, Delia hanya terdiam. Seperti dia kecewa karena papanya tidak bisa menikahkannya. Tatapannya sayu dengan kepala di rebahkan pada bahu Rian. Sementara Yasmin yang duduk di depan samping sopir ikut terhanyut dalam lamunan. Yasmin merasa harus menjelaskan status Delia yang anak di luar nikah. Meskipun mantan suaminya itu sudah mempertanggungjawabkan. Tetap saja Delia statusnya tidak bisa memakai wali nikah. Matanya melirik ke kaca mobil. Tentu saja dia melihat bagaimana Rian menenangkan Delia. Bagaimana lelaki itu berusaha membuat Delia sedikit tenang. Meskipun tak mudah tapi sepertinya Rian tetap berusaha. Yasmin sedikit tenang melihat wajah Delia yang sudah bisa tersenyum.
Kejutan bagi Rian tentang status Delia yang bernasib sama dengan Roger. Namun untuk memastikan hal itu dia sangat segan karena bersifat sensitif. Memang setiap kehidupan manusia penuh dengan misteri. Tidak ada yang minta hidup dalam keluarga apa, punya orang tua seperti apa, ataupun berbagai jalan hidup yang berliku-liku. Satu yang Rian sesali, seandainya waktu itu dia tidak menerima ajak Alex, mungkin akan beda ceritanya. Apakah diamnya Delia karena wanita itu baru tahu soal statusnya? atau karena papanya tidak bisa menikahkan dirinya. Sejak awal Rian mengajaknya menikah, Delia ingin papanya melihat pernikahannya. Meskipun Rian pernah berjanji akan menegosiasikan pada pihak lapas untuk mengizinkan tuan Abdullah Shahab datang. Tapi ternyata jawaban papanya membuatnya terdiam seketika.
Sesampainya di rumah, Delia langsung masuk ke kamarnya. Saat ini mereka masih beda kamar karena belum resmi menikah. Delia satu kamar dengan Yasmin dan Roger. Wanita berusia 25 tahun tersebut tetap tidak mau bersuara.
"Ma," Rian membuka suara pada calon mertuanya.
"Iya,nak."
"Maaf, kalau Rian bertanya soal ini? sebenarnya Rian cukup kaget mendengar penuturan papa Abdul tadi. Kalau Delia nasabnya ibu. Rian tahu artinya Delia itu anak ..."
"Mama tahu arah omongan kamu Rian. Mama paham kamu cukup surprise dengan status Delia. Tapi apa itu membuat kamu ingin menyurutkan niat awal?"
"Maaf, ma. Apapun yang terjadi pada Delia tidak akan membuat aku mundur. Mama tenang saja aku akan tetap menikahi Delia. Meskipun tanpa kehadiran papa Abdul."
"Terimakasih, Rian." Yasmin pun berjalan menuju sofa ruang tamu.
"Delia itu anak kesayangan papanya. Apapun yang diinginkan Delia selalu di kabulkan oleh papanya. Delia tidak pernah membantah apapun yang diperintahkan papanya. Dilarang pacaran dia nurut, bahkan papanya yang menentukan apa, dimana dan bagaimana kehidupannya dia menurut saja.
Mama pernah di koreksi sama teman yang seorang psikolog kalau Delia itu tertekan. Namun dia enggan keluar dari zona nyaman. Dia memang tertekan, tapi terlalu nyaman soal kemewahan. Mama dan papa tidak pernah memberinya ilmu dasar agama. Karena kami juga kurang dalam hal agama. Setiap mama ingin mendidiknya, papa selalu melarang.
Saat Arjuna membatalkan perjodohan mereka, Delia down sekali. Dia kerap pulang pagi, kadang juga tidak pulang. Papa sampai pernah tidak tidur semalaman untuk mencari putri kesayangannya. Padahal mama sudah mewanti-wantinya sejak awal, untuk jangan berlarut dalam kesedihan. Tapi mungkin karena rasa cinta tadi."
"Kapan Juna membatalkan perjodohan?" tanya Rian.
"Lebaran keempat." jawab Yasmin.
__ADS_1
Rian kaget. Karena saat lebaran keempat dia juga membatalkan rencana pernikahannya pada Dira.
"Kenapa bisa sama, ya?" batin Rian.
Di sebuah kamar, Delia duduk hanya termenung. Merasa suatu keinginannya tidak akan terwujud, dia ingin sekali melihat papanya datang di pernikahannya. Namun ternyata semua tak seperti diinginkan. Lelaki itu menolak datang bahkan menolak menikahkannya. Apa mungkin papanya malu mendatangi pernikahan anaknya. Delia benar-benar tidak paham hal itu.
Saat itu juga dia teringat papanya mengatakan nasab ibunya. Delia masih kurang paham dengan arti ucapan tersebut. Di ambilnya handphone yang terletak di nakas. Lalu mencari arti kata anak di nasab ibunya.
nasab anak dengan ayahnya ditetapkan melalui jalan agama, bukan jalan pembuktian biologis. Artinya, anak yang dihasilkan dari perzinaan, nasabnya tidak mengikuti lelaki pelaku perzinaan tersebut.
Sebab, hubungan antara ayah dan ibunya terjadi bukan dengan akad nikah yang sah, meskipun sang lelaki benar-benar ayah biologisnya dan dikandung serta dilahirkan oleh ibu pasangan zinanya.
Jadi, pada anak yang lahir karena orangtuanya berzina, hukum mahram dan waris berlaku menurut penetapan nasab. Nasab anak tidak terhubung dengan ayahnya kecuali jika dia dihasilkan dari hubungan yang sah antara ayah dan ibunya.
BRAAAAKKK!
Delia langsung melepaskan tangisnya. Dia menangis meraung-raung seperti anak kecil. Rian mendengar hal itu langsung berlari ke kamar calon istrinya. Ada rasa kekecewaan yang teramat dalam. Dia malu pada dirinya sendiri. Dia malu pernah menghina Dira karena status papanya yang rada pedofil. Tapi ternyata dirinya lebih hina dari pedofil.
Dia tak tahu harus melakukan apa. Dia juga takut kalau Rian akan membatalkan pernikahan mereka. Merasa tidak berguna untuk hidup, matanya menerawang kosong. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
Tubuhnya masih terasa lemah lalu menyudutkan diri pinggir ranjang. Ada segumpal malu menyerangnya.
"Anak haram! anak haram!"
Bayangan suara-suara menertawakan dirinya terus berkelebat. Bayangannya melihat Dira dan Juna menertawakan dirinya. Eka dan Ayu akan menjauhinya, semua ketakutan itu ini menyerangnya.
"Aaaarrrrg!"
__ADS_1
Teriakan itu semakin kencang dari dalam. Rian mencoba mendobrak pintu tapi masih kesulitan.
"Rian, Delia kenapa?" Arumi muncul mendengar kehebohan tersebut.
"Nggak tahu, ma. sejak pulang dari lapas dia diam saja."
"Delia pernah mengalami depresi saat SMP." sahut Yasmin.
"Astaga! Roger sedang tidur di dalam." sahut Arumi.
"Apaa!" Rian langsung mendobrak pintu kamar Delia.
Terbuka!
"Ya, Allah Delia... jangan!" pekik semua yang di kamar.
*
*
*
Part ini rada tegang ceritanya. Tapi semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat bagi kita semua. Karena setiap part pasti ada terselip pesan moral. Meskipun bukan berbentuk kata-kata nasihat.
Setiap manusia punya rasa optimis, sama kayak othor yang optimis pasti ada yang baca walaupun nggak banyak.
Jujur melihat yang baca makin sedikit saya rada down sih. Tapi nggak papa, sih. Saya sudah berusaha menghibur sesuai kemampuan.
__ADS_1
Apa pesan yang kalian dapatkan di bab ini?