Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 40


__ADS_3

Suasana kediaman keluarga besar Dewi Savitri terlihat ramai karena acara putri keduanya. Di lanjut acara kumpul bersama di teras belakang. Ditengah ada kolam renang kecil, di tambah lilin kecil yang berenang diatas air membuat suasana menjadi romantis.


Bagaikan pasangan yang lagi kasmaran Rian dan Dira tak pernah lepas bak perangko. Lelaki itu tak sungkan memeluk pinggang Dira bahkan menyelipkan kepalanya dibahu calon istrinya. Tangan Rian melingkar di pinggang Dira, jemarinya saling merangkum sesekali bergeliat di sela jari Dira.


Sementara Eka memandang bangga atas kebahagiaan bos dan sahabatnya. Dia berharap setelah Dira dan Rian menikah, hubungan Delia dan Arjuna bisa terus sampai pelaminan. Sejak kecil Eka termasuk dekat dengan Delia ketimbang sama Dira. Apalagi Mamanya Eka dan Papanya Eka masih punya hubungan keluarga meskipun jauh.


Mamanya Eka selalu mewanti-wanti agar selalu baik pada delia ketimbang sama teman lainnya. Apalagi papanya Delia sudah banyak membantu usaha rumah makan padang. Bahkan kakaknya Delia, Rayyan pernah akan di jodohkan dengan dirinya. Saat itu Eka masih ngotot mempertahankan hubungan dengan Wandi. Tapi, Rayyan juga sempat punya pilihan sendiri, hanya saja di tentang oleh Tuan Shahab.


Kembali ke acara lamaran Dira dan Rian. Euforia kebahagiaan pasangan tersebut juga dirasakan pasangan Satria dan Vira, gadis muda usia 19 tahun tersebut sempat merasa kesal. Pasalnya saat Satria melamarnya tak ada pesta kecil untuk dirinya. Beda dengan kakaknya yang diadakan lebih mewah dari dirinya.


"Mama curang! Waktu kita lamaran nggak pake pesta. Tapi cuma kak Dira yang diistimewakan mama. Kak Feri juga nggak seheboh ini." Keluh Vira.


"Sayang, jangan lihat pestanya tapi lihat maknanya dari sebuah lamaran tersebut. Ada seorang pria yang tulus pada kak Dira. Kalaupun lamaran kita dipestakan aku yang malu, aku bukan anak orang kaya. Beda dengan kak Rian."


"Kamu kok ngomong gitu, sih kak Satria. Kamu adalah lelaki yang sudah sabar punya pacar labil kayak aku. Benar kata orang, pasangan itu diberi tantangan yang bertentangan. Kayak kita, kayak aku yang masih manja dan kak Satria yang selalu sabar dengan kelabilanku.


Aku lihat kak Rian orangnya kalem, kak Dira juga kalem. Kalau terlalu sama hubungannya jadi monoton. Tapi semoga mereka tidak begitu, ya kak."


"Hey, jangan terlalu lengket! Pamali!" Seru suara bariton di belakang Vira dan Satria.


"Ih, Kak Juna sirik aja. Kalau pengen cari aja kak Delia. Tadi dia ada di dekat dapur" Sahut Vira melepas tangannya di pinggang Satria.


Juna berjalan berkeliling memandang para tamu. Semua yang datang hanya kerabat dekat Dira dan Rian. Tampak Eka ikut sibuk melayani para tamu yang datang. Menawarkan untuk singgah di prasmanan, tampak juga Delia asyik mengobrol bersama Mayka, kakak iparnya Feri.


Mata mereka sesaat beradu, Juna menunduk malu saat tertangkap mata dengan Delia. Namun, dia sadar jantungnya tak lagi kencang pada Delia.


"Kak, kita ke tempat Dira, yuk. Kasih selamat sama dia." Delia menarik Juna ketempat dimana pasangan tersebut sedang bersama tamu lain. Mereka akhirnya melenggang menuju Dira dan Rian.

__ADS_1


"Hai, Dira selamat, ya. Semoga cepat nikah dan cepat punya anak." Delia muncul di depan Rian dan Dira. Rian mendadak pucat melihat kemunculan Delia.


"Terimakasih." Jawab Dira datar.


"Calon suamimu, kok tegang amat, ya? baru saja lamaran tapi wajahnya seperti orang mau dapat vonis penyakit. Mas jangan gitu mukanya, nanti dikira lamaran terpaksa." Ucap Delia.


"Lihat kami berdua" Delia menyematkan lengannya di siku lengan Juna. "Makin mesra, masa kalian kalah" Tawa Delia.


"Kamu kenapa, sih, Del? Aneh banget hari ini" tanya Juna.


"Nggak apa-apa kak. Aku cuma memberikan energi positif pada Dira. Kakak tahu kalau Dira dan Rian itu tidak pacaran melainkan langsung di lamar. Keren ya?" Delia mendelik wajah Juna ingin tahu reaksi lelaki itu.


"Oh." Jawab Juna datar.


Sakit kan kak rasanya ditikung. Itu yang aku rasakan saat ini. Kalian berdua ternyata ada main di belakangku. Tapi tenang saja, sebentar lagi akan ada balasan buat kalian bertiga. Delia tidak akan tinggal diam kalau ada yang mengusik miliknya.


"Dira!" Panggil Mama Dewi dari kejauhan.


"Iya, ma." Jawab Dira.


"Kesini, nak." Dira mendekati mamanya yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri.


Delia menatap sepatu Dira seakan ada yang ditunggunya. Senyumnya mengembang seakan ada harapan besar pada sepatu itu.


"Satu ... dua ... tiga ..."


Dira berjalan dipinggir kolam tanpa menyadari sepatunya mulai bermasalah.

__ADS_1


Cekrek!


Dira mulai tumbang dengan patahnya sepatu yang dikenakannya.


"Byuuurrrrr!"


Suara hentakan air mulai terdengar heboh. Rian yang mendengar deburan air kolam sedikit bingung.


"Kenapa kamu diam saja!" Pekik Juna melihat reaksi Rian.


"Dira itu tidak bisa berenang!" Tanpa menunggu Juna melepaskan jas nya lalu terjun ke kolam renang.


Delia terdiam sesaat melihat keberanian Juna menyelematkan Dira. Rian pun hanya menyambut Dira dari atas.


"Ya Allah, nak! kenapa bisa seperti ini?" Pekik mama Dewi saat Dira sudah diletakkan lantai.


"Juna terimakasih sudah sigap menyelamatkan Dira."


"Sama-sama, tante." Juna menerima handuk untuk membersihkan diri.


"Ra, bangun! Ra, bangun!" Juna mengguncang dada Dira.


"Maaf, Ra!" Juna langsung menyumbangkan nafasnya untuk menyelamatkan Dira.


Semua yang disana membelalakan matanya dengan keberanian Juna. Delia yang melihat langsung serasa sesak di dadanya. Tak lama kepala seakan pusing dan sedikit tumbang.


BUUUUUGHH!

__ADS_1


__ADS_2