Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 17


__ADS_3

Suasana di ruang rawat mama Dewi terasa lengang. Hanya terdengar decitan suara alunan malam membuat suasana lumayan mencekam. Dira hanya duduk di dekat ranjang sang mama. Tak ada rasa mengantuk yang melanda dirinya. Bacaan online pun menemani waktu luangnya meskipun sudah larut malam.


Sementara Feri dan Vira sudah terlelap di kasur tikar yang tergelar dilantai. Dira menatap nanar kearah kedua saudara kandungnya.


Bisa-bisanya mereka masih nyenyak tidurnya. Padahal seharusnya sebagai anak tertua kak Feri lebih siaga dariku.


Dira mengeluhkan kedua saudaranya masih tertedar pulasan tidur. Feri bahkan mengorok dengan samar. Dira kembali membaca novel onlinenya yang berjudul "Alya: Cinta gadis biasa" tak terasa waktu bergulir. Dira mulai tak bisa mengontrol rasa kantuknya dan akhirnya tertidur.


Pagi ini, tiga bersaudara itu sudah kembali berkumpul di ruang rawat mamanya. Menurut keterangan dokter mama Dewi sudah bisa diajak pulang. Tentu saja mereka semua senang mendengarnya. Tiga bersaudara tersebut sibuk mempersiapkan kepulangan sang mama.


Rian datang untuk menjemput "Calon mertuanya", Dira merasa tidak enak pada Rian yang sudah banyak meluangkan waktunya.


"Kamu tahu, Dira? Sikap Rian itu sudah jadi referensi buat kamu berpikir lagi soal pasangan." Bisik Feri saat melihat sigapnya Rian dalam membantu keluarga Dira.


"Please, kakak jangan bahas soal itu! timenya tidak memungkinkan." Dira malas membahas soal pasangan.


"Lah, tante sudah mau pulang?" Juna datang pagi-pagi menjenguk mama Dewi.


Bagi Juna mama Dewi sudah jadi orangtua kedua selain kedua orangtua. Semenjak mama dan papanya pindah kantor dari Jakarta ke Bandung, Juna lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga Dira.


"Juna, sini, nak." Mama Dewi memanggil Juna layaknya seorang ibu pada anaknya. Juna langsung mendekati lalu duduk disamping Dewi.


"Tante dengar Delia sudah pulang, ya?" Juna hanya mengangguk.


"Terus kalian kapan meresmikan pernikahan. Umur kalian sudah muda lagi, Juna. Tante pengen lihat kamu dan Delia bersanding sebelum ajal menjemput. Dulu tante pengen banget kamu jadi menantu kami, tapi namany perasaan ya, Jun. Nggak bisa dipaksa." Mendengar ucapan Mama Dewi, sekilas Juna melirik Dira.


Dira yang mendengar ucapan mamanya hanya bisa pura-pura cuek. Tak lama Dira mengajak Rian keluar dari ruang mamanya.


"Terimakasih, tante. Semoga doa tante diijabah Allah."


Semoga doa tante terkabul untuk jadiin aku menantu keluarga tante.


POV Dira

__ADS_1


"Jadi bagaimana, Dira. Apa kamu sudah mempertimbang aku sebagai calon suamimu. Apakah aku masuk dalam kandidat yang diinginkan mama kamu?" Rian membuka pembicaraan saat kami duduk di kursi depan mobil milik Rian.


"Rian, apakah yang kamu lakukan sama keluargaku, Ikhlas? atau memang ada udang dibalik batu." Jawabku.


Kenapa aku bertanya seperti itu? Karena aku tidak pria pencari pamrih. Jika memang membantu hanya kemanusiaan aku ikhlas. Tapi jika ada pamrih, aku juga tidak mau menerimanya.


Demi mama, perempuan yang bagiku masih ada. Okelah, papaku masih ada, tapi kami papa sudah mati. Setelah yang dia lakukan dulu pada mamaku dan kami anak-anaknya.


Aku memandang keluar ketika mendengar ucapan Rian yang menagih jawaban padaku. Padahal waktu itu, kami sudah sepakat berteman saja dulu. Tapi barusan dia kembali menagih jawaban. Kutundukkan kepala menghempas nafas yang terasa berat. Kualihkan pandangan kearah Rian, lelaki itu tersenyum kecil padaku, manis sekali.


"Ra .." Aku kaget saat Rian tiba-tiba menarik tanganku hingga dekat bahunya.


"Ri..an .. Apa maksudmu?" Kulihat dia semakin berani.


Sedekat ini! Iya sedekat ini wajahnya tinggal berjarak satu centi.


Plaaaaaakk!


"Dira!" Aku mendengar suaranya meninggi. Ya Meninggi seperti tidak terima tamparanku.


Aku pergi meninggalkan dari mobil. Rian tak mencoba mengejarku, tapi kalau pun dia mengejarku, sungguh aku tak peduli lagi.


Ekspetasiku tentang Rian punah seketika.


"Dira."


Aku mendengar suara kak Juna seperti memanggilku. Ah, kenapa dia selalu muncul disaat seperti ini.


Kulihat mama sudah duduk di kursi roda. Segera mungkin kuhampiri mereka, untung aku tidak menangis setelah kejadian Rian tadi. Kalau tidak, mereka pasti bertanya-tanya.


"Sayang, kamu dari mana saja?" Kutatap wajah mama yang tersenyum cantik.


"Aku tadi ke toilet,ma. Yuk, sudah mau pulang, kan. Kak Feri siapkan mobilnya."

__ADS_1


"Loh, bukannya pakai mobil Rian? Riannya mana?" Tanya kak Feri.


"Rian sudah pulang, kak. Tadi ada telepon dari kantornya. Maaf dia nggak sempat pamit pada kalian karena terburu-buru."


Sumpah! Aku nggak niat berbohong pada mereka. Tapi kalau ingat kekurangajaran Rian rasanya sakit banget. Ku tatapan mama dengan rasa sesak.


Maafkan Dira, ma. Kayaknya Rian harus di coret dari kandidat.


Rumah bergaya eropa classic yang terlihat kokoh dan mewah. Tampak aura positif yang tersirat dari siapa pun yang terlihat. Terletak di kawasan elite kuningan, itu adalah rumah kediaman keluarga Dewi Savitri. Suasana rumah terlihat cerah seakan menyapa sang pemilik. Bahkan langit menyambut kepulangannya dengan membuat cuaca lumayan cerah.


Aku ikut menemani mama ke kamar bersama Vira. Tampak sikap Vira enggan menyapaku saat dikamar mama. Mungkinkah dia tersinggung? Tapi emang faktanya begitu. Dialah tersangka utama yang membuat mama memaksaku menikah.


"Dira..." Mama memanggilku.


"Iya, ma." Aku langsung duduk di dekat ranjang mama.


"Kamu tidur disini, ya. Mama pengen ngobrol banyak sama kamu." Pinta mama langsung ku iyakan.


Malam ini aku tidur dikamar mama. Jujur, aku takut mama membahas soal pasangan. Putaran tentang ungkapan perasaan Rian datang entah kenapa aku selalu berusaha menghindar jika bicara soal pasangan.


"Dira"


"Iya, ma."


"Lupakan Juna. Mama tahu kamu suka sama Juna sejak kecil. Kamu ingatkan setiap ada masalah atau ada yang ganggu kamu selalu cari dia. Padahal kamu punya kakak lelaki yang bisa kamu andalkan. Ada Feri yang siap melindungi kamu. Sebenarnya mama juga suka sama Juna, tapi mama Juna bilang mereka terikat hutang budi yang susah dilepas."


Aku hanya menunduk dalam. Kukira selama ini mama hanya peduli soal Kak Feri dan Vira yang fisiknya lebih sempurna daripada aku. Otak Vira lebih pintar dari aku. Tapi ternyata mama diam-diam memperhatikanku.


"Ma, aku nggak punya perasaan apapun sama kak Juna. Dia sudah punya Delia." Jawabku.


"Bagus, mending kamu fokus ke Rian. Mama lebih setuju kamu sama Rian." Jawab Mama tegas.


Aku tidak bisa bilang iya atau tidak. Tapi bisakah ada solusi atas permasalahan ini? aku lelah di rongrong soal jodoh terus menerus.

__ADS_1


Rasanya ingin teriak atau mungkin aku harus gila dulu biar mama dan yang lain lihat perasaanku. Tadinya aku mulai berpikir tentang pernikahan. Berpikir membuka hati buat Rian, namun nyatanya Rianlah yang membuat aku berputar balik.


Karierku dikantor juga masih seumur jagung. Jadi aku lebih memilih memperjuangkan karierku dahulu.


__ADS_2