
"Dira"
Terdengar suara bariton memanggil dirinya. Suara itu masuk keruang tengah dimana letak kamar Mama Dewi.
"Ri...an!" Dira menghambur ke tubuh Rian. Isakan tangis kecil pecah membasahi wajahnya.
"Kamu tenang, aku tadi pinjam mobil papaku. Sekarang kita bawa mama kamu ke dalam mobil." Rian menggotong mama Dewi bertiga bersama bibi masuk ke mobil.
Tadinya Dira memang sempat menghubungi Arjuna. Namun, saat dia membaca instastory nya Delia yang isinya "Bersama calon suami". Dira yakin Juna tidak akan datang, dia pun menyesali tindakannya itu. Dira pun beralih menghubungi Rian meskipun sebenarnya dia enggan minta tolong sama Rian. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya pertolongan Rian yang malah datang.
Mobil berhenti di rumah sakit Kasih Bunda. Dira keluarga bersama bibi mengangkat tubuh sang mama. Tak lama petugas rumah sakit pun datang memindahkan tubuh mama Dewi ke ranjang roda dan masuk ke ruang pemeriksaan.
Dira hanya terdiam selama duduk di kursi tunggu. Tak ada ekpresi apapun dari wajahnya. Sementara Rian yang duduk disampingnya masih berusaha menenangkan gadis di sampingnya.
"Tadi mama minta aku temenin tidur dikamarnya. Tapi aku abaikan karena aku lebih milih di kamarku sendiri. Seandainya saja aku dengerin mama ... mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini."
Rian mengurutkan bahu Dira, masih berusaha menenangkan tanpa sepatah kata pun. Tangannya tak berhenti mengurutkan punggung Dira. Tampak Dokter baru keluar sehabis memeriksa Mama Dewi.
"Dok, Bagaimana keadaan mama saya? Mama saya kenapa, dok?" Cerca Dira ketika melihat Dokter baru keluar dari pemeriksaan.
"Ibu anda tidak apa-apa. Dia hanya kelelahan saja. Jangan buat beliau banyak pikiran." Jelas Dokter sambil menepuk pundak Dira.
"Kamu sudah dengar, kan kata dokter? Mama kamu cuma kelelahan saja." Ucap Rian.
__ADS_1
Setelah sekian waktu, mama Dewi akhirnya selesai ditangani dokter. Selama satu jam lebih mereka menunggu kabar tentang kondisi mamanya. Hingga dokter keluar mengumumkan tidak ada yang serius dengan kondisi mama Dewi.
Pemikiran Dira yang masih diliputi rasa sesal karena mengabaikan keinginan mamanya tadi. Apalagi sampai sekarang kakak dan adiknya tak kunjung sampai.
Saat ini mereka sudah berada di ruang rawat inap mama Dewi. Dira memandang wajah mamanya yang terlihat pucat, namun sepucat apapun dimatanya mama Dewi masih terlihat cantik. Dira juga merasa lega karena tak ada yang serius pada mamanya.
Dua orang suster masuk memeriksa keadaan mama Dewi. Mereka memasang kantong infus untuk mama Dewi. Tangan Dira terus berselancar demi mengabari kakak dan adiknya. Ponsel Feri tidak aktif sementara Vira aktif namun tak diangkat. Dira membanting gawai karena terlalu kesal pada keduanya.
"Sabar, Dira." Lagi-lagi Rian masih berusaha menenangkan.
"Aku kesal sama Vira, mentang-mentang lagi jalan sama Satria masa dia nggak ngangkat teleponku. Padahal ini darurat." Amuk Dira.
"Kak Feri juga! Mentang-mentang dia silaturahmi sama mantan mertuanya. Tapi ya, diangkat kek teleponnya. Untung mama nggak papa, coba kalau parah! nggak akan aku maafin mereka. Si Vira belum nikah saja sudah begini, apalagi kalau sudah menikah. Ini yang buat aku makin ragu ninggalin mama hanya untuk sebuah pernikahan." Dira terus mencerocos tanpa filter.
"Dira"
"Kak Dira!"
Dua suara bersahutan secara serempak. Keduanya masuk ke ruang rawat inap guna melihat keadaan sang mama. Dira menatap keduanya dengan tajam seakan meluapkan emosi yang sedari tadi terpendam. Rian yang melihat gelagat ekspresi Dira mencoba memberi sinyal pada wanita disampingnya.
"Ini rumah sakit jangan bikin gaduh. Aku tahu kamu kesal sama mereka tapi ingat mama kamu butuh ketenangan. Jadi tolong simpan dulu unek uneknya."
Rian lelaki ini sangat baik, bahkan terlihat sabar padahal aku sudah menolaknya. Ah, mama ini berat sekali, ada lelaki yang perhatian padaku dan keluarga kita. Tapi kenapa aku nggak bisa merasakan apapun padanya. Mungkin lambat laun akan ada perasaan ini.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Kak?" Tanya Vira.
"Iya, Dira mama kenapa sampai bisa masuk ke rumah sakit?" Tanya Feri.
"Dira jawab!" suara Feri meninggi.
"Mama hanya kecapekan, kakak nggak usah bicara tinggi seperti itu. Kenapa kalian tidak ada yang bisa dihubungi? Apa mereka lebih penting dari mama kita? kak Feri sejak berkunjung ke rumah orangtua kak Mey, sering pulang larut. Ngapain? Mau baik sama mereka. Lima tahun sejak kak Mey meninggal mereka tidak pernah silaturahmi sama keluarga kita. Kakak terus yang menyambangi mereka.
Dan kamu Vira, teleponmu aktif tapi kenapa tidak diangkat? Jangan mentang-mentang kamu sudah dilamar bisa seenak saja. Kamu masih tinggal dengan keluarga." Dira akhirnya melepaskan apa yang sedari tadi di pendamnya.
"Kenapa kakak bawa-bawa soal lamaranku? Oh, aku tahu sekarang, kakak bilang begitu karena mama suruh kakak nikah. Kakak iri dengan kehidupanku, karena kakak sampai sekarang belum ada pasangan.
Kakak sampai sekarang masih jomblo salah siapa? Saya?
Kakak sampai sekarang belum menikah salah siapa? Saya?
Kakak lupa yang buat mama beban pikiran itu bukan aku, tapi kakak!
Kakak yang buat mama seperti sekarang ini!"
Dira hendak melayangkan tangannya ke wajah Vira. Tapi Rian langsung menahannya.
"Ini rumah sakit! Jangan bikin gaduh! kasihan mama kamu." Rian mencoba menahan tangan dan tubuh Dira.
__ADS_1
"Astagfirullah! Astagfirullah!" Dira mengurut dadanya.