Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 61


__ADS_3

"Apa kau mencintaiku?" Tanya Rian saat di sambangi ke kantor Dira.


Dira yang sedari tadi duduk di depan laptop. Mendadak menghentikan aktivitasnya. Lagi- lagi Rian mempertanyakan perasaannya. Bukankah dia sudah menerima lamaran lelaki itu, apalagi yang masih di ragukan Rian.


"Rian.."


"Ra, aku cuma memastikan semua ini untuk kelangsungan hubungan kita. Aku merasa kamu menerimaku karena sesuatu hal yang lain. Bukan karena benar-benar mencintaiku." Sahut Rian.


"Rian, kenapa kamu sepertinya memancingku untuk bicara yang tidak sesuai kata hati ku. Aku cinta kamu, selama ini aku tidak pernah menuntut macam-macam sama kamu. selama ini aku juga tidak pernah menanyakan perasaanmu, masa lalumu, atau hal lain yang menyangkut dirimu. Karena apa? karena aku percaya sama kamu, Rian."


Ini bukan pertanyaan pertama yang dibahas Rian. Melainkan kesekian kalinya Rian mempertanyakan perasaan Dira. Berulang kali pula Dira menjelaskan pada Rian kalau dia sudah menerima Rian apa adanya. Meskipun di lubuk hatinya ada sosok lain yang sedang dia enyahkan dari pikirannya.


Awalnya Dira berharap seiring dengan waktu dia bisa melupakan Juna. Meskipun diantara mereka memang tidak pernah ada hubungan apapun. Tapi entah kenapa lelaki itu seakan tak ingin lekang dari ingatannya. Belum lagi permintaan opa-nya yang bikin Dira sakit kepala. Dira menatap ruangan yang dulunya bekas ruang kerja Arjuna.


"Ra.."


Suara Rian menghentakkan pikirannya. Terbayang sekelebat kenangan bersama Arjuna selama bekerja di perusahaan PUTRA NUSA. Meskipun dia enggan mengingatnya.


"Iya, kak."


Rian terhenyak saat Dira memanggil dengan sebutan 'kak'. Dia paham itu bukan panggilan Dira kepadanya. Apakah Dira teringat sang kakak yaitu Feri? Padahal mereka masih satu kantor.

__ADS_1


"Ra .."


Dira lagi-lagi terkejut. Rian hanya menghela nafas berat. Lelaki itu duduk tak jauh dari posisi Dira. memastikan apa yang sedari tadi dia rasakan.


"Ini ruangan bekas Arjuna kan? kenapa kamu tidak minta ruangan lain saja?"


"Kenapa kamu bahas soal itu sih?" Dira tidak suka Rian mengungkit soal Arjuna.


"Ya karena kamu belum move on dari Juna, Dira!"


"Kenapa kamu nuduh aku kayak gitu, Rian. Ucapanmu seakan meragukan aku. Ucapanmu seakan ..."


"Emang! Sejak Arjuna masuk dalam hubungan kita. Aku merasa kamu menyambutnya dengan senang. Tidakkah kamu memikirkan perasaanku selama ini. Aku serius sama kamu, Dira! Aku cinta sama kamu."


"Jadi kamu maunya apa Rian? aku capek! kenapa akhir-akhir ini kamu seperti meragukan aku. Kamu sepertinya hanya mencari kesalahanku saja, please kita bukan anak SMA lagi, kamu mempermasalahkan hal ini hanya kecemburuanmu pada Juna."


Dira meninggalkan Rian dari ruangan kantornya. Kakinya melangkah ke rooftop kantor untuk menenangkan pikirannya. Kenapa sejak pulang dari vila sikap Rian menjadi posesif. Dia selalu ingin tahu apa saja yang dilakukan Dira.


Suasana langit yang mulai gelap, menandakan akan datang hujan. Termasuk suasana hati Dira yang saat ini susah ditebak. Dia ingin hubungannya dengan Rian aman-aman saja tanpa hambatan. Tapi semuanya tak semua hal bisa di wujudkan dengan mudah.


"Pelakor!" Pekik Eka yang melabrak beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Eka mendatangi kantornya dengan mengamuk di ruangan Dira. Sahabatnya itu, menuduh Dira yang membuat Delia putus dengan Juna.


"Apa maksudmu, Eka!"


"Kamu tahu Juna dan Delia saling mencintai. Tapi kamu masih berusaha masuk ke kehidupan mereka. Mau kamu apa, Ra? Tidakkah kamu sudah memiliki Rian."


"Dengar, ya. Aku tidak pernah mengganggu hubungan mereka. Kalaupun mereka putus tidak ada urusannya sama aku."


"Oh ya dengan mengaku-ngaku kalau kak Juna mengejarmu, begitu. Jangan maruk Dira! gara-gara kamu! Delia jatuh sakit, bukan hanya fisik nya tapi juga hatinya. Kamu sudah dianggap sahabat tapi kamu menikungnya. Aku tidak menyangka kamu seperti itu, Dira."


"Belain saja terus! Dari dulu kamu selalu mendukung apa yang dilakukan Delia, kan. Dari dulu bahkan Delia yang jatuh cinta aku yang berkorban. Kamu tidak lupa kan, ka. Kado buat kak Juna, surat buat kak Juna, itu siapa yang bikin, aku! bukan Delia. Dia cuma terima beres!"


Eka melayangkan tangannya ke wajah Dira. Namun Dira tidak merasa takut dengan amukan Eka. Dia merasa apa yang di tuduhkan Eka tidak berdasar. Selama ini dia tidak pernah mengejar Arjuna. Malah sebaliknya Arjuna yang terus mendekati dirinya.


Plaaaaaak!


Tangan Eka telah mendarat di wajah Dira. Tak hanya satu tamparan melainkan dua tamparan melayang di wajah manisnya.


"Delia itu sahabat kita, Dira. Dimana rasa empati kamu!"


"Empati katamu! Apakah menjadi kacung kalian disuruh ini disuruh itu apakah maksud dalam empati. Berapa tahun kalian membantu Delia membohongi kak Juna. Kalian tahu kak Juna pusing karena Delia tidak ada kabar dalam satu tahun. Tapi ternyata kalian masih berkomunikasi dengan Delia dalam satu tahun itu. Kamu dan juga Ayu membohongi kak Juna selama itu."

__ADS_1


"Ra,"


"Apa! kamu pikir saya tidak tahu apa yang kalian lakukan dibelakangku. Gara- gara kebohongan kalian kak Juna mendekatiku, karena apa? karena dia merasa Delia sudah tidak peduli lagi sama dia."


__ADS_2