
Arjuna terbangun sesaat tadi tertidur di kamarnya. Seketika dia meregangkan otot-ototnya setelah dia sempat ketiduran.
Adzan ashar berkumandang. Juna mengambil handuk untuk membersihkan diri. Tidak mungkin dia akan pergi ke tempat atasannya dalam keadaan kucel. Sambil lewat Juna membenarkan gorden di kamarnya. Tampak rumah penduduk dari kaca gordennya. Sejak pindah ke daerah Bogor, Juna harus membiasakan hawa dingin yang menyergap tubuhnya. Masih dalam suasana musim hujan. Tapi memang Bogor terkenal dalam kota hujan.
Setelah membersihkan diri Juna pun melaksanakan shalat ashar. Tubuhnya terlihat gagah saat mengenakan baju koko putih. Kakinya berdiri dihadapan sajadah panjang.
Sholat ashar pun didirikan. Bibir Juna terus melantunkan ayat-ayat pengiring shalat. Hati dan pikirannya terfokus pada baktinya untuk Allah. Tak lama dia sudah mengucapkan salam menandakan sholatnya selesai.
Juna duduk bersilang kaki, tangannya pun menengadah keatas. Memohon ampunan pada yang kuasa, memohon restu agar semua langkah-langkahnya masih berpijak kearah-Nya.
Juna dulunya memang rajin sholat, tapi entah kenapa sejak tinggal sama Jamal, dia semakin aktif dibidang agama. Bukan mau jadi ustad, melainkan sebagai pengangan hidup. Agar tidak tergelincir di jalan yang salah.
Flashback on
"Mas Juna sedang apa?" Tanya Jamal.
"Sedang lihat calon istriku." Juna memamerkan photo Dira pada Jamal.
"Nggak cantik, mas. Tapi kayaknya dia anaknya sederhana gitu, ya. Bukan tipe pemolek. Benar nggak sih tebakanku."
"Kok pas banget, ya, mal? kamu cocok, nih jadi peramal."
"Mas, itu yang aku lihat sama dalam diri Tina. Nggak cantik tapi enak dilihat, dia nggak terlalu suka dandan, nggak terlihat menor jadinya."
"Mal, kamu lihat Tina yang sekarang. Tapi aku dulu lihat Tina yang modis, punya asisten tiga orang yang selalu ngintil kemanapun dia pergi. Tina yang kamu lihat saat ini karena perubahan keadaannya. Dia dulu anak konglomerat, terkenal suka semena-mena."
Jamal tersenyum mendengar cerita tentang Tina dari mulut Juna.
Aku tahu, mas. Tina sendiri yang cerita, semuanya dia cerita, termasuk tentang seorang lelaki yang dulu mengejarnya."
Juna sedikit terkejut, pasalnya Tina tidak menutupi masa lalunya pada orang lain.
"Jadi dia cerita apa, tentang cowok yang dulu mengejarnya."
"Dia cerita kalau cowok itu pernah menasihatinya tentang kekasihnya Tina sekaligus mantan suaminya. Tapi biasalah, namanya lagi mabuk asmara, susah dikasih tahu.
__ADS_1
Tina pernah bilang kalau papanya lelaki itu mendatanginya, meminta menjauhi anaknya. Papanya malah menawarkan Tina menjadi istri mudanya."
Om Andre pernah mendekati Tina. Astaga, pantas Feri sebenci itu sama Tina.
"Mas Juna, apa sih yang buat mas Juna suka sama dia? Padahal non Delia lebih cantik dari dia."
"Cantik itu relevan, mal. Percuma cantik kalau hatinya enggak, percuma kaya tapi nggak punya attitude. Sebenarnya masalah bukan aku sama dia, tapi sama pak Shabab.
Oke aku tahu dia orang yang berjasa buat orangtuaku, tapi apakah harus pamrih?"
"Namanya Dira, dia hadir saat aku merasa down saat Delia tak ada kabar selama satu tahun lebih. Jangankan Delia, orangtuanya saja ikut bungkam saat aku menanyakan keadaan anaknya. Mereka bilang kalau Delia juga tidak pernah memberi kabar. Tapi aku melihat mereka santai tidak terlihat down gitu. Kebanyakan orang kan kalau anaknya nggak ada kabar, sedih, panik, dan pastinya mengerahkan anak buahnya untuk mencari putrinya.
Tapi Dira datang sebagai penguat aku. Bukan dia yang menawarkan diri, tapi sosoknya membuat aku kembali bersemangat menjalani hari. Juteknya, cueknya, membuat aku ingin mengenalnya lebih dekat. Meskipun kami memang sudah saling mengenal sejak kecil."
"Mas Juna harus lebih dekat dengan Allah, biar hatinya tenang. Obat kegaulauan manusia cuma satu, mas. Yaitu sholat. Yakin sama saya kalau sudah sholat hati mas Juna pasti adem."
Flashback off
Juna tersenyum mengingat percakapannya dengan Jamal. Ternyata benar yang katakan temannya itu, semua permasalahan yang ada di dalam kehidupan ini adalah sholat dan doa. Hal itu membuat Juna yang awalnya emosian, sekarang sudah bisa menahan diri.
Arjuna menoleh kearah pemilik suara. Wajahnya tersenyum pada sang penyapa. Tubuh cantik itu langsung melabuhkan tubuhnya dalam dekapan kakaknya. Terdengar isakan kecil dibalik dada milik Arjuna.
"Kakak kemana saja? kakak tahu sejak pergi dari rumah mama selalu murung dan melamun. Dia sering duduk di teras depan seakan berharap kakak pulang."
"Ayu, kamu kapan sampai? Kok aku nggak tahu kamu datang?"
Ayu melerai tubuhnya dari dekapan kakak semata wayangnya. Mereka pun duduk di sebuah gazebo gantung di loteng atas.
"Kakak tahu, dari semalam mama nanya kapan aku pulang. Dia ternyata mau mengabari kak Juna sudah pulang. Kakak pulang kesini, kan? Nggak kabur lagi, kan"
"Aku bukan kabur, yu. Tapi aku membuktikan pada mama papa, aku bisa mandiri tanpa harus pake embel tuan Shahab. Ya walaupun aku saat ini masih bawahan, cuma jadi penjaga gudang pabrik gula. Paling tidak ada usaha dari nol."
"Ini baru kakakku, eh tapi bagaimana kabarnya Dira? Aku beberapa hari yang lalu ketemu sama dia. Mukanya seperti kurang bahagia gitu."
Juna hanya menundukkan kepalanya. Dia sendiri tak tahu keadaan gadis pujaannya itu. Dira ternyata memblokir nomornya, diblokir dari pertemanan FB maupun Instagram. Sepertinya Dira benar-benar marah padanya karena kejadian di vila itu. Juna menghela nafas panjang, tatapannya menerawang ke langit-langit.
__ADS_1
"Juna, sebelum kita berangkat ke rumah pak Burhan. Papa dan mama mau bicara penting sama kamu."
Juna mengikuti kedua orangtuanya berjalan menuju ruang teras balkon. Disana mereka bisa merasakan angin segar sore. Ayu memandang kedua orangtuanya yang sudah berwajah serius. Tio sebagai suaminya pun ikut heran dengan ekpresi kedua mertuanya.
"Kamu senang bekerja disana?"
"Alhamdulillah, senang, pa. Aku merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan."
"Bagus, papa suka jiwa juangmu."
"Apakah kamu sudah menyelesaikan urusanmu dengan Delia?"
"Sudah, pa. Delia bilang dia akan bicara sama pak shahab."
"Kenapa harus Delia yang bicara? Harusnya kamu yang menemui tuan Shahab. Bukan Delia. Lelaki sejati itu harus bisa menyelesaikan urusannya dengan gentle. Sebelum kamu mendatangi pak Burhan lebih baik kamu selesaikan dengan tuan Shahab. Papa tidak mau nanti saat kamu menerima cucunya pak Burhan, tuan Shahab malah menghancurkan bisnis papa."
"Iya, pa. Saya akan selesaikan urusan dengan tuan Shahab. Saya akan menemui Delia dan keluarganya. Tapi, setelah selesai bolehkah Juna menyelesaikan urusan Juna dengan Dira.
Juna hanya ingin memastikan apakah Dira mencintaiku atau mencintai Rian. Jujur merasa Dira tidak bahagia bersama Rian."
"Sejujurnya, mama maupun papa lebih suka kamu tetap dengan Delia. Kita sudah tahu bibit bebet bobotnya keluarga Shabab. Meskipun Dira juga gadis yang baik. Tapi melihat masa lalu papanya mama jadi ragu. Oke, mama tahu perasaanmu tetap terarah pada Dira.
Mama juga nggak bisa maksa kamu lagi. Mengingat usiamu bukan lagi remaja ataupun anak kuliahan. Kamu sudah 28 tahun, Juna. Itu artinya kamu bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk."
"Papa tanya sekali lagi? kamu sudah pikirkan matang-matang untuk melepas Delia."
Juna mengangguk mantap. Sepertinya memang harus di tuntaskan sekarang. Biar tidak menjadi masalah kedepannya. Hanya saja Juna menilai papanya masih takut dengan reaksi tuan Shahab. Entahlah semoga hanya dugaan dia saja.
"Juna sudah mantap, pa. Juna tahu kalau ini akan membuat perekonomian keluarga kita akan surut. Juna akan bekerja lebih giat untuk mengangkat derajat papa dan mama.
Papa dan mama percaya sama Juna, kalau ada masanya kita akan mereguk bahagia."
akankah Juna menemui tuan Shahab untuk melepas status perjodohan dengan Delia?.
Ayo dong kasih semangat buat Juna!
__ADS_1