
Setelah akad nikah, Dira dan Juna di beri waktu istirahat. Apalagi setelah merasakan lelahnya menjamu para tamu. Keduanya diminta untuk bersiap-siap dengan acara walimah nanti sehabis isya.
"Sayang," Juna mendekati istrinya.
Dira sedikit gelagapan saat tubuh suaminya sudah berjarak dekat. Masih menggunakan pakaian pengantin keduanya duduk di sudut ranjang pengantin mereka.
"Sayang," Juna kembali mengulangi panggilannya.
Tangan Juna menggenggam erat. Dira hanya menunduk kecil sambil mengendalikan degup jantung yang tak terkendali. Tangan Juna menelisik telinga Dira.
"Mas, aku..." Dira berdiri menjauh dari jangkauan suaminya.
"Aku boleh nanya?"
"Tanya apa, mas..."
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?"
Dira mengerutkan dahinya. Kenapa suaminya bertanya seperti itu. Kalau dia tidak bahagia mungkin dia sudah menolak lamaran Juna.
"Mas, aku bahagia tentu sangat bahagia. Bagaimana tidak? aku pikir kamu akan tetap bersama Delia. Karena selama ini kamu terobsesi dengan Delia." ucap Dira sambil menundukkan kepalanya.
Juna menaikan dagu istrinya. Kini mereka tak ada jarak lagi. Dira masih sedikit grogi saat lelaki yang berstatus suaminya mendekati wajahnya.
"Kak Dira, aku bisa minta tisu?" Vira muncul saat Juna hendak beradu bibir istrinya. Keduanya sempat kaget lalu memisahkan diri.
"Aku mau bersih-bersih dulu, sayang." Juna mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi.
"Iya, mas." Dira melepaskan sunting kepalanya. Melihat Vira sedang mencari tisu. Dira pun meminta Vira membantunya.
"Harusnya jangan pedulikan aku. Kalian teruskan saja anggap aku nggak kelihatan." oceh Vira sambil membantu melepaskan sunting kepala kakaknya.
"Hmmm..awas aja kalau kamu nikah nanti." jawab Dira.
"Hmmm..aku yakin kalau aku nikah nanti nggak akan Kakak kepikiran buat ganggu aku. Apalagi kalau sudah punya anak." balas Vira.
"Kamu tuh, ya. kalau diomongin ada aja jawabannya. Pinter ngeles." Dira mencubit pipi adiknya.
Dalam keramaian para tamu, Ical cs pun ikut meramaikan pesta tersebut. Pak Dono yang sudah pensiun pun datang atas undangan pak Burhan. Dia cukup kaget kalau ternyata Juna adalah anaknya Johan. Teman satu kerjanya dulu. Dia juga tahu kalau Johan diangkat anak oleh pak Burhan. Namun sayang Johan keluar dari pekerjaan dan bekerja di pabrik teh saingan bos mereka.
"Jadi Juna anak si pengkhianat itu?" ucap pak Dono dengan sinis.
"Pak Dono tahu dengan orangtuanya mas Juna?" tanya Ical.
__ADS_1
"Siapa yang tidak tahu dengan Johan. Anak emasnya pak Burhan, meskipun dia kerja di bagian gudang, tapi dia selalu dapat limpahan materi dan kasih sayang dari bos kita." Pak Dono kembali menceritakan masa 30 tahun yang lalu.
"Tapi keren Juna, akadnya saja sudah kayak resepsi." sahut Ical.
"Namanya juga pesta horang kaya," kata Ade pada Ical. Ical hanya tersenyum kecil. Memang benar kalau orang kaya bisa buat apa saja. Pak Dono masih memandang Johan dan istrinya dengan sinis. Tampak Jamal pun ikut sibuk membantu panitia lainnya.
"Itu siapa?" tanya pak Dono melihat beberapa orang berjalan di pandu pak Burhan.
"Itu gubernur kami, pak." salah satu tamu yang duduk di dekat mereka.
"Wah, keren. Akad saja berasa resepsi. Gimana resepsinya." celetuk Ade.
Tamu-tamu pun berdatangan silih berganti. Sebagian tamu sudah pada pulang. Suasana hari mulai sejuk setelah sehari membuat warga matang dengan teriknya hari.
Sudah berganti baju dengan dress motif bunga. Sementara Arjuna tampan dengan kemeja polos berwarna abu muda. Keduanya pun berbaur bersama warga.
"Wah, ini pengantin kok malah keluyuran." kata mama Dewi pada Dira.
"Orang masih rame, mah. Aku pengen berbaur sama mereka." jawab Dira.
"Mas Juna juga sudah ngopi bareng sama teman-temannya." tambah Dira.
"Ciyeeee udah mas-mas ceritanya?" goda Vira.
"Iya, saking sahnya cium .." Dira langsung buru-buru menutup mulut adiknya.
"Kamu ih, kalau ngomong nggak pake filter. Nanti kalau dengar orang kan malu. Itu masalah pribadi, tau!"
"Hahahaha... kan sudah sah. Ngapain malu!" seloroh Vira.
"Susah ngomong sama kamu. Kamu belum di posisi kakak, makanya gampang bilang begitu." kata Dira.
Vira paham maksud kakaknya. Ada sedikit kelegaan kalau tidak jadi menikah dengan Satria. Dia belum siap nikah muda. Masih banyak yang harus di kejarnya.
"Sayang," panggil Juna.
"Iya, mas." Dira berjalan mendekati suaminya.
"Nanti malam ada tamu jauh yang akan datang."
"Tamu? apakah kak Juna mengundang teman-teman di kantor mama?" tanya Dira.
"Bukan, mereka yang selama ini mendukung perjalanan cinta kita. Mereka yang selama ini selalu membaca kisah kita yang ditulis kak Melisa."
__ADS_1
"Siapa?"
"Kalau tidak salah jumlahnya sekitar 8 orang sih. tapi nggak tahu kalau lebih banyak dari itu."Jelas Juna.
"Oh, berarti kita harus menyediakan tempat buat mereka. Kan nggak mungkin kalau mereka nginap disini, mas." kata Dira sambil memainkan gawainya.
"Kata mbak Melisa rombongan akan diketuai sama mbak asma, tahu nggak mbak asma itu yang paling rajin baca cerita kita dari pertama mbak Mel nulis.
Katanya ada bunda Salma sudah di Bengkulu bawa suami dan anaknya. Sementara yang lain tidak bawa keluarga. Biar mbak Mel yang atur semuanya. Kan dia yang ajak mereka." kata Juna.
Sementara itu di depan kamar pengantin Dira, Andre berdiri mematung. Ada rasa segan menemui anak tengahnya. Tangannya hendak mengetuk pintu namun tertahan. Dari arah lain sebuah tangan menarik dirinya dengan kasar hingga menjauh dari keramaian.
"Mau apa kamu kesini, hah!" ucap Feri sambil melototi papa kandungnya.
"Feri, papa ..."
"Kamu bukan papa saya! seorang papa harusnya menjadi pengayom bagi anak-anaknya. Tapi kamu tidak termasuk dalam hal itu. Gara-gara kamu perusahaan opa Wirya hampir bangkrut. Untung saja aku cepat datang kalau tidak, Vira sudah kehilangan masa depan di tangan papa kandungnya. Dasar manusia tidak tahu diri! sekarang masih bisa kamu menampakkan diri setelah yang kamu lakukan pada kami!" amuk.
Andre hanya terdiam. Di usianya tidak muda lagi hanya pertobatan yang ingin dia lakukan. Termasuk minta maaf pada mantan istrinya dan ketiga anaknya.
"Saya memang salah besar pada kalian. Saya yang sudah membuat kebencian di hati kalian. Saya sadar kesalahan saya fatal dan tidak bisa dimaafkan. Tapi di sisa umur saya, izinkan menebus semua kesalahan yang pernah dilakukan."
"Satu yang harus anda lakukan! pergi dari sini! jangan anggap kami keluarga. Bagi saya papa saya sudah mati!" Feri mendorong Andre sampai terjembab ke lantai.
"Feri!"
PLAAAAAKK
"Mama," Feri menahan perih tamparan keras yang melayang ke pipinya.
"Mama tidak pernah mengajarkan kamu durhaka pada orangtua. Mama juga tidak pernah mengajarkan kamu kasar dengan orangtua apalagi dia papa kandungmu." Amuk mama Dewi.
"Aku durhaka, ma! dia yang durhaka terhadap anak dan istrinya. Dia yang sudah hampir merusak masa depan Vira. Dia yang kepergok hotel bersama temanku!" Feri masih keras kepala.
"Apapun yang terjadi dia ayah kandungmu! kami memang mantan tapi kalian bukan mantan anak!"
*
*
*
Alhamdulillah akhirnya bisa up lagi. Maaf ya buat kalian kelamaan menunggu.
__ADS_1