Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 23


__ADS_3

"Sepertinya kita tidak perlu melibatkan Dira dalam rencana pertunangan Kak Juna dan Delia." Ucap Eka ketika Ayu pulang ke Jakarta.


"Kenapa?" Ayu masih heran dengan ucapan Eka.


"Kamu tahu, Yu? Dira masih mengejar-ngejar kak Juna. Masa dia bilang kalau kak Juna ngelamar dia. Mimpi banget tuh, dia aja masih jauh kalah cantik sama Delia. Lagian masa nikung punya sahabat." Eka berapi-api menceritakan soal Dira yang dianggap berkhayal.


"Ka, kamu kok ngomong gitu, sih. Kamu lupa kalau Dira itu teman kita, kita sudah sama-sama sejak sekolah Dasar. Kenapa kamu ngomongnya kayak gini sih? Apa karena Delia memfasilitasi kamu waktu dulu kerja di kantor notaris. iya?apa karena suami kamu di kasih pekerjaan oleh papanya Delia."


"Bukan gitu, yu? aku nggak mau perjuangan kak Juna sia-sia. Kamu tahu, Yu, kak Juna sampai stress memikirkan hubungannya sama Delia yang sempat gantung satu tahun. kalau mereka berakhir karena masalah orang ketiga apalagi orangketiganya sahabat calon istrinya sendiri."


"Tapi kamu kesannya memojokkan Dira. Emang Dira nerima lamaran kak Juna? Enggak Ka, Dira nggak pernah nerima lamarannya." Ayu meluapkan emosinya pada Eka.


"Ka, kita ini sahabat. Aku, kamu, Delia dan Dira udah sama-sama sejak kecil. Lalu hanya karena soal laki-laki kamu memecahkan persahabatan kita. Dira memang pernah suka kak Juna, tapi dia tidak pernah menunjukannya pada siapapun. Itu karena dia menghargai perasaan Delia."


"Oooo.. Jadi dira cerita juga sama kamu. Dia ngadu apa sama kamu? Dan kamu percaya sama omongan dia?Heeehehe... nggak bisa dipercaya!Dia nyari pembelaan sana-sini. Padahal dia pelakornya." Ucapan Eka terdengar sinis.


"Bukan Dira yang bilang. Tapi emang benar kak Juna pernah melamar Dira karena capek di gantung sama Delia selama satu tahun. Dira nggak berkhayal atau ngejar-ngejar kak Juna. Tapi Dia menolak kak Juna karena menghargai hubungan Delia, menghargai persahabatan kita."


"Tapi kenapa dia nggak mau menerima Rian? Padahal Rian itu lelaki yang baik. Bahkan lebih baik dari kak Juna."


Ayu menghela nafas berat. Menurutnya namanya hati tidak bisa dipaksakan. Ibarat makanan sekalipun rasanya enak, kalau dasarnya tidak suka nggak akan disentuh ataupun di dekatia Begitu juga perasaan, kalau tidak ada rasa pasti akan dihindari. Memang benar tak kenal maka tak sayang. Tapi semua itu harus bertahap bukan karena desakan keadaan


"Tidak bisa, Ka. Aku nggak setuju soal ini. Oke yang namanya Rian anak yang baik, tapi bukan karena masalah baik saja. Ini masalah hati, ka! Masalah hati, namanya menyangkut perasaan tidak bisa dipaksa, ka. Sama kayak kamu dan Wandi dulu, orangtua kalian menentang hubungan kalian kan? Kamu lupa mama kamu mati-matian menjodohkan kamu dengan pilihannya. Tapi tetap mantap sama Wandi kan? begitu juga dengan Dira, dia bukan nggak mau sama Rian. Tapi jika Dira belum mau membuka hati untuk pria manapun."


Eka membelalak seakan masih tidak percaya dengan ucapan Ayu. Bagaimana bisa Ayu menyangkut pautkan hubungan percintaan dirinya dengan masalah Arjuna, Dira dan Delia. Bagi Eka semua itu sangat jauh berbeda.


"Yu, kenapa kamu ngotot banget membela Dira. Buat aku sekali penikung tetaplah penikung." Eka makin lantang.


"Nggak ada yang ditikung dan tidak ada yang menikung saat ini, Ka. Dira nggak pernah menjalin hubungan apapun dengan Arjuna. Delia dan Juna masih aman, walaupun aku masih penasaran kenapa Delia menggantungkan kakakku selama satu tahun."


Keduanya akhirnya saling terdiam setelah perdebatan

__ADS_1


panjang tersebut. Eka yang merasa mantap membela Delia karena memang tidak suka perselingkuhan. Sementara Ayu berada di pihak Dira, bukan dia tidak setuju dengan pemikiran Eka. Namun logikanya memang tidak ada apa-apa antara Dira dan Juna.


Klik


Pagi ini di kediaman Dewi Savitri tampak terasa lenggang. Tampak Dewi sudah berkutat di dapur memasak sarapan untuk ketiga anaknya. Suara langkah kaki menuruni tangga pun didengarnya. Dewi tersenyum kecil sambil menata masakannya di meja.


Sejak Dira memarahi Feri karena ide sayembara tersebut. Keduanya sekarang sedang perang dingin, Dira tidak mau menyapa atau berbicara dengan Feri. Bahkan gadis tengahnya rela melewatkan sarapannya hanya karena enggan satu meja dengan Feri.


Dewi mencoba memutar otak, mencari solusi permasalahan kedua anaknya. Dia tidak bisa diam melihat keadaan seperti.


"Ma, Dira berangkat ke kantor." Dira menyalami mamanya tanpa duduk menikmati sarapan.


"Dira, Feri! kalian duduk! Mama mau ngomong." Dewi memberi titah pada kedua anaknya.


"Ma, aku ... " Dira mencoba mencari alasan.


"Mama bilang duduk! Kamu masih anggap mama ada kan? Jadi turuti apakata mama. Mama capek lihat sikap kamu dan kakakmu seperti ini. Kalian saling diam, kalian saling mematung seakan tidak ada oranglain disini. Kalian anggap mama apa?Hah!


"Ma..maksud mama apa?" Feri kaget.


"Nanti mama masuk kantor. Kamu akan tahu apa yang akan mama bicarakan." Dira tersenyum menang mendengar ucapan mamanya.


Klik.


Dira duduk di meja kerjanya, matanya melirik ke gawai yang berada di hadapan. Terdengus dengusan nafasnya, nampak waktu masih pukul 09.00 pagi. Tapi perutnya terdengar sudah mendadak protes. Sedikit rasa sesalnya karena tak sempat sarapan karena aksi mogoknya. Dira menyelesaikan beberapa tugasnya dan memutar kursinya untuk pergi ke pantry.


"Kamu kurusan, Dira." Sapa Eta saat bertemu di lorong kantor.


"Masa sih, ta." Dira menunduk memegang perutnya.


"Lo, diet ya. Jangan deh. Badan kamu sudah bagus kok."

__ADS_1


"Enggak, ta. Aku cuma sedang kurang nafsu makan aja."


"Beneran enggak? kamu pucat banget lo." Eta menatap tubuh dan wajah Dira yang pucat.


"Beneran...BRUUUUKK!"


"Ya Allah, Dira!"


Beberapa saat kemudian


Dira membuka matanya melihat beberapa wajah kecemasan mengelilinginya. Tubuhnya sangat susah diajak kompromi, dipaksakan bangkit walaupun dicegah Dewi.


"Ma... aku kenapa?" Terdengar nada lirih dari bibirnya.


"Kamu tadi pingsan di kantor. Untung ada Juna yang sigap nolongin kamu."


Juna lagi ... Juna lagi .....


kenapa dia selalu jadi sok pahlawan?


Dira hanya tersenyum kecut saat tahu yang membawanya adalah Arjuna. Lelaki yang ingin dihindarinya. Tatapan lurus ke jendela ruang istirahat di ruang kerja Feri.


"Ma, tadi mama bilang mau bicara di kantor kan?"


"Nanti kita bicara, nak. Sekarang kondisi kamu sedang tidak memungkinkan."


"Ma, apakah aku boleh dipindahkan ke Bengkulu untuk mengurusi cabang kita disana."


"Dira..."


"Ma, please!" Dira memohon pada mamanya.

__ADS_1


__ADS_2