
"Dira, mau di tempatkan di kantor opa Han? yang benar saja, ma! bagaimana dengan pekerjaan Dira disini,ma."
"Dira dengarkan mama. kamu tidak pindah ke kantor opa Han. tapi kamu survey kesana, melihat apakah bisa dijadikan peluang untuk kelangsungan perusahaan. Opa Han merasa sudah tua dan tidak punya penerus. Makanya mama minta kamu yang survey kesana. Terus kasih laporan ke mama dan opa Han."
"Tapi opa, Han bukannya pabrik gula,ya. Kenapa harus di gabungkan dengan perusahaan kita,ma. Beda server, apa mama mau cari perusahaan baru gitu."
"Mama yakin mau mencoba rencana opa? Bahkan orang yang opa sebut malah masih dalam tahap di cari. Sedangkan Dira sudah punya calon tunangan. Mereka sebentar lagi akan menikah,ma."
"Mama juga nggak paham, Feri. begitu mama bilang Dira dan Vira mau menikah. Opa kamu malah menentang keras rencana itu. Katanya kurang sreg sama Rian. Padahal kurang apa sih Rian, baik dan pengertian." Gerutu mama Dewi.
"Rencana apa,ma?" Vira menimbrung melihat mama Dewi dan Feri seperti bahasan serius.
"Tapi jangan bilang kakakmu,ya?"
Mama Dewi membisikkan sesuatu di telinga Vira. Mendadak wajah Vira mengkerut saat mamanya berbicara.
"Astaga opa Han punya calon untuk kak Dira!" Mama mengangguk mengiyakan pertanyaan Vira.
"Terus bagaimana kak Rian?" Vira masih belum paham dengan alur yang dibuat keluarganya.
"Itu yang mama bingungkan. Bagaimana kita menjelaskan pada keluarga Rian? Tidak mungkin main batal saja. Kamu tidak lupa kan Feri, waktu opa menjodohkan kamu dengan Meyra. Dan bagaimana opa-mu mengupayakan kamu harus menikah dengan Meyra."
Feri dan Meyra memang tidak pernah pacaran. Mereka di jodohkan atas kemauan dari opa Han. Opa Han adalah adik kakeknya Dira yang paling bungsu. Ya, karena kakek mereka cuma dua bersaudara, kakek Wira dan opa Han.
Sekarang opa Han malah menawarkan perjodohan buat Dira. Sementara Dira sudah bertunangan dengan Rian. Semua keluarga bingung apa yang akan mereka bicarakan pada Dira.
__ADS_1
Sementara itu Dira merasa gamang atas keinginan opa-nya. Tiba-tiba meminta dirinya bekerja di kantornya. Padahal dia sudah nyaman di kantor mamanya. Orang-orang disana sudah menerima kehadirannya. Padahal awal-awalnya di sempat di kucilkan karena dianggap menggeser Arjuna dari jabatan manajer.
"Aku harus bagaimana?"
Dira merenung di depan balkon kamarnya. Kamar didepannya sepi dan gelap. Biasanya ada yang menyahuti kalau lagi merenung di depan balkon, biasanya ada yang menelponnya walaupun bertatap di depan jendela kamar.
Kenapa?sih dia masih aja gangguin aku.
Ah, tidak Dira! nggak usah pikirkan kak Juna. Nggak ada gunanya.
ingat Rian... Rian ... bukan Juna.
"Dira ada opa Han mau ketemu kamu?" panggil mama Dewi dari luar kamar.
Dengan malas Dira beranjak dari kamarnya. Opa yang merasa sebagai pengganti ayah buat mamanya. Opa yang mengatur tindak tanduk cucunya. Mama Dewi pun sepertinya segan membantah opa.
"Tapi opa.."
"Ini nanti akan di jadi modal untuk pernikahan kamu, nak. Kamu dan suamimu nanti yang akan mengurus perusahaan opa."
"aduh opa. Rian itu sudah punya perusahaan sendiri, dia punya WO terbesar di Jakarta. Putra dari rahansyah. semua orang tahu, masa opa tidak tahu."
"Dira..."
"Suamimu sudah opa siapkan? Dia baru sebulan kerja sama opa. Tapi kinerjanya bagus, jadi nanti opa akan mengenalkan kamu sama dia."
__ADS_1
"Maksud opa apa sih?"
"Opa sudah punya pilihan untuk jadi calon suamimu."
"Apaaaaa...!"
klik
Malam ini Juna tidak bisa pulang karena harus bermalam di gudang. Mana sekarang dapat kabar ada yang mau merusak alat pabrik. Tentu saja Juna harus mengumpulkan keberanian sendirian di gudang. Dia sering menonton film horor yang hantunya muncul di gudang.
"Ciyeee yang sekarang jadi kesayangannya pak Burhan." Sahut selamet yang berkerja dan tinggal di dekat pabrik.
" Apa sih pak selamet! biasa saja pak. Saya tidak pernah jadi kesayangannya pak Burhan."
"Emang mas Juna nggak dengar gosip yang beredar?" Juna menggeleng kepala. Mana sempat dia memperhatikan hal itu kadang saja dia pulang kerja sudah malam.
"Nggak tahu emang ada apa sih?"
"Mas Juna mau di jodohkan sama cucunya pak Burhan."
Juna tertawa mendengar cerita pak Selamet. Mana mungkin pak Burhan mau jodohkan dirinya dengan cucunya. Dia cuma penjaga gudang. Orang seperti pak Burhan harusnya menjodohkan cucunya dengan pria selevel mereka.
"Nggak mungkin, pak selamet. Pak Burhan pasti mau jodohin cucunya dengan yang selevel. Bukan penjaga gudang seperti saya."
"Kalau jodoh gimana, mas."
__ADS_1
"Nggak pak, aku sudah punya seseorang yang menungguku sukses. Jadi aku tetap menolak kalau memang benar gosip itu."