
Mobil Ayla melajuk dengan kecepatan sedang. Tampak di depan seorang lelaki sedang fokus menyetir. Di kursi belakang dua orang wanita duduk sambil sibuk dengan gawai masing-masing.
Si sopir menatap gadis yang duduk di belakangnya. Terukir senyuman di wajah tampannya, sedangkan yang dilirik masih asyik senyum-senyum menatap gawainya.
"Mas, Juna lokasinya masih jauh, ya. Kok dari tadi nggak sampai-sampai." Keluh Eta
"Masih, Eta." Jawab Juna santai.
Eta beralih ke rekannya yang duduk disebelah. Ada rasa penasaran kenapa temannya daritadi senyum-senyum sendiri. Tapi dia malas menggoda Dira, lagi-lagi Eta kembali beralih ke sang pemilik kendaraan.
"Mas, katanya yang kerjanya bagus dapat hadiah dari pak Eka."
"Iyakah, kok aku nggak tahu,Ta. Emang apa hadiahnya, Ta?"
"Katanya kalo cowok bakal di jodohkan dengan adik ceweknya. Terus kalau cewek bakal di kasih hadiah libur ke Bali."
Dira menghentikan aktivitas gawainya ketika mendengar ucapan Eta. Matanya melotot ke arah Eta seakan tidak suka dengan ucapan rekannya.
"Kamu kenapa, Dira?"
"Kamu jangan asal kasih pengumuman, Ta. Masa iya pak Feri mau jadiin staf kantor kita buat di jodohin sama adiknya. Emangnya kurang laku ya adiknya sampai dijadiin perlombaan gitu."
"Kenapa kamu yang sewot, Ra? Itu mah terserah pak Feri sama keluarganya. Lagian juga adiknya belum tentu mau staf kita." Oceh Eta.
Dira masih merasa kesal, segitunya ide sang kakak sampai di buat seperti perlombaan saja.
"Duuuuh, sweet banget Feri,ya? Aku boleh daftar kan." Sahut Arjuna yang terkesan menggoda Dira.
"Jangan aneh-aneh. Tak aduin sama Delia, Lo."
"Nah, mas Juna sudah punya calon, ya. Wah, sayang banget nih. Padahal kalian berdua cocok." Goda Eta.
"Ogah aku sama dia!" Dira memalingkan wajahnya kearah kaca mobil.
"Ti ... ati .... nanti bucin tau rasa." Lagi-lagi Eta mengganggu Dira.
"Heeeeh ... dia udah mau nikah. Ya, kali sama calon suami orang."
"Kan selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung." Balas Eta.
"Aauuh ...Ah gelap!" Terdengar suara Eta yang tertawa kencang.
Huft susah juga kalau sembunyi kayak gini. Andai mereka tahu kalau adik bos nya adalah aku. Tapi kalau aku bilang sekarang yang ada bakal di tertawakan.
Kecuali kak Feri sendiri yang mengumumkan.
"Eh, udah mau siang nih kita cari makan dulu, yu?" Juna menawarkan makan siang pada dua rekan timnya.
"Tau aja mas Juna kalau kami lapar. Lihat tuh Dira mukanya udah ditekuk gitu. Kali aja habis isi bensin mukanya normal lagi." Sahut Eta.
__ADS_1
Mobil menepi di sebuah warung makan. Dira langsung turun tanpa memperdulikan dua rekannya. Eta melihat Dira yang langsung duduk di teras rumah makan.
"Dira, kamu nggak makan?"
"Belum lapar, Ta."
"Belum lapar apa kamu gengsi makan di warungan kayak gini"
"Aku bukan gengsi, Eta. Tapi emang belum lapar. Kamu kalau mau makan ya makan aja."
Eta langsung masuk warung makan lalu mengambil lauk pauk yang banyak. Di warung makan tersebut sistemnya tidak pakai pemesanan. Bebas mengambil piring sendiri dan lauk sendiri.
"Nggak usah dipikirin tentang idenya Feri. Eta pasti cuma salah dengar. Masa Feri mau bikin sayembara, bukannya kamu punya Rian?"
"Entahlah, kak. kesel aja dengarnya, Nggak mama Nggak kak Feri sibuk aja ngurusin aku."
"Kamu ingat ucapanku waktu itu, Dira?"
Flashback
"Jadi gimana?" Ucap Juna saat mereka makan siang di kantin kantor.
Dira bingung harus menjawab dari mana. Pasalnya dia tidak terlalu dekat dengan Juna. Dia tahu kalau Juna suka sama Delia. Dia juga tahu, kalau Delia suka sama Juna, sayangnya Delia tidak diperbolehkan pacaran supaya fokus S2 nya.
Dan dirinya?
Hanya terpaku dengan permintaan Juna yang mengajaknya menikah. Tak ada angin dan tak ada hujan.
"Jadi mama kamu mau nyariin kamu jodoh?"
"Iya, kak Juna. Nyebelin banget, kan? Dikira anaknya nggak laku apa!"
Juna terkikih mendengar keluhan Dira "Itu namanya sayang anak, Dira." Juna mengacak rambut sahabat adiknya.
"Sayang sih sayang, tapi jangan ngopor anaknya dong. Kayak gimana gitu"
"Tapi kok Tante Dewi nggak nawarin ke aku, ya?" sahut Juna.
"Manalah dia mau punya mantu kayak situ!" Kikik Dira.
"Emang saya nggak ganteng, ya? Gini-gini yang antri banyak Lo."
"Hhaaahahaa... kalau banyak yang antri kenapa sampai sekarang belum nikah. Hmmm... tapi demi nyenengin mama Kak Juna mau kan...?"
"Mau aku mau jadi suami kamu..."
PLETAAAK!
"Jangan ge-er, deh. Maksud aku kak Juna mau kan cariin aku pasangan."
__ADS_1
Juna mengedipkan matanya kearah Dira "Hmmm ... Aku mau cariin buat Ayu."
Dira menjitak kepala Juna "Ayu kan sudah punya Tio. Gimana sih!"
"Ya kan kamu cuma buat aku!"
Tangan Dira masih terasa gatal ingin menimpuk Juna dengan tas jellynya. "Kak Juna, please."
"Please Medhira....will you Marry me."
Dira terdiam
Oke dia pasti becanda kan, seperti biasanya kak Juna kan suka jahil. Hmmm, Dikira aku kepancing kali ya. Aku ikuti permainannya dulu.
Dira mengalihkan perhatiannya kearah box laci mobil. Disana dia menemukan sebuah photo.
"Terus dia bagaimana?" Dira mengayunkan photo tersebut.
Flashback off
"Aku nggak main-main, Dira ... aku ..."
"Maaf kak Juna aku nggak bisa." Dira langsung masuk ke warung membaur dengan Eta.
Klik
Rian membuka beberapa file untuk bahan pekerjaannya. Tangannya dengan lincah berselancar di sosmed mencari refensi dekorasi pesta atau acara lainnya. Bekerja di EO membutuhkan banyak ide-ide segar demi kepuasan pelanggan. Apalagi kalau klien berasal dari kalangan atas, sudah pasti harus sempurna hasilnya.
Seorang EO harus memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, Mulai dari pengelolaan produksi, konsep dan dekorasi hingga acara usai, serta mendedikasikan waktu luang selama acara berlangsung untuk memberikan layanan yang tepat kepada klien. Oleh karena profesi ini cocok untukmu yang kreatif, ceria, bersemangat, percaya diri dan berpikir positif mengenai project-nya sambil tetap mempertimbangkan berbagai resiko yang muncul saat sedang mengambil langkah perencanaan.
Rian mengangkat telepon dari kerabatnya sesama alumni mahasiswa di universitas swasta London, Inggris.
"Bagaimana, ada kabar tentang wanita itu?" Tanya Rian.
"Belum, perempuan itu hilang tanpa jejak. Dahlah, Rian lupakan cewek itu. Lagian kalau dia hamil pasti dia sudah nyari kamu buat minta tanggung jawab. Tapi dia nggak ada nyari kamu kan. Lupain dia."
Rian hanya menyungging senyum. Sosok perempuan yang membuatnya terjebak dalam "one night". Tanpa tahu jatidiri perempuan itu.
"Nona Arab kamu dimana?"
Tetap terus pantengin cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah mau mampir ke karya receh saya. Tanpa kalian tulisan ini tidak berarti apa-apa.
Jangan lupa likenya
Jangan lupa komennya juga rate
Kalau berkenan bantu vote dan hadiah
__ADS_1
Bersambung