Sayembara Jodoh

Sayembara Jodoh
BAB 137


__ADS_3

Sore ini hujan sedikit gerimis. Hujan sebagai pembuka awal bulan Agustus. Juna masih berada di Jakarta, sampai saat ini belum terbersit pulang ke Lembang.


Rengekan Dira meminta dirinya untuk tetap di dekatnya. Sejak satu bulan kehamilan Dira. Istrinya menjadi lebih manja.


Sejak hamil Dira menjauhi yang namanya dapur. Katanya pusing dengan aroma gas dan wewangian di dapur. Juna menebak anak mereka laki-laki. Karena laki-laki kan jarang suka di dapur. Tapi apapun itu. Juna menerima apa yang diberi Tuhan. Mau laki-laki, mau perempuan sama saja.


"Mas mau kemana?" tanya Dira melihat suaminya sudah rapi padahal sudah lewat ashar.


"Tadi opa bilang mau ketemu Feri. membicarakan soal tuntutan sidang kasus yang dihadapi Feri."


"Aku ikut, ya." Dira menggelendot manja di dekat suaminya.


"Jangan dong, sayang. Kamu dirumah saja istirahat. Ya kan, nak. Mama kamu makin lama makin manja." Juna mengusap perut Dira.


"Ya kan anak papa." Dira menyahut seakan anaknya yang menjawab.


"Anak mama juga." Juna menjentik hidup istrinya.


"Yang pastinya anak kita,mas." Dira makin mengeratkan gandengannya.


"Yasudah kalau kamu mau ikut. Siap-siap, aku tunggu dibawah." Juna mengecup kening istrinya lalu keluar dari kamar.


Mata Juna memandang kamar di seberang. Kamar yang dulu dia tempati saat masa SMP hingga dewasa. Kenangannya saat mengajari Dira membuat PR matematika. Dira memang lemah di bidang IPA dan matematika.


"Sayang, kok aku malas kemana-mana."


Juna mengerutkan dahinya. Tadi istrinya merengek untuk ikut, sekarang berubah lagi pikirannya. Juna mengendurkan nafasnya, apakah ini salah satu kelakuan ibu hamil, bisa jadi.


"Yasudah, kamu temani aku turun kebawah. Kasihan opa menunggu." Dira dan Juna turun ke bawah. Masih mode manja wanita usia 25 tahun itu seakan tak mau lepas dari suaminya.


"Dasar bumil bucin," rutuk Vira yang geli melihat kakaknya.


"Den, ini ada rendang kikil, makanan kesukaan den Feri." tiba-tiba bibi datang sambil memberikan rantang.


"Bibi yang buat?" bibi mengangguk.


"Terimakasih, Bi. masih ingat kesukaan Feri." Juna mengambil rantang dari tangan bibi.


Sesaat Juna mengangkat telepon dari Jamal.


"Iya, mal."


"Oh ya, selamat, ya. Semoga kamu di terima lamarannya sama Tina."

__ADS_1


"Maaf, mal aku nggak bisa menemani. Soalnya aku nggak enak, kan mereka sekarang lawan dari kasus kakak ipar. Pokoknya aku doa kan kamu diterima."


"Siapa, mas?"


"Itu si Jamal yang dulu tempat aku tinggal. Dia mau melamar pujaan hatinya. Dia minta aku ikut, tapi ceweknya sekarang tinggal di tempat Meyra. Apalagi kasus kita lagi berlawanan dengan mereka." cerita Juna.


"Yasudah kita berangkat nanti keburu malam." Opa Han mengingatkan tentang rencana keberangkatan mereka.


Juna dan Opa Han sampai di lapas. Hujan semakin lebat, banyak orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.


Sesampainya di lapas, mereka memasuki ruang jenguk. Sebelum memasuki ruang jenguk Juna mampir di mini market di sebelah kantor lapas. Kakinya terhenti melihat dua orang anak merengek meminta makanan kesukaannya dibelikan.


Ibu si anak pun masih berupaya membujuk agar anaknya tak rewel. Alasannya simpel, si anak baru pulang dari dokter gigi. Tentu saja sang ibu melarang anaknya makanan manis.


(Dalam khayalan Juna)


Dalam pandangan Juna sosok itu adalah Dira. Dimana mereka bertiga masuk mini market untuk berbelanja. Dira tampak cantik dengan kaos lengan panjang dan rok sutra dibawah lutut.


Masih dalam rengekan si anak meminta di belikan coklat.


"Mama aku mau coklat" rengek anak lelaki itu.


"Jangan nak, kamu kan baru dari dokter. mama beliin roti keju saja, ya?"


Juna langsung mendekati anaknya, lalu menggendongnya. "Abang kan baru dari dokter." bujuk Juna.


"Sini papa lihatkan sama Abang." Juna membawa anaknya di luar toko. Melihat orang-orang lalu lalang.


"Abang lihat nenek yang disana." Juna menunjuk kearah seorang nenek yang duduk di dekat mini market.


"Iya, pah."


"Abang tahu, nenek itu tadi mengeluh tidak bisa makan. Karena giginya tidak kuat. Karena semasa kecilnya dia suka makan manis. Abang nggak punya gigi." putranya menggeleng.


"Aku nggak mau ompong."


"Yuk, pa. kita pulang ini sudah selesai belanjanya."


Mereka bertiga melenggang meninggalkan mini market. Layaknya keluarga bahagia mereka saling beriringan jalan.


"Mas Juna," sapa Jaka asistennya Opa Han.


"Oh ya, maaf kamu nunggu, ya.Yuk kita ke lapas." Juna meninggalkan mini market di temani oleh Jaka.

__ADS_1


Beberapa saat mereka sudah duduk berhadapan dengan Feri. Opa Han melihat cucunya sangat kurus setelah seminggu berada di lapas.


"Tolong jujur sama opa, apa yang sebenarnya terjadi."


Feri menunduk tak berani menatap Opanya. Dia memang pernah menghancurkan Glen dengan photo aktivitas lelaki itu di clubbing. Namun untuk kehancuran lebih lanjut bukan ulah dirinya.


"Kamu diam berarti memang benar. Opa kecewa sama kamu, nak. Kamu tidak lupa soal ambruknya perusahaan karena ulah papamu."


"Maaf, opa." Feri tidak berani memotong ucapan opa.


"Kamu tahu kalau keluarga Amran akan membawa kasus ini ke meja hijau. Opa malu sama almarhum Triawan. Sebagaimana persahabatan kami rusak karena ulah penerusnya."


"Saat itu Feri tidak tahu kalau itu masih milik keluarga papa Amran. Yang aku tahu perusahaan itu di pegang Glen. Itu saja. Feri tidak sendiri, opa. Aku di bantu tuan Shahab."


"Shahab lagi!" suara opa meninggi.


Juna melihat kemarahan opa Han saat Feri menyebut nama tuan rumah. Entah apa ada kebencian yang mendalam pada pemilik nama itu. Juna juga tidak terlalu paham.


"Opa, sabar. Ini gedung lapas. Ingat dengan kesehatan opa." Jaka menenangkan atasannya.


"Kenapa setiap ada permasalahan selalu ada Shabab yang terlibat. Saat perusahaan kita sempat di ujung tanduk. Kalian malah minta sama Shahab. Bukan sama saya, apa sudah kalian tidak menganggap saya sebagai keluarga lagi." nada kecewa terdengar dari pria paruh baya tersebut.


klik


Di sebuah perumahan sederhana. Tampak seorang lelaki berdiri di depan pintu. Dengan memakai kemeja batik, lelaki itu memberanikan diri mengetuk pintu. Di sertai tekad besar yang dimilikinya dia datang sendirian.


Assalamualaikum.


Lelaki itu menyapa si empunya rumah dengan ucapan salam. Tak berapa lama tampak seorang wanita paruh baya membuka pintu. Sambutan ramah pun di dapatkan.


"Eh, nak Jamal." Amran menyambut tamunya dengan ramah.


"Iya, om. Maaf kalau kedatangan saya malam ini mengganggu." Jamal memulai pembicaraan inti.


"Ada apa, nak Jamal datang malam-malam begini."


"Bismillah. Pak Amran saya datang kesini dengan maksud baik. Saya kesini meminta izin bapak untuk melamar Tina."


Amran dan Istrinya saling bertukar pandang. Sejenak senyum mereka terukir. "Saya setuju kalau kamu menikah dengan Tina." sahut Amran.


Istrinya terkejut dengan keputusan suaminya. sudah seharusnya dibicarakan dulu dengan Tina. Karena yang akan menjalani adalah Tina.


"Papa jangan ambil keputusan sembarangan. Kita belum minta pendapatnya Tina."

__ADS_1


"Nggak usah, ma. Suka atau tidak Tina harus mau."


__ADS_2